Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Pariwisata pada saat ini menjadi harapan bagi banyak negara berkembang termasuk Indonesia sebagai salah satu sektor yang sangat diandalkan dalam peningkatan ekonomi negara. Kalimantan Tengah sebagai salah satu propinsi yang memiliki 3 taman nasional, memilki keanekaragaman hayati yang unik dan berlimpah.

Taman Nasional Sebangau (TNS) yang dideklarasikan pada 19 Oktober 2004 lalu sebagai salah satu kawasan konservasi di Kalteng tentunya tidak akan dapat dilepaskan pula dari upaya pengembangan pariwisata sebagai wujud dari pengelolaan ekonomis kawasan tersebut.

Taman nasional (National Park) yang digolongkan oleh The World Conservation Union (IUCN) dalam kategori II sebagai kawasan yang dikelola terutama untuk keseimbangan ekosistem dan rekreasi haruslah menjadi sasaran utama dari manajemen pelestarian dan pemanfaatan pihak pengelola.

Saat ini, bentuk pariwisata berkelanjutan dalam kawasan hutan yang sangat tepat adalah ekowisata (ecotourism) atau wisata ekologis. Menurut Fandeli (2004), pada dasarnya ekowisata dapat dikembangkan dalam berbagai kawasan hutan seperti hutan produksi, lindung dan konservasi. Sebab ekowisata tidak menjual destinasi tetapi menjual ilmu pengetahuan dan filasafat lokal atau filsafat ekosistem dan sosiosistem. Hutan produksi, hutan lindung dan konservasi mempunyai peluang yang sama dalam hal sebagai sumber ilmu pengetahuan dan filsafat suatu ekosistem.

Apabila di dalam kawasan hutan terdapat pedesaan dengan komunitas asli, akan dapat dikembangkan pula wisata minat khusus (alternative tourism) berbasis masyarakat.

Sebagai contoh dapat dilihat bagaimana keberhasilan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Taman Nasional Kakum dan kawasan konservasi Ghana yang dibentuk sekitar tahun 1991 (lihat laporan situs http://www.conservation.org/xp/CIWEB/regions/africa/west_africa.xml). “….Daerah ini merupakan daerah hutan Guine di Afrika Selatan, dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi seperti habitat gajah, Bongo, Duiker kuning dan kera Diana, 550 spesies kupu-kupu, 250 jenis burung dan berbagai spesies lainnya.

Proyek konservasi Kakum didukung dan dipandu oleh Conservation International dan U.S Agency for International Development, dengan dasar pemahaman bahwa ekowisata mampu menjadi alat konservasi sekaligus menjadi model pengembangan masyarakat (pariwisata berbasiskan masyarakat sebagai strategi konservasi efektif). Manfaat nyata yang diperoleh masyarakat lokal antara lain: 1) pembelian hasil pertanian untuk keperluan restoran; 2) kebutuhan akan seniman pemahat setempat; 3) pelatihan menjadi pemandu untuk guru setempat; 4) peluang kerja langsung & pekerja tidak langsung.

Di dalam laporan tersebut disebutkan pula bahwa keberhasilan proyek Kakum ditunjang aspek-aspek berikut: 1) inisiatif pemda setempat disusun dengan baik; 2) dukungan dana jangka panjang dari US AID (donatur); 3) adanya konsistensi dan panduan pengelolaan yang baik dari lembaga International Conservation; dan 4) Ghana memiliki kondisi politik yang stabil serta adanya peningkatan ekonomi yang signifikan”. Bagaimana dengan di Kalimantan??

Seperti yang umum telah diketahui, hutan-hutan di bumi Tambun Bungai banyak yang telah menurun kualitasnya akibat “pengurasan” dari Hak Pengusahaan Hutan hingga akibat buruk dari illegal logging. Fandeli menjelaskan pula bahwa untuk mengurangi tekanan terhadap hutan oleh masyarakat, maka masyarakat lokal dapat diberdayakan (community empowerment) dalam kegiatan ekowisata pada suatu taman nasional.

