<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Welcome to BORNEO TOURISM WATCH [ BTW ]</title>
	<atom:link href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com</link>
	<description>Media Non Komersil-Mitra Strategis bagi Kemajuan Pariwisata Indonesia dari Kalimantan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 09:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='borneotourismwatch.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/385a23b35fdbd64fb81fd02c820123cc?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Welcome to BORNEO TOURISM WATCH [ BTW ]</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/osd.xml" title="Welcome to BORNEO TOURISM WATCH [ BTW ]" />
	<atom:link rel='hub' href='http://borneotourismwatch.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>[seri 4] KEARIFAN DAYAK MENGINTERNASIONAL: Calvin, Pendidikan Masa Kini &amp; Generasi Utus Itah</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2012/01/03/seri-4-kearifan-dayak-menginternasional-calvin-pendidikan-masa-kini-generasi-utus-itah/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2012/01/03/seri-4-kearifan-dayak-menginternasional-calvin-pendidikan-masa-kini-generasi-utus-itah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 09:45:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=950</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; John Calvin tidak hanya dikenal sebagai seorang tokoh besar Reformasi Gereja. Bila menelusuri jejak pemikiran dan sumbangsihnya terhadap bidang demokrasi, moral dan etika publik pada masyarakat sipil serta kehidupan berbangsa, mau tak mau kita akan terhenyak karena dari seseorang saja, dapat merangsang perubahan positif terhadap wajah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=950&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|</h5>
<p style="text-align:justify;">John Calvin tidak hanya dikenal sebagai seorang tokoh besar Reformasi Gereja. Bila menelusuri jejak pemikiran<a href="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2011/05/new-clipart.png"><img class="alignright  wp-image-858" title="new release!" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2011/05/new-clipart.png?w=72&#038;h=72" alt="" width="72" height="72" /></a> dan sumbangsihnya terhadap bidang demokrasi, moral dan etika publik pada masyarakat sipil serta kehidupan berbangsa, mau tak mau kita akan terhenyak karena dari seseorang saja, dapat merangsang perubahan positif terhadap wajah dunia hingga saat ini, melampaui batas zaman, agama, ras, maupun suku bangsa. Calvin yang pada usia 26 tahun sudah melahirkan <em>Institutio,</em> sebuah <em>masterpiece </em>zaman Renaissance, di masa abad pertengahan sekitar tahun 1500-an dimana Kekristenan berpengaruh sangat besar terhadap dunia. Negara-negara reformed kala itu seperti Swiss, Swedia, Jerman, Belanda mengadopsi pemikiran Calvin seperti standar etos kerja yang tinggi, standar jasa dan produksi  benda bermutu terbaik, mendorong nilai HAM (hak asasi manusia) yang universal dan kebebasan dalam konteks demokrasi. Beberapa tokoh cendikiawan muslim seperti Gus Dur, Nurcolish Madjid, Dawam Rahardjo, hingga Muhammad A.S. Hikam dalam beberapa seminar publik di Jakarta pun mengungkapkan kekagumannya pada pemikiran Calvin.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-950"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menelisik sistem pendidikan yang dikecap oleh generasi Calvin pada masa itu tidak hanya menekankan aspek religius saja (teologi dan doktrin), namun  sengaja dirancang komprehensif mendorong generasi mudanya untuk mempelajari<em> liberal arts </em>yang basisnya antara lain: <em>mathematics, science, arts, and language</em>. Ada dua kategori pendidikan yang wajib diperdalam dan dipraktekkan sehari-hari, yakni The Trivium (<em>grammar, logic, rethoric</em>) dan The Quadrivium (<em>arithmetic, astronomy, music, geometry</em>), melalui proses pendidikan yang cukup berat tersebut, diharapkan seorang manusia dapat mencapai kualitas terbaiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan masa muda Calvin juga sangat dipengaruhi oleh beberapa tokoh masa itu yang menjadi gurunya. Misalnya ilmu klasik dengan fokus bahasa Latin yang diajar oleh seorang sarjana besar, Mathurin Cordier. Dilanjutkan studi filsafat dan teologi yang diajar langsung oleh seorang tokoh Spaniard Antonio Coronel, kemudian melanjutkan lagi sekolah hukum di bawah bimbingan ahli Pierre de l’Estoile.</p>
<p style="text-align:justify;">Nampak bahwa sistem pendidikan pada masa tersebut sudah mencakup keterampilan berpikir sekaligus keterampilan mempraktekkannya, mendorong terjadinya <em>integrated knowledge</em> dengan hidup keseharian (<em>daily life</em>). Moral dan etika selalu beriringan dengan ilmu pengetahuan, logika tidak bisa lepas dari religiusitas, akal budi selalu dituntut sejalan dengan hati nurani. Sehingga lahirlah suatu prinsip reformed Calvin yang sangat terkenal, <em>“high thingking and low living” </em>(berpikiran sedalam mungkin namun tetap hidup sederhana). Buah dari sistem tersebut misalnya pada keberanian Calvin mendorong perubahan dalam konteks <em>humanism and governance</em> masa itu yang direpresentasikan melalui buku pertamanya, De Clementia (1532), dimana Calvin menegaskan bahwa penguasa harus baik dan toleran dalam menjalankan misi kepemimpinannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, terlontar pula kritik Max Weber terhadap pemikiran Calvin yang sangat menekankan kerja keras, ketelitian dan kesempurnaan suatu karya. Pemikiran Calvin dianggap memicu lahirnya Kapitalisme. Tidak hanya itu, dukungan Calvin terhadap sistem bunga uang dalam perbankan, makin menambah deretan tuduhan bahwa hanya orang-orang yang bekerja keras, menghasilkan banyak uang dan mampu membungakan dananya akan terus makin kaya. Bila kita membaca literatur asli mengenai seminar Calvin tentang bunga uang, pada dasarnya, prinsip yang ditekankan Calvin mengacu kepada pemanfaatan uang untuk hal-hal yang harus sesuai moral, dan bila seseorang tidak mampu membayar pinjaman maka bunga uang harus ditiadakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu penekanan terhadap Kedaulatan Allah yang mutlak bahwa manusia yang mengucap syukur dan ingin memuliakan Tuhan Penciptanya, haruslah menunjukkannya dengan kerja keras terbaik, keuletan dan keteguhan memang mendorong perubahan yang signifikan pada negara-negara pengadopsi pemikirannya. Geneva contohnya, sebagai tempat berkumpulnya para tokoh-tokoh reformasi masa itu, warisan etos kerja, disiplin, prinsip bahwa segala sesuatu harus dikerjakan sesempurna mungkin sebab itulah yang Tuhan kehendaki dalam konteks Kedaulatan Pencipta terhadap ciptaan-Nya manusia, menghasilkan karya terbaik seperti jam tangan Rolex misalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dengan masa postmodern saat ini (red. telah dikupas dalam tulisan sebelumnya, berjudul <em>Menggugat Postmodernisme Derrida</em>), seluruh tatanan terbaik terutama pola pendidikan mengalami banyak sekali kemerosotan karena direkonstruksi ulang berbasiskan totalitas kebebasan yang cenderung liar.  Dimana religiusitas selalu diversuskan dengan rasionalitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh paling nyata adalah adopsi kurikulum Montessori yang kini menjadi tren sekolah atau universitas berlabelkan internasional. Banyak pihak yang menyangka bahwa kurikulum ini adalah paling mutakhir, namun bila ditelusuri lebih jauh pondasinya berakar pada pandangan Rooseau dan John Locke yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik seperti sehelai kertas putih bersih namun lingkunganlah yang menyebabkannya menjadi jelek. Praksisnya dalam kurikulum pendidikan kemudian diterjemahkan oleh Maria Montessori dengan mengutamakan kebebasan atau kemerdekaan anak didik, menolak hukuman dan kehendak aktif anaklah yang utama. Guru diposisikan menjadi bagian alat peraga, guru tidak diutamakan karena guru adalah bagian dari lingkungan yang kemungkinan bisa merusak murid yang masih “suci bersih” itu, nyaris tidak ada ruang bagi guru untuk membuat kesimpulan agar anak mengerti tujuan dan nilai tertinggi dari pendidikan tersebut kecuali hanya untuk meningkatkan intelektualitas individual semata. Sebaliknya sistem pendidikan zaman Calvin adalah berangkat dari pandangan bahwa pada dasarnya seorang anak telah membawa bibit dosa sehingga pendidikan yang baik tidak cukup hanya ditekankan pada aspek rasio/intelektualitas saja, namun harus mencakup  pula filasafat, moral, alam, seni dan rohani.</p>
<p style="text-align:justify;">Fatalisme Montessori ini kemudian di era yang sama diimbuhi ahli pendidikan lain, John Dewey, seorang tokoh pendidikan modern yang terkenal dengan slogannya “<em>learning by doing</em>”, lebih menekankan sisi pragmatisme dari pendidikan (red. Anda dapat membaca artikel sebelumnya, <em>Sebuah Koreksi untuk Asas Manfaat Bentham</em>), yakni pentingnya fokus sosiologi dalam hal pengalaman keterampilan bekerja (keterampilan berpikir dianggap tidak penting) di masyarakat. Akibatnya menutup ruang integrasi pendidikan kesusilaan, agama , filasafat dan moral karena dianggap kurang mengandung sisi praktis.</p>
<p style="text-align:justify;">Implikasi pendidikan masa modern abad 20 kini, dengan mudah ditemukenali adalah manusia-manusia yang tidak mampu merelasikan, menerapkan keilmuannya secara terintegrasi dalam hidup sehari-hari, bahkan pendidikan agama yang sarat etika dan moralitas pun gagal diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan umum lainnya. Seolah hidup berada dalam <em>fragmented world</em> (dunia yang terpecah pecah, disharmoni).</p>
<p>Apakah yang dapat <em>Utus Itah</em> pelajari?</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, adalah bahwa satu orang utus itah memiliki potensi, bakat, kemampuan yang bila diasah dengan baik mampu berperan besar dalam konteks yang luas, tidak hanya dalam konteks kedaerahan saja. Individu-individu utus itah bila mengerjakan sesuatu bersama-sama dalam konteks falsafah kebersamaan yang dijunjung oleh masyarakat Dayak, maka logikanya pasti ada kontribusi lebih besar yang bisa dihasilkan oleh masyarakat Dayak bagi bangsanya bahkan bagi dunia.</p>
<p>Kedua, adalah kesempatan untuk mendapat guru yang terbaik. Masa kini kita dijejali dogma bahwa pendidikan mahal adalah yang paling baik. Namun pemikiran tersebut pada dasarnya keliru, sejak abad-abad pertama, bahkan hingga kini selalu kita ketahui bahwa bila melanjutkan ke suatu bidang studi tertentu, maka hal pertama yang harus diketahui dan ditemukan adalah mengenal siapakah guru/dosen/pengajar yang terbaik. Ini kunci penting untuk mendapatkan pendidikan yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, adalah sistem pendidikan yang kita pilih menentukan tujuan hidup dan masa depan generasi Utus Itah. Masa kini yang dikenal sebaga era post modern, orang-orang tua yang pernah mengecap pendidikan dekade 70’an akan terkaget-kaget dengan sistem pendidikan saat ini. Murid diberi hak untuk menilai guru atau dosennya, bahkan memiliki hak untuk tidak disalahkan atas kekeliruannya. Bagaimana mungkin seorang guru atau pengajar tidak dibenarkan memberikan hukuman serta jawaban pasti akan sesuatu hal sebagai baik atau buruk, benar atau salah. Pada poin ini maka keberanian untuk belajar di luar lingkungan sekolah menjadi sangat krusial, karena kadangkala tatatan kurikulum yang dibuat belum tentu mampu menciptakan generasi berkarakter agung.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang diutarakan Calvin “… <em>man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.”</em> (John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.3, p. 39). Maka marilah kita bergerak naik ke level kedewasaan, berani mengkomparasikan hidup, nilai kearifan, pengalaman, latar budaya kita dengan keagungan Allah Sang Pencipta Utama agar menjadi pribadi unggulan.</p>
<p align="right">Jakarta, 3 Januari 2012</p>
<h4><em>*Rio S. Migang, pernah menempuh Sekolah Teologi Reformed Injili di Malang 2001, penerima Joop Ave Award 2005 bidang Tourism Excellences di Yogyakarta, Dewan Pertimbangan Pusat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2009-2014, Principle Jakarta Arsimedik Studio atau JAS Studio</em>|<em>www.inovasikreatif.com</em></h4>
<h4><em>**Release soon! <strong><em>[seri 5] Kearifan Dayak Menginternasional</em></strong></em></h4>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/950/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=950&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2012/01/03/seri-4-kearifan-dayak-menginternasional-calvin-pendidikan-masa-kini-generasi-utus-itah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2011/05/new-clipart.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">new release!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[seri 3] KEARIFAN DAYAK MENGINTERNASIONAL: Betang untuk Mies van der Rohe</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/07/04/ser-3-kearifan-dayak-menginternasional-betang-untuk-mies-van-der-rohe/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/07/04/ser-3-kearifan-dayak-menginternasional-betang-untuk-mies-van-der-rohe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 02:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=930</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; Suka ke mall atau shopping center? Bagi para shopper (pembelanja), tentu saja jawabnya suka. Bila sering ke mall apalagi di Jakarta, sekali-kali berhentilah sejenak pada stand-stand developer yang menjual produk perumahan dan tanyakan pada salesnya, rumah yang dijual model apa? Kebanyakan akan menjawab, rumah minimalis. Trend [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=930&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|</h5>
<p>Suka ke mall atau <em>shopping center</em>? Bagi para shopper (pembelanja), tentu saja jawabnya suka. Bila sering ke mall apalagi di Jakarta, sekali-kali berhentilah sejenak pada stand-stand developer yang menjual produk perumahan dan tanyakan pada salesnya, rumah yang dijual model apa? Kebanyakan akan menjawab, rumah minimalis.</p>
<p>Trend istilah arsitektur minimalis yang masih melanda dunia dan Indonesia, tidak lepas dari dua tokoh utamanya, Ludwig Mies van der Rohe seorang berkebangsaan Jerman dan Le Corbuiser seorang berkebangsaan Swiss. Keduanya dianggap sebagai bapak arsitektur minimalis modern atau sering pula dikenal sebagai <em>Fathers of Modern Style. </em></p>
<p><span id="more-930"></span></p>
<p>Bila kita merunut pada sejarah, arsitektur minimalis bukan sekedar gaya, tetapi sebuah konstruksi berpikir yang dianggap memperbaharui dan mensimplifikasi model klasik yang rumit, penuh ornamen dan dekorasi. Ditunjang penemuan teknologi bahan dan industri massal, makin menciptakan atmosfir pada fisik arsitektur yang penuh dengan kesederhanaan (<em>simplicity</em>) mengambil bentuk geometris dasar (elementer) dengan bahan pabrikasi, minim dekorasi (terkesan anti ornamen) serta cenderung seragam. Di kemudian hari, arsitektur disharmoni dekonstruksi postmodern muncul untuk melawan prinsip modern tersebut.</p>
<p><em>Less is More</em> ujar Mies van der Rohe di tahun 1923 dan <em>Maximalism Maximalismo</em> ujar Kliczkowski di tahun 1990, seorang arsitek minimalis lainnya. Implikasi minimalisme melalui keseragaman bentuk, ditimpali bumbu “cara mudah dapat untung segera” dan kedangkalan pragmatisme, dibangunlah hunian serta bangunan yang minim logika arsitektur. Hal tersebut benar-benar mengubah wajah dunia arsitektur saat ini, paling mudah untuk diperhatikan adalah wajah kota-kota di Indonesia, fenomena pembangunan perumahan, ruko (rumah toko) dan rukan (rumah kantor). Asalkan denah kotak persegi, asal ada jendela, asal ada pintu, asal sirkulasi udara secukupnya, asal ada cahaya matahari masuk, asal lahan tertutup biar tidak rugi, asal cukup parkir maka disebutlah itu gaya modern minimalis.</p>
<p>Bagi saya, itu bukan lagi arsitektur minimalis, itu pendangkalan dan pelecehan terhadap minimalisme Rohe, Corbu, Gropius, Ando, Barragan, yang dilucuti hingga ke titik nadir bernama arsitektur asal-asalan. Perhatikan dengan seksama wajah kota-kota di Indonesia saat ini, ketiadaan penghargaan terhadap logika arsitektur diramu dengan bumbu pragmatisme melahirkan produk arsitektur “miskin”, miskin ruang terbuka hijau, miskin pohon, miskin seni dan miskin penghargaan pada manusianya sendiri.</p>
<p><strong>Arsitektur Eksisten karena Manusia Dicipta</strong></p>
<p>Arsitektur minimalis sendiri mengandung banyak kekurangan. Kekurangan ini dapat teridentifikasi karena arsitektur eksisten untuk manusia. Arsitektur adalah ciptaan layer ketiga, yang dicipta oleh manusia, manusia yang adalah ciptaan Sang Pencipta. Untuk mengerti arsitektur yang minimal baik, maka landasan awal adalah didasari pada pemahaman akan nilai manusia yang mulia (<em>dignity</em>). Dalam diri manusia telah ada dimensi nurani, moralitas dan spritualitas, sifat seni (<em>sense of art</em>), sifat untuk mencintai sesamanya (<em>love each other</em>), sifat menghargai alam (<em>respect the nature</em>). Landasan-landasan tersebut menjadi pedoman mengembangkan Betang oleh Utus Itah/Oloh Itah/Anak-anak Eson Tambun Bungai, yang sebagian prinsipnya sudah dibahas pada esai sebelumnya: (1) <em>Sebuah Koreksi untuk Asas Manfaat Bentham</em> dan (2) <em>Menggugat Postmodernisme Derrida</em>.</p>
<p>Pada landasan penting tersebut, orang Dayak mengembangkan Rumah Betang. Rumah <em>Betang</em> (Rumah Panjang) atau disebut pula <em>Lamin, </em>merupakan cerminan fisik dari konstruksi pikir orang Dayak.</p>
<p><strong>Beyond Betang</strong></p>
<p>Cukup mudah menemukan literatur cetak ataupun hasil googling internet tentang arsitektur Betang/Lamin. Pada poin ini saya tidak akan mengulang kembali apa yang ada, namun mencoba mensinergikan kristalisasi prinsip kearifan manusia Dayak, filosofi, logika arsitektur dan implikasi manifestasi fisiknya.</p>
<p>Sudah mahfum diketahui bahwa kaki-kaki dari Rumah Betang yang tinggi merupakan adaptasi terhadap sistem perlindungan atas serbuan dari suku lain termasuk hewan hutan. Perlindungan tersebut dilandasi sifat orang Dayak yang mewujudnyatakan cinta kasih pada keluarga besar dan sukunya dengan memproteksi kaumnya pada sebuah hunian dengan kaki tinggi. Manifestasi ini dimungkinkan pula karena teknologi bangunan masa itu bersumber dari pemanfaatan kayu besi hutan (<em>tabalien</em>) yang besar, awet dan sangat kuat. Prinsip ini adaptif untuk konteks tapak yang sesuai, bila masih tinggal di hutan pedalaman tentu sangat mungkin hingga masa sekarang diterapkan, namun bila sudah berada pada area perkotaan modern tentu tidak kontekstual. Itu mengapa, perubahan modernitas memiliki kekuatan peubah pada manifestasi fisiknya, namun tidak pada prinsip perlindungan dan kasih sayang terhadap kaumnya. Disini kita melihat hal yang mutlak tidak berubah, sedangkan yang tidak mutlak yakni kaki-kaki tinggi tiang Betang bisa beradaptasi dan dimanifestasikan ke bentuk yang lain. <strong>Ini pedoman pertama.</strong></p>
<p>Hal kedua, bentuk geometri persegi memanjang Rumah Betang dengan skala giganya merupakan perwujudan kesederhanaan (<em>simplicity</em>) sekaligus wadah yang dirasa lebih tepat untuk menampung semangat kebersamaan manusia Dayak. Masyarakat dayak adalah masyarakat komunal, baik suku bangsanya Ngaju, Lawangan, Ma’anyan, Ot Danum dan seterusnya secara internal memiliki ikatan kekerabatan yang sangat dekat. Disini, sebuah hunian adalah ruang yang nyaman untuk representasi interaksi kekeluargaan, berkumpul bersama dalam skala massa. Hingga saat ini pun, secara tersirat, pola ini dipraktekkan pada rumah-rumah beton orang Dayak yang umumnya memiliki ruang tengah sangat besar agar mampu menampung puluhan bahkan ratusan orang tamu maupun kerabat. Maka hunian yang memiliki ruang utama dengan skala lebih besar dan lebih terbuka dibandingkan ruang lainnya adalah representasi dari sifat orang dayak yang suka akan kebersamaan. <strong>Ini pedoman kedua.</strong></p>
<p>Sesekali ajaklah rekan, sahabat, keluarga Anda berkunjung ke Kalimantan dan menginaplah di Rumah Betang Tumbang Malahoy, ataupun Betang di lokasi lainnya (mungkin paket tour <em><span style="text-decoration:underline;">Ekowisata Kapal Pesiar Sungai dan Borneo City Tour</span></em> mempermudah Anda untuk merasakan asyiknya pengalaman tinggal di Rumah Betang Dayak, info tour secara elektronik bisa dilihat di <em><a href="http://inovasikreatif.com/pariwisata" target="_blank">www.inovasikreatif.com/pariwisata</a></em>). Anda dapat merasakan kenyamanan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Seluruhnya betul-betul terintegrasi dengan alam sekitar yang masih asri. Dalam istilah arsitektur kini, dinamakan bangunan yang berlandaskan arsitektur hijau (<em>green architecture</em>), jauh sebelum istilah tersebut lahir, kearifan dayak sudah mempraktekkannya. <strong>Ini pedoman ketiga.</strong></p>
<p>Masyarakat Dayak tidak dikenal sebagai masyarakat pedagang, tapi lebih dikenal sebagai peladang rotasi (gilir balik) dan dalam <em>hadat,</em> harga diri seorang Dayak adalah tanah airnya (<em>petak danum</em>) bukan bangunannya. Seringkali dalam satu petak tanah, hunian rumah lebih kecil dibandingkan ruang terbukanya. Turun temurun ini membentuk sifat orang Dayak lebih menghargai alam dan tanahnya sehingga pemanfaatan tapak/lahan bangunan memiliki komposisi yang berimbang antara ruang tertutup dan ruang terbuka. <strong>Ini pedoman keempat.</strong></p>
<p>Masyarakat Dayak hidup tidak sembarangan. Turun temurun masyarakat Dayak mempraktekkan <em>hadat </em>karena relasi kepercayaan dengan Tingang, representasi dunia atas dan Jata, representasi dunia bawah. Relasi ini disimbolkan dengan sangat kental pada pemberian ornamen-ornamen bangunan, ada siluet Kepala dan Ekor Tingang di <em>tanggar </em>Betang. Ada pula motif ukiran Bajakah lelek, Balanga, Talewang, Tampung Penyang, Garantung, hingga siluet Batang Garing Belum. Ini bukan ornamen tempelan untuk meramaikan dekorasi eksterior interior rumah, ini manifestasi hidup orang Dayak sesungguhnya. Bagi orang Dayak, suatu simbol melalui ornamen selalu identik dengan yang disimbolkan. Sehingga dari rumah dan ornamentasi yang dipergunakan memungkinkan kita mengenal latar belakang penghuninya, baik religiositas, budaya dan filosofinya. Ornamentasi yang dipilih dan ditentukan, merefleksikan pemiliknya. <strong>Ini pedoman kelima.</strong></p>
<p>Kelima pedoman tersebut mewujudnyatakan sistem logika arsitektur yang berbasiskan <em>antroposentric approach</em>, yakni pendekatan berpusat pada manusia dengan budayanya, bukan semata-mata berdasarkan perlawanan kebosanan terhadap gaya lama klasik yang penuh ornamen. Bukan pula semata-mata karena tuntutan teknologi pabrikasi modern. Kearifan Dayak sudah mempraktekan kelima pedoman tersebut, hanya sayang sekali saat ini interpretasi Betang dari para praktisi arsitektur kurang memperhatikan prinsip dan kaidah tersebut, dimana budayawan Dayak yang seharusnya dilibatkan (<em>involvement</em>) sebagai salah satu narasumber disisihkan, namun instuisi pribadi arsitek yang acapkali berbasiskan pola pikir dekonstruksi Derrida yang ceroboh, digunakan secara sukacita dan gegap gempita untuk menginterpretasi ulang kearifan Betang Dayak. Janganlah <em>mameh </em>ujar seorang tokoh Dayak, karena tanah Kalimantan bukan tanah yang kosong melompong tak berpenghuni.</p>
<p>Arsitektur Betang, bila disimpulkan, mencerminkan konstruksi berpikir kearifan Dayak yang sederhana namun berkarya seni. Istilah saya sendiri adalah, <strong><em>Betang is</em> <em>Not only Modern Minimalist and Nor Traditionalist but Completely Architecture</em></strong><em>.</em> Seandainya Mies van der Rohe terlebih dahulu belajar pada kearifan arsitektur Betang Dayak khususnya dan arsitektur Nusantara umumnya, maka mungkin kehadiran arsitektur dekonstruksi postmodern yang melawan modernitas Rohe dkk belum tentu lahir di masa ini.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>*Rio S. Migang, arsitek kurang terkenal, menerima Joop Ave Award 2005, DPP Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Principle JAS Studio</em>|<em>www.inovasikreatif.com</em></p>
<p><em>**Release soon: [seri 4] KEARIFAN DAYAK MENGINTERNASIONAL Calvin, Pendidikan Masa Kini &amp; Generasi Utus Itah</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/930/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=930&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/07/04/ser-3-kearifan-dayak-menginternasional-betang-untuk-mies-van-der-rohe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[seri 2] KEARIFAN DAYAK MENGINTERNASIONAL: Menggugat Postmodernisme Derrida</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/06/23/seri-2-supremasi-kearifan-dayak-menggugat-postmodernisme-derrida/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/06/23/seri-2-supremasi-kearifan-dayak-menggugat-postmodernisme-derrida/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 02:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=920</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; Bila kita membaca habis karya terbaik Jacques Derrida berjudul Of Grammatology, maka kita akan segera menyadari bahwa dunia postmodern yang kita hidupi saat ini nyaris seluruhnya didikte oleh prinsip dekonstruksi Derrida. Prinsip Derrida sebenarnya sederhana, yakni bahwa sebuah tata bahasa (grammar) memiliki kemungkinan arti (tafsir) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=920&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|</h5>
<p>Bila kita membaca habis karya terbaik Jacques Derrida berjudul <em>Of Grammatology</em>, maka kita akan segera menyadari bahwa dunia postmodern yang kita hidupi saat ini nyaris seluruhnya didikte oleh prinsip dekonstruksi Derrida.</p>
<p>Prinsip Derrida sebenarnya sederhana, yakni bahwa sebuah tata bahasa (<em>grammar</em>) memiliki kemungkinan arti (tafsir) yang banyak ragamnya. Sebuah teks bisa ditafsirkan sebebas-bebasnya tergantung subjektivitas individunya. Prinsip ini merupakan upaya rekonstruksi terus menerus (dekonstruksi) terhadap tatanan teratur modernitas. Prinsip tersebut lahir karena dua sebab, pertama, Derrida menganggap bahwa tradisi tulisan nilainya lebih tinggi dari tradisi lisan. Kedua, berangkat dari <em>free will</em> manusia bahwa kebebasan itu sendiri bersifat absolut. Kedua proposisi tersebut menembus dua bidang besar umat manusia, filsafat dan teologi yang kemudian mempengaruhi secara radikal <em>postmodern worldview</em> (semesta pandang paska modernitas) generasi-generasi saat ini.</p>
<p><span id="more-920"></span></p>
<p>Pada satu sisi, kebebasan melakukan multitafsir terhadap sebuah teks memang mampu memicu dan merangsang kreativitas, namun pada saat  yang bersamaan akan mengacau balaukan tatanan <em>grammar</em> yang sebelumnya tertib. Kini, hampir seluruh kekacauan dunia postmodern awalnya dipicu oleh pembahasan <em>On Grammatology</em> terhadap kebebasan absolut atas permainan makna sebuah bahasa (<em>language game</em>), dimana Derrida membuat suatu “aturan gila” bila satu teks boleh memiliki kemungkinan puluhan, ratusan, bahkan ribuan penafsiran berbeda. Sebuah batu, bukanlah batu bagi si B, bagi si C, bagi si D, bagi si E, dan seterusnya sehingga interpretasi terhadap satu objek benar-benar bebas dalam pengertian seliar-liarnya.</p>
<p>Banyak lagi contoh yang bisa diangkat, pada tingkat komunitas misalnya trend bahasa “alay” (anak layangan) yang muncul berbarengan dengan trend FB dan Twitter, bahasa prokem anak muda yang benar-benar kacau baik struktur maupun kedalaman artinya. Pada tingkatan birokrasi, contoh paling dekat saja, penetapan bupati Kotawaringin Barat yang belum beres hingga sekarang, walaupun Mahkamah Konstitusi (MK) yang merupakan lembaga tertinggi negara sudah bulat dan pasti menetapkan pasangan Bupati terpilih, namun upaya interpretasi ulang teks hukum tersebut dilakukan dengan segala cara. Begitu pula di tingkat nasional, krisis ber-Pancasila dimulai dari reinterpretasi sila-sila yang ada menjadi ragam interpretasi yang saling berbenturan.</p>
<p>Indonesia sebagai bangsa, sadar atau tidak sadar sudah mengadopsi dan mengimplementasikan prinsip Derrida dalam kehidupan berbangsa. Pengaburan makna dari suatu moralitas pasal undang-undang, Perda, sila Pancasila hingga ketetapan hukum oleh Konstitusi Tertinggi di negeri ini, menjadi beragam-ragam penafsiran yang betul-betul saling bertentangan.</p>
<p>Cobalah jeli sejenak, etos postmodern secara keseharian yang mencampuradukan dan membenturkan banyak elemen berbeda dimunculkan sangat intens melalui MTV, yang dipenuhi gambar dan warna-warni grafis yang saling bertentangan sehingga benar-benar tidak ada makna tunggal atau objektif.  Dimunculkan pula melalui film dokumenter dengan cap “true story”, padahal substansi serta alurnya berbeda total dengan <em>true story-</em>nya. Seperti film dari novel fiksi ilmiah Da Vinci Code yang menghebohkan dunia karena berhasil menipu banyak orang dengan cara memudarkan fakta asli dan meriilkan imajinasi menjadi “fakta” baru.</p>
<p>Begitu pula ‘tafsiran ulang” arti karya cipta sebuah naskah tertulis pun kini mudah ditemukan. Plagiator-plagiator ulung mengatasnamakan intelektualitas yang secara licik mengemas buku-buku lama dengan judul baru, cover baru dan atas nama pribadi seolah-olah sebagai narasumber utama, padahal ternyata isi substansinya 99,9% hak cipta orang lain. Itulah realitas kekacauan postmodern masa kini.</p>
<p><strong>Kearifan Dayak menjawab</strong></p>
<p>Kearifan dayak hanya bisa menjawab dinding narasi pemikiran Derrida tersebut bila melakukan satu syarat sederhana. Keluar sejenak dari persoalan <em>being of Dayak</em>, untuk masuk menuju <em>meaning of Dayak life.</em> Keluar sementara dari merumuskan <em>identity of dayak</em> yang tidak habis-habisnya itu, masuk menuju kristalisasi kearifan yang telah diwariskan para <em>anchestor </em>kita.</p>
<p>Tentu sudah kita pahami bersama bahwa kebudayaan Dayak tidak lepas dari tradisi lisan. Sebuah tradisi yang memungkinkan tingkat kepercayaan terhadap sesuatu hal, nyaris sama tingkatannya dengan beriman, percaya total pada sesuatu yang tidak terlihat. Ketika seorang tua sesepuh dayak bercerita (secara lisan) pada cucunya tentang dunia <em>Sangiang</em>, maka proses menjadi percaya itu sama pentingnya dengan cerita <em>Sangiang</em> itu sendiri. Pada poin ini, kita bisa melihat bahwa percaya merupakan sebuah tindakan aktif seorang Dayak. Tradisi lisanlah yang perlahan tapi pasti membentuk karakter seorang Dayak sebagai seorang yang sungguh-sungguh bisa dipercaya (Ma’anyan: <em>tau naharap</em>). <strong>Apa yang dikatakan konsisten dengan apa yang diperbuat sehingga dipercaya, ini kata kunci pertama kearifan Dayak.</strong></p>
<p>Ketika Fridolin Ukur menjawab dan menerangkan arti kata mengayau, dalam bukunya “Tantang Jawab Suku Dayak”, jelas sama sekali tidak terbersit upaya untuk mengaburkan makna sesungguhnya dari arti kata mengayau. Mengayau (Ngaju: <em>kayau</em>), tetap konsisten diartikan sebagai tindakan memotong kepala manusia (terjemahan dalam bahasa Indonesia) yang jelas sebagai fakta adat dan dilakukan oleh beberapa sub suku Dayak di Kalimantan. Ini bukan masalah tidak ada kesempatan memperbaiki citra dengan cara memutarbalikkan/menafsirkan ulang arti kayau, bukan!. Tetapi <strong>kejujuran menyampaikan arti bahasa secara objektif merupakan sikap yang sangat umum dikenal di masyarakat Dayak, hal ini merupakan kata kunci kedua kearifan Dayak.</strong></p>
