Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Tulisan ini merupakan materi paparan oleh Rio Setiawan Migang dalam rangka Seminar HUT Ke-52 Kalteng, Senin 25 Mei 2009. Bertempat di Jayang Tingang Center,  Kantor Gubernur propinsi Kalimantan Tengah.

Betang-Lamin-Longhouses

Betang-Lamin-Longhouses | by NN

Tahun 2005, pihak otorita Pemprov Kalteng mengeluarkan statement prioritas pembangunan yang bertumpu pada beberapa sektor, salah satunya pariwisata. Di tahun 2009, melalui rilis di http://www.kalteng.go.id, situs resmi pemerintah Kalteng, termaktub bahwa tahun ini dicanangkan sebagai tahun prioritas pembangunan pariwisata provinsi Kalimantan Tengah.

Mengapa sektor pariwisata memiliki nilai begitu penting? Adakah peran pariwisata secara langsung terhadap pertambahan devisa daerah?

Mari kita menengok data yang dirilis oleh Badan Pariwisata Dunia (World Tourism Organization atau WTO) dan Konsil Perjalanan dan Pariwisata Dunia (World Travel and Tourism Council atau WTTC).

Disebutkan bahwa di tahun 1950, ada 50 juta kunjungan turis yang berwisata atau berplesir, dan diperkirakan 8 milyar US$ mengalir dari kantong para turis tersebut. Semakin tahun semakin meningkat karena sebagaimana yang disebutkan WTTC (1997), bahwa pariwisata akan menjadi penggerak utama perekonomian dunia abad 21 bersama industri telekomunikasi dan teknologi informasi. Hal tersebut terbukti.

Tahun 1999, terekam lebih 600 juta kunjungan turis yang berplesir di seluruh dunia dengan devisa mencapai 455 milyar US$. Tahun 2007, 903 juta kunjungan dengan devisa 856 US$. WTO pun memperkirakan di tahun 2010 akan mencapai 1,046 milyar kunjungan dan ledakan turis yang ingin menjelajah berbagai destinasi wisata diperkirakan melampaui angka 1,602 milyar di tahun 2020.

Bayangkan tsunami turis yang mencapai 1 (satu) milyar lebih, yang sangat ingin berwisata ke tempat-tempat eksotik.

Bayangkan, apabila Indonesia yang eksotis, hanya berencana ingin menggaet tidak lebih dari 10 (sepuluh) juta wisatawan saja di tahun 2010.

Bayangkan lagi, apabila destinasi seeksotis Kalimantan Tengah, nyaris tidak memiliki target jelas untuk mendatangkan turis lebih banyak lagi.

Catatan Pencapaian di Level Nasional

Kontribusi signifikan pergerakan pariwisata internasional terhadap pariwisata di Indonesia bagi perekonomian nasional adalah sebagai berikut: Tahun 2005, angka kunjungan 5,006,797 wisman dengan devisa 4,5 milyar US$. Tahun 2006, bergerak turun di angka 4,871,351 wisman dengan devisa 4,3 milyar US$. Penurunan tersebut dianggap karena isu faktor bencana alam maupun keamanan. Tahun 2007, angka kunjungan kembali naik ke angka 5,5 juta wisman dengan perolehan 5,3 milyar US$. Lebih lanjut, Depbupar RI (2009) merilis angka kunjungan di tahun 2008 sekitar 6,43 juta wisman dengan devisa 7,5 milyar US$, naik 42,5% dari tahun sebelumnya.

Pergerakan angka di atas memang menjelaskan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Namun, dari beberapa aspek perlu dikaji lebih khusus lagi. Diantaranya, bagaimana capaian devisa dari sisi wisatawan domestik atau turis daerah? Apalagi setelah pemerintah RI mencanangkan Program Perencanaan Nasional Pariwisata melalui UU No.25 tahun 2000 silam. Tentu saja berbagai daerah pun memacu pengembangan pariwisatanya.