Sejalan dengan upaya perintisan pengembangan ekowisata di TNS oleh pihak WWF Kalteng, maka berangkat dari salah satu Strategic Planning oleh WWF Indonesia tahun 2003 dibentuklah Working Group Community Empowerment untuk menjadikan konservasi hutan serta isinya bermanfaat bagi masyarakat. Ada beberapa manfaat penting dari pengembangan ekowisata di suatu taman nasional, yakni 1) meningkatkan pengembangan di bidang ekonomi; 2) mengkonservasi warisan alam & budaya; dan 3) meningkatkan kualitas kehidupan dalam masyarakat lokal.

Meningkatkan Pengembangan di Bidang Ekonomi

Kawasan pemanfaatan dan pelestarian (taman nasional) bila dikembangkan untuk ekowisata dapat mendorong berkembangnya ekonomi lokal. Sebagai contoh suatu kawasan yang dapat menciptakan dasar dari industri ekowisata yang sukses adalah Kawasan Konservasi Costa Rica. Di dalam laporan situs (http://nature.org/aboutus/travel/ecotourism/resources) dikemukakan bahwa “…Setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun ‘80an, dan berkurangnya sumbangan internasional pada tahun ‘’90an maka Costa Rica memilih untuk menaikkan biaya masuk taman nasional agar memperoleh dana untuk membiayai kawasan.

Sebagai tambahan informasi, sebuah sistem penetapan biaya masuk yang bertingkat, sehingga wisatawan asing membayar lebih besar daripada masyarakat lokal dan wisatawan domestik. Meskipun ada peningkatan biaya untuk berkunjung ke kawasan konservasi margasatwa dan cadangan biologi tersebut, taman nasional Costa Rica tetap merupakan tempat tujuan wisata yang populer.

Negara tersebut memiliki 1,3 juta kedatangan pada tahun 1999, dan 66% dari wisatawan mengunjungi taman nasional tersebut. Penerimaan wisatawan tahunan di Costa Rica sekarang total lebih dari US$1 milyar, dan sistem pengelolaan taman nasional menjadi dasar kesuksesan industri ekowisatanya”. Baez & Fernandez di dalam Fandeli (2004) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan keuntungan di bidang ekonomi seperti ini, dua kondisi harus dipenuhi :

1) harus ada produk dan jasa untuk wisatawan sehingga wisatawan dapat menghabiskan uangnya untuk belanja di lokasi tersebut; 2) perlu untuk meminimalkan nilai ekonomi yang bocor keluar kawasan atau keluar wilayah lokal. Sebagai contoh di Taman Nasional Tortuguero berkurang sebesar 6% yang sampai ke masyarakat lokal. Oleh karenanya, kegiatan pariwisata sedapat mungkin dapat mencukupi dirinya sendiri dengan mengurangi ketergantungan pada jasa-jasa dan barang-barang dari luar daerah tersebut. Fandeli & Nurdin mengemukakan agar kawasan taman nasional dapat memperoleh dana dari kegiatan ekowisata, perlu ada pedoman sebagai berikut: 1) meningkatkan jumlah pengunjung;

2) meningkatkan lama tinggal wisatawan;

3) menarik segmen wisatawan yang berpenghasilan tinggi;

4) meningkatkan daya beli wisatawan;

5)menyediakan tempat penginapan;

6)menyediakan pemandu atau jasa-jasa bidang lainnya;

7) acara tradisi lokal; dan

8) penjualan makanan dan minuman lokal.

Mengkonservasi Warisan Alam & Budaya

Pariwisata di taman nasional dapat menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung konservasi warisan alam & budaya. Pariwisata dapat menghasilkan pendapatan-pendapatan yang dapat digunakan secara langsung untuk membantu memenuhi atau mengimbangi biaya-biaya konservasi, mempertahankan tradisi budaya dan menyediakan pendidikan.

Salah satu contoh keberhasilan adalah di Kawasan Suaka Margasatwa Madikwe, Afrika Selatan (lihat di http://www.parks-n.corticosteroid.za/madikwe/index.html) dimana dalam situs tersebut dilaporkan bahwa “Madikwe didesain untuk menguntungkan tiga pemegang saham utama yang terlibat dalam kawasan suaka pengkonservasian itu. Mereka adalah: Manajemen dari Dewan Taman Barat Laut Afrika Selatan; sektor pariwisata swasta; dan masyarakat lokal.