<p>Dalam jenjang hidup seorang Dayak, ada beberapa peristiwa adat yang akan dilaluinya, sejak kelahiran, perladangan, pernikahan, hingga upacara kematian (<em>tiwah</em> atau <em>ijambe</em>). Orang dayak yang tidak menjalankan adatnya walaupun sederhana sekalipun akan disebut <em>dia bahadat</em> (tidak beradat), begitu pula yang melanggar adat akan diberi sanksi adat (<em>singer</em>) sebagai langkah bijak bermasyarakat untuk tertib harmonis. Tidak beradat bukan hanya karena belum menjalankan kewajiban tradisi, tapi lebih dikarenakan belum menjalankan keteraturan dan harmonisasi kebersamaan dengan sesamanya. Pada poin ini, hikmat kearifan Dayak dibalik pelaksanaan adat, singer maupun pali adalah <strong>wujud harmonisasi dan keteraturan, yang merupakan kata kunci ketiga.</strong></p>
<p>Perhatikanlah dengan seksama: prinsip keteraturan, kejujuran secara objektif, dan kepercayaan atas konsistensi kata dengan perbuatan yang dibangun seorang generasi Dayak, memiliki beda kualitas (<em>qualitative difference</em>) yang jauh sekali dengan prinsip yang dibangun Derrida. Kekuatan dekonstruksi Derrida memang mampu mengubah wajah dunia saat ini, namun kekuatan kearifan Dayak melampaui dan melompati hal tersebut.</p>
<p>Sehingga seharusnya tanah Kalimantan mewakili generasi-generasi unggulan Indonesia yang dengan sikap <em>Mamut Menteng </em>(gagah berani), memberikan teladan universal bagaimana harmoni dengan sesama dan lingkungannya, teratur dan tertib tanpa harus kehilangan kreativitas, dapat dipercaya karena jujur, konsekuen tidak memultitafsirkan kata dan perilaku. Berkata tidak sebagai TIDAK dan ya sebagai YA.</p>
<p><strong><em>*Rio S. Migang, MSc, warga Ma’anyan tinggal di Jakarta, Pengurus pleno DPP Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Principle JAS Studio|www.inovasikreatif.com</em></strong></p>
<p><strong><em>** Release soon! [seri 3] SUPREMASI KEARIFAN DAYAK: Betang untuk Mies van der Rohe</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/920/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/920/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=920&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/06/23/seri-2-supremasi-kearifan-dayak-menggugat-postmodernisme-derrida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[seri 1] KEARIFAN DAYAK MENGINTERNASIONAL:  Sebuah Koreksi untuk Asas Manfaat</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/06/08/supremasi-kearifan-dayak-sebuah-koreksi-bagi-asas-manfaat/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/06/08/supremasi-kearifan-dayak-sebuah-koreksi-bagi-asas-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 03:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; Bila Anda berkesempatan berjalan-jalan keluar negeri, mampirlah sejenak ke toko-toko buku disana, biasanya dengan mudah Anda akan menemukan ratusan buku tentang paham utilitarianisme. Utilitarianisme atau diterjemahkan sebagai asas manfaat, merupakan produk pemikiran barat melalui para tokohnya seperti Jeremy Bentham, John Stuart, David Hume, yang mewabah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=899&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|</h5>
<p style="text-align:justify;">Bila Anda berkesempatan berjalan-jalan keluar negeri, mampirlah sejenak ke toko-toko buku disana, biasanya dengan mudah Anda akan menemukan ratusan buku tentang paham utilitarianisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Utilitarianisme atau diterjemahkan sebagai asas manfaat, merupakan produk pemikiran barat melalui para tokohnya seperti Jeremy Bentham, John Stuart, David Hume, yang mewabah hingga sendi-sendi keIndonesiaan.  Bertransformasi menjadi nilai hidup publik, asas ini dimanifestasikan dalam berbagai keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kebijakan pemerintah, politik, hukum, perekonomian, industri dan perdagangan bahkan hingga ke tataran yang lebih privat lagi, yakni dalam hubungan antar pribadi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-899"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan sangat mudah kita temukan ucapan yang mengatasnamakan bermanfaat atau tidak bermanfaat di media televisi, internet maupun cetak. <strong>Globalisasi bergerak cepat membawa nilai baru ini hingga mengubah nilai moralitas dan universalitas kebaikan ke dalam saringan baru bernama bermanfaat atau tidak.</strong> Contoh paling konkrit yang dapat dengan mudah kita temui adalah dalam ranah otonomi daerah, ketika pihak pengambil keputusan diperhadapkan pada pilihan merevitalisasi hutan rusak Kalimantan ataukah mendayagunakan hutan hijau menjadi lahan sawit (sehingga tanah menjadi makin rusak), maka pada posisi krusial ini asas manfaat menjadi dasar pertimbangan kebijakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Merevitalisasi hutan tidak hanya berkualitas bagi kehidupan jangka panjang, lebih dari itu memiliki nilai kebaikan bagi alam, rantai makanan bahkan bagi keberlangsungan kebudayaan lokal di sekitarnya. <strong>Namun karena nilai manfaat ekonominya sangat rendah dalam skala jangka pendek-menengah, maka nilai kebaikan tersebut pupus oleh keputusan untuk mengejar pertumbuhan sesegera mungkin secara praktis.</strong> Implikasinya bisa ditebak, salah satunya membuka sawit seluas-luasnya dan akhirnya mencederai rasa keadilan masyarakat adat.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila dianalisis lebih tajam, <em>utilitarianisme </em>ini pun telah diadopsi sejak era Orde Lama dan dipertegas penggunaannya di era Ode Baru Kabinet Pembangunan yang salah satunya nampak pada pasal 2 UU Kepariwisataan No. 9 tahun 1990 hingga pada bentuk revisinya di UU  Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 era Reformasi Kabinet Indonesia Bersatu. Asas ini menggiring (salah satunya) sektor pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan secara pragmatis mudah sekali untuk dipelintir menjadi kemanfaatan maksimal bagi segelintir oknum, dan kemanfaatan minimal bagi masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Asas manfaat (<em>utilitarianisme</em>) yang telah kawin mengkawin dengan pragmatisme praktis, bertolak belakang dengan kearifan lokalitas Dayak yang bernilai universal.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nilai universal ini telah dipraktekkan oleh nenek moyang orang Dayak melalui pencermatan dan reaksi aktif terhadap bijaksana yang terkandung pada alam dan seisi belantaranya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sosok Tingang (enggang) dan Naga (jata) yang mewakili konsep dunia atas dan dunia bawah dalam masyarakat Dayak merupakan pengejewantahan terhadap bijaksana yang dimaksud. Nilai kesetiaan yang dipraktekkan burung Tingang dalam hal monogami, perhatian dan empati terhadap anak sesamanya bila induknya mati, nilai konservasi terhadap hutan sebagai “aktivis” penyemai bibit tanaman, hingga nilai keindahan sebagai cermin fisik Tingang dan Naga yang kemudian terukir pada <em>tanggar </em>Betang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tingang yang menjadi sosok penting dalam budaya masyarakat Dayak memberikan pencerahan (<em>enlightment</em>) akan kualitas sifat orang Dayak yang setia pada ucapan yang telah diikrarkan, sifat menolong yang sangat kental bahkan kepekaan memanfaatkan hasil hutan alam tanpa merusaknya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dualitas kekuasaan Tingang dan Naga menempatkan manusia pada posisi ranah tengah, sebuah dunia yang paradoks dan penuh tantangan.</strong> Dalam berbagai tingkatan masalah yang ditimbulkan oleh paradoks itu, maka lahirlah <em>reaction of life</em> berupa identitas semangat kebersamaan masyarakat Dayak. <strong>Semangat <em>handep, habaring hurung, haduhup kulae</em> (pribadi mandiri, berprakarsa aktif dan masyarakat saling bergotongroyong) yang menjadi cerminan asli semangat kebersamaan <em>Huma Betang </em></strong>untuk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul.</p>
<p style="text-align:justify;">Universalitas nilai hidup masyarakat Dayak ini pun terkristalisasi pada hukum adat yang disepakati bersama, untuk mengatur relasi positif antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. <strong>Posisi krusial manusia Dayak yang berada di tengah-tengah Tingang dan Naga, menciptakan nilai hidup manusia Dayak tidak sekedar didasari relasi untung rugi, semacam relasi penjual dan pembeli.</strong> Satu bentuk relasi yang nyaris tidak pernah ditemui pada masyarakat Dayak, sehingga tidak mudah menemukenali masyarakat Dayak sebagai masyarakat pedagang.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh lain dalam berladang, tak pernah ada cerita kegiatan ladang berpindah (istilah yang benar adalah pola gilir balik/rotasi) masyarakat Dayak bermotivasikan eksploitasi isi hutan. Sebaliknya sistem yang sangat mengagumkan itu, dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan manusia sekaligus mengkonservasi alam secara bijak. Aktivitas rotasi tersebut tidak mudah dilakukan, karena dibutuhkan kesabaran, kerja keras, konsistensi dan sikap hidup yang dilandasi motivasi memberikan yang terbaik bagi alam dan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kualitas-kualitas seperti, melakukan yang terbaik (<em>do the best</em>), menghargai sesama (<em>love each other</em>) dan menghormati alam (<em>respect the nature</em>)<em> </em>menjadi karakter khas seorang Dayak sesungguhnya.</strong>  <strong>Dan kristalisasi nilai hidup seperti itulah yang jauh melompati pemikiran Jeremy Bentham, dll para penggagas <em>utilitarianisme </em>yang seringkali mengabaikan etika serta moralitas untuk mencapai maksimalisasi kesenangan, kepuasan dan keuntungan pribadi belaka.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(*Rio S. Migang, MSc, warga Ma’anyan tinggal di Jakarta, Pengurus pleno DPP Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Principle JAS Studio</em>|<em>www.inovasikreatif.com)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/899/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/899/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=899&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/06/08/supremasi-kearifan-dayak-sebuah-koreksi-bagi-asas-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARIWISATA KALIMANTAN (DI)GANYANG MALAYSIA?</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/05/08/pariwisata-kalimantan-diganyang-malaysia/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/05/08/pariwisata-kalimantan-diganyang-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 01:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; &#160; Perayaan Festival Isen Mulang 2011 di Kalimantan Tengah menorehkan makna penting bagi percepatan kemajuan pariwisata Kalimantan. Pulau Kalimantan dengan luas 743.330km2 (luas negara Indonesia keseluruhan 1.919.440km2) sungguh sangat terberkati. Bandingkan luas wilayah negara Malaysia yang hanya sekitar 329.758km2. Perbandingan postur geografis saja sudah menunjukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=841&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|</em></h5>
<div id="attachment_842" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2011/05/7.jpg"><img class="size-medium wp-image-842 " title="Batu Putih di Murung Raya-Kalteng" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2011/05/7.jpg?w=240&#038;h=150" alt="" width="240" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Batu Putih di Murung Raya-Kalteng</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perayaan Festival Isen Mulang 2011 di Kalimantan Tengah menorehkan makna penting bagi percepatan kemajuan pariwisata Kalimantan. Pulau Kalimantan dengan luas 743.330km<sup>2</sup> (luas negara Indonesia keseluruhan 1.919.440km<sup>2</sup>) sungguh sangat terberkati. Bandingkan luas wilayah negara Malaysia yang hanya sekitar 329.758km<sup>2</sup>. Perbandingan postur geografis saja sudah menunjukkan bahwa kita negara gemuk. Luas daratan mengandung banyak potensi pariwisata, apalagi potensi terpendam kelautan kita. Bentang alam ini ditambah pula dengan keragaman penduduknya yang penuh apresiasi akan seni budaya nusantara.</p>
<p>Dalam benak penulis, bila warga negara lain meneropong dari tempatnya, di lubuk hati mereka yang terdalam sangat mungkin muncul perasaan iri. Ungkapan bahwa “rumput tetangga lebih hijau”, mampu mendorong terjadinya perilaku-perilaku tak lazim, seperti peristiwa konfrontasi Malaysia ketika merebut pulau Sipadan dan Ligitan (sekitar Kaltim) beberapa waktu lalu.</p>
<p><span id="more-841"></span></p>
<p>Bila dianalogikan sebagai keluarga kaya, Indonesia sangat mudah untuk dijadikan subyek iri hati bangsa lain yang lebih “kecil dan kurus”. Namun, sebagai sebuah keluarga kaya, anggota-anggota keluarga dalam tubuh Indonesia berperilaku lebih tak lazim lagi. Lihat saja realitas data ini, ada jutaan wisatawan Indonesia melancong ke Malaysia setiap tahun. Berdasarkan rilis data Kemenbudpar tahun 2010, pada akhir 2009, tercatat 2,405 juta orang Indonesia berwisata (<em>outbound traveler</em>) ke Malaysia.</p>
<p>Sebaliknya arus wisatawan Malaysia ke Indonesia lebih kecil, sekitar 1,041 juta orang. <em>Director of Tourism Malaysia</em> di Medan, Noor Azman Samsudin bahkan menegaskan bahwa pemasok wisatawan terbesar kedua bagi Malaysia adalah dari Indonesia dan akan diperkirakan terus meningkat di tahun 2010. Apakah ini pertanda bahwa kesejahteraan warga Indonesia lebih tinggi daripada warga Malaysia ataukah karena memang daya tarik wisata di negeri jiran jauh lebih memikat dibandingkan milik sendiri?</p>
<p>Bila kita semua sepakat bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus pergi menghabiskan dana liburan dan berwisata untuk pergi ke negara lain yang kekayaan pariwisatanya tidak melebihi potensi kekayaan ke-4 (empat) propinsi di Kalimantan. Sedangkan bila semua menyepakati pula bahwa pariwisata Indonesia lebih lengkap, ada ragam wisata kuliner dari berbagai suku bangsa, wisata belanja yang komplit mulai dari pasar tradisional hingga mal-mal supermewah, maupun wisata lingkungan (ekowisata) terbesar membentang dari daratan Sumatera hingga Irian. Mengapa masih harus pergi mencari keluar? Hal ini sepatutnya menjadi bahan renungan kita bersama.</p>
<p>Beberapa waktu lalu (akhir Juli, 2010), ada kejadian menarik yang luput dari perhatian kita. George Soros, seorang pengusaha sekaligus penasihat khusus Sekjen PBB tentang perubahan iklim, beserta rombongannya khusus datang dengan pesawat pribadinya ke Kalimantan Tengah terkait kelestarian hutan dan gambut. Disela kegiatannya tersebut, tidak ketinggalan pula kegiatan wisata menjadi agenda penting tokoh tersebut. Gambaran umum tipe wisatawan internasional yang kini cenderung mengarah pada tren wisata minat khusus, terlihat jelas melalui keinginan menikmati sensasi bermalam di atas sungai dengan kapal pesiar sungai <em>Lasang Teras Garu</em>, menyusuri kawasan desa-desa suku Dayak, menikmati satwa endemik lokal, menikmati eksotisme hutan tropis, menikmati kuliner lokal, bahkan sekedar menghirup udara murni dari pusat paru-paru dunia, menjadi semacam sinyal bahwa satu pulau saja yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sudah mampu menjadi magnet pariwisata dan ekowisata yang sangat kuat. UNWTO tahun 2009 bahkan merilis <em>Tourism Highlights</em> dan memperkirakan di tahun 2010 akan tercapai target 1,046 milyar kunjungan dan ledakan wisatawan yang ingin menjelajah berbagai destinasi wisata baru, di tahun 2020 angka ini diperkirakan mencapai 1,602 milyar kunjungan terutama ke kawasan Asia Pasifik.</p>
<p>Selama ini kita terjebak pada paradigma bahwa bila jaringan infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, listrik, hotel belum sempurna maka tidak mungkin mengembangkan sektor kepariwisataan. Dalam konteks pengembangan untuk tipologi wisatawan <em>psycocentris, </em>yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya, hal tersebut mungkin benar. Namun merebaknya tren wisata minat khusus dan tipologi wisatawan <em>allocentris, </em>yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat lokal, seharusnya membuka mata pariwisata kita akan peluang besar pengembangan kepariwisataan berbasis alam (<em>nature</em>) dan budaya (<em>culture</em>) secara terfokus.</p>
<p>Mengacu pada UU Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 pasal 1 mengenai kawasan strategis pariwisata, maka bila ditinjau lebih lanjut pulau Kalimantan tepat berada pada posisi kawasan yang dinilai mempunyai pengaruh penting bagi dunia internasional terutama pada aspek pemberdayaan sumber daya alami, daya dukung lingkungan hidup, sosial dan budaya. Nilai penting dan nilai strategis inilah yang memposisikan Kalimantan lebih condong sebagai satu kesatuan destinasi wisata, bukan sekedar destinasi parsial yang dibatasi wilayah administratif. Kesatuan destinasi wisata ini seharusnya ditandai dengan adanya perencanaan pariwisata lintas wilayah atau lintas propinsi administratif yang bersifat komprehensif.</p>
<p>Kelemahan perencanaan kepariwisataan di Indonesia adalah masih tingginya unsur perencanaan bersifat parsial kedaerahan, bukan mengedepankan perencanaan regional yang bermanfaat bagi skala lebih luas. Kita masih tertatih-tatih dengan konsep membangun fasilitas fisik obyek wisata, belum terbiasa dengan konsep membangun melalui perencanaan komprehensif terlebih dahulu. Hal ini bisa menjadi preseden buruk manakala ketika disandingkan, ternyata setiap perencanaan yang ada di masing-masing daerah belum mencerminkan keunikan (<em>uniqueness</em>) lokal sebagai faktor kelangkaan (<em>scarcity</em>) yang menjadi nilai jual tertinggi suatu destinasi pariwisata.</p>
<p>Bagaimana dengan Malaysia? Salah satu kelebihan mereka adalah kebersatuan dan koordinasi yang konsisten dalam menjalankan program kepariwisataan nasional. Untuk menghadapi strategi ini, tentu saja tidak perlu seluruh energi dari Aceh hingga Manokwari digalang. Cukup, bila ke-4 (empat) propinsi di Kalimantan bersatu padu dan bangkit, pariwisata Kalimantan akan menjadi <em>epicentrum</em> baru milik Indonesia untuk mengganyang Malaysia. Bukan melalui perang senjata dan fisik, tetapi melalui kompetisi yang cerdas!</p>
<h3><span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#888888;">Nb. Esai mengenai nilai penting kebersamaan 4 propinsi di Kalimantan dapat dibaca pada tautan artikel berikut:</span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#993300;"><a title="Silahkan di klik" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/07/09/membangun-pariwisata-kalimantan/" target="_blank"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">Membangun Pariwisata Kalimantan</span></a></span></span><span style="color:#888888;">, artikel:</span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;"><a title="Silahkan di klik" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/04/01/emas-pariwisata-kalimantan/" target="_blank"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">Emas Pariwisata Kalimantan</span></a>,</span></span><span style="color:#888888;"> artikel:</span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;"><a title="Silahkan di klik" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/11/08/visit-kalimantan-ide-implementasi/" target="_blank"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">Visit Kalimantan, Ide &amp; Implementas</span></a>i</span></span> <span style="color:#888888;">dan artikel</span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#993300;"><a title="Silahkan di klik" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/07/01/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah/" target="_blank"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah?</span></a></span></span></em></span></h3>
<p><em>(* Alumni Magister Perencanaan Arsitektur &amp; Pariwisata (MPAR) UGM Angkatan ke-2, penulis buku Pariwisata Kalimantan, official website <a title="JAS Studio" href="http://inovasikreatif.com" target="_blank">www.inovasikreatif.com</a>)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/841/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=841&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2011/05/08/pariwisata-kalimantan-diganyang-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2011/05/7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Batu Putih di Murung Raya-Kalteng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GEORGE SOROS &amp; PARIWISATA KALIMANTAN</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/09/01/george-soros-pariwisata-kalimantan/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/09/01/george-soros-pariwisata-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 07:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; [Artikel ini dimuat di Harian KaltengPos, 21 Sept 2010 &#38; www.kalteng.go.id] Bangsa Indonesia sedang dan terus menggeliat dalam pembangunan. Wacana pembangunan yang kini memanas terkait dengan rencana pemindahan ibukota ke kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berbagai artikel bahkan forum di bangku akademik membahas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=824&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|</em></h5>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Artikel ini dimuat di Harian KaltengPos, 21 Sept 2010 &amp; <em><a href="http://kalteng.go.id/" target="_blank">www.kalteng.go.id</a></em></strong><strong>]</strong></p>
<div id="attachment_834" class="wp-caption alignleft" style="width: 243px"><a href="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/09/kapal-susur-sungai2.jpg"><img class="size-medium wp-image-834  " title="kapal susur sungai" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/09/kapal-susur-sungai2.jpg?w=233&#038;h=240" alt="" width="233" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Kapal Wisata Sungai di Tengah Kota Palangka Raya</p></div>
<p>Bangsa Indonesia sedang dan terus menggeliat dalam pembangunan. Wacana pembangunan yang kini memanas terkait dengan rencana pemindahan ibukota ke kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berbagai artikel bahkan forum di bangku akademik membahas peluang dan tantangan pemindahan ini.</p>
<p>Tentu saja tulisan ini tidak dalam rangka membahas wacana tersebut, namun lebih menitikberatkan kondisi pariwisata Kalimantan yang menurut Direktur Promosi Luar Negeri Kemenbudpar RI, I Gde Pitana Brahmananda (2009) ibarat raksasa yang mulai menggeliat.</p>
<p><span id="more-824"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jauh sebelum wacana pemindahan ibukota tersebut berkembang, Kalimantan telah dikenal dunia karena keberadaan hutan hujan tropisnya yang dianggap memiliki peran vital bagi pengurangan emisi karbon dan fungsi vitalnya sebagai paru-paru dunia. Kini, mata dunia pun tetap mengarah ke pulau yang posisinya tepat di jantung Indonesia ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini (Juli, 2010), George Soros, seorang pengusaha sekaligus penasihat khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim, khusus datang dengan pesawat pribadinya ke Kalteng karena ketertarikannya berinvestasi pada rehabilitasi lahan gambut. Disela kegiatannya tersebut, tidak ketinggalan pula kegiatan wisata menjadi agenda penting dalam upaya mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang Kalimantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambutan pihak pemda lokal terhadap kedatangan tokoh ini seolah menjadi contoh konkrit pelayanan dan bentuk keramah tamahan terhadap tamu asing. Sementara itu keinginan sang tokoh untuk menikmati sensasi bermalam di atas sungai dengan kapal wisata, menyusuri kawasan desa-desa suku Dayak dan hutan yang berisi satwa endemik, menjadi semacam tolok ukur dari terjadinya perubahan <em>consumer behaviour pattern</em> atau pola konsumsi dari para wisatawan internasional ke jenis wisata yang lebih khusus, yakni menikmati kehidupan dan kreasi budaya (<em>culture</em>) dan alam asli (<em>nature</em>) atau ekowisata dari suatu daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, WWF Indonesia (2008), memang secara gencar mempublikasikan melalui media internasional bahwa Kalimantan adalah Destinasi Ekowisata terbaik di dunia. Tentu saja pamor ini tak dapat disangkal. Adanya pusat rehabilitasi terbesar Orang Utan (<em>pongo pygmaeus</em>) telah menjadi ikon ekowisata Kalimantan. Tingginya kunjungan wisatawan asing ke Indonesia, dimana destinasi yang menjadi tujuan utama adalah taman-taman nasional Kalimantan yang memiliki pusat reintroduksi dan penelitian bagi mamalia yang dipercaya sebagai nenek moyang manusia itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalimantan yang berpredikat sebagai Destinasi Ekowisata, telah menjadi <em>mainstream </em>diam-diam dalam kontelasi kepariwisataan internasional. Ia telah memikat hati para wisatawan dunia. Sayangnya, momentum ini belum dikelola dengan baik dalam bentuk promosi, pengemasan dan publikasinya oleh pemerintah setempat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak hanya sampai disitu, mengacu pada inisiatif tiga negara (Indonesia, Brunai Darussalam dan Malaysia) yang sepakat mendeklarasikan <em>Heart of Borneo </em>(HoB) sejak tahun 2007 lalu, makin menegaskan ke dunia internasional bahwa <em>brand image</em> dan publikasi Kalimantan oleh pihak ketiga sebagai kawasan konservasi ekologis makin menguat. Adanya kegiatan HoB yang melibatkan secara pro aktif berbagai elemen dan sektor dalam upaya pelestarian alam, lingkungan, budaya dan mengangkat citra daerah/bangsa, disadari atau tidak, pada dasarnya telah selaras dengan tujuan kepariwisataan nasional yang tertuang di dalam pasal 4 UU Kepariwisataan No. 10 tahun 2009.</p>
<p><strong>Kalimantan sebagai Destinasi Strategis Masa depan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mengacu pada UU Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 pasal 1 mengenai kawasan strategis pariwisata, maka bila ditinjau lebih lanjut Kalimantan tepat berada pada posisi kawasan yang dinilai mempunyai pengaruh penting bagi dunia internasional terutama pada aspek pemberdayaan sumber daya alami, daya dukung lingkungan hidup, sosial dan budaya. Nilai penting dan nilai strategis inilah yang memposisikan Kalimantan lebih condong sebagai satu kesatuan destinasi wisata, bukan sekedar destinasi parsial yang dibatasi wilayah administratif.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesatuan destinasi wisata ini seharusnya ditandai dengan adanya perencanaan lintas wilayah atau lintas propinsi administratif. Pembangunan infrastruktur jalan lintas propinsi memang menjadi tanda kerjasama regional. Sayangnya, sektor pembangunan pariwisata Kalimantan belum direalisasikan secara konkrit di dalam Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK), yang kemudian tertuang dalam Kesepakatan Bersama Gubernur se Kalimantan mengenai usulan program pembangunan Kalimantan 2011.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini menjadi preseden buruk, tatkala Inpres No.16 tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata yang dikeluarkan 29 Desember 2005 hingga Keputusan Presiden No.38 Tahun 2005 yang mengamanatkan bahwa seluruh sektor pembangunan diarahkan untuk mendukung pembangunan pariwisata Indonesia. Demikian pula dengan mandat RPJM tahun 2004-2009 yang menjelaskan bahwa salah satu sasaran untuk meningkatkan sektor non migas adalah meningkatkan kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa daerah sekaligus negara.</p>
<p style="text-align:justify;">UNWTO (2009), melalui rilis <em>Tourism Highlights</em>-nya telah memperkirakan di tahun 2010 akan tercapai target 1,046 milyar kunjungan dan ledakan turis yang ingin menjelajah berbagai destinasi wisata baru diperkirakan akan melampaui angka 1,602 milyar di tahun 2020 terutama ke kawasan Asia Pasifik  dan memproyeksikan pula bahwa ekspetasi wisatawan internasional pada wisata minat khusus dan mengunjungi kawasan eksotis berlabelkan ekowisata akan menjadi trend.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada poin inilah, isu krusial yang sepatutnya diperhatikan adalah, kesiapan perencanaan pariwisata Kalimantan, dukungan infrastruktur ekowisata dan tren <em>green lifestyle</em> pasar wisatawan internasional menjadi sangat relevan untuk dikembangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">George Soros menjadi proyeksi atau semacam gambaran umum tipe wisatawan internasional yang dimaksud, walaupun tujuan kunjungannya berkaitan dengan perubahan iklim dunia, namun keinginan untuk menikmati satwa endemik lokal, menikmati eksotisme hutan tropis, menikmati kuliner lokal, tinggal dan menginap di atas sungai bahkan sekedar menghirup udara murni dari pusat paru-paru dunia menjadi penanda bahwa pembangunan kepariwisataan Kalimantan sangat mendesak untuk direncanakan secara terpadu dan melalui penetapan kebijakan yang jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah saatnya meningkatkan kualitas pariwisata Indonesia melalui Kalimantan. Pemerintah diharapkan tidak lagi membiarkan sektor pariwisata bagai ladang emas tak bertuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam Pariwisata!</p>
<h4><em>(Rio S. Migang adalah Konsultan Pariwisata &amp; Penulis Buku &#8220;Pariwisata Kalimantan: Pemikiran &amp; Perjalanan ke Jantung Borneo)</em></h4>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/824/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=824&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/09/01/george-soros-pariwisata-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/09/kapal-susur-sungai2.jpg?w=291" medium="image">
			<media:title type="html">kapal susur sungai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN PARIWISATA KALIMANTAN</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/07/09/membangun-pariwisata-kalimantan/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/07/09/membangun-pariwisata-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 04:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch &#124;BTW&#124; (Artikel ini telah dimuat di Harian Tabengan, 3 Juli 2010 &#38; www.kalteng.go.id) Keluhan utama sekaligus isu sentral dalam pengembangan kepariwisataan di Kalteng adalah minimnya infrastruktur. Realitas bahwa jalan masih banyak yang rusak, akses-akses menuju lokasi obyek wisata yang jauh, akomodasi yang belum sepenuhnya memadai di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=810&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|</em></p>
<p><strong>(Artikel ini telah dimuat di Harian Tabengan, 3 Juli 2010 &amp; <a title="Situs Resmi Pemerintah" href="http://kalteng.go.id/viewarticle.asp?ARTICLE_id=1081" target="_blank"><em>www.kalteng.go.id</em></a></strong><strong>)</strong></p>
<div id="attachment_814" class="wp-caption alignleft" style="width: 193px"><a href="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/07/jemabatan.jpg"><img class="size-full wp-image-814" title="JEMBATAN GUMAS" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/07/jemabatan.jpg?w=510" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Jembatan Gunung Mas</p></div>
