Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Sejarah perselisihan Indonesia dengan Malaysia terbilang panjang. Selain kasus Blok Ambalat, salah satunya berkenaan dengan penggunaan lagu “Rasa Sayange” sebagai bagian dari kampanye promosi Negeri Jiran tersebut. Terang saja aksi tersebut membuat gerah masyarakat Indonesia, terutama kalangan seniman dan budayawan.

 

Great Apes from Borneo "Orangutan"

"Orangutan" Great Apes from Borneo

Uniknya, statistik menunjukkan, tanpa lagu “Rasa Sayange” itu pun pertumbuhan kunjungan pariwisata Malaysia telah mencapai angka yang spektakuler.

1. Meraih Angka Kunjungan

Pada tahun 2006, pertumbuhan kunjungan pariwisata Malaysia telah mencapai angka 11.518.288 orang (PATA, Januari—Agustus 2006). Jumlah ini meningkat pada tahun berikutnya menjadi 13.574.786 orang atau meningkat sampai 17% (PATA, Januari—Agustus 2007). Bandingkan dengan Indonesia yang hanya dikunjungi 3.355.281 orang dari 15 pintu masuk (post entry) pada tahun 2007. Jumlah itu merupakan peningkatan 13,5% dari tahun 2006 yang hanya meraup 2.955.820 orang pengunjung.

Gambaran data secara global yang dirilis oleh WTO (Organisasi Pariwisata Dunia) menyebutkan 1,3 miliar manusia lalu lalang di dunia ini (dalam rangka berwisata) setiap tahunnya, tetapi hanya 4,87 juta orang yang mampir ke Indonesia (2006). Turis asing yang datang ke Malaysia dalam rentang waktu yang sama berjumlah 17,54 juta orang (2006).

Sebagaimana data di atas, tampak perbedaan yang signifikan angka kunjungan ke Indonesia dibandingkan ke Malaysia. Tingginya angka kunjungan tersebut tentu memberikan dampak yang besar terhadap besaran pemasukan dari sisi pariwisata yang ada. Perbedaan yang besar dari angka kunjungan yang ada bagai menggambarkan bahwa Malaysia bagaikan ”gajah” sedangkan Indonesia tak ubahnya dengan ”semut”.

Padahal apabila dirunut secara geografis, justru luas wilayah Indonesialah yang bagaikan ”gajah” bagi negara sekecil Malaysia. Belum lagi apabila diukur dari melimpahnya potensi sumber daya alam dan budaya yang ada. Seni budaya yang berlimpah, ratusan ribu keanekaragaman hayati laut dan eksotisme daratan yang spektakuler dan merata di seluruh wilayah Nusantara ini menjadi core product pariwisata Indonesia.

Ditambah lagi dengan mixed product, seperti MICE, world heritage sit, culture based tourism, tropical beaches and spa, museum and galleries, adventure style holiday dan special interest, seperti ecotourism dan menjamurnya shopping mall terbaik se-Asia di Jakarta. Semua ini menunjukkan betapa beragamnya objek wisata kita.

Bandingkan dengan Malaysia. Meskipun memiliki core product yang tidak begitu berbeda dari Indonesia, di antaranya budaya Melayu dan tipologi alam, pada dasarnya sumber daya wisata di Malaysia tidaklah sebesar Indonesia. Walau demikian, Malaysia benar-benar mampu mendayagunakan dan mengoptimalisasi keterbatasan yang ada dan mencapai tingkat kunjungan wisata yang mencengangkan.

Perihal keterbatasan Indonesia dalam mengelola sumber daya pariwisata dan budayanya memang dapat diperdebatkan. Demikian pula dengan perjudian di Genting Highlands yang menjadi salah satu sumber utama perolehan devisa dan daya tarik Malaysia. Meski demikian, ada beberapa hal yang patut dikaji bersama.

2. Strategi Pemasaran yang Efektif

Dengan letak yang sangat dekat, tentulah secara umum ada kemiripan daya tarik wisata Malaysia dengan Kalimantan. Di Kalimantan, kita akan menemukan TN Tanjung Puting, TN Kutai, TN Danau Sentarum, TN Betung Karihun, berikut ikon orang utan dan burung enggan yang eksotis. Sementara di Malaysia hal serupa dapat ditemui di taman nasionalnya yang di anaranya terletak di kawasan Sepilok, Bako, Corcker Range, Gunung Mulu, maupun Kenong Rimba. Dalam hal suku-suku bangsa asli, di Malaysia ada suku Iban, Bidayuh, dan Orang Ulu. Sementara suku Dayak di bumi Kalimantan pun begitu beragam dengan kemeriahan dan keasliannya. Kemiripan lain pun bisa dengan mudah ditemukan, sebagaimana diakui sendiri oleh Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim.

Arishu (2007) mengungkapkan bahwa strategi kesuksesan Malaysia dalam menangguk wisatawan terletak pada penekanan wisata “tradisional” dan optimalnya “kendaraan” yang mereka pakai, yaitu Badan Promosi Pariwisata (Malaysia Tourism Promotion Board) secara optimal. Misi utama memasarkan Malaysia sebagai tempat tujuan wisata unggul (budaya alam) dan menjadikannya sebagai kontributor utama pembangunan sosial-ekonomi dapat dikatakan telah diperjuangkan secara konsisten.

Tujuannya, menimbulkan kesadaran global tentang budaya, atraksi, dan “keajaiban Malaysia yang unik” melalui slogan Truly Asia. Sasarannya ialah meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperpanjang waktu tinggal. Sederhana, tetapi efektif. Hasilnya, tiga per empat wisatawannya berasal dari Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, bahkan dari Indonesia!