Begitu pula menganalisa kemampuan pariwisata Indonesia untuk mengurangi utang luar negeri. Serta kajian dampak negatif arus kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Pergeseran Tren Pariwisata

Pergeseran yang dimaksud adalah kecenderungan minat wisatawan terhadap model wisata. Para ahli menyebutnya sebagai pergeseran gaya wisata massal ke arah wisata alternatif. Dimana, seolah-olah dunia pariwisata terbagi atas dua zaman, yakni zaman dimana wisata massal (mass tourism) menjadi trend dan zaman setelahnya dimana wisata alternatif (alternative tourism) menjadi tren di abad 21. Wisata massal biasanya dikaitkan langsung dengan kegiatan wisata ke obyek populer yang memiliki pantai berpasir indah (sand), dekat laut (sea) dan bersalju (snow), serta menjadikan masyarakat dan budayanya sebagai sebuah tontonan. Namun, tren “baru” ini ditandai dengan minat kunjungan yang berbasis “back to nature” dengan landasan semangat konservasi, apresiasi yang tinggi terhadap budaya masyarakat lokal, termotivasi karena wawasan dan pengalaman baru yang akan didapat, adanya upaya riil bagi pemberdayaan masyarakat dan dimungkinkannya pengembangan dalam skala kecil.

Tren wisata alternatif ini kemudian mewujud dalam berbagai nama dan bentuk, diantaranya ekowisata (ecotrourism), wisata petualangan (adventure tourism), agrowisata (agrotourism), wisata budaya (culture tourism), wisata kota (urban tourism), wisata religi (pilgrim tourism), wisata kuliner (culinary tourism), wisata pedesaan (rural tourism), hingga wisata arkeologis (archeo tourism) serta wisata pendidikan dan wisata kesehatan.

Pergeseran tren ini tentu saja sangat berdampak positif bagi pengembangan pariwisata di Kalteng, karena beberapa unsur dari pariwisata minat khusus telah terpenuhi.

Multiplier Effect Pengembangan Pariwisata

Aktivitas yang terkait dengan pergerakan manusia maupun barang, tentu akan menstimulasi perekonomian daerah yang dilaluinya. Wisatawan yang datang berbondong-bondong dari jauh, tentu menggunakan jasa biro travel untuk mengatur perjalanannya dengan jasa transportasi. Dalam perjalanannya, tentu tidak lepas pula dari penikmatan terhadap jasa makan minum. Adanya interaksi dengan perbankan, penginapan, tempat rekreasi, tempat hiburan, serta unsur jasa milik masyarakat lainnya, secara simultan akan terus menghasilkan dampak berganda (multiplier effect), yang ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan daerah maupun masyarakat kitaran destinasi wisata.

Faktor tersebutlah yang mengindikasikan bahwa peran pariwisata mampu membuka peluang investasi sangat luas.

Berikut gambar model dari jabaran di atas:

multiplier effect parwsata

Keterbahayaan dan Ancaman

Sederhananya, destinasi tujuan wisata di Indonesia terbagi atas 3 (tiga), yakni destinasi yang telah berkembang baik, contoh idealnya Bali, destinasi yang sedang berkembang, contohnya Manado, dan destinasi yang akan berkembang contohnya pulau Kalimantan.

Di setiap data angka pertumbuhan tidak mungkin dilepaskan dari unsur keterbahayaan. Makin tinggi kunjungan turis, makin tinggi pula resiko negatif terhadap lingkungan dan terhadap budaya masyarakat lokal. Hal ini dialami oleh destinasi wisata Bali dan Manado. Tentu saja contoh lainnya cukup banyak.

Harian Kompas (31 April 2009), mencatat bahwa saat ini pariwisata Bali tengah memasuki masa-masa awal kritis, ditengarai bahwa perkembangan industri pariwisata Bali yang cenderung mengabaikan budaya dan merusak ekologi mengusik tradisi masyarakat yang hidup. Hal tersebut terjadi akibat dari pertumbuhan yang tak terkendali dari desakan pelaku ekonomi dari luar negeri yang menjadikan budaya local sebagai komoditas dagangan.

Di waktu yang lain, harian Kompas (12 Mei 2009) juga mencatat bahwa terjadi over capacity di kawasan perairan Taman Nasional Bunaken. Batas kapasitas kurang dari 10.000 penyelaman per titik/tahun, kini melalmpaui 18.000 titik/tahun. Suatu bentuk ancaman akibat meningginya angka kunjungan dan ditengarai dipicu oleh aturan Perda Provinsi Sulut No.14 Thn.2000 mengenai tarif masuk yang terlampau murah ke kawasan konservasi tersebut.

Apakah maksud dari ‘peringatan’ dari tulisan di atas?

Maksudnya adalah agar destinasi-destinasi wisata yang notabene berada dalam tingkat akan berkembang, menyadari dan mengantisipasi keterbahayaan yang mungkin muncul apabila di kemudian hari meningkat statusnya menjadi destinasi unggulan.