Ketiganya bekerjasama dalam sebuah “Persatuan dalam konservasi dan pariwisata” yang saling menguntungkan. Buah keberhasilan dari collaborative participation tersebut antara lain dapat membayar kembali biaya pembangunan kawasan suaka margasatwa; mempertahankan infrastruktur konservasi dalam kawasan; membayar deviden kepada masyarakat untuk pengembangan regional; dan membangun kawasan konservasi yang serupa di lain tempat di Propinsi Barat Laut melalui dana konservasi”.

Ekowisata yang dikelola dengan baik dandiapresiasikan dengan antusias oleh wisatawan yang masa kini notabene mencari pengalaman berinteraksi dengan lingkungan masyarakat dan budayanya dapat mendorong dalam mengkonservasi atau memulihkan warisan budaya sebuah daerah atau komunitas. M

elalui sharing benefit yang menguntungkan masing-masing pihak (antara pengelola & swasta-masyarakat lokal-wisatawan), memicu masyarakat lokal untuk mempertahankan festival-festival budaya, tradisi atau acara-acara yang penting untuk keanekaan atraksi, dan bahkan untuk memelihara bangunan-bangunan bersejarah warisan leluhurnya.

Dampak yang signifikan dari hal tersebut adalah ketika tradisi-tradisi dan nilai-nilai lokal dipertahankan maka masyarakat semakin didorong untuk memiliki rasa kebanggaan yang lebih besar dalam komunitas/ daerah mereka.

Meningkatkan Kualitas Kehidupan Masyarakat Lokal

IUCN (1995) menggambarkan bahwa di taman nasional yang mendapat pemasukan dari dari wisatawan, tidak hanya menciptakan pekerjaan & meningkatkan pendapatan tetapi juga dapat digunakan untuk mendukung memenuhi kebutuhan masyarakat lokal yang digunakan untuk:

1)memperbaiki fasilitas komunikasi dan jalan-jalan;

2) pendidikan;

3) pelatihan; dan

4) pelayanan kesehatan.

Pengelolaan ekowisata pada kawasan taman nasional dapat dilihat sebagai cara untuk membantu masyarakat untuk mempertahankan, atau memerbaiki standar kehidupan dan kualitas kehidupan mereka. Menurut Fandeli & Nurdin pula, hal tersebut dapat diukur dan diketahui tingkat perkembangannya melalui:

1)peningkatan pendidikan;

2) pengurangan mortalitas balita;

3) pengurangan polusi air & udara;

4) peningkatan akses ke tempat-tempat wisata dan taman nasional pada bagian lainnya; dan 5) akses yang lebih baik pada jasa-jasa, seperti program untuk penerjemahan dan pendidikan lingkungan, yang juga menguntungkan masyarakat lokal.

Belajar dari contoh kasus-kasus yang ada disertai dengan prinsip pengembangan maka diharapkan pencanangan ekowisata di TNS memberi manfaat positif yang lebih besar bagi semua komponen yang terlibat dibandingkan dampak negatif (cost) yang mungkin tetap saja timbul.

Masyarakat sekitar kawasan maupun adanya komunitas yang berdiam di dalam kawasan TNS diharapkan menjadi sasaran utama pengembangan ekowisata yang dimaksud. Lingkungan alam yang merupakan wadah bagi manusia tetap haruslah diproporsikan bagi kemashalatan masyarakat, namun bukan berarti individu-individu yang memanfaatkan kawasan hutan dan atau taman nasional melalui pariwisata kehilangan kendali dalam pemanfaatannya.

Diperlukan sinergi yang simbiosis mutualisme antara manusia dan lingkungan dengan memegang teguh kode etik ekowisata di dalamnya. Kegagalan dalam memahami kelebihan dan kekurangan tiap kelompok yang terlibat dalam pengembangan ekowisata TNS pun dapat mengakibatkan tidak maksimalnya pemanfaatan potensi yang ada di taman nasional. Viva Kalteng!

Artikel ini pernah dimuat di buletin WWF Indonesia ed. Mei 2004