3. Promosi Pariwisata Melalui Website

Sebagaimana dilansir pihak Depbudpar (2007), 56% wisatawan berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet. Tentu saja hal ini menandakan bahwa promosi melalui internet merupakan cara publikasi yang sangat efektif dan efisien. Oleh sebab itu, kemampuan daya tarik situs web yang didesain dan dikelola dengan baik dapat mendorong wisatawan mengunjungi destinasi tertentu. Berikut adalah tampilan tiga situs web yang menampilkan promosi pariwisatanya.

Perbandingan Web

Perbandingan 3 Website Promo Pariwisata: Malaysia, Indonesia, Kalimantan

Dalam desain grafis, ada empat prinsip utama yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan komunikasi yang efektif (http://www.tipsdesain.com/) dari sebuah karya desain semisal web. Keempatnya, meliputi (1) ruang kosong (white space); (2) kejelasan (clarity); (3) kesederhanaan (simplicity); dan (4) emphasis (point of interest). Selain itu, prinsip-prinsip dasar seni rupa berlaku pula bagi desain web yang menarik para wisatawan. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah adanya (1) kesatuan (unity); (2) keseimbangan (balance); (3) proporsi (proportion); (4) irama (rhythm) dan; (5) dominasi (domination).

Aspek detail lainnya adalah kemampuan memadukan warna dalam sebuah situs web yang mampu menciptakan impresi dan menimbulkan efek-efek tertentu. J. Linschoten dan Drs. Mansyur mengemukakan bahwa secara psikologis, warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja. Sebaliknya, warna-warna itu memengaruhi kelakuan sehingga memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang terhadap produk (wisata) yang ditawarkan.

Gambar di samping menyimpulkan beberapa perbedaan penting pengelolaan situs promosi pariwisata: Secara umum, situs pariwisata Malaysia (www.tourism.gov.my) memiliki karakteristik yang simple (sederhana), informatif, komposisi warna-foto-tulisan cukup baik, dan sebaran infromasi produk merata (tidak hanya mengandalkan satu daerah saja). Situs promosi pariwisata Indonesia (www.my-indonesia.info) dari halaman depan cukup ramai dengan grafis warna sehingga loadingnya terasa lama, komposisi foto-tulisan cukup baik walau terkesan ‘crowded’. Situs promosi pariwisata yang traffic-nya cukup tinggi milik propinsi Kalimantan Tengah (www.kalteng.go.id), nampak sekali cukup memprihatinkan, selain tidak informatif dan tidak update, kurang ada kejelasan foto-foto wisata yang digarap profesional sehingga turis tidak tertarik berkunjung.

4. Kesimpulan

Hasil studi UNDP bersama USAID meneguhkan bahwa pariwisata merupakan sektor unggulan perekonomian Indonesia dengan multiplier effect terbesar. Diperkirakan, pada 2020 perjalanan wisata dunia akan mencapai 1,6 miliar orang. Sebanyak 438 juta orang, di antaranya akan ke kawasan Asia Pasifik. Artinya, jumlah ini sungguh memungkinkan untuk membuka kesempatan kerja seluas-luasnya guna mengurangi pengangguran Indonesia yang cenderung semakin tinggi.

Namun, pada tahun 2008, Indonesia justru “hanya” menargetkan 7 juta wisatawan. Dalam hal ini, semestinya Kalimatan Tourim Board atau Konsorsium Pariwisata Kalimantan (jika konsorsium atau badan ini memang ada), setidaknya sekitar 50% dari jumlah 7 juta itu, atau 3,5 juta, semestinya bisa diarahkan sebagai wisatawan di Kalimantan. Mampukah? Tentu saja!

Hasil studi UNDP bersama USAID meneguhkan, pariwisata merupakan sektor unggulan perekonomian Indonesia dengan multiplier effect terbesar. Artinya, kesempatan kerja yang tercipta akan mengurangi pengangguran. Diperkirakan pada 2020 perjalanan wisata dunia mencapai 1,6 miliar orang, 438 juta orang di antaranya akan ke kawasan Asia Pasifik. Jikalau Indonesia menargetkan “hanya” 7 juta wisatawan pada tahun 2008, semestinya Kalimantan Tourism Board atau Konsursium Pariwisata Kalimantan (jikalau konsursium atau badan ini memang ada), paling tidak mampu pula mendatangkan kunjungan ke Kalimantan minimal 50% (±3,5 juta wisatawan) dari target kunjungan ke Indonesia. Mampu? Tentu.

Maka pilihan Kalimantan maupun Indonesia bukanlah mengganyang Malaysia karena mematenkan lagu “Rasa Sayange”, meskipun hal tersebut jelas mengganggu jati diri budaya Indonesia. Namun mengingat perkembangan pariwisata Kalimantan yang belum sepesat Malaysia, dengan jujur dan rendah hati harus diakui bahwa para pemangku kepntingan dan pelaku pariwisata di Kalimantan, dan dengan demikian di Indonesia, harus belajar dari Malaysia. Strategi promosi, pemanfaatan sumber daya wisata secara optimal, penggunaan teknologi informasi, penggunaan branding dan logo yang proporsional, dan optimalisasi sumber daya yang terbatas perlu digarap dengan baik.

Mengingat Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia, tidak berlebihan rasanya bila mengharapkan Kalimantan sebagai inovator, sekaligus penggagas utama kemajuan pariwisata Indonesia. Demikian pula halnya dengan Kalimantan Tengah yang seharusnya dapat menjadi penggerak kemajuan pariwisata Kalimantan.

Salam Pembangunan Kalteng!

Nb. Terima kasih kepada Bung Raka Sukma Kurnia yang telah meluangkan waktunya untuk mengedit tata bahasa Indonesia opini di atas.