Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Meningkatnya minat motivasi menjelajah dunia baru dan kunjungan wisatawan sebagai implikasi dari meningkatnya pendapatan rata-rata penduduk dunia, ditandai dengan tingginya angka kunjungan global dan pengeluaran wisatawan dunia.


Hal tersebut dicatat oleh WTO yang menyebutkan bahwa pengeluaran wisatawan dunia/internasional pada 7 tahun yang lalu, telah mencapai jumlah hingga 698 juta orang dan mampu menciptakan pendapatan sebesar USD 476 milyar.

Kini diperkirakan telah menembus angka baru, yaitu rata-rata lebih dari 2 miliar dolar AS sehari, United Nation-World Tourism Organization (UN-WTO), dalam siaran persnya, menyebutkan jumlah total pengeluaran dari wisatawan keseluruhan tahun 2005 adalah 682 miliar dolar AS, meningkat 49 miliar dolar AS atau 3,4 persen dari tahun sebelumnya, dan kedatangan wisatawan internasional meningkat 5,6 persen yang tersebar ke berbagai belahan dunia.


Betapapun minimnya prasarana akses ke daerah terisolir namun eksotik, tidak menghalangi keinginan wisatawan dunia mengunjungi destinasi-destinasi wisata baru terutama di negara berkembang yang belum sepenuhnya tereksplorasi.


Di masa kini mengunjungi kawasan seperti perairan Raja Ampat di Irian ataupun Tanjung Puting di Kalimantan yang notabene adalah area konservasi, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dunia. Terminologi berwisata tidak lagi dimengerti sebagai kegiatan rekreasi untuk daerah/obyek yang ramai dikunjungi saja.


Berwisata telah berkembang sedemikian rupa menjadi aktivitas untuk memperkaya hidup, dimana pariwisata telah berasimilasi dengan bidang lain seperti wisata kesehatan, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata sejarah hingga wisata ziarah.


Beragamnya suku bangsa di Indonesia menjadi magnet dan menghadirkan berbagai tinggalan budaya baik yang bersifat fisik teraba dan nilai-nilai filosofis hidup yang berharga.


Kelimpahan daya tarik tersebut hadir pula pada beragamnya daya tarik wisata di bumi Tambun Bungai. Ambil contoh kelimpahan tinggalan bangunan rumah tinggal tradisional Betang atau rumah Panjang yang di beberapa tempat/daerah masih terpelihara baik. Bangunan Betang di masa lampau hadir dan berkembang seiring peradaban Dayak yang hidup sulit karena lingkungan, hutan, dan alam yang seringkali tidak ramah terhadap manusia.


Rumah Betang menjadi salah satu penanda perjalanan peradaban masyarakat Dayak, sekaligus pula menjadi point of interest bagi banyak orang termasuk wisatawan global.


Namun benarkah Betang yang eksotik tersebut telah mampu ‘memaksa’ para wisatawan untuk tidak menghindari tarikan melihat sang Betang gagah perkasa itu? Jawabnya belum! Angka kunjungan tertinggi para wisatawan ke Kalteng jelas sekali mengindikasikan bahwa aliran kunjungan umumnya masih menuju kawasan Tanjung Puting saja.


Tanyakan saja penduduk di sekitar Betang Tumbang Malahoi, Betang Tumbang Gagu, Betang Barito Hilir, dll, umumnya dijawab dengan pernyataan “yah tiga bulan yang lalu hanya 2 orang bule yang bakunjung kasini”. Pernyataan yang membuat miris dan heran melihat perbandingan pertumbuhan wisatawan dunia saat ini. Mengapa begitu? Ada apa yang terjadi? Apakah pemasaran pariwisatanya kurang gencar? Apakah promosinya kurang canggih? Apakah swasta kurang berminat mengembangkan?


Hal di atas menggambarkan bahwa berwisata menikmati arsitektur Betang di Kalteng belum menjadi inti nuklir dan pusaran arus besar bagi pariwisata Kalteng. Penduduk sekitar mengaku telah melaksanakan program perawatan dan pemeliharaan, untuk menjaga warisan budaya tersebut. Pemerintah setempat pun menyadari bahwa tinggalan seperti rumah Betang yang ada di daerahnya perlu dijaga, dirawat dan dipromosikan.


Bagi kebanyakan orang, aspek praksis dari memelihara, merawat, dan menjaga memiliki implikasi pelaksanaan yang berbeda. Merawat bisa saja diartikan tidak boleh diapa-apakan, menjaga bisa saja diartikan melihat jangan sampai ada bagian Betang yang hilang dicuri, dan memelihara bisa saja diartikan cukup potong rumputnya saja.

Program pariwisata yang sudah berjalan dan yang sudah dijalankan belum menjamin bahwa ekspektasi angka kunjungan akan meningkat.


Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kepariwisataan. Berbagai kajian menyebutkan bahwa pariwisata memiliki 4 komponen inti, yakni produk atau daya tarik, pasar dan pemasaran, amenitas berupa akses, akomodasi dan penunjang lainnya, serta investasi. Pada umumnya, kelemahan sistem pengembangan pariwisata yang ada di daerah-daerah di Indonesia adalah besarnya keinginan untuk memperkenalkan, memasarkan, dan mempromosikan produk wisatanya.


Kita tentu tak dapat memungkiri bahwa cara tersebut memang harus dilakukan, namun kita juga seringkali melupakan bahwa betapapun indahnya kemasan suatu produk tapi isi yakni produk itu sendiri jikalau adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, maka jangan heran jikalau si penerima atau penikmat produk tersebut dapat mengalami kekecewaan yang mendalam.


Kita seringkali mempromosikan suatu produk yang sebenarnya ‘biasa-biasa’ saja, namun terlanjur melakukan promosi yang agresif. Kita harus jujur mengakui bahwa Betang tidaklah semenarik Parthenon di Yunani, tidaklah seeksotis rumah Minangkabau, dan tidaklah sedahsyat misteri bangunan Kraton Jawa di Jogya. Betang sebagai salah satu daya tarik dalam ribuan kelimpahan daya tarik alam, budaya, dan buatan di Kalteng tidaklah bisa dibiarkan berdiri sendiri.


Ia harus dipadukan, diramu, dipasangkan dengan komponen produk wisata lainnya. Sebagaimana filosofi hapakat mamangun, haruyung manggetem maka penterapannya pada kontelasi manajemen pariwisata adalah dalam ujud mengkaitkan berbagai produk wisata yang ada menjadi suatu integrasi wisata tematik berjejaring. Wisatawan tidak hanya disuguhkan Betang di Barito Hilir saja, terpisah dari Tanjung Puting yang legendaris.


Wisatawan tidak cukup hanya disuguhkan 1 bundelan brosur wisata dengan spot angle olah fotografi obyek wisata yang memukau belaka. Wisatawan seharusnya memperoleh pengalaman dan penikmatan terhadap obyek-obyek yang terintegrasi dengan baik. Hal tersebut tentunya menuntut tindakan kongkrit yakni betapa pentingnya memetakan produk-produk wisata unggulan-utama Kalteng yang mewakili komponen alam, budaya, dan buatan.


Tidak semua daya tarik wisata Kalteng di 13 kabupaten dan 1 kotamadya masuk dalam kategori unggulan, harus benar-benar ada yang menjadi unggulan utama untuk mendampingi keunggulan Tanjung Puting. Jikalau hal tersebut telah ditemukan dan terangkai dengan solid, maka langkah selanjutnya adalah menciptakan branding (baca juga di tulisan sebelumnya).


Apabila kedua aspek tersebut dipenuhi terlebih dahulu, maka otomatis berimplikasi positif pada pola pemasaran yang efektif, meningkatnya angka kunjungan, dan merangsang perekonomian masyarakat melalui usaha pariwisata.


Sebagaimana dijelaskan dalam Visi, Misi, dan Program Pembangunan Kalteng 2005-2008, program bidang kepariwisataan meliputi aspek peningkatan pemasaran, peningkatan kunjungan, dan mendorong pelibatan aktif pihak swasta, ketiga aspek tersebut merupakan bagian dari program percepatan pembangunan pariwisata yang cukup signifikan.


Apabila dikaji secara mendalam, aspek yang terlupakan dan sebenarnya perlu diprioritaskan adalah aspek peningkatan kualitas produk wisata Kalteng. Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti mengetahui dan menyadari dimanakah posisi pariwisata Kalteng dalam kontelasi nasional dan global, jika Depbudpar (November, 2006) dalam Laporan Daya Saing Destinasi Pariwisata Indonesia merilis bahwa Tanjung Puting-Kalteng berada pada posisi tersier (urutan ke-22 dari 35 destinasi unggulan) di level nasional, maka dapat dibayangkan bagaimana posisi obyek wisata lainnya di Kalteng.


Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti mereposisi dan memetakan ulang daya tarik-daya tarik unggulan Kalteng. Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti mampu menciptakan image unik yang membedakan pariwisata Kalteng dengan daerah lainnya. Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti meningkatkan hingga titik teroptimal, titik terpuncak, titik terideal dengan konfigurasi produk wisata yang berdaya saing global plus beridentitas lokal yang agung.


Meningkatkan kualitas produk wisata Kalteng berarti pihak pemerintah, masyarakat, dan swasta rela berkonsolidasi, bahu membahu untuk mengerjakan visi “Membuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat”.

Salam Pembangunan Kalteng!(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kalteng Pos, September 2007)