Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW] 
Kahayan Bridge | Klinik foto kompas

Kahayan Bridge | Klinik foto kompas

Ketika melihat brosur-brosur biro perjalanan wisata internasional maka akan mudah kita temukan negara-negara penting

yang sangat dikenal karena ‘sesuatu’ yang dimilikinya, ambil contoh adalah Menara Eifel dan fashion maka kita akan ingat kota Paris, kota diatas air dengan kanal-kanal yang indah maka kita akan ingat Venice, Orchad Road di Singapura hingga Menara Petronas di Malaysia.

‘Sesuatu’ itu mungkin saja bangunan monumental bersejarah, jalan, jembatan hingga berupa alam yang indah, namun fenomena fisik yang nampak secara inderawi tersebut tentu saja ditunjang pula oleh adanya nomena yang ‘bekerja’ untuk mengangkat fenomena fisik tersebut sehingga dikenal oleh banyak orang. Nomena yang dimengerti disini adalah berupa citra dan pencitraan terhadap suatu image atau ‘sesuatu’ tersebut sehingga dapat diingat secara mudah, sehingga dalam konteks pariwisata maka pemberian ‘brand image’ berupa motto/slogan pada suatu destinasi wisata sebagai pengingat obyek atau kawasan wisata tertentu menjadi sangat penting.

Brand image yang dimiliki suatu destinasi atau kawasan maupun obyek wisata tertentu yang menjadi atribut pengenal dirinya merupakan bagian dari komponen sistem produk pariwisata yang luas. Brand image yang dimiliki tersebut dan kemudian diubah menjadi slogan atau motto pariwisata suatu tempat wisata pada umumnya didapat dari keunikan produk dan integrasi antar produk wisata (alam, budaya dan buatan) yang ada pada suatu kota atau negara tertentu. Mari kita belajar dari negara lain, Malaysia negara tetangga kita dikenal memiliki slogan “The Truly Asia” yang sangat diingat oleh turis mancanegara karena hampir selama lebih 5 tahun dipromosikan secara gencar di berbagai media wisata internasional dan elektronik (tanpa perubahan slogan sama sekali!).

Ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji pada slogan tersebut, pertama adalah secara alphabet yang ringkas dan mudah diingat, menyebut “The Truly-Asia” hampir sama lafalnya dengan menyebut kata “Mala-ysia”. Kedua, Asia memang dikenal memilki kekayaan budaya yang luar biasa sehingga ketika negara tersebut menyebut dirinya “The Truly Asia” maka secara tidak langsung tengah memploklamirkan bahwa negara inilah ‘pusatnya’ Asia. Ketiga, apabila diselidiki lebih jauh ternyata slogan dan fakta kekayaan ragam kulturnya ternyata tidak selalu sama persis karena apabila dibandingkan dengan Indonesia ragam kulturnya jauh lebih melimpah di negara kita.

Namun, mengapa pariwisata Malaysia lebih terkenal dibandingkan Indonesia secara umum (kecuali Bali)? Jawabannya adalah karena ketepatan, keakuratan dan keunikan motto pariwisata yang menunjang sistem produk pariwisatanya secara global. Di Indonesia, selama lebih 5 tahun terakhir, setiap tahunnya motto pariwisata selalu berubah-ubah karena diubah ubah. Jujur saja penulis pun tidak hapal apa saja slogan-slogan pariwisata tersebut.

Sekarang mari kita melihat dalam konteks regional Kalimantan untuk dapat menerapkan ‘ilmu singkat’ yang didapat dari pembahasan di atas. Propinsi-propinsi di Kalimantan memilki kesamaan produk wisata terutama alam dan budayanya, sehingga akan sangat riskan apabila masing-masing propinsi berjalan sendiri dalam membentuk brand imagenya. Diperlukan kerjasama dalam menetapkan dan membentuk brand image bersama yang menjadi payung pengembangan kepariwisataan di Kalimantan karena akan sangat menguntungkan dalam hal positioning pasar wisatawan, pencitraan keunikan produk dan bentuk kampanye promosi ideal bersama.

Konflik yang mungkin terjadi karena kesamaan segmen pasar wisatawan akan dapat dieliminir jikalau dalam kesepakatan tersebut sudah ada perjanjian untuk membuat produk unggulan masing-masing daerah sebagai elemen identifikasi pembeda. Adanya slogan yang tepat dari brand image unik yang dimiliki oleh semisal negara tetangga kita tersebut dapat pula diterapkan terhadap pengembangan pariwisata Kalteng khususnya. Ketepatan slogan akan sangat membantu program kampanye promosi karena hal tersebut merupakan ‘senjata’ yang sangat ideal untuk menggaet wisatawan.

Sebelum kampanye dilakukan ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam perkembangan pariwisata Kalteng;

1) obyek dan daya tarik wisata Kalteng di setiap kabupaten hingga kodya memiliki kelengkapan dalam hal ketiga macam produk wisata (alam, budaya dan buatan),

2) pasar potensial Kalteng adalah wisatawan nusantara/lokal dengan kategorisasi berwisata secara berkelompok dan keluarga serta sebagian besar dari golongan menengah ke atas (olahan Stupa,2003),

3) segmen pasar wisatawan mancanegara walaupun sangat sedikit namun dengan berkembangnya perhatian pada masalah ekoturisme di TNTP sangat potensial untuk dicermati keberadaannya, dan

4) kelengkapan layanan pendukung seperti akomodasi, transportasi, food & beverage hingga infrastruktur jalan yang sudah memadai bagi wisatawan.

Dengan tidak mempermasalahkan manajemen dan SDM yang minim di bidang pengembangan kepariwisataan Kalteng, maka kampanye promosi dengan strategi marketing meliputi beberapa hal yakni:

1) pengembangan brand image bersama Kalimantan,

2) memanfaatkan promosi advertorial majalah/buletin wisata terkemuka regional seperti travel weekly dan Indonesia travel guides,

3) pemanfaatan teknologi internet melalui emailing,

4) mengikuti road show ke negara-negara pasar kunci seperti USA dan Inggris,

5) pengembangan festival seni budaya nasional tahunan dengan target pasar wisatawan nusantara, dan

6) pemaksimalan pengembangan ekowisata atau ekoturisme di Taman Nasional Tanjung Puting dengan target pasar ecotourist, cultural tourist, backpackers tourist dan student, melalui media promosi suatu traveller book semisal World Travel Guides.

Strategi pasar di atas didasarkan atas hasil superimpose melalui teknik diagramatik product life cycle yang mengintegrasikan pasar lama, pasar baru, produk lama dan produk baru dalam kepariwisataan. Diharapkan melalui strategi promosi pariwisata Kalteng tersebut mendorong propinsi kita makin maju dan masyarakat bumi Tambun Bungai bertambah sejahtera melalui pengembangan pariwisatanya.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kaltengpos, Juli 2005