Menilik Kondisi Riil Pariwisata Kalteng

Daya saing suatu destinasi wisata dapat diukur. Perangkat dan parameter pengukurannya ada. WTTC mengeluarkan indikator yang diantaranya adalah human tourism, price competitiveness, infrastructure, human resources, environment, openness, technology, and social. Berdasarkan perangkat tersebut, di tahun 2007, Depbudpar RI merilis hasil penelitian tersebut dalam bentuk Laporan Daya Saing Destinasi Pariwisata Indonesia yang kemudian menghasilkan nilai indeks komposit terhadap 35 destinasi wisata popular di Indonesia.

Hasilnya?

Khusus destinasi wisata unggulan di propinsi Kalimantan Tengah adalah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Setelah dihitung, ternyata dirilis bahwa TNTP berada pada posisi detinasi tersier (urutan ke-22 dari 35 destinasi) di level nasional.

Hal yang menghawatirkan adalah kemungkin urutan tersebut menurun ke level yang paling bawah. Mengapa? Karena citra TNTP tidak lepas dari ikon orang utannya. Sedangkan data statistik dari Centre for Orangutan Protect (COP) merilis bahwa populasi orang utan di pulau Kalimantan tinggal 8.613 ekor. Sebagian besar berada di Kalteng, dengan tingkat kepunahan 2.817 ekor/thn (Kompas, 14 Mei 2009). Artinya, orang utan 3-4 tahun lagi akan punah dan citra TNTP sebagai destinasi terunggul dan termenarik di Kalteng akan pudar.

Minimnya ketersediaan data dan publikasi menjadi faktor penghambat perkembangan pariwisata di Kalteng. Di era teknologi informasi masa kini, diklaim bahwa 56% wisatawan berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet (Depbudpar, 2007).

Seringkali, ketika penulis mencoba mengakses data dan informasi obyek wisata maupun atraksi budaya Dayak yang ada di Kalteng melalui search engine, maka data langsung terhubung dengan destinasi lainnya terutama Malaysia.

Sebagai turis awam yang tertarik dengan kehidupan orang utan, maupun budaya hidup sub suku bangsa Dayak tentu saja akan terkecoh dengan klaim slogan truly asia-nya Malaysia. Seolah-olah orang utan ‘asli’ dan orang Dayak ‘asli’ memang hanya ada di negara mereka. Berapa juta turis yang semestinya berkunjung ke pulau Kalimantan dan Kalteng, terkecoh karena situs pariwisata di bumi Tambun Bungai tidak memberikan informasi pariwisata yang jelas dan menarik?

Khusus mengenai perbandingan antar situs pariwisata milik pemerintah RI, Malaysia dan Kalteng (www.kalteng.go.id) dapat dibaca disini.

Aspek lain yang perlu dituntaskan adalah pentingnya dan adanya Rencana Induk Perencanaan Pariwisata (RIPP) di tingkat provinsi yang sejalan selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi Kalteng.

Apa solusinya?

Kalteng tentu saja tidak cukup bertumpu hanya pada satu destinasi unggulan saja, ada ragam daya tarik yang ‘ditawarkan’ oleh bumi Tambun Bungai ini. Kota gemilang para pejuang Dayak seperti Pahandut yang historis dengan tautan legenda sungai Kahayan yang membelah kota Palangka Raya, seharusnya dapat diolah menjadi wisata kota.

Ada jejaring yang terhubung antara situs Sandung milik warga Kaharingan, dengan dermaga Rambang Pahandut, dengan kota nelayan tua di tepi sungai Kahayan, hingga Jembatan Kahayan yang eksotis dan tugu bersejarah pembangunan Kalteng oleh bung Karno.

Itu baru satu hal saja.

Oleh karenanya, sangat penting dilakukan pemetaan dan pendokumentasian daya tarik pariwisata yang tersebar di 13 kabupaten dan 1 kotamadya di propinsi Kalteng.

Perlu pula dilakukannya penciptaan brand slogan pariwisata yang unik, sebagai ‘slogan payung’ untuk mempromosikan destinasi atau atraksi yang tersebar di seluruh obyek wisata Kalteng.

Terakhir adalah pentingnya merealisasikan gagasan pembentukan Badan Pariwisata Kalimantan atau Kalimantan Tourism Board (KTB), yang berperan membangun pariwisata co-operative integrative antara propinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan di bumi Kalimantan yang besar itu.

Jakarta, Mei 2009.

*makalah versi akademik (lengkap) telah menjadi hak milik panitia. Tulisan berikut merupakan ringkasan (notulen) dari hasil paparan dihadapan para panelis dan peserta seminar.