Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Tulisan berikut merupakan hasil catatan perjalanan Rio Setiawan Migang, saat menyelesaikan riset untuk keperluan tesisnya. Sempat tinggal di desa Pasir Panjang, Pangkalan Bun bersama Prof. Birut Galdikas dan selama sebulan di desa Teluk Pulai, Kumai yang terkesan terisolir.

'Cruising along Sekonyer River w/ Klotok' source www.elisasjourneys.com

Cruising along Sekonyer River w/ Klotok http://www.elisasjourneys.com

Apabila warga Kalteng pernah mengunjungi (berwisata) ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dan masuk melalui Kabupaten Kotawaringin Barat (Pangkalanbun), tentunya akan pernah mendengar tiga nama desa utama yang berada di dalam kawasan TN, yakni desa Sei Sekonyer, desa Teluk Pulai dan desa Sei Cabang.

Satu-satunya desa di dalam kawasan TNTP tersebut yang memiliki potensi tanah yang sangat subur dan sangat baik untuk pertanian persawahan dan perkebunan adalah di desa Teluk Pulai. Dari Kecamatan Kumai dan Pantai Kubu, desa ini hanya dapat ditempuh dengan menggunakan speedboat atau klotok saja selama ±1,5-2 jam menyusuri muara sungai ke arah Laut Jawa sehingga dengan demikian daerah desa ini mungkin termasuk dalam kawasan yang terisolir di Kalteng.

Dari aspek kesejarahan, desa Teluk Pulai sudah ada pada tahun ‘30an (dikenal pula sebagai desa Sei Kemis), jauh sebelum TN (ditetapkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa th.1982). Pada tahun 2004, berdasarkan catatan dari monografi desa tercatat terdapat 63 KK (±333 orang) dengan penduduk asli diketahui berasal dari Mendawai dan Melayu. Desa ini mengalami pasang surut jumlah penduduk karena berbagai faktor, salah satunya adalah karena friksi dan konflik internal sesama warga desa.

Pambekel desa (Hamdani,2005) mengutarakan bahwa konflik tidak pernah sampai berbuah kekerasan fisik namun dapat diselesaikan dengan baik-baik, hanya karena rata-rata tingkat pendidikan penduduknya tamat SD menyebabkan seringnya perbedaan pendapat karena kurangnya wawasan dan pengetahuan yang luas. Sebagian kecil masyarakat pendatang seperti dari Kapuas, Jawa maupun Bugis telah berasimilasi dan memiliki hubungan kekerabatan dengan warga asli.

Mata pencaharian utama penduduk dari Mendawai dan Melayu adalah melaut (nelayan) dan beternak sapi sedangkan bagi sebagian penduduk pendatang dari suku Dayak dan Jawa pada umumnya bertani ladang dan berkebun kelapa/buah-buahan. Jenis tanah aluvial yang terbentuk dari hasil endapan dan relatif subur, memungkinkan lahan desa sangat pas untuk bercocok tanam.

Kawasan desa ini menjadi sorotan banyak pihak karena dua hal 1) pernah menjadi salah satu lumbung beras terbesar bagi Kotawaringin pada tahun ’60-awal ‘70an serta panen raya pada tahun 2000an, dan; 2) konflik tapal batas dengan pihak Taman Nasional yang hingga saat ini belum diketemukan kesepakatannya dan kaitan langsung-tidak langsung dengan masalah illegal logging.

Salah satu bentuk perhatian pihak LSM dunia pada pengembangan sektor pertanian di wilayah ini adalah adanya program pendampingan dari World Education (WE) untuk turut serta menanggulangi masalah illegal logging melalui pengembangan lahan pertanian seluas lebih dari 1000ha.

Sementara terhadap konservasi fauna diwakili oleh Orang Utan Fondation (OFI) yang juga sangat concern terhadap masalah penjagaan hutan alami bagi habitat satwa endemik. Potensi yang besar di bidang tanaman pangan dan perkebunan namun di sisi lain tidak dibarengi ketersediaan SDM lokal yang baik (pendidikan, skill, pemahaman terhadap konsep baru), menyebabkan ketidakteraturan hasil pertanian secara signifikan dan lambatnya pembangunan desa.

Padahal, apabila kawasan desa ini benar-benar dipersiapkan untuk kawasan pertanian maka akan sangat memberikan kontribusi yang besar tidak hanya bagi Kobar namun berdampak positif bagi swasembada beras di Kalteng. Kesulitan yang sangat sulit untuk ditangani adalah, ketika kawasan desa ini berkembang karena pertanian tentunya akan memunculkan masalah baru yakni akan berkembang pula pembangunan fisik maupun prasarana lainnya dan hal inilah yang akan menimbulkan konflik yang semakin terbuka bagi keseimbangan konservasi kawasan TNTP.

Bagi peneliti, inti permasalahan bagi pembangunan desa ini adalah terletak pada bagaimana menyesuaikan antara prinsip pembangunan dan konservasi (matching development & conservation) sehingga menghasilkan suatu solusi yang menguntungkan bagi: pihak desa-LSM conservationist­-wisatawan TNTP-BKSDA Taman Nasional-propinsi Kalteng. Rekonsiliasi yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan agrowisata berbasis ekowisata.

Mengapa agrowisata? IUCN (1994) mengemukakan bahwa Taman nasional termasuk dalam kategori II, yakni sebagai kawasan yang diperuntukkan sebagai kawasan pelestarian namun juga dikembangkan sebagai kawasan pariwisata yang dapat menunjang sasaran pelestarian ekosistem kawasan tersebut.

Sebagai suatu sistem enclave, tentunya TNTP memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi misalnya antara lain pemenuhan kebutuhan pakan bagi satwa endemik orang utan dan lainnya, pemenuhan kebutuhan pelayanan makan minum (food & beverage) bagi wisatawan maupun peneliti yang berkunjung dan menginap, transportasi lokal dan akomodasi, kerajinan tangan sebagai souvenir, hingga jasa guide bagi wisatawan.

Pemanfaatan hasil hutan dari TNTP bagi pemenuhan kebutuhan pakan satwa maupun pangan pengunjung tentunya sangat tidak mungkin dilakukan. Namun dengan ketersediaan lahan subur yang sangat luas di kawasan Teluk Pulai, maka dengan mengintegrasikan potensi lahan yang sangat baik untuk tanaman padi, buah-buahan dan sayur-sayuran serta pemenuhan kebutuhan wisatawan.

Saat ini paradigma wisatawan yang cenderung memilih pariwisata minat khusus (lihat opini penulis mengenai ‘Pariwisata:Industri Strategis Abad 21’ KaltengPos, 8-9 September 2005) bagi kegiatan wisata ke suatu taman nasional, maka konsep pengembangan agrotourism di desa Teluk Pulai menjadi layak untuk dikaji lebih lanjut.

Rekonsiliasi antara pembangunan bagi kemakmuran masyarakat dan pengembangan ekowisata TNTP berbasis konservasi yang termanifestasi dalam wujud eco-agrowisata dapat menjadi mover factor pembangunan Kobar dan menjadi salah satu rangkaian daya tarik wisata unggulan di TNTP.

Semoga catatan singkat ini memberikan kontribusi bagi kemajuan kabupaten Kobar khususnya dan Kalteng umumnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kaltengpos, Desember 2005