Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Pada masa liburan sekolah atau hari besar, seringkali dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga lama (jauh) juga sekaligus dimanfaatkan oleh sebagian besar orang untuk berliburan-berekreasi-bertamasya.

 

Oh Rotanku | sudewiwordpress.com

Oh Rotanku | sudewiwordpress.com

Sehingga umumnya dari tahun ke tahun momen masa libur dimanfaatkan oleh pengelola destinasi (daerah tujuan wisata) populer di Indonesia sebaik mungkin untuk menggaet wisatawan untuk berkunjung ke obyek wisata andalannya.

Hal tersebut nampaknya tidak berlaku di Kalteng, ironisnya yang terjadi adalah bukannya terjadi lonjakan pengunjung (wisatawan) luar daerah yang mengunjungi obyek-obyek wisata lokal namun sebagian besar warga malah memilih pergi berlibur ke tanah Jawa dan menghabiskan banyak uang di obyek-obyek wisata yang dianggap jauh lebih baik daripada disini. Sebagai dampaknya, adalah tidak meningkatnya secara signifikan PAD dari sektor pariwisata.

Pada waktu yang lain, penulis pernah berbincang-bincang selama perjalanan Palangkaraya-Banjarmasin, dengan seorang ahli geograf Universitas Negeri Palangkaraya yang tengah menyelesaikan disertasi studi doktoralnya yang berkaitan erat dengan pariwisata. Sepanjang perjalanan, ahli tersebut mengungkapkan keluhannya mengenai minimnya ketersediaan data-data sekunder yang berkaitan dengan pasar wisatawan di kantor Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Propinsi serta mengeluh mengenai bagaimana terpuruknya perkembangan pariwisata Kalteng beberapa tahun terakhir.

Pada tulisan kali ini, penulis tidak akan membahas mengenai keterpurukan maupun kebobrokan para pengambil keputusan yang berkaitan dengan pengembangan kepariwisataan di propinsi tercinta Kalteng. Namun, penulis ingin berbagian sedikit wacana baru dan wawasan yang memiliki signifikansi kuat terhadap kemajuan pariwisata Kalteng. Pada tanggal 23 September 2005, di Yogyakarta diadakan International Bussines Workshop On Tourism dengan tema “Making the ASEAN Hip Hop Pass More Attractive for Consumers and the Travel Industry” yang diprakarsai oleh pihak MPAR UGM dengan beberapa tour operator di Indonesia.

Selain diadakan pameran produk obyek-obyek pariwisata yang meraup keuntungan transaksi perdagangan yang cukup besar, juga selama 2 hari berturut diadakan pula seminar internasional dan serah terima secara simbolis Beasiswa Puncak Prestasi Kepariwisataan dari Joop Ave Graduate Award for Exelence in Tourism Studies yang diserahkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jero Wacik. Tiga rekan lainnya yang mendapatkan anugerah scholarship adalah dari Lombok Barat, Yogyakarta dan Bali.

Pada pemaparan sesion seminar diisi oleh beberapa ahli pariwisata dengan tema besar mengenai bagaimana pemasaran sistem satu jaringan terhadap negara-negara pariwisata ASEAN yang berkaitan dalam model satu promosi, pemberian kemudahan bagi travelers mengunjungi destinasi beda negara baik dalam satu trip journey, paspor maupun jaringan penerbangan yang makin diperluas.

Luc Citrinot yang merupakan seorang konsultan/jurnalis pariwisata Thailand mengemukakan bahwa pertumbuhan pasar pariwisata negara-negara ASEAN sangat tinggi, catatan riset tahun 2004 diketahui terjadi kunjungan sebesar 44 juta orang ke Asia Tenggara dan Indonesia mengalami peningkatan jumlah kunjungan yang signifikan sebesar 19,8% (atau sebesar 5,4 juta kunjungan) walau berada jauh dengan Malaysia sebesar 55,7% (15,2 juta kunjungan). Lebih jauh W. Robin Engel mengemukakan bahwa pertumbuhan pangsa pasar ke Indonesia sebesar itu masih dapat ditingkatkan lagi dengan mestrukturisasi rute-rute domestik dan menciptakan iklim lama tinggal wisatawan (length of stay) pada satu kota menjadi minimal lebih dari dua hari.

Arah pasar wisatawan mancanegara yang cenderung lebih memilih paket wisata berbasis alam dan budaya, membuka peluang besar untuk meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke Indonesia. Menurut Engel pula, dikemukakan bahwa dengan menawarkan paket wisata liburan selama 2 minggu ke destinasi popular seperti Hongkong, Bangkok, Bali dll melalui satu brosur akan menjadi jauh lebih efektif dibandingkan pemasaran sendiri-sendiri. Salah satu pangsa pasar wisatawan yang sangat potensial untuk dikembangkan oleh Indonesia umumnya adalah pasar negara Jepang.

Pengurus anggota JATA, Tadahiko Narita mengemukakan bahwa motivasi utama berwisata wisatawan Jepang ke negara-negara ASEAN seperti Indonesia adalah memperkaya wawasan mengenai kawasan ekologis dan budaya masyarakat lokal (enriching experiences). Destinasi utama mereka ke Indonesia adalah Camp Kakap di Taman Nasional, cagar alam Thungyai-Huai Kha Khaeng di Thailand dan cagar alam orang utan dan hutan hujan tropis di Sepilok Malaysia.