<p style="text-align:justify;">Keluhan utama sekaligus isu sentral dalam pengembangan kepariwisataan di Kalteng adalah minimnya infrastruktur. Realitas bahwa jalan masih banyak yang rusak, akses-akses menuju lokasi obyek wisata yang jauh, akomodasi yang belum sepenuhnya memadai di daerah-daerah, adalah kondisi konkrit tantangan di tingkat lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Tantangan ini sepenuhnya dapat disikapi dengan berbagai cara, antara lain menunggu hingga semua akses jalan sempurna, membiarkan pasar wisatawan mengendalikan opini terhadap destinasi, atau mengembangkan aset atau potensi wisata yang ada dengan strategi khusus. Dan menurut analisis penulis, pilihan terbaik adalah, memposisikan lemahnya infrastruktur sebagai aset/modal wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mengelola lemahnya sokongan infrastruktur menjadi modal utama pengembangan kepariwisataan Kalimantan? <span id="more-810"></span>Jawabnya adalah melalui program pengembangan <strong>berbasis Ekowisata dan Adventure Tourism</strong>. Tingginya minat menjelajah alam Tanjung Puting serta taman nasional lainnya, minat menikmati wisata susur sungai Kahayan-Rungan dan kegiatan <em>outbond</em> serta lintas alam adalah bukti tingginya preferensi pasar wisatawan Eropa/asing dan lokal terhadap eksotisme Kalimantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Preferensi seperti ini adalah kekuatan yang luar biasa bagusnya. Di samping besarnya potensi lansekap hutan, bukit-bukit, sungai, orang utan dan satwa endemik  Kalimantan beserta fauna lainnya, maka image Kalimantan sebagai Destinasi Ekowisata bagaikan merupakan padanan “dua pedang sakti” yang tinggal dimanfaatkan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Infrastruktur jalan tetap harus terus dibangun dan disempurnakan guna memudahkan akses wisatawan. Demikian pula memotivasi investor untuk membangun akomodasi, hotel-hotel berbintang. Bahkan dukungan pemerintahan Gubernur A. Teras Narang yang membuka keterisolasian melalui masuknya sejumlah maskapai penerbangan besar, membuktikan akan keseriusan Pemda Provinsi untuk mempercepat pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tolok ukur kemajuan pariwisata Kalimantan dapat dilihat dari beberapa sisi, anata lain terjawabnya pertanyaan berikut, apakah terjadi peningkatan angka kunjungan, adakah terbukanya lapangan kerja baru, adakah lingkungan turut terlestarikan dan adakah peningkatan yang signifikan bagi devisa daerah dari industri tanpa asap ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila belum terjadi perubahan yang signifikan, maka stakeholder perlu mempertimbangkan beberapa aspek strategis implementatif berikut:<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Memelihara dan Meningkatkan Kualitas Obyek Wisata yang telah ada</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Program preservasi lingkungan secara langsung telah menjadi tanggung jawab setiap sektor, tak terkecuali pariwisata. Isu pemanasan global dan <em>green campaign</em> menjadi tolok ukur keberhasilan pengawasan dan pemeliharaan kawasan Taman Nasional, Bukit Raya, sabuk hijau sungai, hingga lansekap hijau kota. Pemeliharaan dan peruntukan dana untuk kegiatan ini harus diberikan secara kontinu, sehingga cerita Arboretum yang nasibnya kini tak jelas tak perlu terjadi lagi.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Mengembangkan Paket Ekowisata &amp; Adventure Tourism</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengembangan alur perjalanan ini dibuat berdasarkan hasil inventarisir, seleksi, dan penghitungan daya saing destinasi sehingga dapat ditentukan trip atau jalur mana yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Paket Ekowisata yang cukup berhasil dikembangkan adalah Tanjung Puting dan Sebangau, bahkan WWF Kalteng (2008) mempublikasikan ke luar negeri bahwa Kalimantan adalah Destinasi Ekowisata unggulan di dunia. Demikian pula mengembangkan kegiatan menantang seperti <em>off road</em>, wisata alam, outbond bahkan memperbanyak kapal pesiar sungai hingga hotel-restoran terapung.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Menginventarisir Obyek Wisata dan Seni Budaya di 13 kabupaten 1 kota</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan menginventarisir yang paling sederhana adalah mengumpulkan koleksi foto seni budaya dan obyek alam dari 13 kabupaten dan 1 kota dan menyimpannya dalam bentuk digital. Hal ini akan sangat memudahkan kegiatan yang memerlukan publikasi segera. Sebaliknya, data-data kunjungan, data <em>multiplier effect</em> ekonomi yang rendah tidak perlu dirisaukan ataupun dimanipulasi karena hal tersebut dapat menimbulkan masalah baru. Kegiatan ini sangat berguna untuk promosi cepat melalui jejaring e-promotion yang memanfaatkan basis internet <em>hotspot wifi</em>, gadget, microblog (<em>twitter, plurk, koprol, facebook</em>) maupun <em>open source</em> seperti wordpress yang gratis.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Mengoptimalkan Website Pariwisata</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada lebih 1,8 milyar penduduk dunia yang aktif menggunakan internet <em>(www.internetworldstats.com, 2010) </em>yang hampir rata-rata perharinya menggunakan dan menggali informasi melalui internet selama 6 jam. Ini potensi luar biasa besar, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI pun pernah merilis penelitian bahwa 56% wisatawan tertarik datang karena melihat website pariwisata. Selain itu, website menjadi semacam “ID card (tanda pengenal)” apakah eksistensi pariwisata suatu daerah benar-benar ada atau sedang tertidur. Sepengetahuan penulis, ketersediaan <em>space</em> kapling yang disediakan server <em>www</em>.<em>kalteng.go.id</em> mengindikasikan bahwa <em>top ranking</em> peselancar maya dalam mencari informasi tentang pariwisata Kalimantan, harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Membangun Kesadaran Pariwisata Masyarakat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">22 Mei 2010 lalu, bertepatan dengan HUT Kalteng yang ke-53 diselenggarakan seminar bertema “Membangun Kesadaran Pariwisata bagi Masyarakat Kalimantan”. Salah seorang pembicara, Prof. Igde Pitana Brahmananda (Promosi Luar Negeri Kemenbudpar, 2010)) menegaskan dukungan pemerintah pusat bagi destinasi-destinasi unggulan daerah yang baru. Pun, masyarakat menjadi isu sentral karena kesenian dan hasil kebudayaan adalah milik masyarakat yang tidak sekedar menjadi tontonan wisatawan namun menjadi modal budaya dan modal sosial yang berkelanjutan. Disinilah, masyarakat digugah dan ditempatkan sebagai pelaku utama pariwisata bukan sekedar obyek tontonan.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Mengembangkan Jaring Promosi Bersama antar Pemprov se-Kalimantan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">UU Kepariwisataan No.10 pasal 43 membuka peluang yang sangat besar untuk dibentuknya Badan Promosi Pariwisata Daerah, yang menjadi alat sangat efektif bila disinergikan dengan strategi <em>borderless tourism</em> (pariwisata yang tidak terikat batas administartif) dengan mengedepankan kerjasama sinergis antara provinsi Kalteng, Kaltim, Kalbar dan Kalsel. Jaring promosi bersama ini memudahkan penetrasi ke pangsa pasar lebih luas, memiliki daya saing dan daya tawar yang lebih atraktif.</p>
<p>Kiranya Kalteng Jaya dan Kalimantan Sejahtera.<!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/810/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=810&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/07/09/membangun-pariwisata-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/07/jemabatan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">JEMBATAN GUMAS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EMAS PARIWISATA KALIMANTAN</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/04/01/emas-pariwisata-kalimantan/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/04/01/emas-pariwisata-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 04:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] (Artikel ini telah dimuat di Harian KaltengPos, 18-19 Februari 2010). Indonesia, terutama Kalimantan sepatutnya berbangga. Dikaruniakan dengan bentang sungai nan indah, eksotisnya budaya Dayak, berbagai kekayaan hutan alam yang secara kolektif dikenal pula sebagai destinasi paru-paru dunia. Bumi Kalimantan memiliki berbagai jenis kandungan emas, diantaranya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=803&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></pre>
<h5><em>(Artikel ini telah dimuat di Harian KaltengPos, 18-19 Februari 2010).</em></h5>
<div id="attachment_804" class="wp-caption alignleft" style="width: 221px"><a href="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/04/melvin.jpg"><img class="size-medium wp-image-804 " title="Melvin" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/04/melvin.jpg?w=211&#038;h=300" alt="Melvin | by NN" width="211" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Peneliti Melvin &amp; Borneo Great Apes</p></div>
<p style="text-align:justify;">Indonesia, terutama Kalimantan sepatutnya berbangga. Dikaruniakan dengan bentang sungai nan indah, eksotisnya budaya Dayak, berbagai kekayaan hutan alam yang secara kolektif dikenal pula sebagai destinasi paru-paru dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Bumi Kalimantan memiliki berbagai jenis kandungan emas, diantaranya yang sangat dikenal adalah Emas Hitam, yakni minyak bumi dan batubara, serta Logam Emas, yang dikenal luas sebagai bahan untuk perhiasan dan investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana diketahui, kedua jenis emas tersebutlah yang menjadi topangan atau sumber penghasilan bagi sebagian besar penduduk Kalimantan saat ini, dan merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua jenis emas tersebut memiliki sifat yang tidak berkelanjutan, dalam arti sangat sulit untuk diperbaharui lagi karena harus melalui proses pembentukan dari alam yang memakan waktu sangat panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua jenis emas ini pun tengah mengalami sorotan tajam di tengah kalutnya isu <em>global warming </em>dan <em>green world campaign</em>. Proses pengambilannya yang secara langsung maupun tidak langsung merubah rupa bumi, membongkar area-area hijau dan menghasilkan limbah, mendorong terdegradasinya unsur-unsur lingkungan lainnya.</p>
<p><span id="more-803"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Emas Jenis Ketiga dari Kalimantan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diantara lebatnya rimba belantara hutan Kalimantan, diam-diam para peneliti asing, para antropolog telah sejak lama sekali menemukan jenis emas ketiga, yang terbaharui, unik, dan bernilai tinggi investasi berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Emas ini mereka kenal dengan nama <em>The Great Apes from Borneo.</em> Emas yang berbulu kecoklatan, hidup dan dipercaya sebagai nenek moyangnya manusia. Emas ini sangat mahal, dijaga, dipelihara, diselamatkan dari kemungkinan punah, bahkan terus diperhatikan oleh jutaan orang dari berbagai belahan dunia. Diteliti dan diklaim sebagai warisan penting milik dunia. Emas ini dikenal dengan nama Orang Utan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ironisnya, ketika penulis berbincang dengan beberapa orang siswa SMA yang cukup ternama di Palangka Raya, pernyataan mereka membuat kaget. Bagi mereka keberadaan Orang Utan mempermalukan diri mereka. Entah bagaimana konsepsi presuposisi yang ada dalam benak mereka, namun Emas Coklat ini dianggap sebagai bagian yang tidak patut ada di bumi Tambun Bungai. Bagi penulis, ini suatu preseden buruk, Emas Coklat milik Kalimantan yang begitu berharga dianggap sampah oleh segelintir anak muda yang kurang bersyukur terhadap anugerah alamnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Membangun Kesadaran Kolektif</strong></p>
<p style="text-align:justify;">WTO (Badan Pariwisata Dunia, 2009) menegaskan melalui laporan tahunannya bahwa angka pergerakan wisatawan dunia akan mencapai 1,046 milyar orang di medio tahun 2010. Bayangkan saja bagaimana besar potensi pemasukan yang dialami oleh negara/daerah yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri menjadi magnet untuk menyambut kunjungan ‘tsunami’ wisatawan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekian milyar wisatawan tersebut memiliki satu mayoritas pandangan bahwa berwisata tidak lagi dalam wujud <em>mass tourism</em> yang mengandalkan <em>sun, sea, and sand.</em> Namun kini beralih ke model<em> special tourism </em>yang salah satu perwujudannya dikenal dengan nama Ecotourism (ekowisata). Dan Kalimantan dikenal oleh wisatawan internasional sebagai Destinasi Ekowisata yang bernilai penting (WWF Indonesia, 2008). Mewabahnya pola hidup hijau (<em>green lifestyle</em>), meningkatnya kemampuan finansial untuk menjelajahi dunia baru, meningkatnya kesadaran rekreasi berbasis konservasi (<em>back to nature tourism</em>), mendorong tingginya nilai jual destinasi-destinasi ekowisata seperti Kalimantan Tengah dengan tujuan wisata utama seperti TN Tanjung Puting, TN Sebangau, Nyaru Menteng, TN. Bukit Baka-Bukit Raya hingga rencana peningkatan status Muller-Schwaner sebagai Taman Nasional. Hal tersebut membuktikan bahwa branding pariwisata Kalimantan mulai terkristalisasi pada model utama Ekowisata. Dan ekowisata Kalimantan, tidak bisa lepas dari ikon Orang Utan sebagai magnet besar bagi terciptanya <em>uniqueness</em>, perbedaan tanpa banding.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mempromosikan dengan Teknologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak tahun 97an, WTTC (Konsil Travel dan Pariwisata Dunia), memprediksikan bahwa akan ada dua sektor yang meningkat secara drastis dan bersumbangsih besar terhadap perekonomian dunia. Yakni sektor Pariwisata dan sektor Teknologi Informasi. Waktu kemudian membuktikan terealisasinya prediksi tersebut, tingginya pemakaian komputer dan teknologi internet yang penggunanya mencapai 1,463 milyar orang (<em>InternetWorldStats.com</em>, 2007), dengan grafik peningkatan mencapai 305% pengguna/tahun. Dimana, 56% wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah melihat-lihat melalui internet terlebih dahulu (Depbudpar, 2009), membuktikan bahwa kedua bidang ini tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Efektifnya pemanfaatan teknologi internet tidak bisa diabaikan, kini dengan mudahnya orang dari berbagai belahan dunia (bahkan yang paling terpencil sekalipun), bisa mengakses, mencari tahu, menggali informasi eksotisme destinasi-destinasi ekowisata yang menarik seperti Kalimantan. Teknologi informasi ber-platform OS kini tidak hanya berbasis Java, Windows, dan Macintosh, namun kini para innovator teknologi makin memanjakan para peselancar maya dengan kemudahan akses informasi berbasis Android yang terbuka penuh (<em>open source</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Bila pemangku kepentingan mengabaikan faktor ini, maka jangan heran melihat kunjungan dan pemasukan devisa dari pariwisata masih bisa dihitung dengan jari.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Semangat Kebersamaan Huma Betang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menularkan semangat dan nilai budaya kebersamaan yang diadopsi dari spirit Huma Betang, telah menjadi gerakan percepatan pembangunan di masa kini. Nilai ini pun dapat dijewantahkan dalam menggalang kebersamaan percepatan pembangunan pariwisata Kalimantan untuk menempati posisi strategis di kancah internasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Referensi teori <em>Borderless Tourism </em>(pariwisata tanpa batas administratif) digabung dengan teori <em>Joint Promotion</em> (promosi bersama) antar propinsi se Kalimantan, secara aktual dapat diaplikasikan dengan menyelenggarakan kegiatan promosi pariwisata bersama-sama namun kegiatan event tahunannya dapat dilaksanakan secara beda waktu dan beda tempat. Ke-4 propinsi di Kalimantan yang mengandalkan event pariwisata tahunan, ada baiknya menyelenggarakan kegiatan promosi secara bersama-sama. Tanpa menghilangkan identitas dan paling tidak akan mampu membendung kegilaan pesatnya pariwisata negara tetangga semacam Malaysia dan Brunei.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila promosi diselenggarakan bersama, maka ada nilai lebih yang diperoleh, diantaranya terciptanya mobilisasi antar sektor dan usaha, fokus target pasar, dan progresifitas pembelajaran pariwisata bagi masyarakat sehingga mampu mendongrak <em>multiplier effect</em> secara simultan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab kemajuan pembangunan adalah implementasi nilai kebersamaan ini.  Sekian.</p>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=803&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/04/01/emas-pariwisata-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2010/04/melvin.jpg?w=211" medium="image">
			<media:title type="html">Melvin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BEAUTIFUL KALIMANTAN: VKY 2010</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/01/08/beautiful-kalimantan/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/01/08/beautiful-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 08:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Bagi sebagian besar orang, Kalimantan dikenal sebagai hutan belantara, surga rimba bagi berbagai satwa, dipeluk liuk sungai-sungai raksasa, dan itu benar. Sebagian lain berpendapat bahwa Kalimantan dikenal sebagai surganya para peneliti pecinta Orang Utan &#8220;The Great Apes&#8221; terbesar di dunia, dan itu betul. Sebagian lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=784&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></pre>
<p style="text-align:justify;">Bagi sebagian besar orang, Kalimantan dikenal sebagai hutan belantara, surga rimba bagi berbagai satwa, dipeluk liuk sungai-sungai raksasa, dan itu benar. Sebagian lain berpendapat bahwa Kalimantan dikenal sebagai surganya para peneliti pecinta Orang Utan <em>&#8220;The Great Apes&#8221;</em> terbesar di dunia, dan itu betul. Sebagian lagi berpendapat, kebudayaan asing dan misterius dari suku bangsa Dayak adalah daya tariknya, dan itu betul.</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/01/08/beautiful-kalimantan/"><img src="http://img.youtube.com/vi/L2-MKrwiS_c/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p style="text-align:center;"><em>picture motion | Visit Kalimantan Year | lagu latar Mohing Asang</em></p>
<p style="text-align:justify;">Riam sungai bagian hulu yang ganas namun bisa ditaklukan, heningnya rimba hutan di sepanjang hilir sungai Barito, keindahan tarian suku-suku, dan eksotisnya satwa Kalimantan, membawa setiap wisatawan untuk datang kembali dan kembali.</p>
<p>Surga itupun terasa hadir di negeri yang besar bernama <em><strong>Beautiful Kalimantan</strong></em>.</p>
<p>Jakarta 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/784/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=784&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2010/01/08/beautiful-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RESPONSIBLE TOURISM, Apa Itu?</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/12/08/pariwisata-bertanggung-jawab-apa-itu/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/12/08/pariwisata-bertanggung-jawab-apa-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 08:08:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Pengantar: Beberapa operator dan pelaku wisata di Kalimantan telah menyadari sejak lama, akan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) sebagai elemen daya tarik, dan pengimplementasian konsep Pariwisata Alternatif (lihat kembali penjelasan Pariwisata Alternatif: Apa, Siapa dan Bagaimana di Harian Kalteng Pos, Senin-Selasa 7 &#38; 8 September [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=731&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre style="text-align:left;"><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></pre>
<p><strong>Pengantar:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa operator dan pelaku wisata di Kalimantan telah menyadari sejak lama, akan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) sebagai elemen daya tarik, dan pengimplementasian konsep Pariwisata Alternatif (lihat kembali penjelasan Pariwisata Alternatif: Apa, Siapa dan Bagaimana di <strong>Harian Kalteng Pos, Senin-Selasa 7 &amp; 8 September 2009). </strong></p>
<div id="attachment_734" class="wp-caption alignleft" style="width: 236px"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-734" title="jembatan-baritoKALSELbyRIFAFREEDOM" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/12/jembatan-baritokalselbyrifafreedom.jpg?w=510" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Jembatan Barito</p></div>
<p style="text-align:justify;">Penerapan model pengembangan pariwisata alternatif di Kalimantan, termanifestasi dalam bentuk skala kecil, yaitu atraksi seperti <em>Tingang</em> <em>bird watching </em>(melihat jenis burung endemik Kalimantan), <em>snake watching </em>(melihat jenis-jenis ular yang ada di hutan Kalimantan)<em>, reptile watching </em>(melihat jenis-jenis reptil yang hidup di Kalimantan),<em> orang utan watching (</em>melihat orang utan Kalimantan), <em>Betang watching </em>(melihat dan mengagumi rumah Betang/Lamin), hingga <em>flora watching </em>(melihat jenis-jenis tumbuhan endemik Kalimantan).</p>
<p style="text-align:justify;">Pengembangan di atas nampaknya telah melangkah menuju tujuan utama pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menitikberatkan pada kelestarian ekosistem dan berbasis masyarakat lokal. Bagi dunia pariwisata internasional, maka pengembangan jenis kegiatan pariwisata alternatif lah yang diakui sebagai kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab (<strong><em>responsible tourism</em></strong>) dan memang dapat dipertanggung jawabkan.</p>
<p><em><strong>Bersambung..</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/731/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=731&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/12/08/pariwisata-bertanggung-jawab-apa-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/12/jembatan-baritokalselbyrifafreedom.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jembatan-baritoKALSELbyRIFAFREEDOM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>VISIT KALIMANTAN: Ide &amp; Implementasi</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/11/08/visit-kalimantan-ide-implementasi/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/11/08/visit-kalimantan-ide-implementasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 08:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=706</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Oleh: I Made Adi Kampana &#38; Rio S. Migang &#124;dimuat di Harian KaltengPos, Senin 2 November 2009&#124; Bayang-bayang Pariwisata Kalimantan Kalimantan tidak hanya dimiliki oleh negara Indonesia, namun berbagi tempat dengan Malaysia dan Brunai Darussalam. Tentu saja bila dikaitkan dengan potensi dan sumber daya pariwisatanya, sedikit banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=706&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></pre>
<p><em>Oleh: I Made Adi Kampana <em>&amp; <em>Rio S. Migang </em></em>|<strong>dimuat di Harian KaltengPos, Senin 2 November 2009</strong>|</em></p>
<div id="attachment_917" class="wp-caption alignleft" style="width: 221px"><a href="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/11/local-dancer.jpg"><img class="size-medium wp-image-917   " title="local dancer" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/11/local-dancer.jpg?w=211&#038;h=182" alt="" width="211" height="182" /></a><p class="wp-caption-text">Kalimantan Dancer | riconsultea.com</p></div>
<p><strong>Bayang-bayang Pariwisata Kalimantan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kalimantan tidak hanya dimiliki oleh negara Indonesia, namun berbagi tempat dengan Malaysia dan Brunai Darussalam. Tentu saja bila dikaitkan dengan potensi dan sumber daya pariwisatanya, sedikit banyak memiliki kemiripan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemiripan yang berbasis latar kebudayaan Melayu dan kondisi geografis yang tidak jauh berbeda tentu saja akan mengesankan para turis dunia dalam melihat pariwisata di Kalimantan sebagai sebuah kesamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal inilah yang dimanfaatkan secara cerdik oleh Badan Pariwisata Malaysia dengan mencanangkan slogan secara agresif, “Truly Asia” itu di Malaysia-Borneo, jauh-jauh hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibatnya cukup fatal, “agresi” promosi melalui media elektronik internasional seperti TV CNN, BBC dan website atau search engine terutama Yahoo dan MSN (Antara News, 2008) yang gencar dengan mempertontonkan bahwa orang Dayak dan satwa endemik Orangutan adanya hanya di negara mereka, mengakibatkan tertutupnya peluang branding bagi ke-4 propinsi di Kalimantan secara efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata sebagai sebuah industri strategis dan terbesar abad 21 (WTO, 2008), ptidak lagi dikelola dengan cara konvensional serta sebatas wilayah administrasi propinsi belaka. Upaya pengembangan berbasis<em> borderless tourism </em>(pariwisata tanpa batas wilayah) menjadi acuan penting bagaimana mengelola potensi pariwisata menjadi efektif dan efisien.<span id="more-706"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi dalam hal ini, Kalimantan kalah cepat dan belum tanggap dengan upaya Malaysia yang telah meluncurkan Gawai Dayak secara besar-besaran berskala nasional di Serawak beberapa waktu lalu dan gaungnya jelas jauh lebih kuat mengukuhkan kebudayaan dan pariwisata mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karenanya, tentu sangat tidak lucu bila pembangunan pariwisata yang dilakukan oleh ke-4 propinsi NKRI di Kalimantan saat ini masih dilakukan secara terpisah. Bahkan masih dalam situasi berkompetisi secara linier internal.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aktivasikan Program Visit Kalimantan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa itu Visit Kalimantan? Tentu saja yang sering didengar adalah tema Visit Indonesia Year (VIY) yang selalu dicanangkan secara nasional setiap tahunnya. Suatu program rutin pemerintah pusat dalam upaya menggalang solidaritas daerah untuk mempromosikan secara intens daya tarik wisata lokal dan memikat dunia internasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Menggabungkan keberagaman daya tarik wisata yang ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan &amp; Kalimantan Barat sebagai satu kesatuan pariwisata menjadi ide sederhana akan Visit Kalimantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap tahun, ke empat propinsi menyelenggarakan secara berkala event Festival Tahunan. Bila di Kalimantan Tengah diselenggarakan Festival Isen Mulang yang diselenggarakan bertepatan dengan HUT Kalteng bulan Mei tiap tahun, begitu pula di Kalimantan Selatan dengan Festival Pasar Terapung, setiap bulan Juli.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Kalimantan Barat selalu diselenggrakan Festival Cap Go Meh setiap bulan Februari, dan Festival Erau di Kalimantan Timur yang diselenggarakan setiap bulan Juli-Agustus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ke-4 event besar tersebut tentu saja mengangkat potensi daerah masing-masing, untuk diperkenalkan secara luas ke tingkat nasional. Namun sayang, masih dipromosikan dan dikelola secara terpisah. Sehingga terkesan berjalan masing-masing. Disinilah perlunya kemitraan yang berbasis smart partnership, menggalang solidaritas bersama memajukan pariwisata Kalimantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja ada kerumitan dalam pengelolaan sebuah event besar dan program promosinya. Namun hal tersebut tentu saja tidak sebanding dengan dampak positif yang diperoleh, bila ke-4 propinsi urun berkolaborasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Citra positif yang tercipta hingga level skala internasional, branding yang mampu mengukuhkan bahwa Kalimantan-Indonesia lah pusat Melayu dan akulturasi budaya Dayak yang kaya, kemampuan merangsang rencana liburan para wisatawan agar tinggal lebih lama, hingga terbuka luasnya peluang kerja dan kesempatan kerja bagi masyarakat dalam pemanfaatan sektor ekonomi pariwisata melalui event yang terintegrasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata (community development)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peran penting pariwisata dalam meretas manfaat ekonomi selanjutnya akan merangsang berbagai bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan pariwisata. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, maka semakin besar pula dukungan, penerimaan dan toleransi masyarakat terhadap keberlanjutan pembangunan pariwisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata merupakan sebuah community industry, sehingga keberlanjutan pembangunan pariwisata sangat tergantung dan ditentukan oleh dukungan dan penerimaan masyarakat terhadap pariwisata. Penerimaan dan dukungan akan terbentuk bila pariwisata lebih sensitif dan responsif terhadap berbagai kebutuhan masyarakat lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali penyebab munculnya permasalahan dalam pembangunan pariwisata karena terabaikannya kebutuhan masyarakat lokal, sehingga masyarakat cenderung untuk membenarkan berbagai cara dalam memenuhi kebutuhannya, meskipun kontra produktif dengan keberlanjutan pembangunan pariwisata. Kecenderungan tersebut tentunya jika tidak dini diantisipasi, dapat menciptakan konflik kepentingan di antara masyarakat lokal, pelaku industri pariwisata dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan pembangunan pariwisata.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Visit Kalimantan di Fase Indonesia Kreatif</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melalui tularan Virus K (virus kreatif) yang menjadi tema Indonesia Kreatif oleh pemerintah pusat 7 Agustus 2009 lalu, Kalimantan tentu diharapkan akan mencapai fase aktivasi Ekonomi Kreatif berbasis masyarakat lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Implementasi momentum tahun kreatif dengan Visit Kalimantan akan mewujud dan melibatkan perayaan atraksi wisata berbasis budaya lokal seperti tari-tarian daerah kontemporer, eksibisi potensi kuliner, kerajinan dan cinderamata asli daerah, pameran galeri desain produk lokal, karnaval/pawai budaya, media elektronik dan cetak, hingga pasar rakyat.</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui kreativitas yang dibalut pemanfaatan teknologi informasi terkini, tentu saja akan mempermudah banyak hal. Aspek keterjangakauan penyebaran berita semakin meluas, pengemasan (packaging) dari gabungan ke-4 event terbesar tersebut secara apik dan inovatif, akan mampu membuka sekat-sekat ego sektoral yang selama ini ditengarai masih berlangsung, bahkan termasuk mengirit ongkos publikasi secara signifikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, kungkungan dari rendahnya kualitas daya dukung infrastruktur dan pelayanan, tidak menjadi halangan berarti, bila kesatuan ini diimplementasikan dan dapat dijembatani oleh Badan Pariwisata Kalimantan (Kalimantan Tourism Board (KTB).</p>
<p style="text-align:justify;">UU Kepariwisataan No.10 tahun 2009 secara jelas sangat mendukung dibentuknya badan-badan pariwisata di tingkat daerah dalam upaya mempercepat pembangunan pariwisata di tiap daerah Indonesia. Untuk penjelasan detil ide badan ini, Silahkan lihat di www.BorneoTourismWatch.wordpress.com atau opini yang sebelumnya dimuat di Harian Kalteng Pos edisi 15-16 Juni 2009.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja Kalimantan Mampu!</p>
<p><strong>* Rio S.Migang (Pendiri Jakarta Arsimedik Studio &amp; Penggagas Borneo Tourism Watch). I Made Adi Kampana (Dosen Jurusan Pariwisata Universitas Udayana Bali). Keduanya alumni S2 Kajian Pariwisata MPAR-UGM angkatan II/2003.</strong><em><br />
<strong><br />
