Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Telah dimuat di Harian Kaltengpos, September 2005

Studi Kasus: Kalimantan Tengah

Camp Leakey di Pangkalan Bun | by NN

Camp Leakey di Pangkalan Bun | by NN

Menyimak pemaparan visi & misi yang dikeluarkan oleh Bapak Gubernur A.Teras Narang pada saat Raker Bupati se-Kalteng dan Kadis di Lingkungan propinsi Kalteng (yang termuat di harian Kalteng Pos edisi Selasa, 23 Agustus 2005) sungguh sangat menarik untuk dikaji. Dalam pemaparan mengenai target pembangunan Kalteng dalam 3 tahun ke depan disebutkan bahwa arah pembangunan adalah pada infrastruktur, sektor pariwisata, (pemberantasan) illegal logging hingga sosial budaya (hal.15).

Pada tulisan tersebut nampaknya prioritas pembangunan sektor pariwisata berada pada urutan kedua setelah pembangunan infrastruktur (jikalau penulis tidak salah mempersepsikan pada ‘urutan kedua’, karena tidak hadir secara langsung pada acara tersebut), apabila benar maka hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya signifikansi pembangunan pariwisata di propinsi Kalteng.

Mengapa pembangunan pariwisata menjadi begitu penting? Pariwisata sebagai sub sektor ekonomi, merupakan industri terbesar dan tercepat pembangunannya di dunia. Sektor pariwisata telah menjadi industri yang sangat prospektif dan kompetitif di abad 21 ini. Fenomena tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa kemajuan teknologi serta semakin tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat telah mendorong pertumbuhan yang sangat pesat pada angka mobilitas wisatawan internasional dari tahun ke tahun.

Fandeli (2004) menuliskan bahwa Organisasi Pariwisata Dunia (WTO,1997) memperkirakan terjadinya angka pergerakan wisatawan pada tahun 2005 akan mencapai 850 juta wisatawan.

Berdasarkan catatan laporan sensus yang diadakan oleh WTO tahun 2000 saja, telah diketahui bahwa pada tahun 1999 telah terjadi kunjungan wisatawan intenasional yang dapat menghasilkan devisa sebesar US$ 455 milyar. Angka ini menunjukkan bahwa hampir sekitar 10% dari penduduk dunia melakukan perjalanan wisata. Dibandingkan pada tahun 1950, pada saat itu hanya 25 juta wisatawan yang melakukan perjalanan wisata dan menghasilkan devisa setara dengan US$ 8 milyar. Peningkatan yang signifikan tersebut baik dari jumlah perjalanan internasional maupun pendapatan devisa bagi negara-negara tujuan wisatawan.

Dampak positif yang paling terasa adalah pertumbuhan ekonomi yang meliputi : 1) penerimaan devisa dari pembelanjaan wisatawan; 2) peningkatan penyerapan tenaga kerja; 3) tumbuhnya sektor-sektor usaha dan industri ikutan baik skala kecil maupun menengah; dan 4) tumbuh serta berkembanganya wilayah-wilayah yang tertinggal.

Menurut WTTC (World Travel and Tourism Council), disebutkan bahwa pariwisata telah menjadi industri pariwisata terpenting di dunia, hal ini terbukti dari bagaimana industri pariwisata dunia telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi 200 juta orang di seluruh dunia, atau 8 % dari total lapangan pekerjaan yang atau 1 dari 12,4 jenis pekerjaan yang ada.

Menurut perhitungan WTTC, angka ini akan terus berkembang, sejalan dengan tersedianya 5,5 juta jenis pekerjaan baru pada tahun 2010 nanti atau sama dengan 250 juta orang yang bekerja pada berbagai jenis pekerjaan dengan total GDP sebesar US$ 6.591 milyar.

Pernyataan Wall (1995) yang dikutip dari Fandeli (2004) menyebutkan bahwa “tourism is viewed as a development tool and as means of diversifying economic. Development, whether preceded by the world economic or sustainable, implies change and that is what is sought by proponents of tourism development”.

Menurut Fandeli & Nurdin (2004), bahwa perkembangan industri pariwisata tidak hanya terkait dengan bisnis perjalanan secara umum, tetapi juga pada tingkat kunjungan wisatawan secara nasional pada kawasan-kawasan yang dilindungi seperti taman nasional, cagar alam, dan sejenisnya.