Tadahiko menegaskan bahwa pendekatan untuk mendapatkan sebanyak mungkin segmen pasar Jepang adalah dengan bergabung dalam seminar maupun study tour JATA dan media, dimasukkannya obyek wisata unggulan dalam tour brochure bagi anggota, pemanfaatan website, terlibat dalam monitor tour bagi industri pariwisata dan poster display di masing-masing kantor ASEAN, NTO, airlines, hotel-hotel di Jepang dan anggota JATA lainnya.

Dikatakan pula bahwa perubahan isu global yang cenderung pada kesadaran pemulihan alam lingkungan alamiah hutan, membuka peluang seluas-luasnya bagi konsep pariwisata ekologis di negara-negara berkembang menjadi semakin mengedepan. Selain itu, efek dari liberalisasi dan media internet yang mempersempit batas mengakibatkan destinasi-destinasi wisata yang bergerak lambat karena gaptek (gagap teknologi) dan kekurangan sumber daya manusia dengan kemampuan tinggi dapat tersingkir dengan cepat.

Kritik Terhadap Pengembangan Pariwisata Kalteng

Ketika membicarakan mengenai pariwisata, tidak hanya membicarakan masalah obyek wisata ini menarik atau tidak, tidak hanya sedang membicarakan fasilitas wisata apa yang kurang, sudah punya pintu gerbang dan loket untuk menarik retribusi pengunjung atau belum, tidak hanya membicarakan laporan rencana induk pengembangan obyek wisata di kabupaten ini dan kabupaten itu sudah selesai atau belum dikerjakan.

Tapi ketika membicarakan pariwisata sebenarnya kita sedang berbicara tentang suatu sistem global yang lintas sektoral dan tidak dibatasi oleh wilayah administratif, obyek wisata merupakan suatu produk konsumsi wisatawan yang bersifat tidak habis pakai dan tidak bisa dibawa pulang karena hanya dapat dinikmati di tempat itu saja dan yang paling penting ketika membicarakan pariwisata maka aspek kesesuaian antara permintaan dan penawaran menjadi sangat penting.

Adanya wisatawan sebagai pengunjung (konsumer) yang berkunjung pada obyek wisata tertentu (produk yang dikonsumsi wisatawan tersebut) dan pengelola (penjual) suatu destinasi wisata atau obyek wisata tunggal menjadikan pengembangan suatu obyek atau destinasi wisata tidaklah semudah membuat statement kebijakan sepihak yang menyejukkan telinga.

Identifikasi secara akurat terhadap wisatawan ataupun yang potensial menjadi wisatawan, identifikasi secara akurat suatu obyek pariwisata yang meliputi atraksi (daya tarik utama), layanan penunjang yang telah ada dan sesuai untuk mendukung daya tarik utama obyek tersebut dan aksesbilitas yang memudahkan pengunjung menjangkau kawasan obyek wisata tersebut, menjadi jauh lebih penting daripada sekedar promosi melalui pencetakan brosur secara besar-besaran yang hanya menghamburkan dana karena ‘melesetnya akurasi tembakan’ segmen wisatwan yang dibidik ternyata tidak sesuai dengan aspek produk yang ditawarkan.

Ketika berbicara pengembangan kepariwisataan Kalteng, maka perhatian harus diarahkan bagaimana produk pengikat dari berbagai macam produk wisata yang ditawarkan, bagaimana-apa-siapa pasarnya, bagaimana dengan SDM pengelolanya, isu-isu penentu dalam pendekatan pengembangannya apakah berkaitan dengan lingkungan hidup, kekuatan sosial budaya lokal, bagaimana pengembangan dengan sistem satu payung, positioning produk dan pasar, bagaimana dengan sediaan SDM pariwisatanya, investasinya bagaimana, serta bagaimana penciptaan brand image utama (lihat opini penulis mengenai ‘Brand Image Promosi Pariwisata Kalteng’ KaltengPos, 11-12 Juli 2005), agar menjadikan destinasi wisata propinsi Kalteng dapat diingat dengan mudah oleh pasar hingga respon terhadap isu-isu global yang menjadi ‘pemandu’ arah pengembangan secara umum.

Masukan Terhadap Pengembangan Pariwisata Kalteng

Pembenahan terhadap produk wisata minat khusus (utamanya wisata ekologis berdimensi alam dan budaya) haruslah menjadi perhatian utama, pasar wisatawan utama mancanegera Eropa seperti USA dan Asia seperti Jepang yang sangat menyukai paket eco-tour perlu menjadi target utama bagi promosi dan pemasaran Kalteng (Kalimantan umumnya).

Kerjasama dengan propinsi lain di Kalimantan dalam menciptakan new brand image product sangat dibutuhkan saat ini dan yang paling penting adalah pemasaran sistem satu payung (bersama), selain itu pembenahan terhadap manajemen, program kerja hingga re-visi-on pariwisata oleh pihak Disparsebud TK I & II maupun kabupaten, swasta (tour operator, pengelola obyek, biro-biro perjalanan maupun investor) serta sadar wisata bagi masyarakat yang mulai harus memahami bahwa pariwisata merupakan industri strategis abad 21 (lihat opini penulis mengenai ‘Pariwisata: Industri Strategis Abad 21’ KaltengPos, 8-9 September 2005).

Pembenahan pariwisata Kalteng harus dimulai dari sekarang, pembangunan infrastruktur yang menjadi program pembangunan utama haruslah menjadi mover factor bagi pariwisata. Mari maju Kalteng!

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kaltengpos, Oktober 2005