**Penari wanita Dayak | www.riconsulteam.com</strong><!--more--></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/706/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=706&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/11/08/visit-kalimantan-ide-implementasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/11/local-dancer.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">local dancer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARIWISATA ALTERNATIF: APA ITU?</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/09/09/pariwisata-alternatif-apa-itu/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/09/09/pariwisata-alternatif-apa-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 09:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Tulisan dengan judul di atas merupakan buah karya dari Ms. Jeannita Adisty, seorang mahasiswa yang multi talented &#38; saat ini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Management &#38; Tourism, Universitas Udayana Bali. Saya hanya kebagian tugas mengedit beberapa bagian saja. Dan syukur dimuat di Harian Kalteng [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=660&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></pre>
<div id="attachment_665" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-665  " title="bus wisata sungai" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/09/bus-wisata-sungai.jpg?w=510" alt="bus wisata sungai"   /></a><p class="wp-caption-text">Bus Wisata Arung Sungai | Jakarta Post file</p></div>
<p style="text-align:justify;">Tulisan dengan judul di atas merupakan buah karya dari <strong>Ms. Jeannita Adisty,</strong> seorang mahasiswa yang multi talented &amp; saat ini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan <em>Management &amp; Tourism</em>, Universitas Udayana Bali<em>. </em>Saya hanya kebagian tugas mengedit beberapa bagian saja. Dan</p>
<p style="text-align:justify;">syukur dimuat di <strong>Harian Kalteng Pos selama 2 hari berturut-turut, Senin-Selasa 7 &amp; 8 September 2009</strong>, dengan judul lengkap <em>Pariwisata Alternatif: Apa, Siapa &amp; Bagaimana?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://s788.photobucket.com/albums/yy168/smunsa/?action=view&amp;current=aplot.jpg" target="_blank">Silahkan lihat disini</a>, atau baca lengkap klik <em>more..</em></p>
<p><span id="more-660"></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PARIWISATA ALTERNATIF: APA, SIAPA DAN BAGAIMANA?</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>Oleh: Jeannita Adisty &amp; Rio S. Migang*</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata dalam masyarakat awam dikenal sebagai kegiatan bersenang-senang atau suatu bidang yang menjual daya tarik suatu objek wisata agar dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. Hal ini dikarenakan pencitraan terhadap pariwisata adalah daerah yang bisa dikunjungi orang untuk melepas kejenuhan rutinitas hari-hari. Atau sebatas kegiatan yang berkunjung ke suatu tempat untuk menikmati keindahan alam tempat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang hal tersebut tidak salah, karena memang dalam pariwisata hal-hal demikian adalah salah satu wujud eksistensinya. Namun dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata yang baik dan benar, pengertian sebatas hal-hal di atas tidaklah cukup dan tidak tepat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Apa itu Pariwisata?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apabila pariwisata hanya dikenal sebagai kegiatan bersenang-senang, maka kemudian pembangunan pariwisata dan pengelolaannya cenderung sebatas pembukaan lahan yang belum tentu melestarikan ekosistem alami, pengadaan atraksi wisata buatan yang mungkin hanya bersifat sementara, bahkan seringkali promosi yang dikemas membohongi publik, dan hasilnya hanya untuk investor tanpa ada kontribusi yang cukup berarti bagi ekonomi masyarakat lokal.  Lantas strategi pengelolaan pun tidak diperhatikan dan dibiarkan berjalan begitu saja. Apabila pengunjung sudah bosan, destinasi atau tujuan wisata menjadi sepi, lantas destinasi tersebut ditelantarkan, tidak diurus dan terbengkalai. Lambat laun akan rusak dan akhirnya sia-sia.</p>
<p style="text-align:justify;">Contohnya di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dulu ada daerah tujuan wisata yang dikenal dengan Taman Sabaru dimana ada kolam renang, areal pemancingan hingga panggung hiburan rakyat. Namun beberapa tahun kemudian setelah sempat cukup ramai akhirnya terbengkalai hingga akhirnya dibiarkan begitu saja dan kini malah beralih menjadi lahan untuk area motor cross atau balapan motor apabila ada pertandingan balapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Atau Taman Alam Bukit Tangkiling yang menekankan daya tarik alamnya dan satwa buaya. Namun lama kemudian, setelah masyarakat jenuh dengan yang itu-itu saja, objek ini kemudian terlantar dan akses masuknya lambat laun ikut rusak karena tidak dipelihara. Demikian halnya dengan Taman Hutan Arboretum Nyaru Menteng. Banyak daerah tujuan wisata alam lainnya di Palangkaraya dan Kalteng yang sempat dipromosikan, sempat populer, bahkan masih masuk katalog daerah tujuan wisata tapi sebenarnya tidak layak untuk dikunjungi wisatawan dan atraksi wisatanya pun kurang untuk menarik minat wisatawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila pariwisata hanya dimaknai sebagai kegiatan piknik, berpergian ke suatu daerah wisata, untuk melepas kejenuhan akan rutinitas hari-hari dan sekaligus menikmati keindahan tempat tersebut. Maka asumsi yang amat sangat sederhana ini akan berpengaruh terhadap partisipasi dan dukungan masyarakat terkait pengembangan pariwisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat dengan paradigma sederhana mengenai pariwisata kemudian akan mendukung pengembangan pariwisata terkait sebatas menerima keberadaan objek wisata, namun apabila dilibatkan dalam perencanaan, pembangunan hingga pengelolaan, masyarakat lokal akan sulit memberi dukungan karena tidak sepenuhnya mengerti apa dan bagaimana pariwisata yang sebenarnya. Bahwa pariwisata adalah industri jasa yang kompleks dan memiliki dampak positif maupun negatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Definisi pariwisata sendiri dalam Undang-undang Kepariwisataan yang baru No. 10 Tahun 2009 pasal 1 ayat 1 disebutkan adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Dua kotak besar<br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata secara umum dalam pola pikir penulis bisa dijabarkan bagai dua kotak besar. Kotak besar pertama yaitu pariwisata masal yang selama ini kita lihat dan berkembang. Wisatawan didatangkan sebanyak-banyaknya ke suatu daerah. Semua sumber daya alam dan budaya dikomersialisasikan besar-besaran tanpa memperhatikan kelestariannya. Nilai edukasi tidak diperhatikan baik bagi wisatawan sebagai tamu (<em>guest</em>) maupun penyedia sebagai tuan rumah<em> (host)</em>. Pariwisata masal ini kemudian terbukti membawa banyak dampak negatif dibandingkan dampak positifnya baik bagi masyarakat lokal, kelestarian alam dan budaya, hingga bagi ekonomi masyarakat lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Kotak besar kedua yang beberapa tahun terakhir ini baru berkembang cukup pesat adalah pariwisata alternatif. Berkembangnya pariwisata alternatif ini merupakan reaksi dari munculnya dampak negatif pariwisata masal. Sehingga keberadaan pariwisata alternatif ini cenderung lebih memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal baik dari segi budaya, ekonomi dan edukasi, hingga meminimalisir dampak negatif perkembangan pariwisata. Selain itu pariwisata alternatif juga memberikan nilai edukasi bagi wisatawan yang datang ke suatu destinasi wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, hasil-hasil studi yang berkembang menunjukkan bahwa pariwisata harus memiliki konsep keberlanjutan. Maksudnya pariwisata tidak hanya berhenti pada satu titik, tapi terus menerus berputar, meregenerasikan dirinya, dan semakin berkembang lebih baik. Pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang mementingkan kepentingan generasi saat ini tanpa melupakan kepentingan generasi masa depan. Maksudnya generasi masa kini dan generasi mada depan kebutuhannya harus sama-sama terpenuhi. Kondisi alam harus sama-sama lestari, eksistensi budaya lokal harus sama lestari, serta edukasi bagi masyarakat lokal dalam interaksinya dengan tamu juga harus sama pentingnya untuk dilestarikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata berkelanjutan melibatkan masyarakat sebagai salah satu pelaku utamanya dan mengutamakan kelestarian sumber daya. Hal ini kemudian dikenal dengan konsep <em>sustainable tourism</em> (Indonesia: pariwisata berkelanjutan). Payung besar pariwisata berkelanjutan ini kemudian berelasi dan membawahi kotak besar pariwisata alternatif yang kemudian terwujud dalam beberapa konsep.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep-konsep pengembangan pariwisata alternatif dalam ujud ekowisata (<em>ecotourism</em>) yang menitikberatkan pada kelestarian ekosistem dan berbasis masyarakat lokal sebagai aktor utama, dimana kegiatan pariwisatanya merupakan kegiatan yang bertanggung jawab (<em>responsible tourism</em>).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Paradigma Keberlanjutan<br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan pola pikir dan prinsip pengelolaan pariwisata yang masih perlu dibenahi saat ini adalah: Berapa banyak wisatawan yang bisa ditarik ke suatu daerah tujuan wisata (destinasi)? serta Pelayanan dan fasilitas apa yang wisatawan inginkan? Membicarakan kedua hal penting ini tentu akan berkaitan dengan banyak hal.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat membicarakan berapa banyak wisatawan yang bisa ditarik untuk datang ke suatu daerah tujuan wisata, tentu kita juga turut membicarakan sisi perekonomian daerah. Pariwisata yang dianggap dapat memberikan kontribusi besar atas pemasukan daerah tentu dalam pengelolaan daerah tujuan wisata yang diutamakan adalah menarik jumlah wisatawan sebanyak mungkin. Banyak wisatawan yang datang, maka pemasukan semakin tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun kesalahan fatal yang sering kali terabaikan atau sengaja tidak diperhatikan adalah kapasistas penerimaan wisatawan di suatu daerah. Berapa maksimal daerah tujuan wisata tersebut bisa menampung kunjungan wisatawan dalam periode tertentu. Sebab hal ini akan berdampak pada kelestarian sumber daya di daerah yang dijadikan daya tarik wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian yang sering terabaikan adalah bagaimana target pasar yang tepat untuk daerah tujuan wisata tersebut. Tidak semua wisatawan yang dapat berkunjung ke suatu destinasi wisata dapat dikatakan wisatawan yang potensial dan berkualitas. Dalam hal ini maksudnya adalah wisatawan yang dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat lokal yang mampu dan mau mengeluarkan uangnya di destinasi wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila kedua hal tersebut sudah dirancang dengan tepat baik dari jumlah kapasitas kunjungan wisatawan terkait daya tampung daerah dalam periode tertentu serta target pasar terkait wisatawan yang berkualitas dan potensial, maka hal lain yang harus diperbaiki adalah terkait penyediaan pelayanan dan fasilitas wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata sebagai salah satu industri jasa besar atau yang dikenal dengan industri jasa keramahtamahan (<em>hospitality industry</em>) terkait erat dengan pelayanan dan penyediaan fasilitas. Keramahtamahan yang diutamakan sebagai jasa yang dijual harus mengutamakan service atau pelayanan yang profesional. Baik dalam taraf sederhana pun pemberian layanan jasa harus tetap profesional dan sesuai etika yang baik. Bukan pelayanan yang seadanya tanpa memperhatikan etika pelayanan jasa. Karena wisatawan yang berkunjung menginginkan pengalaman yang berbeda dari tempat asalnya. Itu yang harus diperhatikan dalam pelayanan. Misalnya bagaimana cara memberikan salam yang baik dan menggambarkan citra warga lokal yang berbudaya positif.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian halnya fasilitas yang disediakan bagi wisatawan. Sering kali kita membangun fasilitas yang mewah padahal bukan itu yang benar-benar diperlukan. Buat apa hotel bintang lima tapi akses masuk masih sulit? Buat apa hotel dan restauran berkelas atas kalau sistem komunikasi dan penyediaan transportasi masih minim? Tentunya kemudian hal ini tidak akan seimbang satu dengan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syarat utama daerah tujuan wisata adalah salah satunya adalah akses masuk seperti prasarana jalan yang baik, moda transportasi yang baik, serta ketersediaan media informasi yang baik. Apabila dilihat dari syarat ideal tersebut, maka penyediaan aksesibilitas menjadi lebih utama dan penting dibandingkan fasilitas mewah. Bukan berarti kemudian fasilitas yang disediakan sembarangan. Namun penyediaan fasilitas ini harus disesuaikan dengan konsep dan model pembangunan destinasi wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila model yang digunakan adalah ekowisata maka fasilitas yang ditawarkan adalah fasilitas yang jauh dari perkembangan teknologi yang mewah. Justru penyediaan fasilitas yang sederhana, menggunakan bahan lokal, tidak menawarkan kemewahan, masih kuat unsur alaminya, dengan bahan-bahan dan peralatan yang ramah lingkungan, itulah yang harus ditonjolkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu berbicara tentang penyediaan fasilitas, bukan hanya menggunakan fasilitas milik masyarakat lokal yang sederhana dan ramah lingkungan serta kuat unsur alami dan budayanya saja, namun juga perlu diperhatikan dalam pengelolaan pariwisataya itu bagaimana wisatawan dapat berkontribusi kepada kepentingan kualitas hidup penuduk lokal di daerah tujuan wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, kegiatan aktivitas pariwisata tidak hanya menguntungkan wisatawan tapi juga masyarakat lokal. Wisatawan mendapatkan pengalaman dengan nilai edukasi yang baik demikian juga halnya dengan masyarakat lokal. Proses ini bisa terjadi misalnya adanya interaksi yang baik sehingga memunculkan komunikasi lintas budaya. Masing-masing baik masyarakat lokal sebagai tuan rumah <em>(host)</em> dan wisatawan sebagai tamu (<em>guest)</em> bertukar informasi dan pengetahuan mengenai kehidupan dan budaya mereka yang berbeda sehingga ada sikap saling menghargai.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pariwisata Alternatif melestarikan sumber daya dan meningkatkan kualitas ekonomi<br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pariwisata alternatif merupakan suatu bentuk kegiatan kepariwisataan yang tidak merusak lingkungan,  berpihak pada ekologis dan menghindari dampak negatif dari pembangunan pariwisata berskala besar yang dijalankan pada suatu area yang tidak terlalu cepat pembangunannya. (Koslowskidan Travis: 1985).</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk dari pengertian menurut ahli tersebut, maka pariwisata alternatif adalah pariwisata yang muncul guna meminimalisir dampak negatif dari perkembangan pariwisata masal yang terjadi hingga saat ini. Dampak negatif dari pariwisata masal atau pariwisata berskala besar adalah ancaman terhadap kelestarian budaya dimana budaya lebih dikomersialisasikan dibandingkan dijaga keaslian dan kelestariannya. Selain itu dampak negatif yang dapat berbahaya  adalah perusakan sumber daya alam dimana sumber daya alam habis dieksploitasi besar-besaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu pariwisata alternatif adalah kegiatan kepariwisataan yang memiliki gagasan yang mengandung arti sebagai suatu pembangunan yang berskala kecil atau juga sebagai suatu kegiatan kepariwisataan yang disuguhkan kepada wisatawan, dimana segala aktivitasnya turut melibatkan masyarakat. (Saglio: 1979 dan Gonsalves: 1984).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, bisa disimpulkan pembangunan pariwisata yang baik dan mendukung kelestarian sumber daya baik alam, budaya dan manusia adalah pariwisata alternatif.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Denpasar, 2009</strong></p>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/660/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=660&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/09/09/pariwisata-alternatif-apa-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/09/bus-wisata-sungai.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bus wisata sungai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LOGO BRANDING PARIWISATA ASEAN</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/08/21/logo-branding-pariwisata-asean/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/08/21/logo-branding-pariwisata-asean/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 11:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW] Kompetisi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan pariwisatanya ditunjukkan dengan penciptaan slogan untuk menciptakan citra akan keunikan negaranya. Untuk mencapai promosi secara luas, tentu saja digunakan teknologi IT yang berbasis world wide web (www) secara maksimal. Berikut logo pariwisata yang dianggap telah mewakili ikon negaranya: Menurut kami, untuk menghadapi raksasa pariwisata terutama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=537&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></pre>
<p style="text-align:justify;">Kompetisi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan pariwisatanya ditunjukkan dengan penciptaan slogan untuk menciptakan citra akan keunikan negaranya. Untuk mencapai promosi secara luas, tentu saja digunakan teknologi IT yang berbasis world wide web (www) secara maksimal.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut logo pariwisata yang dianggap telah mewakili ikon negaranya:</p>
<p><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-548 alignnone" title="visit indonesia tourism rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-indonesia-tourism-rsz.jpg?w=510" alt="visit indonesia tourism rsz"   /></a><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-547 alignnone" title="visit brunai rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-brunai-rsz.jpg?w=510" alt="visit brunai rsz"   /></a><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-546 alignnone" title="visit australia rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-australia-rsz.jpg?w=510" alt="visit australia rsz"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-544" title="visit filipin rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-filipin-rsz.jpg?w=510" alt="visit filipin rsz"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-551" title="visit kamboja rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-kamboja-rsz.jpg?w=510" alt="visit kamboja rsz"   /></a> <a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-552" title="visit laos rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-laos-rsz.jpg?w=510" alt="visit laos rsz"   /></a> <a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-554" title="Uniquely Singapore Logo" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-singapore-rsz.jpg?w=510" alt="Uniquely Singapore Logo"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-574" title="visit malaysia 1rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-malaysia-1rsz.jpg?w=510" alt="visit malaysia 1rsz"   /></a> <a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-556" title="visit thailand rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-thailand-rsz.jpg?w=510" alt="visit thailand rsz"   /></a> <a href="http://www.arsimedik.com"><img class="alignnone size-full wp-image-558" title="visit vietnam rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-vietnam-rsz.jpg?w=510" alt="visit vietnam rsz"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut kami, untuk menghadapi raksasa pariwisata terutama negara tetangga Kalimantan, yakni Brunai &amp; Malaysia, tidak perlulah seluruh Indonesia dipertaruhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui kerjasama sinergi pariwisata ke-4 propinsi (Kalteng, Kaltim, Kalbar, Kalsel), kami yakin suatu saat dunia akan mengetahui bahwa Aslinya Asia (<em>truly asia)</em> dan Jantungnya Borneo (<em>heart of Borneo)</em> adalah Kalimantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ujudnya, kami mengusulkan dibentuknya Kalimantan Tourism Board (KTB) atau <a title="Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah?" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/07/01/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah/" target="_blank">Badan Pariwisata Kalimantan</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Setujukah Anda?</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/537/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=537&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/08/21/logo-branding-pariwisata-asean/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-indonesia-tourism-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit indonesia tourism rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-brunai-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit brunai rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-australia-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit australia rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-filipin-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit filipin rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-kamboja-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit kamboja rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-laos-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit laos rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-singapore-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Uniquely Singapore Logo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-malaysia-1rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit malaysia 1rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-thailand-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit thailand rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/visit-vietnam-rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visit vietnam rsz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PRE-RELEASE ARTIKEL</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/08/17/pre-release-artikel/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/08/17/pre-release-artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 03:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://borneotourismwatch.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW] Special Report! Ujud cinta bangsa yang diekspresikan saat Hari Kemerdekaan RI beragam. Ada lomba, bazaar &#38; pasar malam, pemutaran film perjuangan, renungan malam, wayang semalam suntuk, hingga doa akbar bagi negeri. Bagi saya, ujud cinta bangsa terekspresikan melalui karya positif kita. Karya dari hasil kerja keras &#38; pengorbanan, berdasarkan otentitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=466&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></pre>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>Special Report!</strong></span></em></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Ujud cinta bangsa yang diekspresikan saat Hari Kemerdekaan RI beragam. Ada lomba, bazaar &amp; pasar malam, pemutaran film perjuangan, renungan malam, wayang semalam suntuk, hingga doa akbar bagi negeri. Bagi saya, ujud cinta bangsa terekspresikan melalui karya positif kita. Karya dari hasil kerja keras &amp; pengorbanan, berdasarkan otentitas &amp; orisinalitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil karya yang bersumber dari pemikiran &amp; perjuangan  yang otentik memiliki  mutu yang dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="alignnone size-full wp-image-484" title="teluk pulai5rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai5rsz2.jpg?w=510" alt="teluk pulai5rsz"   /></a><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="alignnone size-full wp-image-490" title="teluk pulai4rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai4rsz.jpg?w=510" alt="teluk pulai4rsz"   /></a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="alignnone size-full wp-image-486" title="teluk pulai6rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai6rsz1.jpg?w=510" alt="teluk pulai6rsz"   /></a><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="alignnone size-full wp-image-487" title="teluk pulai7rsz" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai7rsz1.jpg?w=510" alt="teluk pulai7rsz"   /></a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>(Ket. foto searah jarum jam: |1| tinggal di rumah pambekel Teluk Pulai |2| kantor desa yang selalu tutup |3| </em><em>jalan kaki 20an km ke Sei Sekonyer bersama warga lokal </em><em> |4| </em><em>berdiskusi dengan warga asli Bugis</em><em>.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em> Dok. pribadi, bagian riset S2 di desa <a title="Teluk Pulai: Eco Agrowisata Kalteng?" href="http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/08/06/teluk-pulai-eco-agrowisata-terbesar-kalteng/" target="_blank">Teluk Pulai</a>, Taman Nasional Tanjung Puting, 2005)</em><strong></p>
<p> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sikap hormat kepada para pejuang &amp; pahlawan, kepada para <em>founding father</em> Kalteng seperti Bpk. Tjilik Riwut dan penerus-penerusnya. Penulis berupaya untuk belajar menuangkan pemikiran untuk urun serta dalam membangun pariwisata Indonesia melalui Kalimantan. Melalui media non komersil WEBlog ini, akan di rilis opini &amp; artikel terbaru:</p>
<p style="text-align:justify;">1. VISIT KALIMANTAN: IDE &amp; IMPLEMENTASI</p>
<p style="text-align:justify;">2. AVANT GARDE PENDIDIKAN PARIWISATA</p>
<p style="text-align:justify;">3. POLITIK PARIWISATA</p>
<p style="text-align:justify;">4. RESPONSIBLE TOURISM, APA ITU?</p>
<p style="text-align:justify;"><em> <strong>Jakarta, 17 Agustus 2009</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=466&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/08/17/pre-release-artikel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai5rsz2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">teluk pulai5rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai4rsz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">teluk pulai4rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai6rsz1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">teluk pulai6rsz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/08/teluk-pulai7rsz1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">teluk pulai7rsz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BADAN PARIWISATA KALIMANTAN, PERLUKAH?</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/07/01/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/07/01/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 06:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang. MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Tulisan ini dimuat sebagai ujud apresiasi terhadap HUT Kota Palangka Raya ke-44 pada tanggal 17 Juni 2009. Telah dimuat di Harian Kalteng Pos (15-16 Juni 2009) dan di portal Kalimantan Tengah www.betang.com, serta situs resmi Pemprov Kalteng www.kalteng.go.id Perlukah diadakannya suatu badan khusus yang menangani [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=308&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang. MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></pre>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong><em>Tulisan ini dimuat sebagai ujud apresiasi terhadap HUT Kota Palangka Raya ke-44 pada tanggal 17 Juni 2009. Telah dimuat di Harian Kalteng Pos (15-16 Juni 2009) dan di portal Kalimantan Tengah <a title="..Kalimantan Tengah dikenal sebagai surganya pariwisata minat khusus.." href="http://betang.com/artikel/wisata/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah.html" target="_self">www.betang.com</a>, serta situs resmi Pemprov Kalteng <a title="..Kalimantan Tengah dikenal sebagai surganya pariwisata minat khusus.." href="http://kalteng.go.id/viewarticle.asp?ARTICLE_id=908" target="_self">www.kalteng.go.id</a></em></strong></span></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="size-full wp-image-385 " title="langit_1" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/07/langit_1.jpg?w=510" alt="Beauty City in Central Borneo by HeliAgus"   /></a><p class="wp-caption-text">Beauty City in Central Borneo | HeliAgus</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Perlukah diadakannya suatu badan khusus yang menangani pariwisata di bumi Kalimantan? Marilah kita telaah bersama.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Di ranah nasional, Kalteng dikenal sebagai propinsi yang mempelopori Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan (FKRP2RK). Sektor unggulan dalam upaya percepatan pembangunan tersebut adalah infrastruktur. Sebagai pelopor utama forum tersebut tentu saja cerita memilukan bahwa kontribusi PRB Kalteng paling rendah dibanding ketiga propinsi lainnya, bukanlah halangan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> Di sisi lain, tidak kalah penting adalah perhatian pada sektor pariwisata.</span></p>
<p>Nilai penting sektor pariwisata disebabkan oleh dua hal, pertama angka kunjungan turis asing di tahun 2010 yang akan mencapai 1,046 milyar orang (WTO, 2008). Kedua, meluasnya tren model pariwisata minat khusus di abad 21 kini, dimana unsur kelaikan infrastruktur terutama jalan yang bagus, ketersediaan hotel berbintang, hingga pelayanan ala amerika, menjadi tidak begitu penting bagi para turis tersebut.<br />
<span id="more-308"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Kalimantan Tengah dikenal sebagai surganya pariwisata minat khusus. Ekowisata (<em>ecotourism</em>) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Taman Nasional Sebangau, TN. Bukit Baka di Kotim, TN. Bukit Raya dengan Danau Sembuluhnya di Seruyan serta yang tersebar di beberapa kabupaten lainnya, menunjukkan kelimpahan sediaan atraksi pariwisata minat khusus yang mengandung unsur edukasi (<em>educative tourism</em>) dan petualangan alam (<em>adventure tourism</em>) dengan imbuhan susur sungai atau arung riam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Belum lagi eksistensi wisata budaya (<em>culture tourism</em>) seperti atraktifnya adat Tiwah, Wara atau Ijambe yang notabene tidak lepas dari model wisata religi (<em>pilgrim tourism</em>). Keberadaan kota tua Pahandut lengkap dengan jembatan Kahayan merupakan bukti nyata adanya unsur wisata kota (<em>urban tourism</em>) yang tidak lepas dari jejaring wisata kuliner (<em>culinary tourism</em>) dengan menu khas ikan jelawat, tapah, patin, papuyu, yang tersaji di sepanjang koridor kota Palangka Raya.</span><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Betang Konut di Murung Raya, Betang Rangan Rondan di Katingan Hilir, Betang Damang Batu di Tumbang Anoi serta peninggalan sapundu merupakan fakta tersedianya elemen wisata arkeologis (<em>archeo tourism</em>) yang merupakan bagian dari pariwisata minat khusus. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong><br />
Dokumentasi terhadap 13 kabupaten 1 kota</strong><br />
Kegiatan dokumentasi foto terhadap atraksi dan obyek wisata yang tersebar di 13 kabupaten dan 1 kota di propinsi Kalimantan Tengah mungkin pernah dilakukan. Namun pertanyaanya, sudahkah hasil dokumentasi tersebut terpublikasi melalui media cyber space secara tersruktur dan tersistematis? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Di dunia high modern saat ini, diperkirakan sekitar 1,463 milyar penduduk (w<em>ww.internetworldstats.com, 2007</em>) yang memanfaatkan internet sebagai bahan gali informasi mereka, dan setiap tahun prosentase pemakai naik 305,5%/tahun. Tren mencari informasi di abad 21 adalah terhubungnya individu-individu melalui media maya. Disinilah kunci rahasia promosi pariwisata yang kuat seharusnya mendapat perhatian lebih.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Hasil dokumentasi tentu saja tidak melulu harus dalam bentuk cetakan semacam brosur atau pamflet yang menyerap ongkos tinggi. Dokumentasi foto yang professional apabila dikelola dengan perpaduan tawaran paket perjalanan wisata antar daerah lengkap dengan peta wisata serta informasi penunjang lainnya yang dikelola di suatu website khusus, tentu saja akan mampu menanggulangi kecerdikan Malaysia yang selama ini mengaku-ngaku aslinya asia (melalui slogan <em>Truly Asia</em>).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Pembuatan website pariwisata tidaklah mahal. Bahkan, beberapa konsultan jasa pembuatan website yang pernah saya temui mengemukakan bahwa, seorang awam sekalipun mampu membuat sendiri tanpa harus mempelajari secara khusus bahasa pemrograman yang rumit seperti HTML, PHP, CSS dan Javascript. Sungguh menarik!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