Tingkat kunjungan yang meninggi ke kawasan-kawasan konservasi sejalan dengan perubahan paradigma pasar pariwisata global yang mengarah pada kesadaran terhadap lingkungan dan perhatian terhadap isu-isu tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga berkontribusi penting pada pandangan wisatawan terhadap obyek-obyek wisata yang mampu mengapresiasikan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.

Kepariwisataan global yang berkembang hingga awal dekade 80-an sangat pesat didorong oleh adanya mass tourism. Namun dalam dua dekade terakhir, terjadi perubahan pola wisata dari mass tourism ke individual atau small group tourism.

Melalui small group tourism, wisatawan berkeinginan untuk mendapat pengalaman yang lebih banyak dan lebih bermakana dalam hidupnya sebab terdorong oleh motivasi menginginkan expansion of life. Faulkner (1997) mengetemukan bahwa model pariwisata global mulai bergerak ke model pariwisata baru. Model pariwisata lama (dikenal pula dengan pariwisata massal) biasanya dicirikan dalam bentuk permintaan paket dalam group, produk (atraksi) wisata yang dituju adalah orientasinya mendapat kesenangan seperti berjemur dan bersantai, aspek penawaran berskala luas, sehingga gambaran para wisatawan pariwisata massal adalah bergaya eropa dengan pelayanan standar dan jaringan internasional setrta lebih memilih obyek buatan.

Model pergeseran pada periwisata baru (dikenal dengan small group tourism) dimana didominasi wisatawan bebas dengan orientasi pengalaman baru yang sangat memperhatikan kualitas lingkungan alami hingga sosial budaya masyarakat lokal, sehingga produk wisata yang dicari biasanya obyek wisata minat khusus, bergaya setempat dengan pelayanan khas lokal hingga pemilihan fasilitas lokal.

Seperti yang dikemukakan oleh Fandeli, proses pergeseran wisata ini telah dapat diketemukan di beberapa negara Asean dan berkembang seperti Pilipina, Malaysia, Thailand, Singapura dan Bali. Destinasi-destinasi wisata tersebut mulai mengembangakan pola wisata dengan perjalanan yang lebih bebas dengan perjalanan yang mono-destination.

Kejenuhan pangsa pasar terhadap produk pariwisata massal dapat dilihat pada model kepariwisataan Bali kini, hal tersebut dipicu oleh sejak terjadinya perdebatan antara kebutuhan pemanfaatan SDA dan lingkungan hidup oleh negara yang sedang membangun, sementara penduduk negara industri telah merasakan akibat terjadinya kerusakan lingkungan alam. Oleh sebab itu, sejak Rio Summit pada tahun 1992, terjadilah secara nyata munculnya negara-negara baru sebagai destinasi utama dalam pariwisata berbasis ekologis.

Dalam konteks di atas, banyak pihak semakin menyadari bahwa industri pariwisata selain memberikan manfaat yang bernilai ekonomi juga memiliki karakteristik sebagai usaha jasa yang bersifat multi produk, dimana akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang secara langsung mapun tidak langsung terlibat di dalamnya serta lingkungan ekologis secara global.

Pariwisata Minat Khusus

Apabila mass tourism sering diidentikkan dengan wisata yang bersifat rekreasi umum dan berorientasi pada obyek 4 s (sea, sand, sun & snow) ataupun obyek-obyek wisata konvensional yang populer, maka wisata minat khusus lebih diidentikkan dengan kegiatan wisata yang berifat khusus.

Read (1980) dan Walle (1997) menekankan bahwa kegiatan perjalanan wisata minat khusus merupakan bentuk perjalanan wisata yang aktif, dimana wisatawan terlibat secara fisik dan emosional dalam suatu kegiatan tertentu, bukan sekedar perjalanan wisata pasif. Sehingga wisata minat khsus tidak semata-mata pada kegiatan berwisata yang mengandung aktivitas secara fisik namun juga pengkayaan wawasan pengetahuan (gaining insight).

Bentuk pariwisata ini memiliki beberapa prinsip: 1) Motivasi wisatawan mencari sesuatu yang baru, otentik dan mempunyai pengalaman perjalanan wisata yang berkualitas; 2) motivasi dan keputusan untuk melakukan perjalanan ditentukan oleh minat tertentu/khusus dari wisatawan dan bukan dari pihak-pihak lain; dan 3) wisatawan melakukan perjalanan berwisata pada umumnya mencari pengalaman baru yang dapat diperoleh dari obyek sejarah, makanan lokal, olahraga, adat istiadat, kegiatan di lapangan dan petualangan alam.