<strong>Website Pariwisata Kalteng</strong><br />
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI merilis hasil riset bahwa 56% turis yang berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet (Depbudpar, 2007). Bayangkan jika 1% saja dari 1,046 milyar turis yang memiliki interes tinggi terhadap pariwisata minat khusus, tengah melongok di depan search engine semisal yahoo atau google dan mengetikkan kata kunci semisal special interest, atau ecotourism atau yang lebih spesifik seperti Dayak Borneo atau orangutan, maka besar kemungkinan 10,460 juta calon turis yang akan mempertimbangkan kunjungannya ke Kalimantan Tengah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Pada beberapa kali kesempatan penulis mencoba menggunakan teknik gali informasi wisata melalui internet tersebut. Hasilnya? Pertama, selalu berujung ke website miliknya Malaysia, kedua selalu berujung ketidakjelasan informasi apabila masuk melalui “pintu” website dengan trafik yang sangat tinggi seperti <em>www.kalteng.go.id</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Akibatnya fatal. Sebagai turis asing yang awam, tentu saja tawaran website pariwisata negara lain yang mengaku-ngaku bahwa Dayak asli dan orangutan asli ada di daerah mereka, akan sangat menggiurkan. Padahal begitu tiba dan dikunjungi ternyata yang dinikmati adalah orang yang berbaju dan bermodel gaya orang Dayak. Pariwisata artifisial istilahnya. Begitu pula khusus orang utan, jelas sekali tercatat bahwa populasi orang utan terbesar berada di Kalimantan Tengah (CoP dalam Kompas, 14 Mei 2009). Namun akibat lemahnya daya saing promosi melalui media internet, maka jutaan turis yang seharusnya mengunjungi Kalimantan Tengah, tersesat ke negeri lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
<strong>Peran sentral Badan Pariwisata</strong><br />
Beberapa destinasi di Indonesia memiliki Badan Pariwisata yang merupakan otorita di bawah kerjasama pemerintah dan swasta. Ambil contoh, Badan Pariwisata Batam ataupun Bali Tourism Board (BTB), yang memiliki kewenangan dalam mengupayakan percepatan pembangunan pariwisata di daerahnya masing-masing. Peran sentral suatu Badan Pariwisata adalah yang menjembatani kebijakan pemerintah di bidang pariwisata dengan aspirasi kalangan industri pariwisata. Badan ini berfungsi untuk membantu promosi dan pengembangan pariwisata baik di tingkat regional bahkan nasional.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Bagi Kalimantan yang keempat propinsinya memiliki kemiripan daya tarik, kendala serta permasalahan yang mirip, maka tentu saja model pembangunan pariwisata yang bersifat <em>co-operative</em> di antara propinsi Kalteng, Kaltim, Kalteng, Kalbar akan sangat efektif dan bernilai penting. Disini, ujud yang paling ideal dalam bentuk konsorsium bersama di wadah Kalimantan Tourism Board (KTB). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
Menilik dari kekhasan perkembangan pariwisata di Kalimantan, maka KTB akan cenderung nantinya diarahkan pada misi sebagai berikut: (1) Membangun branding bersama untuk membangun kesadaran global tentang budaya, atraksi dan keajaiban Kalimantan yang unik; (2) Membangun komunikasi lintas sektor dan bidang di lintas propinsi, dengan misi utama memasarkan dan mempromosikan Kalimantan sebagai tempat wisata unggulan; (3) Meriset dan mengidentifikasi secara akurat terhadap aspek pasar wisata dan produk wisata secara seimbang (balancing between supply &amp; demand); (4) Mereposisi pariwisata Kalimantan dalam kontelasi nasional dan internasional; (5) Menstrukturisasi rute-rute domestik (one trip journey) dan menciptakan iklim lama tinggal wisatawan (length of stay); (6) Merangsang investor raksasa di sektor pariwisata untuk menanamkan modalnya; dan (7) Menjaga dan saling mengawasi kualitas atraksi (alam dan budaya).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><br />
<strong>Kesimpulan</strong><br />
Nilai penting Badan Pariwisata Kalimantan atau Kalimantan Tourism Board (KTB) minimal telah terwujudnyatakan melalui pemanfaatan promosi teknologi informasi internet yang diaplikasikan sesegera mungkin, serta kontribusi sumber daya manusia pariwisata (<em>human tourism</em>), yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan Kalimantan dan negara Indonesia. Dimana, Kalteng seharusnya menjadi pelopor terhadap gagasan badan ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#000000;"><br />
*Rio Migang adalah seorang pengamat pariwisata Kalteng, anggota BPP IAI Nasional, pendiri Jakarta Arsimedik Studio (JAS).</span></strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=308&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/07/01/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/07/langit_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">langit_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MERETAS MASA DEPAN PARIWISATA KALTENG DI BUMI KALIMANTAN*</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/06/01/meretas-masa-depan-pariwisata-kalteng-di-bumi-kalimantan/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/06/01/meretas-masa-depan-pariwisata-kalteng-di-bumi-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 15:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Tulisan ini merupakan materi paparan oleh Rio Setiawan Migang dalam rangka Seminar HUT Ke-52 Kalteng, Senin 25 Mei 2009. Bertempat di Jayang Tingang Center,  Kantor Gubernur propinsi Kalimantan Tengah. Tahun 2005, pihak otorita Pemprov Kalteng mengeluarkan statement prioritas pembangunan yang bertumpu pada beberapa sektor, salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=296&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tulisan ini merupakan materi paparan oleh Rio Setiawan Migang dalam rangka Seminar HUT Ke-52 Kalteng, Senin 25 Mei 2009. Bertempat di Jayang Tingang Center,  Kantor Gubernur propinsi Kalimantan Tengah. </em></strong></p>
<div id="attachment_410" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-410 " title="Betang_shijilorotelu resize" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/06/betang_shijilorotelu-resize1.jpg?w=510" alt="Betang-Lamin-Longhouses"   /></a><p class="wp-caption-text">Betang-Lamin-Longhouses | by NN</p></div>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2005, pihak otorita Pemprov Kalteng mengeluarkan statement prioritas pembangunan yang bertumpu pada beberapa sektor, salah satunya pariwisata. Di tahun 2009, melalui rilis di www.kalteng.go.id, situs resmi pemerintah Kalteng, termaktub bahwa tahun ini dicanangkan sebagai tahun prioritas pembangunan pariwisata provinsi Kalimantan Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa sektor pariwisata memiliki nilai begitu penting? Adakah peran pariwisata secara langsung terhadap pertambahan devisa daerah?</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita menengok data yang dirilis oleh Badan Pariwisata Dunia (<em>World Tourism Organization</em> atau WTO) dan Konsil Perjalanan dan Pariwisata Dunia (<em>World Travel and Tourism Council</em> atau WTTC).</p>
<p><span id="more-296"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Disebutkan bahwa di tahun 1950, ada 50 juta kunjungan turis yang berwisata atau berplesir, dan diperkirakan 8 milyar US$ mengalir dari kantong para turis tersebut. Semakin tahun semakin meningkat karena sebagaimana yang disebutkan WTTC (1997), bahwa pariwisata akan menjadi penggerak utama perekonomian dunia abad 21 bersama industri telekomunikasi dan teknologi informasi. Hal tersebut terbukti.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 1999, terekam lebih 600 juta kunjungan turis yang berplesir di seluruh dunia dengan devisa mencapai 455 milyar US$. Tahun 2007, 903 juta kunjungan dengan devisa 856 US$. WTO pun memperkirakan di tahun 2010 akan mencapai 1,046 milyar kunjungan dan ledakan turis yang ingin menjelajah berbagai destinasi wisata diperkirakan melampaui angka 1,602 milyar di tahun 2020.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan tsunami turis yang mencapai 1 (satu) milyar lebih, yang sangat ingin berwisata ke tempat-tempat eksotik.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan, apabila Indonesia yang eksotis, hanya berencana ingin menggaet tidak lebih dari 10 (sepuluh) juta wisatawan saja di tahun 2010.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan lagi, apabila destinasi seeksotis Kalimantan Tengah, nyaris tidak memiliki target jelas untuk mendatangkan turis lebih banyak lagi.</p>
<p><strong>Catatan Pencapaian di Level Nasional</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kontribusi signifikan pergerakan pariwisata internasional terhadap pariwisata di Indonesia bagi perekonomian nasional adalah sebagai berikut: Tahun 2005, angka kunjungan 5,006,797 wisman dengan devisa 4,5 milyar US$. Tahun 2006, bergerak turun di angka 4,871,351 wisman dengan devisa 4,3 milyar US$. Penurunan tersebut dianggap karena isu faktor bencana alam maupun keamanan. Tahun 2007, angka kunjungan kembali naik ke angka 5,5 juta wisman dengan perolehan 5,3 milyar US$. Lebih lanjut, Depbupar RI (2009) merilis angka kunjungan di tahun 2008 sekitar 6,43 juta wisman dengan devisa 7,5 milyar US$, naik 42,5% dari tahun sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pergerakan angka di atas memang menjelaskan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Namun, dari beberapa aspek perlu dikaji lebih khusus lagi. Diantaranya, bagaimana capaian devisa dari sisi wisatawan domestik atau turis daerah? Apalagi setelah pemerintah RI mencanangkan Program Perencanaan Nasional Pariwisata melalui UU No.25 tahun 2000 silam. Tentu saja berbagai daerah pun memacu pengembangan pariwisatanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula menganalisa kemampuan pariwisata Indonesia untuk mengurangi utang luar negeri. Serta kajian dampak negatif arus kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.</p>
<p><strong>Pergeseran Tren Pariwisata<em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pergeseran yang dimaksud adalah kecenderungan minat wisatawan terhadap model wisata. Para ahli menyebutnya sebagai pergeseran gaya wisata massal ke arah wisata alternatif. Dimana, seolah-olah dunia pariwisata terbagi atas dua zaman, yakni zaman dimana wisata massal (<em>mass tourism</em>) menjadi trend dan zaman setelahnya dimana wisata alternatif (<em>alternative tourism</em>) menjadi tren di abad 21. Wisata massal biasanya dikaitkan langsung dengan kegiatan wisata ke obyek populer yang memiliki pantai berpasir indah (<em>sand</em>), dekat laut (<em>sea</em>) dan bersalju (<em>snow</em>), serta menjadikan masyarakat dan budayanya sebagai sebuah tontonan. Namun, tren “baru” ini ditandai dengan minat kunjungan yang berbasis “<em>back to nature</em>” dengan landasan semangat konservasi, apresiasi yang tinggi terhadap budaya masyarakat lokal, termotivasi karena wawasan dan pengalaman baru yang akan didapat, adanya upaya riil bagi pemberdayaan masyarakat dan dimungkinkannya pengembangan dalam skala kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Tren wisata alternatif ini kemudian mewujud dalam berbagai nama dan bentuk, diantaranya ekowisata (<em>ecotrourism</em>), wisata petualangan (<em>adventure tourism</em>), agrowisata (<em>agrotourism</em>), wisata budaya (<em>culture tourism</em>), wisata kota (<em>urban tourism</em>), wisata religi (<em>pilgrim tourism</em>), wisata kuliner (<em>culinary tourism</em>), wisata pedesaan (<em>rural tourism</em>), hingga wisata arkeologis (<em>archeo tourism</em>) serta wisata pendidikan dan wisata kesehatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pergeseran tren ini tentu saja sangat berdampak positif bagi pengembangan pariwisata di Kalteng, karena beberapa unsur dari pariwisata minat khusus telah terpenuhi.</p>
<p><strong>Multiplier Effect Pengembangan Pariwisata </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Aktivitas yang terkait dengan pergerakan manusia maupun barang, tentu akan menstimulasi perekonomian daerah yang dilaluinya. Wisatawan yang datang berbondong-bondong dari jauh, tentu menggunakan jasa biro travel untuk mengatur perjalanannya dengan jasa transportasi. Dalam perjalanannya, tentu tidak lepas pula dari penikmatan terhadap jasa makan minum. Adanya interaksi dengan perbankan, penginapan, tempat rekreasi, tempat hiburan, serta unsur jasa milik masyarakat lainnya, secara simultan akan terus menghasilkan dampak berganda (<em>multiplier effect</em>), yang ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan daerah maupun masyarakat kitaran destinasi wisata.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor tersebutlah yang mengindikasikan bahwa peran pariwisata mampu membuka peluang investasi sangat luas.</p>
<p>Berikut gambar model dari jabaran di atas:</p>
<p><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="alignnone size-full wp-image-298" title="multiplier effect parwsata" src="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2009/06/multiplier-effect-parwsata1.jpg?w=510" alt="multiplier effect parwsata"   /></a></p>
<p><strong>Keterbahayaan dan Ancaman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sederhananya, destinasi tujuan wisata di Indonesia terbagi atas 3 (tiga), yakni destinasi yang telah berkembang baik, contoh idealnya Bali, destinasi yang sedang berkembang, contohnya Manado, dan destinasi yang akan berkembang contohnya pulau Kalimantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di setiap data angka pertumbuhan tidak mungkin dilepaskan dari unsur keterbahayaan. Makin tinggi kunjungan turis, makin tinggi pula resiko negatif terhadap lingkungan dan terhadap budaya masyarakat lokal. Hal ini dialami oleh destinasi wisata Bali dan Manado. Tentu saja contoh lainnya cukup banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Harian Kompas (31 April 2009), mencatat bahwa saat ini pariwisata Bali tengah memasuki masa-masa awal kritis, ditengarai bahwa perkembangan industri pariwisata Bali yang cenderung mengabaikan budaya dan merusak ekologi mengusik tradisi masyarakat yang hidup. Hal tersebut terjadi akibat dari pertumbuhan yang tak terkendali dari desakan pelaku ekonomi dari luar negeri yang menjadikan budaya local sebagai komoditas dagangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di waktu yang lain, harian Kompas (12 Mei 2009) juga mencatat bahwa terjadi <em>over capacity</em> di kawasan perairan Taman Nasional Bunaken. Batas kapasitas kurang dari 10.000 penyelaman per titik/tahun, kini melalmpaui 18.000 titik/tahun. Suatu bentuk ancaman akibat meningginya angka kunjungan dan ditengarai dipicu oleh aturan Perda Provinsi Sulut No.14 Thn.2000 mengenai tarif masuk yang terlampau murah ke kawasan konservasi tersebut.</p>
<p>Apakah maksud dari ‘peringatan’ dari tulisan di atas?</p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya adalah agar destinasi-destinasi wisata yang notabene berada dalam tingkat akan berkembang, menyadari dan mengantisipasi keterbahayaan yang mungkin muncul apabila di kemudian hari meningkat statusnya menjadi destinasi unggulan.</p>
<p><strong>Menilik Kondisi Riil Pariwisata Kalteng</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Daya saing suatu destinasi wisata dapat diukur. Perangkat dan parameter pengukurannya ada. WTTC mengeluarkan indikator yang diantaranya adalah <em>human tourism, price competitiveness, infrastructure, human resources, environment, openness, technology, and social.</em> Berdasarkan perangkat tersebut, di tahun 2007, Depbudpar RI merilis hasil penelitian tersebut dalam bentuk Laporan Daya Saing Destinasi Pariwisata Indonesia yang kemudian menghasilkan nilai indeks komposit terhadap 35 destinasi wisata popular di Indonesia.</p>
<p>Hasilnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Khusus destinasi wisata unggulan di propinsi Kalimantan Tengah adalah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Setelah dihitung, ternyata dirilis bahwa TNTP berada pada posisi detinasi tersier (urutan ke-22 dari 35 destinasi) di level nasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang menghawatirkan adalah kemungkin urutan tersebut menurun ke level yang paling bawah. Mengapa? Karena citra TNTP tidak lepas dari ikon orang utannya. Sedangkan data statistik dari Centre for Orangutan Protect (COP) merilis bahwa populasi orang utan di pulau Kalimantan tinggal 8.613 ekor. Sebagian besar berada di Kalteng, dengan tingkat kepunahan 2.817 ekor/thn (Kompas, 14 Mei 2009). Artinya, orang utan 3-4 tahun lagi akan punah dan citra TNTP sebagai destinasi terunggul dan termenarik di Kalteng akan pudar.</p>
<p style="text-align:justify;">Minimnya ketersediaan data dan publikasi menjadi faktor penghambat perkembangan pariwisata di Kalteng. Di era teknologi informasi masa kini, diklaim bahwa 56% wisatawan berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet (Depbudpar, 2007).</p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali, ketika penulis mencoba mengakses data dan informasi obyek wisata maupun atraksi budaya Dayak yang ada di Kalteng melalui <em>search engine</em>, maka data langsung terhubung dengan destinasi lainnya terutama Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai turis awam yang tertarik dengan kehidupan orang utan, maupun budaya hidup sub suku bangsa Dayak tentu saja akan terkecoh dengan klaim slogan truly asia-nya Malaysia. Seolah-olah orang utan ‘asli’ dan orang Dayak ‘asli’ memang hanya ada di negara mereka. Berapa juta turis yang semestinya berkunjung ke pulau Kalimantan dan Kalteng, terkecoh karena situs pariwisata di bumi Tambun Bungai tidak memberikan informasi pariwisata yang jelas dan menarik?</p>
<p style="text-align:justify;">Khusus mengenai perbandingan antar situs pariwisata milik pemerintah RI, Malaysia dan Kalteng (<a href="http://www.kalteng.go.id/">www.kalteng.go.id</a>) dapat <a title="Pariwisata Kalimantan: Ganyang atau Belajar" href="http://architecturetourism.wordpress.com/2007/12/10/pariwisata-kalimantan-belajar-atau-ganyang-pariwisata-malaysia/" target="_self"><strong>dibaca disini.</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">Aspek lain yang perlu dituntaskan adalah pentingnya dan adanya Rencana Induk Perencanaan Pariwisata (RIPP) di tingkat provinsi yang sejalan selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi Kalteng.</p>
<p><strong>Apa solusinya?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kalteng tentu saja tidak cukup bertumpu hanya pada satu destinasi unggulan saja, ada ragam daya tarik yang ‘ditawarkan’ oleh bumi Tambun Bungai ini. Kota gemilang para pejuang Dayak seperti Pahandut yang historis dengan tautan legenda sungai Kahayan yang membelah kota Palangka Raya, seharusnya dapat diolah menjadi wisata kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada jejaring yang terhubung antara situs Sandung milik warga Kaharingan, dengan dermaga Rambang Pahandut, dengan kota nelayan tua di tepi sungai Kahayan, hingga Jembatan Kahayan yang eksotis dan tugu bersejarah pembangunan Kalteng oleh bung Karno.</p>
<p>Itu baru satu hal saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karenanya, sangat penting dilakukan pemetaan dan pendokumentasian daya tarik pariwisata yang tersebar di 13 kabupaten dan 1 kotamadya di propinsi Kalteng.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu pula dilakukannya penciptaan brand slogan pariwisata yang unik, sebagai ‘slogan payung’ untuk mempromosikan destinasi atau atraksi yang tersebar di seluruh obyek wisata Kalteng.</p>
<p style="text-align:justify;">Terakhir adalah pentingnya merealisasikan gagasan pembentukan <a title="Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah?" href="http://architecturetourism.wordpress.com/2009/07/01/badan-pariwisata-kalimantan-perlukah/" target="_blank">Badan Pariwisata Kalimantan atau Kalimantan Tourism Board (KTB)</a>, yang berperan membangun pariwisata <em>co-operative integrative</em> antara propinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan di bumi Kalimantan yang besar itu.</p>
<p><strong><em>Jakarta, Mei 2009.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>*makalah versi akademik (lengkap) telah menjadi hak milik panitia. Tulisan berikut merupakan ringkasan (notulen) dari hasil paparan dihadapan para panelis dan peserta seminar.</em></p>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=296&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/06/01/meretas-masa-depan-pariwisata-kalteng-di-bumi-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/06/betang_shijilorotelu-resize1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Betang_shijilorotelu resize</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2009/06/multiplier-effect-parwsata1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">multiplier effect parwsata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MASA DEPAN PARIWISATA INDONESIA</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/05/01/masa-depan-pariwisata-indonesia/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/05/01/masa-depan-pariwisata-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 15:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Tentu tak pantas apabila keragaman atraksi wisata  Indonesia disejajarkan dengan negara seperti Malaysia, Singapura, maupun Thailand. Indonesia jelas terlampau beragam, terlampau kaya budaya, terlampau indah alamnya. Namun, karena terlampau itulah, Indonesia nampaknya terlena pada adagium sebagai bangsa yang terlalu kaya. &#160; &#160; Kondisi Riil Pariwisata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=281&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></pre>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tentu tak pantas apabila keragaman atraksi wisata  Indonesia disejajarkan dengan negara seperti Malaysia, Singapura, maupun Thailand. Indonesia jelas terlampau beragam, terlampau kaya budaya, terlampau indah alamnya. Namun, karena terlampau itulah, Indonesia nampaknya terlena pada adagium sebagai bangsa yang terlalu kaya.</em></strong></p>
<div id="attachment_518" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><strong><em><strong><em><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-518 " title="1 wwwextremeborneocom1" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/05/1-wwwextremeborneocom1.jpg?w=510" alt="Legenda Amuk Riam | extremeborneocom"   /></a></em></strong></em></strong><p class="wp-caption-text">Legenda Amuk Riam | extremeborneocom</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kondisi Riil Pariwisata Indonesia</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Catatan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) yang mencanangkan Visit Indonesia Year 2008 dan mengumumkan keberhasilannya menyumbang US$ 7,5 miliar dari 6,43 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Ada dua aspek yang dinilai, bandingkan pemasukan oleh negara sekecil Malaysia atau Vietnam, maka seharusnya kita kaget bukan kepalang.<span id="more-281"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pemasukan Indonesia tidak ada apa-apanya.  Dari catatan, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke negara tetangga semisal Malaysia di tahun 2007 lalu saja sudah mencapai 20,9 juta kunjungan. Faktor lambannya pertumbuhan pariwisata Indonesia yang sebenarnya perlu diutarakan ke publik, bukan karena ada tulisan “miliar dollar US-nya”, terus lantas kita cepat berbangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernah diberitakan, jika saat ini pariwisata Bali tengah memasuki masa-masa awal kritis, ditengarai bahwa perkembangan industri pariwisata Bali yang cenderung mengabaikan budaya dan merusak ekologi saat ini mengusik tradisi masyarakat yang hidup (Kompas, 31/03/09). Celakanya, generator penggerak pariwisata Bali adalah wisata budayanya yang sarat adat tradisi.<br />
Memang harus diakui bahwa salah satu pencapaian tertinggi dari perkembangan pariwisata diindikasikan melalui pertumbuhan ekonomi secara positif.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara harafiah diterjemahkan bahwa secara kuantitas harus meningkat, baik naiknya grafik jumlah wisatawan yang datang, jumlah hotel atau akomodasi industri wisata hingga usaha jasa. Tentu tak salah karena pariwisata yang berkembang baik akan merangsang sektor lain untuk tumbuh. Namun yang patut disesalkan apabila kuantitas angka mengabaikan pemeliharaan kualitas atraksi inti.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, meningkatnya angka kunjungan jelas-jelas memiliki implikasi negatif. Ambil contoh pertumbuhan wisata bawah laut di Bunaken, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan yang tertarik dengan keindahan lautnya, meningkat pula pertumbuhan sektor lainnya yang berarti pula meningkatnya arus lalu lintas manusia dan barang di kawasan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibatnya cukup fatal, kawasan terumbu karang di kawasan perairan tersebut perlahan rusak. Sekali lagi dapat dilihat bahwa pertumbuhan secara kuantitas, apabila tidak dibarengi peningkatan kualitas atraksi inti akan sangat berdampak negatif. Walaupun kualitas layanan, kualitas pendukung wisata meningkat, namun apabila pemeliharaan terhadap produk utama diabaikan, contoh di atas sangat mungkin terjadi pula di kawasan-kawasan wisata yang tersebar merata di seluruh Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalannya memang tidak sesederhana itu. Unsur pengawasan oleh pihak pemerintah, swasta dan unsure masyarakat seharusnya terjalin dengan baik. Memegang teguh arahan masterplan pariwisata juga menjadi sangat penting. Bahkan menghargai anugerah potensi wisata asli dengan tidak mensubtitusi ke model wisata bentuk lain merupakan hal mutlak. Suatu daerah seperti Kalimantan yang kaya akan pesona orangutannya, tentu tidak masuk akal jikalau segala hal yang menjadi keunikan wilayah bahkan negara lain dipaksa masuk ke daerah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ekologi dan Budaya Sebagai Panglima</strong><br />
Pariwisata Indonesia akan terus mengalami kemerosotan karena dua faktor utama. Pertama, ekologi tidak terjaga dengan baik. Kasus ambruknya lokasi wisata Situ Gintung  yang notabene adalah lokasi wisata alam mengindikasikan hal tersebut. Kedua, kebudayaan daerah yang tidak terpelihara dengan baik. Masyarakat tentu saja akan bertanya-tanya apa saja yang sedang dilakukan pemerintah terhadap warisan nilai budaya daerah yang kini makin tergerus oleh nilai-nilai pragmatis dekonstruksi asing, contoh paling konkrit adalah penambahan fungsi baru yang tidak sesuai peruntukan di kawasan situs purbakala Majapahit.</p>
<p style="text-align:justify;">Sinyal-sinyal bahwa kualitas pariwisata diabaikan nampak jelas dari pengabaian atraksi wisata atau objek wisata. Tidak dipedulikannya oleh pihak dinas pariwisata daerah terkait terhadap perubahan status di sekitar situ-situ di daerah Tangerang seperti Situ Antap (Kompas, 20/04/09), Situ Cipondoh dan yang kasus cukup berat bencana di obyek wisata Situ Gintung, mengindikasikan gejala parah pengabaian tersebut. Tidak hanya itu, tentu contoh lain juga banyak, kawasan dan peninggalan heritage seperti Braga di Bandung, pasar Johar di Semarang, penambahan fungsi di area konservasi situs Majapahit, yang kesemuanya nyaris berlangsung di kawasan kitaran kota besar, yang seharusnya dapat menjadi model percontohan yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Menegakkan kembali kedaulatan ekologi tropis, dan mengangkat kembali status kebudayaan daerah sebagai soko guru bagi kebudayaan postmodern adalah tanggung jawab utama. Depbudpar, masyarakat cinta budaya serta ahli-ahli pariwisata memiliki peranan yang signifikan dan saling kait mengkait bagi kemajuan pariwisata di daerah-daerah destinasi. Jadi kebanggaan kita pada laporan akhir tahunan bukan lagi karena kunjungan meningkat sekian persen, namun kebanggaan karena keberhasilan menjaga alam dan budaya asli Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Isu bukan kambing hitam</strong><br />
Memori dunia pada Indonesia sebagai negara rawan bencana tentu saja memiliki dampak negatif. Seberapa besar dampaknya masih menjadi perdebatan. Permasalahan seperti tsunami, banjir, tanah longsor, epidemi flu burung, gelombang pasang, kecelakaan transportasi hingga terorisme, tidak seharusnya dituding sebagai penyebab utama tidak berkembangnya pariwisata di Indonesia. Apabila kita cerdas, mengelola memori dan stigma negatif sebagai disaster prone country akan membimbing kita pada solusi-solusi visioner. Contohnya peristiwa meletusnya Merapi yang daya tarik wisatanya adalah kengerian akan kecamuk alam, tanggap darurat pengembangan pariwisata diarahkan langsung masuk dalam kategori pariwisata minat khusus. Antusiasme wisatawan pun langsung meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kebijakan dan dampaknya</strong><br />
Salah satu keluaran kebijakan yang saat ini ditengarai cukup mengganggu adalah dinaikkannya pajak bandara (airport tax). Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta,  naik 33% untuk penerbangan domestik dan naik 50% untuk penerbangan internasional. Setali tiga uang, bahkan bandara di Bandung naik hingga  67%. Kenaikan pajak tersebut berbanding terbalik dengan negara pesaing seperti Malaysia yang justru menurunkan pajak bandara di terminal LCC-nya hingga dua kali. Bahkan penutupan jalur penerbangan Denpasar-Darwin oleh maskapai penerbangan terbesar Indonesia yang seolah-olah dianggap biasa, memunculkan indikasi bahwa pemerintah mendukung kebijakan yang tidak hanya tidak popular, namun lebih bersifat kontraproduktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila ketidakjelasan ini berlangsung terus menerus, kualitas atraksi tidak terjaga dengan baik, ekologi dan budaya daerah serta nasional terberangus dan sementara itu upaya meningkatkan kunjungan selalu terkendala kebijakan yang belum pro pariwisata, maka dapat ditebak betapa suramnya masa depan pariwisata Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Mau dibawa kemanakah pariwisata Indonesia oleh bangsa yang besar ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, April 2009</p>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=281&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/05/01/masa-depan-pariwisata-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/05/1-wwwextremeborneocom1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1 wwwextremeborneocom1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ETIKA BISNIS ARSITEKTUR BERBASIS EKOLOGI</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/03/03/etika-bisnis-arsitektur-berbasis-ekologi/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/03/03/etika-bisnis-arsitektur-berbasis-ekologi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 09:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Ekowisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Tentu tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan real estate yang menjual produk perumahan bertemakan green architecture, dihargai cukup mahal dibandingkan jenis hunian yang tidak memberi label green pada produknya. Konsep green seolah menjadi obat terapi yang mahal di tengah kalutnya isu mengenai global warming. Tidak salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=240&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#000000;">Tentu tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan real estate yang menjual produk perumahan bertemakan green architecture, dihargai cukup mahal dibandingkan jenis hunian yang tidak memberi label green pada produknya. Konsep green seolah menjadi obat terapi yang mahal di tengah kalutnya isu mengenai global warming.</span></strong></em></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><em><strong><a href="http://www.arsimedik.com"><span style="color:#000000;"><img class="size-full wp-image-393  " title="TMTC - jakarta resize" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/03/tmtc-jakarta-resize.jpg?w=510" alt="TMTC Jakarta \ Arsitek Rizal Muslimin 'urbane'"   /></span></a></strong></em><p class="wp-caption-text">TMTC Jakarta | Arsitek Rizal Muslimin | Urbane</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&amp;"><span style="color:#000000;">Tidak salah memang, konsekuensi kecerobohan manusia yang mengabaikan alam memang seharusnya ditebus mahal. Kolektivitas perilaku dosa manusia terhadap alam harus ditanggung bersama. Jikalau dampak negatifnya dicerca sebagai ketidakadilan alam, maka tentu tidak salah jikalau Tuhan membiarkan alam makin beringas mengadili manusia. Mencerca alam dan Pencipta seharusnyalah diganti dengan mengobati alam dan mensyukuri bencana yang terlanjur menimpa.</span><span id="more-240"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&amp;"><span style="color:#000000;">Setiap bencana dan kesusahan selalu melahirkan peluang emas. Bencana </span><em><span style="color:#000000;">global warming</span></em><span style="color:#000000;"> melahirkan emas yang bernama </span><em><span style="color:#000000;">green therapy</span></em><span style="color:#000000;">. Bagi bisnisman arsitektur </span><em><span style="color:#000000;">avant garde</span></em><span style="color:#000000;">, inilah momentum penciptaan n</span><em><span style="color:#000000;">ew style of architecture</span></em><span style="color:#000000;"> yang berawal mula dari pergulatan filolosofis. Bagi para conservationist yang dituduh sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi kapitalis, inilah saatnya menegakkan </span><strong><span style="color:#000000;">“ekologi adalah panglima”.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&amp;"><span style="color:#000000;">Pada tataran paradigma, memang sangat sulit menyandingkan </span><span style="color:#000000;">usaha ekonomi</span><span style="color:#000000;"> dan </span><span style="color:#000000;">usaha ekologi</span><span style="color:#000000;">. Hal itu tidak lepas dari perbedaan substansial keduanya, karena yang satu mengandung unsur eksploitasi, sedangkan satunya lagi mengandung unsur pelestarian. Hingga saat ini memang terus dilakukan upaya untuk mencari jalan tengah dari pertentangan dua terminologi di atas, mencari keseimbangan yang tepat di antara keduanya, walau harus disadari bahwa jalan tengah adalah area paling berbahaya karena sifatnya yang rapuh serta beresiko.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pelaku arsitektur terus melakukan upaya penyeimbangan tersebut. Satu sisi pembangunan perumahan maupun highrise harus terus dilanjutkan, sementara di sisi lain solusi desain untuk mensubtitusi pengubahan alam alami ke alam buatan baru harus diselaraskan dengan greenery. Dilihat dari kacamata keindahan, hal tersebut nampaknya berhasil. Namun ketika diganti dengan kacamata satelit, tentu saja kita akan terpengarah. Bumi yang terbuka telanjang menceritakan keluh kesahnya, “skala mikro usaha mereka memang berhasil, tapi dalam tataran yang lebih luas, kawasan kitaran pembangunan berbasis green architecture ternyata menyimpan kesalahan yang sama, lupa bumi hanya ingat diri sendiri”.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbisinis dengan alam memang tidak mudah, alam memiliki perilaku dan pola yang unik. Tidak mungkin seorang perencana hanya berpikir perencanaan temporal kawasan yang akan dibangun, tapi melupakan realitas sekitarnya. Contoh, Arsitektur rumah sakit yang megah dengan landscape hijau yang luas dan system pengolahan limbah yang canggih tidak akan ada gunanya ketika dibangun di atas kawasan urugan tinggi dan kemudian menyebabkan perumahan di sekitarnya berubah sebagai area resapan banjir.</p>
<p style="text-align:justify;">Jikalau demikian haruskah pelaku bisnis arsitektur mengambil sikap apatis? Jawabnya tidak. Karena pembangunan merupakan mandat luhur yang selaras dengan mandat bekerja sebagai perintah surgawi sejak awal penciptaan manusia. Mandat yang seharmoni dengan memelihara bumi yang telah dipercayakan penuh pada kita. Mandat surgawi yang didampingi dengan keadilan hati nurani dan kreativitas akal budi yang tunduk pada kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&amp;"><span style="color:#000000;"><br />
</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="color:#000000;">Karang Tengah, 2009</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;">Rio S. Migang, MSc</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;">©Jakarta Arsimedik Studio (JAS)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&amp;"><a href="http://www.arsimedik.com/"><span style="text-decoration:none;"><span style="color:#000000;">www.arsimedik.com</span></span></a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=240&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2009/03/03/etika-bisnis-arsitektur-berbasis-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2009/03/tmtc-jakarta-resize.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TMTC - jakarta resize</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JAKARTA NIGHT HUNTING</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/18/jakarta-night-hunting/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/18/jakarta-night-hunting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 07:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW] Diantara saratnya kegiatan kota dan meningkatnya pergerakan warga kota selepas pulang kantor di malam hari. Seorang rekan fotografer arsitektur mengajak saya untuk menikmati night hunting ke tengah CBD Jakarta. Starting point kami dari Grand Indonesia, sembari memanggul camera backpacker masing-masing yang fiuww..beratnya, kami menyusuri setengah koridor Sudirman-Thamrin ke arah Four Season-The Peak. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=190&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></pre>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Diantara saratnya kegiatan kota dan meningkatnya pergerakan warga kota selepas pulang kantor  di malam hari. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Seorang rekan fotografer arsitektur mengajak saya untuk menikmati night hunting ke tengah CBD Jakarta.</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Starting point kami dari Grand Indonesia, sembari memanggul <em>camera backpacker</em> masing-masing yang fiuww..beratnya, kami menyusuri setengah koridor Sudirman-Thamrin ke arah Four Season-The Peak. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> dua kamera yang saya tenteng, Nikon D70 SLR 70-300 dan Pro summer Canon S5is. Berikut sebagian hasil jepretan dengan kamera pro summer, tanpa tripod, aduhai goyangannya, lumayan bikin noise.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Silahkan dinikmati..</span></p>
<p><a href="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-depan-kempinski.jpg"></a><a href="http://www.arsimedik.com/2009/07/mengenal-fotografer-arsimedik.html"><img class="alignnone size-medium wp-image-212" title="resize-of-cubic-arch2" src="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-cubic-arch2.jpg?w=120&#038;h=160" alt="resize-of-cubic-arch2" width="120" height="160" /> </a><a href="http://www.arsimedik.com/2009/07/mengenal-fotografer-arsimedik.html"><img class="alignnone size-medium wp-image-213" title="resize-of-grand-hyatt" src="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-grand-hyatt.jpg?w=214&#038;h=161" alt="resize-of-grand-hyatt" width="214" height="161" /></a></p>
<p><a href="http://www.arsimedik.com/2009/07/mengenal-fotografer-arsimedik.html"><img class="alignnone size-medium wp-image-214" title="resize-of-infront-of-hyatt1" src="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-infront-of-hyatt1.jpg?w=216&#038;h=158" alt="resize-of-infront-of-hyatt1" width="216" height="158" /> </a><a href="http://www.arsimedik.com/2009/07/mengenal-fotografer-arsimedik.html"><img class="alignnone size-medium wp-image-215" title="resize-of-depan-kempinski1" src="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-depan-kempinski1.jpg?w=119&#038;h=158" alt="resize-of-depan-kempinski1" width="119" height="158" /></a></p>
<p>Dari atas-bawah: (1) Grand Indo; (2) Hyatt; (3) Night street corridor; (4) me; (5) Mercy Tower; (6) HI statue</p>
<p><em>(Dok. pribadi-tanpa edit photoshop)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=190&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/18/jakarta-night-hunting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-cubic-arch2.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">resize-of-cubic-arch2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-grand-hyatt.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">resize-of-grand-hyatt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-infront-of-hyatt1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">resize-of-infront-of-hyatt1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://architecturetourism.files.wordpress.com/2008/11/resize-of-depan-kempinski1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">resize-of-depan-kempinski1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGIAN 2: QOU VADIS KEBUDAYAAN DAYAK</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/13/bagian-2-qou-vadis-kebudayaan-dayak/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/13/bagian-2-qou-vadis-kebudayaan-dayak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 06:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology Bagian berikut merupakan terusan dari tulisan sebelumnya. Pencapaian Makna Hidup Manusia Dayak sebagai Sumber Kebudayaan Unggulan Tahap kesadaran tersebut di atas tidak dapat lepas dari pergumulan makna hidup orang Dayak. Lalu, apakah makna hidup orang Dayak? Jikalau makna hidup orang Dayak jelas, implikasi dan tautannya dalam kebudayaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=112&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology</em></em></em></em></pre>
<p><em>Bagian berikut merupakan terusan dari tulisan sebelumnya.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pencapaian Makna Hidup Manusia Dayak sebagai Sumber Kebudayaan Unggulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Tahap kesadaran tersebut di atas tidak dapat lepas dari pergumulan makna hidup orang Dayak. Lalu, apakah makna hidup orang Dayak? Jikalau makna hidup orang Dayak jelas, implikasi dan tautannya dalam kebudayaan Dayak akan lebih jelas. Pada aspek inilah akan dapat dilihat bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan Dayak sebagai garam dan terang bagi dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Dooyeeweerd (dalam Lie, 2008) mengungkapkan bahwa makna hidup manusia meliputi lima belas aspek: kuantitatif, spasial, kinematik, fisik badaniah, biotik, sensori/insting, analitikal, formatif, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, etika, dan iman. Sayangnya, pendidikan modern cenderung mengarahkan manusia hanya dalam lingkup analitikal saja. Sedangkan dunia posmodern cenderung mengarahkan ke dalam aspek yang hanya bertautan dengan pengolahan permainan bahasa sebagai dasar logika (Lie 2008). <span id="more-112"></span>Akibatnya, kecakapan hidup manusia yang luas dan limpah, tereduksi dalam beberapa aspek saja sementara aspek makna lainnya diabaikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pemahaman tersebut seharusnya makin mendorong manusia Dayak sebagai penghasil dan pelaku kebudayaan ke dalam pengenalan akan diri sebagai makhluk yang dicipta, penghargaan akan semesta ciptaan, dan pemahaman akan eksistensi Tuhan menjadi suatu tujuan pencapaian final. Manusia Dayak dan kebudayaan Dayak tidak hanya hidup dalam mengejar aspek kuantitatif, spasial, kinematik, fisik dan biotik belaka. Karena kalau begitu, apa bedanya dengan kebudayaan tumbuh-tumbuhan, jikalau vegetasi memang berbudaya? Manusia Dayak dan kebudayaan Dayak juga tidak hanya berhenti sampai aspek sensori belaka karena kalau begitu akan disamaratakan dengan kehidupan kerajaan dunia hewan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Manusia Dayak dan kebudayaan Dayak semestinya mencakup aspek kuantitatif hingga aspek pistik, di mana iman, komitmen persaudaraan, dan visi melintasi zaman ada di dalamnya. Poin inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan substansial bagi masyarakat Dayak dengan kebudayaannnya yang hidup: sudahkah makna-makna integratif hidup tersebut dikejar? Sudahkah makna hidup tersebut menjadi tujuan mulia kebudayaan Dayak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Kebudayaan Dayak akan sangat sulit mencapai titik optimal jikalau tujuan final yang ingin dicapai tidak jelas. Ia tidak bisa ditempatkan sebagai objek mati yang tak berdaya di tengah ributnya dunia. Ia juga tidak bisa dijadikan objek hidup oleh ego segelintir manusia untuk dieksploitasi seperti memperlakukan burung peliharaan dalam sangkar. Sebab kebudayaan Dayak yang hidup di tengah berbagai subsuku bangsa Dayak di bumi Kalimantan adalah representasi hidup itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Integrasi Makna Hidup sebagai Tolok Ukur Keagungan Kebudayaan Dayak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Sebagai representasi hidup itu, ia harus dibiarkan melanglang mengejar makna hidupnya. Milikilah kebudayaan Dayak yang analitik dan kritis logis terhadap perubahan dunia. Tawarkan kebudayaan Dayak yang memiliki keunikan sejarah, kreativitas, dan teknologi yang bisa dibagikan bagi kebudayaan lainnya. Berbagilah makna-makna simbolik agung dan komunikasi persaudaraan budaya Dayak melalui media yang ada. Sampaikanlah dengan suara lantang bahwa interaksi sosial dan hubungan harmonis mistis Dayak penuh toleransi dan kedamaian untuk dibagikan ke dalam dunia yang penuh peperangan. Olahlah setiap sumber daya manusia Dayak yang ada melalui keahlian dan keterampilan yang terus-menerus diperbaharui. Warnailah dunia dengan keagungan seni budaya Dayak yang harmonis, misterius, namun indah. Tebarkanlah kebenaran hukum bahwa benar adalah benar dan salah adalah salah. Pancarkanlah etika Dayak melalui kehidupan penuh cinta kasih. Berkomitmenlah dan capailah visi untuk maju di antara bangsa-bangsa dunia lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Seharusnyalah manusia Dayak menghidupi dan menggapai makna di atas. Sebab ia bukanlah potongan-potongan data intelektual yang terpisah antara satu aspek dan aspek lainnya. Pereduksian atau pengurangan yang terfokus pada satu bagian saja hanya akan menimbulkan anomali kebudayaan. Sebagai penghidup kebudayaan Dayak, pancaran hidup manusia Dayak pun turut terintegrasi, tidak terpecah. Bukan hidup yang kemampuan otaknya saja yang diunggulkan sehingga estetika pemakaian baju diabaikan, bukan hidup hanya mengandalkan fisik badaniah saja sehingga hidup sosial spasial bersama menjadi renggang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Dalam kondisi dunia yang sedemikian cepat, perlu adanya kontemplasi sejenak, waktu untuk <em>release</em> dan berhenti dalam perenungan melalui perjumpaan persaudaraan antarmasyarakat Dayak. Kebudayaan Dayak menjadi <em>mainstream</em> di sini, sebagai pengikat dari semuanya, sebagai pemersatu dan menjadi pendaya pikat bagi para <em>Dayakers</em>. Oleh sebab itu, rumusan kebudayaan Dayak dari bersub-sub suku bangsa Dayak di bumi Kalimantan haruslah dirumuskan lagi dalam kelahiran Pakat Dayak akbar. Pakat Dayak yang diselenggarakan di era posmodern, era di mana kecepatan pembangunan global secepat transmisi komunikasi per mili detik antar benua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Quo vadis</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV"> kebudayaan Dayak semestinya tampak dari pengejewantahan <em>meanings of life</em> orang Dayak, bukan lagi pergumulan mengenai <em>being of Dayak</em>. Menggumulkan persoalan yang sama berpuluh bahkan beratus tahun mengenai stigma negatif bahwa eksistensi jati diri Dayak adalah rendah dan primitif merupakan tindakan bunuh diri. Kebudayaan Dayak harus dibawa keluar dari persoalan stigma negatif yang tidak ada habisnya itu dengan menggunakan modal sosial dan budaya yang ada melalui pemanfaatan pariwisata untuk menghasilkan pancaran sinar yang menggarami dunia. Jati diri kedayakan dalam menggapai makna hidup<em> </em>tersebutlah yang akan menjadi kekuatan bagi pengembangan bidang lain, termasuk pengembangan pariwisata berkelanjutan di tanah eksotik, <em>Borneo Island</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pada perjumpaan tersebut, posisi kunci orang Dayak menjadi jelas untuk menentukan maju tidaknya peradaban Dayak di bumi Kalimantan, yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya Dayak dengan ilmu pengetahuan global. Walaupun memilik banyak kelemahan, berbagai redefinisi dalam dunia posmodern dalam merusak struktur berbagai sistem yang kokoh, tetap memiliki kelebihan dalam hal tertentu sehingga kebudayaan Dayak mampu memainkan peranan penting untuk didayagunakan daya pikatnya secara elegan melalui dunia pariwisata yang masyhur itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pariwisata Berkelanjutan sebagai Penyampai Pesan Kebudayaan Dayak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pada sisi lain, bagi sebagian besar orang pariwisata dianggap sebagai salah satu bagian absurd dari faktor ekonomi produsen pemasukan kas daerah. Pariwisata bahkan secara sempit masih dikaitkan dengan objek wisata tunggal yang dirancang terpisah. Pariwisata bahkan tidak lebih dikaitkan dengan kegiatan akomodasi dan makan minum dari para pendatang yang melancong ke suatu obyek wisata di Kutai, misalnya. Bahkan pariwisata dianggap sebagai musuh eksistensi bagi kebudayaan karena adanya kekuatan negatif eksploitatif berdaya destruktif dari komersialisasi berlebih terhadap adat istiadat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Sumber daya pikat kebudayaan Dayak yang menjadi kekuatan bagi keberlangsungan pariwisata berkelanjutan minimal dapat ditinjau dari empat hal. Pertama, adakah aset sosial budaya masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat Dayak yang berlangsung secara alami dan bukan buatan artifisial seperti di TMII? Kedua, adakah aset wisata di tempat itu? Aset wisata dapat berupa hasil kebudayaan Dayak yang teraba secara fisik atau berupa nilai-nilai yang hidup dalam keseharian manusianya. Ketiga, adakah aset lingkungan, rimba Kalimantan yang melegenda tersebut, terjaga dengan baik? Keempat, adakah usaha perekonomian masyarakat lokal telah memiliki hubungan langsung dengan kegiatan pariwisata? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Di lain pihak, pariwisata telah menjadi buah bibir bagi banyak negara di dunia karena pariwisata berkelanjutan bersifat tak habis pakai dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal bagi sebuah daerah tanpa harus mengorbankan budaya lokal. Mungkinkah pariwisata menjadi alat kebaikan bagi kebudayaan Dayak? Jawabnya mungkin. Mungkinkah pariwisata menjadi alat perusak bagi kebudayaan Dayak? Jawabnya juga mungkin. Maka di tengah kemungkinan tersebut, titik sentralnya bukan hanya pada tepat atau tidak tepatnya pemilihan salah satu pilihan di atas. Sebaliknya, keberhasilan ditentukan oleh sumber daya manusia pariwisata yang terlibat di dalamnya dan model falsafah pariwisata apa yang akan diimplementasikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Paradigma Kebudayaan Dayak dalam Tindakan yang Komprehensif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Adakah pariwisata berkelanjutan menjadi jawaban final bagi quo vadis kebudayaan Dayak? Jawabnya belum tentu. Disini konstelasi dan jejaring unsur-unsur kebudayaan Dayak yang begitu luas, dituntut konteks dengan masalah kekinian dan ke depan. Hal tersebut tampak dalam implementasi konkrit dalam pararelisme segitiga yang terintegrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pertama, kebudayaan Dayak yang disepakati sebagai penaung bagi bidang pembangunan yang lain sebaiknya dirumuskan kembali dalam sebuah pertemuan akbar antarpemuka adat dan tokoh-tokoh Dayak dalam forum persaudaran bersama dengan agenda yang akan disepakati, untuk membangun serta mengingatkan kembali jitidiri kedayakan bagi pemuda-pemudi Dayak, lepas dari intervensi politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Kedua, tatanan kebudayaan Dayak tidak hanya semata-mata diposisikan ulang di antara peradaban lain, namun disepakati pilar utama serta pagar-pagar pembatasnya sehingga memiliki visi melampaui waktu berkaitan dengan ekologi, adat, konservasi warisan nenek moyang hingga pemanfaatan pariwisata budaya dan ekologi sebagai salah satu bidang pembangunan yang penting.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Ketiga, konsistensi pembangunan melalui kebudayaan Dayak tidak dapat dilepaskan dari peran manusia Dayak dan pemikirannya yang mampu menembus batasan-batasan persepsi negatif, yang dibuat serta dirancang untuk mengkerangkeng peradaban Dayak. Setiap manusia Dayak melalui media yang efektif dengan perantaran teknologi informasi termutakhir didorong untuk menggali, mendayagunakan potensinya secara optimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Penutup: Qou Vadis Kebudayaan Dayak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Pada mulanya, melalui pemahaman akan <em>creation meaning</em>, muncul pemuda-pemudi, pemimpin-pemimpin besar Dayak berjati diri kebudayaan Dayak yang sejati yang akan memengaruhi dunia dan peradaban-peradaban tertinggi pada zaman ultramodern kini hingga yang akan datang.</span></p>
<p><!--more--></p>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=112&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/13/bagian-2-qou-vadis-kebudayaan-dayak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGIAN 1: QOU VADIS KEBUDAYAAN DAYAK</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/10/qou-vadis-kebudayaan-dayak-seri-1/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/10/qou-vadis-kebudayaan-dayak-seri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 04:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology Tulisan dengan tema di atas telah menjadi koleksi Institut Dayakology. Semoga Mencerahkan! MENGGAPAI MEANING OF LIFE, KELUAR DARI BEING OF DAYAK Harapan akan kemajuan tentunya tidak melulu dimengerti dalam konteks ekonomi. Hal ini pun mengena bagi masyarakat Dayak. Bagi masyarakat yang nenek moyangnya nyaris sepenuhnya bergantung pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=101&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology</em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p><strong><em>Tulisan dengan tema di atas telah menjadi koleksi Institut Dayakology. Semoga Mencerahkan!<br />
</em></strong></p>
<p><strong>MENGGAPAI <em>MEANING OF LIFE</em>, KELUAR DARI<em> BEING OF DAYAK</em></strong></p>
<div id="attachment_391" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class="size-full wp-image-391 " title="DYC file" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2008/11/dyc-file.jpg?w=510" alt="Dayak Festive from DYC Album"   /></a><p class="wp-caption-text">Dayak Festive | Jakarta DYC Album</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Harapan akan kemajuan tentunya tidak melulu dimengerti dalam konteks ekonomi. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Hal ini pun mengena bagi masyarakat Dayak. Bagi masyarakat yang nenek moyangnya nyaris sepenuhnya bergantung pada alam, konsentrasi ketergantungan umumnya bertumpu pada hasil alamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Apa yang dihasilkan oleh alam, itulah yang dinikmati suku bangsa yang unik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Ketergantungan tersebut memang memberikan nilai positif bagi kelangsungan daur hidup. Alam dikelola dengan baik, dan manusia yang mengelolanya pun hidup dengan sejahtera karena merasakan keindahan dari rasa cukup yang mengisi kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><span id="more-101"></span>Pada sisi lain, daur yang dinamis itu akan rusak dan luntur ketika alam dirusak secara perlahan, entah karena eksploitasi sebagai ujud keserakahan segelintir manusia, entah oleh buah eksperimen suatu ideologi yang diimpor yang akhirnya menggeser keunikan falsafah lokal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="IT">Kebudayaan Dayak di Tengah Tsunami Globalisasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span class="titleartikel"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Kehidupan berjalan sesuai alurnya dan peradaban milenium menerobos hingga pedalaman. Manusia Dayak pun mengikutinya dengan tertatih-tatih. Gempita kemajuan teknologi mendesak di tengah hura-hura keserakahan dan kepicikan yang mendorong pembangunan yang tidak manusiawi. Akibatnya, masyarakat Dayak pun tersingkir, wadahnya ditindas dengan kuasa yang terlalu besar, melebihi jalinan persaudaraan Dayak itu sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Dahulu, di pusat negara telah diturunkan satu sistem bernaung yang tertuang dalam lima sila Pancasila. Dua di antaranya, kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua sila itu merupakan proklamasi agung bahwa manusia yang diciptakan Tuhan Yang Mahaesa dengan segala kemuliaannya itu adalah unik sekaligus kompleks karena diciptakan dengan substansi paradoksal yang tidak terpisah, yaitu substansi fisik dan psikis, tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani. Para pendiri bangsa ini mengukuhkan tujuan final untuk kehidupan yang sempurna adil dan makmur dalam pembangunan berbangsa dan bernegara bagi suku bangsa apa pun di wilayah Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Namun, sekali lagi realitas berbicara lain. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Kehidupan menghimpit suku bangsa Dayak ke ruang gelap tanpa topangan dan pencapaian yang konkrit. Pilihan menjadi semakin sulit bukan karena terlalu banyak pilihan, melainkan akibat terjadinya tarik-menarik dalam kehidupan yang paradoks: apakah budaya Dayak harus digerus gelombang globalisasi, ataukah berperan mengubah dunia dengan kekayaan bernilai warisan nenek moyang? <span class="titleartikel">Itulah pilihan yang harus segera direalisasikan, diwujudnyatakan oleh manusia Dayak itu sendiri. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Daya Pikat dan Prasangka Naif Kebudayaan Dayak di Mata Dunia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span class="titleartikel"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="IT">Sebagai mozaik dan bagian dari peradaban bangsa-bangsa, kebudayaan Dayak menghadirkan daya pikat yang kuat. </span></span><span class="titleartikel"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Daya pikat itulah yang dipandang orang asing sebagai pancaran kehidupan suku bangsa Dayak. Daya pikat misteriusnya bahasa ibu; daya pikat akan tarian mistisnya; daya pikat akan rimba hutan nan eksotis; daya pikat akan arsitektur Lamin tua berskala giga; daya pikat akan kedayakan di negeri Kalimantan yang besar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span class="titleartikel"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Dalam persepsi lain, kebodohan dan keterbelakanganlah yang dilihat orang asing ketika memandang Dayak. ”Mereka masih primitif!”, teriak seseorang di bangku akademis modern. Teriakan itu memang berlalu dalam hiruk-pikuk milyaran manusia di bumi. Namun, teriakan itu memecut para pemuda Dayak untuk mengubah takdirnya. Pemuda Tjilik Riwut membuka hutan belantara menjadi sebuah kota kecil bernama Palangkaraya; penyair J.J. Kusni yang termasyhur mengumandangkan keindahan Dayak di negeri Eropa; pemuda Hausman Baboe yang membentuk Sarikat Dayak pada masa perjuangan dan memimpin koran </span></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Soeara Borneo</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> menyuarakan dengan lantang bahwa </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:12pt 0 10pt 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">&#8220;<em>Pokoknja kemadjoean jalah sekolah atau onderwijs. Bangsa yang hendak madjoe, haroeslah madjoe dalam hal onderwijs, oentoek mengetahoei bangsa dajak madjoe atau tiada, baiklah kita perhatikan kemadjoean onderwijs pada bangsa itu.</em>&#8220;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Pendidikan memang mencerahkan suku bangsa Dayak, dan melalui pendidikan pula cakrawala harapan itu menampakkan terangnya nun di sana. Melalui pendidikan, bangsa Dayak mengetahui bahwa potensi batu bara begitu besar untuk kelangsungan hidup. Melalui pendidikan, wawasan kebangsaan menghiasi pemikiran setiap tokoh Dayak. Melalui pendidikan pula karya-karya arsitektur dibangun di setiap sudut kota Kalimantan. Dan melalui pendidikan pulalah dikenal pemanfaatan pariwisata berkelanjutan yang berfokus pada ekologi untuk kelanjutan kebudayaan Dayak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Kebudayaan Dayak sebagai Pemrakarsa dan Pariwisata sebagai Pelaksana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Disinilah letak permasalahan yang akan memengaruhi banyak aspek dan memunculkan pertanyaan yang harus segera dijawab. Adakah kebudayaan Dayak memiliki peranan penting dalam pelestarian alam? Jikalau ada, mengapa realitas di bumi Borneo menyatakan hal yang sebaliknya? Kalangan media dan dunia akademik menyepakati terjadinya penggundulan hutan seluas gabungan dari beberapa lapangan sepak bola. Hal inilah yang kemudian mencatatkan Indonesia sebagai <em>&#8220;The fastest Country in Deforestating&#8221; </em>dan telah dicatat dalam <em>Guiness Book of Record.</em> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Dan Kalimantan dituding sebagai salah satu pelaku utama kerusakan ekosistem hutan gambut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Sekali lagi opini sesat diatributkan pada manusia dan kebudayaan Dayak. Dimanakah kekuatan kebudayaan Dayak yang identik dengan nilai kearifan penjagaan alamnya yang mampu membendung kerusakan tersebut? Apakah itu berarti adat penghormatan suku bangsa Dayak terhadap alam di dalam kegiatan membuka ladang telah terkubur? Ke manakah keindahan pantun-pantun belantara Borneo yang mampu mendinginkan kecamuk api pembakaran lahan? Mampukah tarian magis para Belian Dayak membangkitkan semangat menghormati para penjaga alam?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Sebagai bagian dari manusia universal, manusia Dayak merupakan puncak ciptaan. Kedudukan unik tersebut tidak melulu dimengerti bahwa manusia menjadi pusat segala sesuatu (<em>antroposentris</em>). Sebagai satu keseluruhan dengan manusia lain di dunia ini, manusia Dayak diarahkan untuk mencapai satu tujuan yang lebih besar, yakni kemaslahatan dan kedamaian bagi dunia. Pada poin inilah penegasan peran aktif manusia Dayak bagi masalah ekosistem menjadi begitu penting untuk dikumandangkan ke berbagai penjuru mata angin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Kebudayaan Dayak memang tidak dapat dilepaskan dari eksistensi rimba sebagai ibu buminya. Jikalau alam di bumi Kalimantan rusak dan setiap unsur kebudayaan Dayak yang hidup akhirnya melemah, mungkinkah pengembangan wisata ekologi dan wisata budaya yang merupakan buah dari pariwisata berkelanjutan menjadi tidak relevan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Jawabannya tidak sekadar terletak pada pengembalian alam ke dalam kerimbunannya yang semula sehingga kebudayaan Dayak normal kembali, sekaligus membuat pariwisata berkelanjutan menjadi relevan. Bukan pula pada perubahan total kebudayaan Dayak, mencabut, serta menggantinya dengan format baru. Jawabannya justru ada pada kesadaran diri akan posisi manusia Dayak di antara milyaran umat manusia dan mengenal makna hidup yang ingin dicapainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Bersambung </span></em></p>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=101&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/11/10/qou-vadis-kebudayaan-dayak-seri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2008/11/dyc-file.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DYC file</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGURANGI KEMISKINAN MELALUI PARIWISATA: Sebuah Tinjauan Kritis (bagian 2)</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/09/08/92/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/09/08/92/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSC to Borneo Tourism Watch [BTW] Bagian 3-b &#8230; Sebagai sebuah etintas sistem, masyarakat sipil diatur dalam kerangka hukum yang jelas. Terdapatnya perda yang mengatur tentang kependudukan, perda ketertiban umum, perda tentang kebersihan, ketertiban dan keindahan yang kesemuanya mencerminkan eksistensi pengaturan terhadap aspek relasi sosial antar golongan masyarakat agar tercipta suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=92&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSC to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p><em><strong>Bagian 3-b</strong></em></p>