Wisata minat khusus mengandung unsur-unsur: 1) rewarding atau penghargaan atas sesuatu obyek dan daya tarik wisata yang dikunjungi,; 2) enriching atau pengkayaan yaitu penambahan pengetahuan dan kemampuan terhadap sesuatu jenis atau bentuk kegiatan yang diikuti wisatawan; 3) adventure atau petualangan yaitu mengandung aspek pelibatan wisatawan dalam kegiatan petualangan; dan 4) learning atau proses belajar terhadap sesuatu kegiatan edukatif tertentu.

Ekowisata: Bentuk Wisata Minat Khusus bagi Pelestarian Hutan & Sosial Budaya Lokal

Indonesia yang merupakan negara tropika yang sangat besar, mempunyai potensi yang sangat besar pada atraksi alam. Obyek wisata alam tersebar dengan melimpahnya baik di laut, pantai, hutan dan gunung-gunung dapat dikembangkan untuk pariwisata. Pada saat ini, kepariwisataan nasional menjadi suatu sektor penting di daerah-daerah. Walaupun di satu sisi memberikan sumbangan yang signifikan terhadap PAD namun kondisi pembangunan yang mengejar keuntungan finansial saja dapat mendorong semakin jauhnya realisasi terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang dapat menciptakan green tourism menuju pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Kesulitan kasat mata dari ‘penggandengan’ konsep development dan konsep conservation yang menekankan aspek pelestarian alam dan budaya dapat disinergikan melalui ekowisata. Fandeli & Nurdin (2004) mengemukakan bahwa pada dasarnya ekowisata dapat dikembangkan dengan baik dalam berbagai kawasan hutan seperti hutan produksi, lindung dan konservasi (taman nasional). Sebab ekowisata tidak menjual destinasi tetapi menjual ilmu pengetahuan dan filsafat lokal atau filsafat ekosistem dan sosiosistem.

Konsep pelibatan masyarakat lokal melalui ekowisata yang merupakan salah satu bentuk dari wisata minat khusus dapat secara langsung menghindarkan pengrusakan lanjutan kawasan hutan di Kalteng yang mengalami pengurasan sekitar tiga dekade oleh HPH dan illegal logging. Dalam pengelolalan ekowisata sangat ditekankan pembangunan yang berimbang (balanced development) antara kebutuhan pelestarian lingkungan dan kepentingan semua pihak.

Ada beberapa prinsip pengembangan ekowisata yaitu: 1) Prinsip konservasi alam dan budaya; 2) Prinsip partisipasi masyarakat; 3) Prinsip ekonomi; 4) Prinsip edukasi; dan 5) Prinsip wisata. Sejalan dengan tuntutan dari paradigma pariwisata minat khusus maka melalui pengembangan ekowisata baik dalam hal pengembangan aspek obyek & daya tarik atraksi, aspek fasilitas penunjang dan aspek aksesbilitas makamanfaat pengembangan ekowisata di kawasan destinasi wisata yang sangat kental dengan potensi kehutananya seperti Kalteng adalah:

1) Meningkatkan pengembangan di bidang ekono mi; 2) Mengkonservasi warisan alam & budaya; dan 3) meningkatkan kualitas kehidupan dalam masyarakat lokal sehingga apresiasi wisatawan semakin meningkat pula terhadap Kalteng.

Selain ekowisata, banyak ragam lagi bentuk pariwisata minat khsusus yang dapat dikembangkan di propinsi tercinta kita ini. Seperti yang dikemukakan oleh Nasikun (2004) ada beragam terminologi dari bentuk pariwisata baru (wisata minat khusus) seperti academic tourism, adventure tourism, agro tourism, rural tourism, culture tourism, eco tourism, archaeo tourism, scientific tourism, urban tourism, pilgrim tourism dan beragam terminologi lainnya lagi sesuai potensi dan kapasitas yang dimiliki oleh destinasi wisata lokal dan pangsa pasar utama pada destinasi tersebut.

Pengembangan kepariwisataan Kalteng khususnya pariwisata minat khusus akan menjadi kunci penentu dan berposisi sentral terhadap kepariwisataan Kalteng ketika disinergiskan dengan visi misi lainnya yang menekankan juga pembangunan infrastruktur, aspek sosial budaya lokal dan pemberantasan illegal logging (diterjemahkan sebagai pelestarian lingkungan). Identifikasi secara akurat terhadap aspek pasar wisata dan produk wisata secara seimbang (balancing between supply & demand) dapat meningkatkan mutu pengembangan pariwisata Kalteng.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kaltengpos, September 2005