<p>&#8230;</p>
<div id="attachment_531" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><strong><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-531 " title="foto1resize" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2008/09/foto1resize.jpg?w=510" alt="Floating House | Bappenas album"   /></a></strong><p class="wp-caption-text">Floating House | Bappenas album</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Sebagai sebuah etintas sistem, masyarakat sipil diatur dalam kerangka hukum yang jelas. Terdapatnya perda yang mengatur tentang kependudukan, perda ketertiban umum, perda tentang kebersihan, ketertiban dan keindahan yang kesemuanya mencerminkan eksistensi pengaturan terhadap aspek relasi sosial antar golongan masyarakat agar tercipta suatu lingkungan <em><span style="font-family:&amp;">intagible </span></em>yang nyaman untuk dihuni maupun dikunjungi.</span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Wisatawan yang peduli hukum, akan menyadari sepenuhnya bahwa pentingnya penegakan hukum setempat akan sangat mempengaruhi situasi kondisi keamanan maupun kenyamanan berwisata. <span id="more-92"></span>Perangkat hukum yang berkaitan terhadap keamanan, ketertiban dan kenyamanan bagi kepentingan umum memang telah ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Di Indonesia, sebagai contoh di DKI Jakarta, Dinas Bintal dan Kessos (Pembinaan Mental dan Kesejahteraan Sosial) menjadi perangkat penting dalam mengatur masyarakat sipil terutama kaum marginal yang memilih profesi tak manusiawi seperti gepeng. Bahkan di beberapa kota seperti Jakarta dan Surabaya telah dikeluarkan perda khusus yang mengatur mengenai dilarangnya pemberian sedekah kepada orang-orang yang ber’profesi’ sebagai gelandangan dan pengemis, hal ini didasari atas pengertian bahwa memberi sedekah berupa uang secara langsung kepada gepeng merupakan sikap yang tidak mendidik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Sehingga pertanyaan pada awal paragraf di atas akhirnya dapat terjawab, dimana hubungan antara pengemis dan pariwisata adalah jikalau pengemis dilihat sebagai persona atau pelaku yang memiliki potensi, maka pariwisata adalah wadah untuk menampung, mengelola dan mendayagunakan pelaku-pelaku yang memiliki potensi diri sehingga bereksistensi sebagaimana adanya (sesuai naturnya) dari maksud awal penciptaan untuk memuliakan Khaliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Kunjungan wisatawan ke Indonesia pun semakin meningkat dari tahun ke tahun (walaupun terkadang fluktuatif karena diterpa isu dan masalah krusial skala nasional), hal ini tentunya mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan ditandai terbukanya banyak lapangan kerja baru. Manusia yang dicipta sesuai citra/image of God menjadi dasar/pondasi mengapa manusia seharusnya menyadari eksistensinya sebagai makhluk unik yang memiliki potensi-potensi yang ditanam oleh Allah untuk diperkembangkan melalui berbagai bentuk pekerjaan, sedangkan aturan hukum/perda sebagai perwujudan prinsip dasar tersebut yang mengatur relasi antar ciptaan dan pariwisata menjadi sarana/wadah untuk membentuk masyarakat madani yang diidam-idamkan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Maka cerita sang wisatawan pada bagian awal yang tengah menikmati kota wisata tersebut di atas dapat saja sangat berbeda, ketika dalam kunjungannya ia menemukan bahwa manusia marginal yang miskin walaupun miskin harta bendawi namun tetap dapat memaksimalkan potensi diri yang dimilikinya melalui berbagai wadah pekerjaan yang berkaitan dengan pelayanan pariwisata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Hal-hal di atas dapat ditarik bagi kemajuan pariwisata Kalteng, yang kiranya tidak hanya mengejar keunggulan ekonomi saja di masa mendatang, namun mulai menerapkan <em><span style="font-family:&amp;">integrated value added of development</span></em> yang seimbang ditinjau dari berbagai lintas bidang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sekian.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sendowo, Yogyakarta 2008<br />
</strong></p>
<p><!--more--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=92&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/09/08/92/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2008/09/foto1resize.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto1resize</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGURANGI KEMISKINAN MELALUI PARIWISATA: Sebuah Tinjauan Kritis (bagian 1)</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/15/mengurangi-kemiskinan-melalui-pariwisata-sebuah-tinjauan-kritis/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/15/mengurangi-kemiskinan-melalui-pariwisata-sebuah-tinjauan-kritis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 08:46:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Bagian 3-a Beberapa kota di Indonesia dikenal sebagai kota dan tujuan wisata yang penting, seperti Bali, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan dan lainnya. Namun tak dapat dipungkiri, konsekuensi dari dampak pertumbuhan ekonomi suatu kota adalah kesenjangan ekonomi dalam wujud kemiskinan. Paradoks. Merebekanya kemunculan gelandangan, pengemis, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=86&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p><em><strong>Bagian 3-a</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Beberapa kota di Indonesia dikenal sebagai kota dan tujuan wisata yang penting, seperti Bali, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan dan lainnya. Namun tak dapat dipungkiri, konsekuensi dari dampak pertumbuhan ekonomi suatu kota adalah kesenjangan ekonomi dalam wujud kemiskinan. Paradoks.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Merebekanya kemunculan gelandangan, pengemis, anak jalanan, pemukiman kumuh dan lainnya di area-area terbangun mengindikasikan paradoks pembangunan tersebut. Sedemikian jauh, apakah memang terdapat hubungan antara pengemis dan pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata di kota tersebut? dan sejauh manakah hubungan tersebut memiliki signifikansi penting bagi kedua pihak? </span></p>
<p><span id="more-86"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Seperti yang telah umum diketahui, apabila seorang wisatawan mancanegara atau domestik melakukan perjalanan ke suatu destinasi (tujuan wisata) yang berada di negara berkembang maka akan mudah sekali menemui kaum marginal beridentitas sebagai gelandangan pengemis/peminta-minta (gepeng), paman ogah hingga pengamen cilik yang berada di sudut-sudut jalan, terminal, bus kota hingga perempatan-perempatan lampu merah. Fenomena ini menjadi menarik apabila dilihat dalam beberapa konteks, yakni (1) aspek kenyamanan visual dan <em><span style="font-family:&amp;">hospitality</span></em> dalam wacana kepariwisataan, (2) aspek religiusitas manusia yang sesungguhnya dicipta dalam konteks keluhuran Ilahi keagamaan dan (3) aspek hukum yang mengatur masalah sosial semacam ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Mari kita lihat dan telaah satu persatu serta menemukan benang merah di antara ketiganya bagi kontribusi proses pembangunan kota pariwisata. Andaikan kita adalah wisatawan yang tengah bepergian dan senang menikmati suasana kota yang dikunjungi sembari berjalan kaki, tentu akan sangat menyenangkan ketika kota wisata tersebut ‘menawarkan’ ketertiban, keamanan dan kenyamanan selain visual kota yang apik. Wujudnya dapat berupa <em><span style="font-family:&amp;">layout </span></em>spasial keruangan kota yang terencana baik, kenyamanan visual dari arsitektur lokal/tinggalan sejarah yang masih terpelihara, penduduk yang ramah terhadap pendatang baru, minim penjahat jalanan seperti pencopet dan jambret serta tidak terganggu oleh ulah pengemis “berkusta” yang pura-pura tidak punya bakat lain yang lebih baik untuk keberlangsungan hidupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Namun apabila wisatawan tersebut ternyata menemui keberadaan pengemis di sebuah kota wisata, maka sangat mungkin di dalam benaknya dapat diketahui dua hal sekaligus, yakni kemungkinan kegagalan dampak pariwisata setempat untuk mempengaruhi perubahan ekonomi masyarakatnya dan ‘akibat’ kegagalan tersebut adalah terciptanya image buruk kota wisata tersebut. Walaupun terlihat sepele, keberadaan gepeng utamanya dapat menjadi problema sosial yang parah, seperti sebuah tumor jinak yang seolah tidak mengganggu namun secara perlahan namun pasti dapat berkembang menjadi tumor ganas yang dikenal sebagai kanker mematikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Lapang pandang seperti di atas dapat saja berbeda ketika wisatawan yang notabene sekaligus pula beridentitas sebagai manusia berbibit religius memiliki kepekaan yang berbeda dengan manusia sosial lainnya. Hati nuraninya mungkin saja tertegun karena terjadi paradoks kehidupan dalam satu momen yang bersamaan. Mengapa? karena ironi kesenjangan sedang terjadi, pada satu sisi seorang wisatawan mengeluarkan dana cukup besar untuk perjalanannya namun pada sisi lain seorang ’gepeng’ sangat mungkin dalam kondisi tidak memiliki dana sama sekali pada momen yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Di dalam suatu kitab yang sangat tua yakni Taurat atau Perjanjian Lama, dapat ditemukan suatu tulisan mengenai <em><span style="font-family:&amp;">who is man?</span></em> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Siapa manusia itu? Tertulis bahwa manusia dicipta sebagai perwujudan peta dan teladan Allah (<em><span style="font-family:&amp;">man created by image of God</span></em>). </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Hal ini memiliki signifikansi dan relevansi yang begitu penting bagi eksistensi manusia. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Ketika manusia dicipta sebagai <em><span style="font-family:&amp;">image of God (imago Dei), </span></em>maka manusia menjadi cerminan dari Sang Khalik. Cerminan yang bukan dalam pengertian jasmani tetapi dalam pengertian rohani, yakni manusia seharusnya merepresentasikan sifat-sifat keagungan Ilahi paling utama seperti kesucian, keadilan dan kebenaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Meskipun dicipta seturut dengan citra Ilahi, namun tak mungkin manusia menjadi sama persis seperti Allah karena kedudukannya adalah sebagai ciptaan yang dicipta oleh pencipta. Pada bagian lain kitab tersebut dapat ditemukan pula bahwa di dalam awal mula penciptaan diketahui bahwa Allah Pencipta telah menanamkan suatu potensi yang dimiliki oleh setiap manusia di dunia yakni kemampuan untuk bekerja dan panggilan rohani untuk bekerja. Manusia bekerja bukan karena ia harus bekerja, namun karena di dalam naturnya ada panggilan untuk bekerja dan hidup melalui pekerjaan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Apabila seorang manusia gagal memiliki pengertian ini maka representasi yang paling nyata adalah munculnya manusia-manusia yang lebih rendah (maaf) dari hewan, sebagai contoh adalah gelandangan dan pengemis yang menghindari tuntutan bekerja dengan potensi yang ditanam oleh Allah dalam kapasitasnya sebagai manusia ciptaan yang luhur. Bahkan pada bagian lain kitab disebutkan bahwa apabila potensi diri yang telah dikaruniakan Allah tidak dikelola dengan baik, maka manusia seperti itu harus bertanggung jawab muka dengan muka dihadapan Penciptanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em>Bersambung.. </em></strong></p>
<p><!--more--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=86&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/15/mengurangi-kemiskinan-melalui-pariwisata-sebuah-tinjauan-kritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSEP UMUM PENGURANGAN KEMISKINAN MELALUI PARIWISATA</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/11/konsep-umum-pengurangan-kemiskinan-melalui-pariwisata/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/11/konsep-umum-pengurangan-kemiskinan-melalui-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 06:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Bagian 2 Berbagai sektor pembangunan bergerak dengan motivasi yang sama untuk mencapai cita-cita masyarakat adil makmur yang tidak lagi dilabeli kemiskinan. Demikian pula halnya dengan sektor kepariwisataan, berbagai strategi dan program diupayakan agar tercapainya/terpenuhinya tujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kemiskinan. Tulisan ini berisi konsep-konsep ringkas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=62&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Bagian 2</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><em><strong>Berbagai sektor pembangunan bergerak dengan motivasi yang sama untuk mencapai cita-cita masyarakat adil makmur yang tidak lagi dilabeli kemiskinan. Demikian pula halnya dengan sektor kepariwisataan, berbagai strategi dan program diupayakan agar tercapainya/terpenuhinya tujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kemiskinan. </strong></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Tulisan ini berisi konsep-konsep ringkas pengurangan kemiskinan melalui bidang kepariwisataan, yang sekaligus pula untuk melengkapi tulisan sebelumnya (<strong><span style="font-family:&amp;">Mengentaskan atau Mengurangi Kemiskinan</span></strong>).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><span id="more-62"></span>Agenda pengurangan kemiskinan (<em><span style="font-family:&amp;">poverty reduction</span></em>) dan pembangunan yang berpihak pada masyarakat miskin (<em><span style="font-family:&amp;">pro poor development</span></em>) dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah menjadi perhatian penting dalam agenda pembangunan di tingkat global maupun pembangunan dalam konteks sektoral. Orientasi pembangunan pariwisata yang mendorong usaha-usaha pengurangan kemiskinan dituangkan dalam konsep “pro poor tourism development”. Sektor pariwisata dengan konsep pengembangan “pro poor tourism development” dipandang akan memiliki peran yang efektif untuk turut membantu usaha-usaha pengurangan kemiskinan. Terdapat beberapa alasan yang memberikan justifikasi mengapa pariwisata dapat menjadi alat yang dapat membantu upaya-upaya pengurangan kemiskinan. Alasan tersebut antara lain adalah:</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">• Bahwa pariwisata merupakan kegiatan yang memiliki keterkaitan lintas sektor dan lintas skala usaha. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Berkembangnya</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> kegiatan pariwisata akan menggerakkan berlapis-lapis mata rantai usaha yang terkait di dalamnya sehingga akan menciptakan efek ekonomi multi ganda (multiplier effect) yang akan memberikan nilai manfaat ekonomi yang sangat berarti bagi semua pihak yang terkait dalam mata rantai usaha kepariwisataan tersebut. Dampak ekonomi multi ganda pariwisata akan menjangkau baik dampak langsung, dampak tak langsung maupun dampak ikutan yang pada umumnya terkait dengan usaha skala kecil dan menengah maupun usaha-usaha di sektor hulu (pertanian, perkebunan, peternakan dan sebagainya).</span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 431px"><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class=" " src="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep1.jpg" alt="Keterkaitan Lintas Sektor" width="421" height="283" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan 1: Keterkaitan Lintas Sektor</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">• Daya tarik sektor pariwisata membentang sampai di daerah terpencil, sementara ¾ (tiga per empat) orang yang sangat miskin hidup dan tinggal di daerah terpencil, sehingga pariwisata dapat menjadi agen yang efektif dalam mendorong pengembangan daerah terpencil dan pemberdayaan masyarakat miskin di daerah yang bersangkutan melalui kegiatan pariwisata.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">• Adanya kesempatan untuk mendukung aktivitas tradisional seperti agrikultur dan kerajinan tangan melalui pariwisata.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">• Fakta bahwa pariwisata merupakan industri yang membutuhkan tenaga kerja yang banyak, dimana bisa menyediakan pekerjaan tidak hanya bagi kaum pria saja, namun bagi wanita dan remaja.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Dengan mengesampingkan faktor ekonomi, pariwisata bisa memberikan keuntungan non-material </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">seperti</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK"> memberikan rasa bangga pada budaya lokal.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Beberapa pendekatan yang umum digunakan untuk mengurangi tingkat kemiskinan melalui pariwisata antara lain adalah sebagai berikut:</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Mempekerjakan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">masyarakat</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK"> sekitar ke dalam usaha pariwisata.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Penyediaan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">kebutuhan</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK"> untuk pariwisata disediakan oleh masyarakat sekitar, seperti penyediaan bahan makanan, kerajinan tangan, dll.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Melakukan penjualan terhadap barang dan jasa secara langsung oleh masyarakat sekitar, seperti menjual makanan, kerajinan tangan, dan beberapa bentuk alat transportasi dan akomodasi.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Mendukung pembangunan usaha pariwisata oleh masyarakat sekitar, dimaksudkan untuk membantu masyarakat dalam membangun sesuatu untuk jangka waktu yang lama dan juga memindahkan kekuasaan dan pengawasan ke tangan mereka.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Melalui pajak dan retribusi pada pendapatan dan keuntungan pariwisata dengan memberikan keuntungan pada program pengurangan tingkat kemiskinan.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Kegiatan kemanusiaan yang diberikan oleh usaha-usaha di bidang pariwisata dan oleh wisatawan, bisa berupa donasi atau juga program-program kemanusiaan seperti penyuluhan mengenai HIV/AIDS.</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">• Masyarakat bisa mengambil keuntungan dari infrastruktur yang dibangun karena adanya kegiatan pariwisata. Misalnya ketersediaan jalan, jaringan komunikasi, air bersih dan pasokan listrik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Di dalam hal mempekerjakan (mendayagunakan) masyarakat miskin di sekitar objek wisata, dapat melalui 3 macam golongan usaha pariwisata, yakni:(1) Usaha jasa pariwisata; (2) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata; dan (3) Usaha sarana pariwisata. Sebagaimana yang termaktub di dalam Undang-undang RI No.9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, dijelaskan bahwa :</span></p>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">1. <strong>Usaha Jasa Pariwisata</strong>, meliputi penyediaan jasa perencanaan, jasa pelayanan, dan jasa penyelenggaraan pariwisata.</span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 435px"><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class=" " src="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep2.jpg" alt="Pengusahaan Melalui Jasa Pariwisata" width="425" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan 2: Pengusahaan Melalui Jasa Pariwisata</p></div>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">2.<strong>Pengusahaan objek dan daya tarik wisata</strong>, meliputi kegiatan membangun dan mengelola objek dan daya tarik wisata beserta prasarana dan sarana yang diperlukan atau kegiatan mengelola objek dan daya tarik wisata yang telah ada.</span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 329px"><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class=" " src="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep3.jpg" alt="Pengusahaan daya Tarik Wisata" width="319" height="186" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan 3: Pengusahaan daya Tarik Wisata</p></div>
<p style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">3.<strong>Usaha sarana pariwisata</strong>, meliputi kegiatan pembangunan, pengelolaan, dan penyediaan fasilitas, serta pelayanan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pariwisata.Usaha sarana pariwisata ini dapat berupa jenis-jenis usaha.</span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 324px"><a href="http://www.arsimedik.com/"><img class=" " src="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep4.jpg" alt="Usaha Sarana Pariwisata" width="314" height="185" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan 4: Pengusahaan Usaha Sarana Pariwisata</p></div>
<div class="mceTemp">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Selain itu, pijakan-pijakan yang harus dipenuhi dalam upaya mengurangi kemiskinan (<em><span style="font-family:&amp;">poverty reduction</span></em>) melalui pariwisata, secara umum meliputi ranah pengembangan:</span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">(1) pengembangan masyarakat yang mencakup penguatan kompetensi dan kapabilitas SDM masyarakat miskin melalui pendidikan pariwisata, penguatan usaha masyarakat di bidang usaha kepariwisataan, dan penguatan kelembagaan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata. Sedangkan ranah pengembangan </span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">(2) adalah pengembangan atraksi wisata meliputi peningkatan kualitas layanan dan diversivikasi produk, peningkatan kualitas layanan dan peningkatan promosi sesuai dengan kapasitas/kualitas produk yang ditawarkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Di dalam salah satu riset yang tengah digodok oleh departemen terkait mengenai daya saing berbagai destinasi pariwisata di Indonesia, diketahui bahwa di antara 35 destinasi andalan yang tersebar di seluruh propinsi Indonesia, propinsi Kalteng menempati urutan ke-22 (komposisi indeks 299.14 berdasarkan 8 kriteria WTTC) dengan objek wisata andalannya adalah Tanjung Puting.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Hasil tersebut tentunya merupakan salah satu bentuk penggambaran bagaimana tertinggalnya pariwisata Kalteng di kancah nasional. Sebagai salah satu alat pembangunan, pariwisata yang sarat potensi alam, budaya, dan khusus di Kalimantan Tengah, seharusnyalah dapat segera dibenahi dan pada momentum yang tepat, dapat dijadikan alat yang efektif untuk mengurangi kemiskinan.</span></p>
<p><!--more--></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=62&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/11/konsep-umum-pengurangan-kemiskinan-melalui-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Keterkaitan Lintas Sektor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pengusahaan Melalui Jasa Pariwisata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pengusahaan daya Tarik Wisata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i263.photobucket.com/albums/ii142/rio_photobucket/konsep4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Usaha Sarana Pariwisata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGENTASKAN ATAU MENGURANGI KEMISKINAN?</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/09/mengentaskan-atau-mengurangi-kemiskinan/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/09/mengentaskan-atau-mengurangi-kemiskinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 05:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Opini berikut merupakan hasil kontemplasi saya, setelah bertemu banyak pihak yang meyakini sebuah utopia bahwa kemiskinan pasti lenyap dari muka bumi suatu saat nanti. Benarkah? Bagian 1 Benarkah kemiskinan bisa dihilangkan? Dan mengapa sepanjang sejarah umat manusia, sejarah mengajarkan bahwa kemiskinan tidak bisa dilenyapkan? Selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=50&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><em>Opini berikut merupakan hasil kontemplasi saya, setelah bertemu banyak pihak yang meyakini sebuah utopia bahwa kemiskinan pasti lenyap dari muka bumi suatu saat nanti. Benarkah?</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><em><strong>Bagian 1</strong></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Benarkah kemiskinan bisa dihilangkan? </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Dan mengapa sepanjang sejarah umat manusia, sejarah mengajarkan bahwa kemiskinan tidak bisa dilenyapkan? </span></strong></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Selama ini, tentu kita sering mendengar beberapa istilah yang ‘digandeng’ dengan kata kemiskinan, antara lain : (1) menghapuskan kemiskinan; (2) mengentaskan kemiskinan; (3) menghilangkan kemiskinan; (4) menanggulangi kemiskinan; (5) memerangi kemiskinan dan (6) mereduksi/mengurangi kemiskinan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Padanan kata-kata kemiskinan di atas menunjukkan bahwa kemiskinan seolah-olah dianalogikan sebagai sebuah aib. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Apabila kemiskinan dianggap sebagai aib, maka seluruh definisi tentang kemiskinan, akan cenderung dipadankan dengan kata kerja aktif seperti <em><span style="font-family:&amp;">menghapuskan, mengentaskan, menghilangkan, menanggulangi, memerangi </span></em>hingga <em><span style="font-family:&amp;">mereduksi.</span></em> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV"><span id="more-50"></span>Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gubernur Kalteng –ATN-, paradigma kemiskinan memang perlu diubah. Kemiskinan selama ini dipersepsikan sebagai sesuatu yang aib. Oleh karena itu, kemiskinan tidak boleh terjadi. Pemikiran yang demikian harus diubah. Sebab tidak seorang pun di muka bumi ini yang menghendaki menjadi miskin. Seluruh umat manusia menghajatkan hidup layak dan berkecukupan, yang berarti jauh dari kemiskinan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">(</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV"><a href="http://www.atn-center.org/read.asp?id_topik=10&amp;menu=Topik">http://www.atn-center.org/read.asp?id_topik=10&amp;menu=Topik</a> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">; Selasa, 5 September 2006). </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Karena dianalogikan dengan aib, maka kemiskinan pun dianggap ’setara’ dengan penyakit berbahaya semacam AIDS, sampai-sampai media massa pun berusaha menutupi ”borok berbahaya” tersebut. Apabila dikaji lebih mendalam, upaya menutup-nutupi tersebut nampaknya dapat menjadi hambatan pembangunan, itu mengapa muncul pernyataan Gubernur Kalteng yang meminta media massa Kalteng jangan menutup-nutupi keadaan di lapangan. Media massa yang tidak jujur, sangat mungkin menjadi agen penghambat pembangunan, media massa seharusnya bisa mengungkapkan fakta sebenarnya (jujur dan benar).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Melalui pemahaman bahwa kemiskinan adalah aib, pemerintah Indonesia pun sejak awal telah mencanangkan ”perang” terhadap kemiskinan. Tahun 1948, Bung Karno melancarkan perang itu dengan meluncurkan program yang difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Program dengan nama yang berlainan, berlangsung hingga jatuhnya Orde Lama. Hasilnya, kemiskinan dianggap tetap <em><span style="font-family:&amp;">survive. </span></em>Orde Baru melanjutkan perang melawan kemiskinan lewat program, antara lain bernama Bimas, Insus, Supra Insus, dan Inpres Desa Tertinggal (IDT). Hasilnya? </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Selama periode 1976-1996 (20 tahun, Repelita II-V) angka kemiskinan di Indonesia turun drastis. Pada tahun 1976, jumlah penduduk yang tergolong miskin berjumlah 54,2 juta jiwa (40,1%), tetapi tahun 1996 menurun setengahnya hingga tinggal 22,5 juta jiwa (11,3%). Meski jumlah &#8220;musuh&#8221; masih banyak, &#8220;operasi militer&#8221; yang dilancarkan Soeharto bisa dikatakan berhasil. Tentu dengan mengenyampingkan aspek lainnya (misal laporan ABS (asal bapak senang) dan membengkaknya utang luar negeri). Program-program penanggulangan kemiskinan yang lebih variatif muncul pula pascareformasi. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Hal tersebut terkait dengan krisis ekonomi sejak tahun 1997, dimana terjadi PHK besar-besaran dan jumlah penduduk miskin meningkat tajam. BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, dan, kini, SBY, melanjutkan ”perang” itu dengan ”senjatanya” masing-masing. Pada masa pemerintahan SBY kini, program Bantuan Langsung Tunai (BLT) merupakan salah satu program utama pemerintah dalam memerangi kemiskinan. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Program-program pemerintah tersebut di atas, dilakukan sebagai upaya untuk memecahkan masalah kemiskinan dalam berbagai sudut multidimensi sektor. Beberapa definisi kemiskinan dimengerti sebagai: terbatasnya akses dan pemanfaatan sumber daya alam, terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi, terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang, kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, serta posisi lemah dalam mengambil keputusan karena rasa rendah diri, fatalisme, malas dan rasa terisolir, dapat dikurangi seoptimal mungkin. Apabila kemiskinan ditinjau dari hal-hal tersebut di atas, maka kemiskinan jelas sekali tidak dilihat sebagai kekurangan materi, namun melingkup berbagai aspek kehidupan manusia. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, nyaris seluruh program yang berkaitan dengan kemiskinan adalah menemukan bagaimana caranya mengentaskan, menghilangkan hingga menanggulangi kemiskinan. Berbagai upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan tentu tidak salah, namun upaya tersebut tentunya harus disertai pemahaman berdasarkan fakta yang ada, karena nyaris sepanjang masa, apakah itu di masa <em><span style="font-family:&amp;">city-state</span></em> nya Athena, masa kejayaan Romawi, masa kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa di penghujung tahun 1700-an, hingga Amerika pun yang pernah tercatat sebagai negara adidaya dan terkaya di dunia di tahun 60-an pun, tetap saja tercatat dalam sejarah apabila 32 juta orang (seperenam jumlah penduduknya) adalah penduduk yang tergolong miskin. Sungguh merupakan ironi apabila paradigma <em><span style="font-family:&amp;">poverty alleviation</span></em> diartikan sebagai penghapusan/penghilangan kemiskinan, mengapa? karena seperti yang dikatakan oleh Wells (2005), sebenarnya dunia modern telah membawa manusia ke dalam pengaburan fakta realitas. Menghadapi realitas kemiskinan akan jauh lebih tepat disikapi dengan upaya untuk mengurangi kemiskinan (<em><span style="font-family:&amp;">poverty reduction</span></em>), sebab sejauh ini sejarah mencatat bahwa prestasi terbaik yang mungkin dicapai oleh umat manusia adalah mengurangi kemiskinan, bukannya menghilangkan. Pilihan sikap yang tepat berdasarkan pengertian yang cukup, akan mampu mengoptimalkan kebijakan, strategi, dan program-program untuk mengurangi kemiskinan hingga angka terendah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Sejarah ”menceritakan” bahwa kemiskinan merupakan sesuatu yang tidak akan mungkin hilang, di sisi lain pun sejarah ”mengungkapkan” bahwa kemiskinan dalam aspek rohani (baca:haus akan kesucian, kebaikan, etika dan moralitas tertinggi) akan terus terjadi pula karena sifat jiwa manusia yang agamawi. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="FI">Keunikan masalah kemiskinan menjadi menarik tatkala ditinjau pula dari kehidupan yang dijalani Kristus lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kemiskinan yang dialami Kristus (salah satu orang teragung di dalam peradaban manusia) yang tercatat di kitab suci, menggambarkan bahwa keagungan seorang manusia tidak terbatasi oleh keterbatasan materinya, karena orang agung (<em><span style="font-family:&amp;">the great man</span></em>) tidak lagi diukur berdasarkan atribut maupun label miskin yang disandangnya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Apakah kemiskinan adalah aib? Jawabnya tidak, karena Kristus sendiri pada suatu kotbah di bukit berkata: ”Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena dialah yang empunya Kerajaan Sorga”. Diantara sekian banyak janji mengenai kesuksesan dan kekayaan, ada satu janji berbeda yang melegakan dan menyegarkan jiwa seperti yang diungkapkan Kristus. Namun janji dan penghiburan tersebut tidak boleh dilepaskan dari pengertian bahwa membantu dan menolong sesama yang berkekurangan untuk mengangkat harkat martabatnya ke kualitas yang lebih baik, merupakan tanggung jawab setiap pemerintah, anggota masyarakat dan setiap pribadi yang bertanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="SV">Warga Kalimantan Tengah yang berdasarkan kriteria BPS, Bappenas, BKKBN, maupun Bank Dunia, dikategorikan ke dalam golongan orang-orang melarat, seharusnya menyadari satu prinsip bahwa setiap personal manusia adalah ciptaan unik yang dicipta seturut gambar dan rupa Allah Pencipta (Kejadian 1:26), sehingga disadari atau tidak telah memiliki modal-modal <em><span style="font-family:&amp;">tangible </span></em>maupun <em><span style="font-family:&amp;">intangible</span></em> yang ditanamkan oleh Penciptanya. Apabila setiap pribadi dan elemen masyarakat menyadari hal tersebut, maka tiap-tiap orang berbeda, karena telah diberi modal oleh Penciptanya tentu memiliki citra, kadar, potensi, kemampuan dan kapabilitas untuk berjuang menjadi terbaik. Oleh sebab itu, maka semestinya ”kaum miskin” Kalteng tidak perlu rendah diri, namun mulailah gali potensi diri yang ada. Walaupun akses terbatas, upah kerja mungkin kecil, posisi lemah, dan sebagainya, namun semoga hal tersebut tidak menghalangi semangat <em><span style="font-family:&amp;">oloh</span></em> Kalteng terus memperbaharui diri.</span></p>
<p><!--more--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=50&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/09/mengentaskan-atau-mengurangi-kemiskinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SERI TULISAN: KEMISKINAN BUKAN AIB!</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/09/seri-tulisan-kemiskinan-bukan-aib/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/09/seri-tulisan-kemiskinan-bukan-aib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 04:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu spesifik]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Kemiskinan bagi sebagian besar orang merupakan momok menakutkan yang sebisa mungkin untuk disingkirkan. Kemiskinan macam apakah yang seharusnya dapat dihindarkan? Benarkah kemiskinan menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah manusia? Dapatkah bidang pariwisata turut serta dalam upaya pengurangan kemiskinan? Berikut merupakan serial tulisan yang merupakan hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=45&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:&amp;">Kemiskinan bagi sebagian besar orang merupakan momok menakutkan yang sebisa mungkin untuk disingkirkan. Kemiskinan macam apakah yang seharusnya dapat dihindarkan? Benarkah kemiskinan menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah manusia? Dapatkah bidang pariwisata turut serta dalam upaya pengurangan kemiskinan?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:&amp;">Berikut merupakan serial tulisan yang merupakan hasil kontemplasi terhadap apa itu kemiskinan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:&amp;">Bag.1 &#8211; Mengentaskan atau Mengurangi Kemiskinan?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:&amp;">Bag.2 &#8211; Konsep Umum Pengurangan Kemiskinan Melalui Pariwisata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:&amp;">Bag.3 &#8211; Mengurangi Kemiskinan Melalui Pariwisata: Sebuah Tinjauan Kritis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:&amp;">Tulisan-tulisan tersebut di atas merupakan tulisan yang sebelumnya telah dipublikasikan di <a href="http://www.kalteng.go.id/">www.kalteng.go.id</a> dan <a href="http://www.planetborneo.net/">www.planetborneo.net</a> dan telah di edit ulang oleh penulis.</span></strong></p>
<p><span id="more-45"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=45&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2008/08/09/seri-tulisan-kemiskinan-bukan-aib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARIWISATA KALIMANTAN: GANYANG ATAU BELAJAR DARI MALAYSIA?</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/12/10/pariwisata-kalimantan-belajar-atau-ganyang-pariwisata-malaysia/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/12/10/pariwisata-kalimantan-belajar-atau-ganyang-pariwisata-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 08:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/2007/12/10/pariwisata-kalimantan-belajar-atau-ganyang-pariwisata-malaysia/</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Sejarah perselisihan Indonesia dengan Malaysia terbilang panjang. Selain kasus Blok Ambalat, salah satunya berkenaan dengan penggunaan lagu “Rasa Sayange” sebagai bagian dari kampanye promosi Negeri Jiran tersebut. Terang saja aksi tersebut membuat gerah masyarakat Indonesia, terutama kalangan seniman dan budayawan. &#160; Uniknya, statistik menunjukkan, tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=10&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="DE">Sejarah perselisihan Indonesia dengan Malaysia terbilang panjang. Selain kasus Blok Ambalat, salah satunya berkenaan dengan penggunaan lagu “Rasa Sayange” sebagai bagian dari kampanye promosi Negeri Jiran tersebut. Terang saja aksi tersebut membuat gerah masyarakat Indonesia, terutama kalangan seniman dan budayawan.</span></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_406" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><em><strong><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-406 " title="orang utan" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2007/12/orang-utan.jpg?w=510" alt="Great Apes from Borneo &quot;Orangutan&quot;"   /></a></strong></em><p class="wp-caption-text">&quot;Orangutan&quot; Great Apes from Borneo</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="DE">Uniknya, statistik menunjukkan, tanpa lagu “Rasa Sayange” itu pun pertumbuhan kunjungan pariwisata Malaysia telah mencapai angka yang spektakuler.</span></em></p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">1. Meraih Angka Kunjungan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="DE">Pada tahun 2006, pertumbuhan kunjungan pariwisata Malaysia telah mencapai angka 11.518.288 orang (PATA, Januari—Agustus 2006). </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Jumlah ini meningkat pada tahun berikutnya menjadi 13.574.786 orang atau meningkat sampai 17% (PATA, Januari—Agustus 2007). Bandingkan dengan Indonesia yang hanya dikunjungi 3.355.281 orang dari 15 pintu masuk (<em>post entry</em>) pada tahun 2007. Jumlah itu merupakan peningkatan 13,5% dari tahun 2006 yang hanya meraup 2.955.820 orang pengunjung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Gambaran data secara global yang dirilis oleh WTO (Organisasi Pariwisata Dunia) menyebutkan 1,3 miliar manusia lalu lalang di dunia ini (dalam rangka berwisata) setiap tahunnya, tetapi hanya 4,87 juta orang yang mampir ke Indonesia (2006). Turis asing yang datang ke Malaysia dalam rentang waktu yang sama berjumlah 17,54 juta orang (2006). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Sebagaimana data di atas, tampak perbedaan yang signifikan angka kunjungan ke Indonesia dibandingkan ke Malaysia. Tingginya angka kunjungan tersebut tentu memberikan dampak yang besar terhadap besaran pemasukan dari sisi pariwisata yang ada. Perbedaan yang besar dari angka kunjungan yang ada bagai menggambarkan bahwa Malaysia bagaikan ”gajah” sedangkan Indonesia tak ubahnya dengan ”semut”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="NO-BOK">Padahal apabila dirunut secara geografis, justru luas wilayah Indonesialah yang bagaikan ”gajah” bagi negara sekecil Malaysia. Belum lagi apabila diukur dari melimpahnya potensi sumber daya alam dan budaya yang ada. Seni budaya yang berlimpah, ratusan ribu keanekaragaman hayati laut dan eksotisme daratan yang spektakuler dan merata di seluruh wilayah Nusantara ini menjadi <em>core product</em> pariwisata Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Ditambah lagi dengan <em>mixed product</em>, seperti MICE, <em>world heritage sit</em>, <em>culture based tourism</em>, <em>tropical beaches and spa</em>, <em>museum and galleries</em>, <em>adventure style holiday</em> dan <em>special interest,</em> seperti <em>ecotourism </em>dan menjamurnya <em>shopping mall</em> terbaik se-Asia di Jakarta. Semua ini menunjukkan betapa beragamnya objek wisata kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Bandingkan dengan Malaysia. Meskipun memiliki <em>core product</em> yang tidak begitu berbeda dari Indonesia, di antaranya budaya Melayu dan tipologi alam, pada dasarnya sumber daya wisata di Malaysia tidaklah sebesar Indonesia. Walau demikian, Malaysia benar-benar mampu mendayagunakan dan mengoptimalisasi keterbatasan yang ada dan mencapai tingkat kunjungan wisata yang mencengangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Perihal keterbatasan Indonesia dalam mengelola sumber daya pariwisata dan budayanya memang dapat diperdebatkan. Demikian pula dengan perjudian di Genting Highlands yang menjadi salah satu sumber utama perolehan devisa dan daya tarik Malaysia. Meski demikian, ada beberapa hal yang patut dikaji bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">2. Strategi Pemasaran yang Efektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Dengan letak yang sangat dekat, tentulah secara umum ada kemiripan daya tarik wisata Malaysia dengan Kalimantan. Di Kalimantan, kita akan menemukan TN Tanjung Puting, TN Kutai, TN Danau Sentarum, TN Betung Karihun, berikut ikon orang utan dan burung enggan yang eksotis. Sementara di Malaysia hal serupa dapat ditemui di taman nasionalnya yang di anaranya terletak di kawasan Sepilok, Bako, Corcker Range, Gunung Mulu, maupun Kenong Rimba. Dalam hal suku-suku bangsa asli, di Malaysia ada suku Iban, Bidayuh, dan Orang Ulu. Sementara suku Dayak di bumi Kalimantan pun begitu beragam dengan kemeriahan dan keasliannya. Kemiripan lain pun bisa dengan mudah ditemukan, sebagaimana diakui sendiri oleh Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Arishu (2007) mengungkapkan bahwa strategi kesuksesan Malaysia dalam menangguk wisatawan terletak pada penekanan wisata “tradisional” dan optimalnya “kendaraan” yang mereka pakai, yaitu Badan Promosi Pariwisata (<em>Malaysia Tourism Promotion Board</em>) secara optimal. Misi utama memasarkan Malaysia sebagai tempat tujuan wisata unggul (budaya alam) dan menjadikannya sebagai kontributor utama pembangunan sosial-ekonomi dapat dikatakan telah diperjuangkan secara konsisten. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Tujuannya, menimbulkan kesadaran global tentang budaya, atraksi, dan “keajaiban Malaysia yang unik” melalui slogan <em>Truly Asia</em>. Sasarannya ialah meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperpanjang waktu tinggal. Sederhana, tetapi efektif. Hasilnya, tiga per empat wisatawannya berasal dari Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, bahkan dari Indonesia!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">3. Promosi Pariwisata Melalui Website</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Sebagaimana dilansir pihak Depbudpar (2007), 56% wisatawan berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet. Tentu saja hal ini menandakan bahwa promosi melalui internet merupakan cara publikasi yang sangat efektif dan efisien. Oleh sebab itu, kemampuan daya tarik situs web yang didesain dan dikelola dengan baik dapat mendorong wisatawan mengunjungi destinasi tertentu. Berikut adalah tampilan tiga situs web yang menampilkan promosi pariwisatanya.</span></p>
<div id="attachment_678" class="wp-caption alignleft" style="width: 331px"><a href="http://www.arsimedik.com"><img class="size-full wp-image-678" title="Perbandingan Web" src="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2007/12/perbandingan-web.jpg?w=510" alt="Perbandingan Web"   /></a><p class="wp-caption-text">Perbandingan 3 Website Promo Pariwisata: Malaysia, Indonesia, Kalimantan</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Dalam desain grafis, ada empat prinsip utama yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan komunikasi yang efektif (<a href="http://www.tipsdesain.com/">http://www.tipsdesain.com/</a>) dari sebuah karya desain semisal web. Keempatnya, meliputi (1) ruang kosong (<em>white space</em>); (2) kejelasan (c<em>larity</em>); (3) kesederhanaan (s<em>implicity</em>); dan (4) emphasis (<em>point of interest</em>). Selain itu, prinsip-prinsip dasar seni rupa berlaku pula bagi desain web yang menarik para wisatawan. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah adanya (1) kesatuan (<em>unity</em>); (2) keseimbangan (<em>balance</em>); (3) proporsi (<em>proportion</em>); (4) irama (<em>rhythm</em>) dan; (5) dominasi (<em>domination</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Aspek detail lainnya adalah kemampuan memadukan warna dalam sebuah situs web yang mampu menciptakan impresi dan menimbulkan efek-efek tertentu. J. Linschoten dan Drs. Mansyur mengemukakan bahwa secara psikologis, warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja. Sebaliknya, warna-warna itu memengaruhi kelakuan sehingga memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang terhadap produk (wisata) yang ditawarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Gambar di samping menyimpulkan beberapa perbedaan penting pengelolaan situs promosi pariwisata: Secara umum, <strong>situs pariwisata Malaysia (www.tourism.gov.my)</strong> memiliki karakteristik yang simple (sederhana), informatif, komposisi warna-foto-tulisan cukup baik, dan sebaran infromasi produk merata (tidak hanya mengandalkan satu daerah saja). S<strong>itus promosi pariwisata Indonesia (www.my-indonesia.info)</strong> dari halaman depan cukup ramai dengan grafis warna sehingga loadingnya terasa lama, komposisi foto-tulisan cukup baik walau terkesan <em>&#8216;crowded&#8217;</em>. Situs promosi pariwisata yang<em> traffic</em>-nya cukup tinggi milik <strong>propinsi Kalimantan Tengah (www.kalteng.go.id)</strong>, nampak sekali cukup memprihatinkan, selain tidak informatif dan tidak update, kurang ada kejelasan foto-foto wisata yang digarap profesional sehingga turis tidak tertarik berkunjung.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">4. Kesimpulan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Hasil studi UNDP bersama USAID meneguhkan bahwa pariwisata merupakan sektor unggulan perekonomian Indonesia dengan <em>multiplier effect</em> terbesar. Diperkirakan, pada 2020 perjalanan wisata dunia akan mencapai 1,6 miliar orang. Sebanyak 438 juta orang, di antaranya akan ke kawasan Asia Pasifik. Artinya, jumlah ini sungguh memungkinkan untuk membuka kesempatan kerja seluas-luasnya guna mengurangi pengangguran Indonesia yang cenderung semakin tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Namun, pada tahun 2008, Indonesia justru “hanya” menargetkan 7 juta wisatawan. Dalam hal ini, semestinya <em>Kalimatan Tourim Board</em> atau Konsorsium Pariwisata Kalimantan (jika konsorsium atau badan ini memang ada), setidaknya sekitar 50% dari jumlah 7 juta itu, atau 3,5 juta, semestinya bisa diarahkan sebagai wisatawan di Kalimantan. Mampukah? Tentu saja!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Hasil studi UNDP bersama USAID meneguhkan, pariwisata merupakan sektor unggulan perekonomian Indonesia dengan <em>multiplier effect </em>terbesar. Artinya, kesempatan kerja yang tercipta akan mengurangi pengangguran. Diperkirakan pada 2020 perjalanan wisata dunia mencapai 1,6 miliar orang, 438 juta orang di antaranya akan ke kawasan Asia Pasifik. Jikalau Indonesia menargetkan “hanya” 7 juta wisatawan pada tahun 2008, semestinya <em>Kalimantan Tourism Board</em> atau Konsursium Pariwisata Kalimantan (jikalau konsursium atau badan ini memang ada), paling tidak mampu pula mendatangkan kunjungan ke Kalimantan minimal 50% (±3,5 juta wisatawan) dari target kunjungan ke Indonesia. Mampu? Tentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Maka pilihan Kalimantan maupun Indonesia bukanlah mengganyang Malaysia karena mematenkan lagu “Rasa Sayange”, meskipun hal tersebut jelas mengganggu jati diri budaya Indonesia. Namun mengingat perkembangan pariwisata Kalimantan yang belum sepesat Malaysia, dengan jujur dan rendah hati harus diakui bahwa para pemangku kepntingan dan pelaku pariwisata di Kalimantan, dan dengan demikian di Indonesia, harus belajar dari Malaysia. Strategi promosi, pemanfaatan sumber daya wisata secara optimal, penggunaan teknologi informasi, penggunaan <em>branding</em> dan logo yang proporsional, dan optimalisasi sumber daya yang terbatas perlu digarap dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;" lang="EN">Mengingat Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia, tidak berlebihan rasanya bila mengharapkan Kalimantan sebagai inovator, sekaligus penggagas utama kemajuan pariwisata Indonesia. Demikian pula halnya dengan Kalimantan Tengah yang seharusnya dapat menjadi penggerak kemajuan pariwisata Kalimantan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Salam Pembangunan Kalteng!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Nb. Terima kasih kepada Bung <a href="http://indonesiasaram.wordpress.com/">Raka Sukma Kurnia</a> yang telah meluangkan waktunya untuk mengedit tata bahasa Indonesia opini di atas. </em></p>
<p><!--more--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=10&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/12/10/pariwisata-kalimantan-belajar-atau-ganyang-pariwisata-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2007/12/orang-utan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">orang utan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://borneotourismwatch.files.wordpress.com/2007/12/perbandingan-web.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Perbandingan Web</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REPOSISI PARIWISATA KALIMANTAN TENGAH</title>
		<link>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/11/16/re-posisi-pariwisata-kalimantan-tengah/</link>
		<comments>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/11/16/re-posisi-pariwisata-kalimantan-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 12:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio S. Migang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://architecturetourism.wordpress.com/2007/11/16/re-posisi-pariwisata-kalimantan-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] Meningkatnya minat motivasi menjelajah dunia baru dan kunjungan wisatawan sebagai implikasi dari meningkatnya pendapatan rata-rata penduduk dunia, ditandai dengan tingginya angka kunjungan global dan pengeluaran wisatawan dunia. Hal tersebut dicatat oleh WTO yang menyebutkan bahwa pengeluaran wisatawan dunia/internasional pada 7 tahun yang lalu, telah mencapai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=9&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></pre>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Meningkatnya minat motivasi menjelajah dunia baru dan kunjungan wisatawan sebagai implikasi dari meningkatnya pendapatan rata-rata penduduk dunia, ditandai dengan tingginya angka kunjungan global dan pengeluaran wisatawan dunia.</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Hal tersebut dicatat oleh WTO yang menyebutkan bahwa pengeluaran wisatawan dunia/internasional pada 7 tahun yang lalu, telah mencapai jumlah hingga 698 juta orang dan mampu menciptakan pendapatan sebesar USD 476 milyar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> <span id="more-9"></span>Kini diperkirakan telah menembus angka baru, yaitu rata-rata lebih dari 2 miliar dolar AS sehari, United Nation-World Tourism Organization (UN-WTO), dalam siaran persnya, menyebutkan jumlah total pengeluaran dari wisatawan keseluruhan tahun 2005 adalah 682 miliar dolar AS, meningkat 49 miliar dolar AS atau 3,4 persen dari tahun sebelumnya, dan kedatangan wisatawan internasional meningkat 5,6 persen yang tersebar ke berbagai belahan dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Betapapun minimnya prasarana akses ke daerah terisolir namun eksotik, tidak menghalangi keinginan wisatawan dunia mengunjungi destinasi-destinasi wisata baru terutama di negara berkembang yang belum sepenuhnya tereksplorasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Di masa kini mengunjungi kawasan seperti perairan Raja Ampat di Irian ataupun Tanjung Puting di Kalimantan yang notabene adalah area konservasi, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dunia. Terminologi berwisata tidak lagi dimengerti sebagai kegiatan rekreasi untuk daerah/obyek yang ramai dikunjungi saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Berwisata telah berkembang sedemikian rupa menjadi aktivitas untuk memperkaya hidup, dimana pariwisata telah berasimilasi dengan bidang lain seperti wisata kesehatan, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata sejarah hingga wisata ziarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Beragamnya suku bangsa di Indonesia menjadi magnet dan menghadirkan berbagai tinggalan budaya baik yang bersifat fisik teraba dan nilai-nilai filosofis hidup yang berharga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kelimpahan daya tarik tersebut hadir pula pada beragamnya daya tarik wisata di bumi Tambun Bungai. Ambil contoh kelimpahan tinggalan bangunan rumah tinggal tradisional Betang atau rumah Panjang yang di beberapa tempat/daerah masih terpelihara baik. Bangunan Betang di masa lampau hadir dan berkembang seiring peradaban Dayak yang hidup sulit karena lingkungan, hutan, dan alam yang seringkali tidak ramah terhadap manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Rumah Betang menjadi salah satu penanda perjalanan peradaban masyarakat Dayak, sekaligus pula menjadi <em>point of interest </em>bagi banyak orang termasuk wisatawan global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Namun benarkah Betang yang eksotik tersebut telah mampu ‘memaksa’ para wisatawan untuk tidak menghindari tarikan melihat sang Betang gagah perkasa itu? Jawabnya belum! Angka kunjungan tertinggi para wisatawan ke Kalteng jelas sekali mengindikasikan bahwa aliran kunjungan umumnya masih menuju kawasan Tanjung Puting saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tanyakan saja penduduk di sekitar Betang Tumbang Malahoi, Betang Tumbang Gagu, Betang Barito Hilir, dll, umumnya dijawab dengan pernyataan “<em>yah tiga bulan yang lalu hanya 2 orang bule yang bakunjung kasini</em>”. Pernyataan yang membuat miris dan heran melihat perbandingan pertumbuhan wisatawan dunia saat ini. Mengapa begitu? Ada apa yang terjadi? Apakah pemasaran pariwisatanya kurang gencar? Apakah promosinya kurang canggih? Apakah swasta kurang berminat mengembangkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Hal di atas menggambarkan bahwa berwisata menikmati arsitektur Betang di Kalteng belum menjadi inti nuklir dan pusaran arus besar bagi pariwisata Kalteng. Penduduk sekitar mengaku telah melaksanakan program perawatan dan pemeliharaan, untuk menjaga warisan budaya tersebut. Pemerintah setempat pun menyadari bahwa tinggalan seperti rumah Betang yang ada di daerahnya perlu dijaga, dirawat dan dipromosikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Bagi kebanyakan orang, aspek praksis dari memelihara, merawat, dan menjaga memiliki implikasi pelaksanaan yang berbeda. Merawat bisa saja diartikan tidak boleh diapa-apakan, menjaga bisa saja diartikan melihat jangan sampai ada bagian Betang yang hilang dicuri, dan memelihara bisa saja diartikan cukup potong rumputnya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Program pariwisata yang sudah berjalan dan yang sudah dijalankan belum menjamin bahwa ekspektasi angka kunjungan akan meningkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kepariwisataan. Berbagai kajian menyebutkan bahwa pariwisata memiliki 4 komponen inti, yakni produk atau daya tarik, pasar dan pemasaran, amenitas berupa akses, akomodasi dan penunjang lainnya, serta investasi. Pada umumnya, kelemahan sistem pengembangan pariwisata yang ada di daerah-daerah di Indonesia adalah besarnya keinginan untuk memperkenalkan, memasarkan, dan mempromosikan produk wisatanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kita tentu tak dapat memungkiri bahwa cara tersebut memang harus dilakukan, namun kita juga seringkali melupakan bahwa betapapun indahnya kemasan suatu produk tapi isi yakni produk itu sendiri jikalau adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, maka jangan heran jikalau si penerima atau penikmat produk tersebut dapat mengalami kekecewaan yang mendalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kita seringkali mempromosikan suatu produk yang sebenarnya ‘biasa-biasa’ saja, namun terlanjur melakukan promosi yang agresif. Kita harus jujur mengakui bahwa Betang tidaklah semenarik Parthenon di Yunani, tidaklah seeksotis rumah Minangkabau, dan tidaklah sedahsyat misteri bangunan Kraton Jawa di Jogya. Betang sebagai salah satu daya tarik dalam ribuan kelimpahan daya tarik alam, budaya, dan buatan di Kalteng tidaklah bisa dibiarkan berdiri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ia harus dipadukan, diramu, dipasangkan dengan komponen produk wisata lainnya. Sebagaimana filosofi <em>hapakat mamangun, haruyung manggetem </em>maka penterapannya pada kontelasi manajemen pariwisata adalah dalam ujud mengkaitkan berbagai produk wisata yang ada menjadi suatu integrasi wisata tematik berjejaring. Wisatawan tidak hanya disuguhkan Betang di Barito Hilir saja, terpisah dari Tanjung Puting yang legendaris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Wisatawan tidak cukup hanya disuguhkan 1 bundelan brosur wisata dengan <em>spot angle</em> olah fotografi obyek wisata yang memukau belaka. Wisatawan seharusnya memperoleh pengalaman dan penikmatan terhadap obyek-obyek yang terintegrasi dengan baik. Hal tersebut tentunya menuntut tindakan kongkrit yakni betapa pentingnya memetakan produk-produk wisata unggulan-utama Kalteng yang mewakili komponen alam, budaya, dan buatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tidak semua daya tarik wisata Kalteng di 13 kabupaten dan 1 kotamadya masuk dalam kategori unggulan, harus benar-benar ada yang menjadi unggulan utama untuk mendampingi keunggulan Tanjung Puting. Jikalau hal tersebut telah ditemukan dan terangkai dengan solid, maka langkah selanjutnya adalah menciptakan <em>branding</em> (baca juga di <a href="http://www.kalteng.go.id/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;">tulisan</span></a> sebelumnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Apabila kedua aspek tersebut dipenuhi terlebih dahulu, maka otomatis berimplikasi positif pada pola pemasaran yang efektif, meningkatnya angka kunjungan, dan merangsang perekonomian masyarakat melalui usaha pariwisata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sebagaimana dijelaskan dalam Visi, Misi, dan Program Pembangunan Kalteng 2005-2008, program bidang kepariwisataan meliputi aspek peningkatan pemasaran, peningkatan kunjungan, dan mendorong pelibatan aktif pihak swasta, ketiga aspek tersebut merupakan bagian dari program percepatan pembangunan pariwisata yang cukup signifikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Apabila dikaji secara mendalam, aspek yang terlupakan dan sebenarnya perlu diprioritaskan adalah aspek peningkatan kualitas produk wisata Kalteng. Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti mengetahui dan menyadari dimanakah posisi pariwisata Kalteng dalam kontelasi nasional dan global, jika Depbudpar (November, 2006) dalam Laporan Daya Saing Destinasi Pariwisata Indonesia merilis bahwa Tanjung Puting-Kalteng berada pada posisi tersier (<strong>urutan ke-22 dari 35 destinasi unggulan</strong>) di level nasional, maka dapat dibayangkan bagaimana posisi obyek wisata lainnya di Kalteng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti mereposisi dan memetakan ulang daya tarik-daya tarik unggulan Kalteng. Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti mampu menciptakan image unik yang membedakan pariwisata Kalteng dengan daerah lainnya. Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti meningkatkan hingga titik teroptimal, titik terpuncak, titik terideal dengan konfigurasi produk wisata yang berdaya saing global plus beridentitas lokal yang agung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti pihak pemerintah, masyarakat, dan swasta rela berkonsolidasi, bahu membahu untuk mengerjakan visi “Membuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat”.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Salam Pembangunan Kalteng!</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kalteng Pos, September 2007)</span></em></span> <!--more--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/borneotourismwatch.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/borneotourismwatch.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=borneotourismwatch.wordpress.com&amp;blog=8810241&amp;post=9&amp;subd=borneotourismwatch&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://borneotourismwatch.wordpress.com/2007/11/16/re-posisi-pariwisata-kalimantan-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2058cfe0422662cec446e7ff8ab9833?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">architecturetourism</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
