Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Bagian 3-a

Beberapa kota di Indonesia dikenal sebagai kota dan tujuan wisata yang penting, seperti Bali, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan dan lainnya. Namun tak dapat dipungkiri, konsekuensi dari dampak pertumbuhan ekonomi suatu kota adalah kesenjangan ekonomi dalam wujud kemiskinan. Paradoks.

Merebekanya kemunculan gelandangan, pengemis, anak jalanan, pemukiman kumuh dan lainnya di area-area terbangun mengindikasikan paradoks pembangunan tersebut. Sedemikian jauh, apakah memang terdapat hubungan antara pengemis dan pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata di kota tersebut? dan sejauh manakah hubungan tersebut memiliki signifikansi penting bagi kedua pihak?

Seperti yang telah umum diketahui, apabila seorang wisatawan mancanegara atau domestik melakukan perjalanan ke suatu destinasi (tujuan wisata) yang berada di negara berkembang maka akan mudah sekali menemui kaum marginal beridentitas sebagai gelandangan pengemis/peminta-minta (gepeng), paman ogah hingga pengamen cilik yang berada di sudut-sudut jalan, terminal, bus kota hingga perempatan-perempatan lampu merah. Fenomena ini menjadi menarik apabila dilihat dalam beberapa konteks, yakni (1) aspek kenyamanan visual dan hospitality dalam wacana kepariwisataan, (2) aspek religiusitas manusia yang sesungguhnya dicipta dalam konteks keluhuran Ilahi keagamaan dan (3) aspek hukum yang mengatur masalah sosial semacam ini.

Mari kita lihat dan telaah satu persatu serta menemukan benang merah di antara ketiganya bagi kontribusi proses pembangunan kota pariwisata. Andaikan kita adalah wisatawan yang tengah bepergian dan senang menikmati suasana kota yang dikunjungi sembari berjalan kaki, tentu akan sangat menyenangkan ketika kota wisata tersebut ‘menawarkan’ ketertiban, keamanan dan kenyamanan selain visual kota yang apik. Wujudnya dapat berupa layout spasial keruangan kota yang terencana baik, kenyamanan visual dari arsitektur lokal/tinggalan sejarah yang masih terpelihara, penduduk yang ramah terhadap pendatang baru, minim penjahat jalanan seperti pencopet dan jambret serta tidak terganggu oleh ulah pengemis “berkusta” yang pura-pura tidak punya bakat lain yang lebih baik untuk keberlangsungan hidupnya.

Namun apabila wisatawan tersebut ternyata menemui keberadaan pengemis di sebuah kota wisata, maka sangat mungkin di dalam benaknya dapat diketahui dua hal sekaligus, yakni kemungkinan kegagalan dampak pariwisata setempat untuk mempengaruhi perubahan ekonomi masyarakatnya dan ‘akibat’ kegagalan tersebut adalah terciptanya image buruk kota wisata tersebut. Walaupun terlihat sepele, keberadaan gepeng utamanya dapat menjadi problema sosial yang parah, seperti sebuah tumor jinak yang seolah tidak mengganggu namun secara perlahan namun pasti dapat berkembang menjadi tumor ganas yang dikenal sebagai kanker mematikan.

Lapang pandang seperti di atas dapat saja berbeda ketika wisatawan yang notabene sekaligus pula beridentitas sebagai manusia berbibit religius memiliki kepekaan yang berbeda dengan manusia sosial lainnya. Hati nuraninya mungkin saja tertegun karena terjadi paradoks kehidupan dalam satu momen yang bersamaan. Mengapa? karena ironi kesenjangan sedang terjadi, pada satu sisi seorang wisatawan mengeluarkan dana cukup besar untuk perjalanannya namun pada sisi lain seorang ’gepeng’ sangat mungkin dalam kondisi tidak memiliki dana sama sekali pada momen yang sama.

Di dalam suatu kitab yang sangat tua yakni Taurat atau Perjanjian Lama, dapat ditemukan suatu tulisan mengenai who is man? Siapa manusia itu? Tertulis bahwa manusia dicipta sebagai perwujudan peta dan teladan Allah (man created by image of God). Hal ini memiliki signifikansi dan relevansi yang begitu penting bagi eksistensi manusia. Ketika manusia dicipta sebagai image of God (imago Dei), maka manusia menjadi cerminan dari Sang Khalik. Cerminan yang bukan dalam pengertian jasmani tetapi dalam pengertian rohani, yakni manusia seharusnya merepresentasikan sifat-sifat keagungan Ilahi paling utama seperti kesucian, keadilan dan kebenaran.

Meskipun dicipta seturut dengan citra Ilahi, namun tak mungkin manusia menjadi sama persis seperti Allah karena kedudukannya adalah sebagai ciptaan yang dicipta oleh pencipta. Pada bagian lain kitab tersebut dapat ditemukan pula bahwa di dalam awal mula penciptaan diketahui bahwa Allah Pencipta telah menanamkan suatu potensi yang dimiliki oleh setiap manusia di dunia yakni kemampuan untuk bekerja dan panggilan rohani untuk bekerja. Manusia bekerja bukan karena ia harus bekerja, namun karena di dalam naturnya ada panggilan untuk bekerja dan hidup melalui pekerjaan tersebut.

Apabila seorang manusia gagal memiliki pengertian ini maka representasi yang paling nyata adalah munculnya manusia-manusia yang lebih rendah (maaf) dari hewan, sebagai contoh adalah gelandangan dan pengemis yang menghindari tuntutan bekerja dengan potensi yang ditanam oleh Allah dalam kapasitasnya sebagai manusia ciptaan yang luhur. Bahkan pada bagian lain kitab disebutkan bahwa apabila potensi diri yang telah dikaruniakan Allah tidak dikelola dengan baik, maka manusia seperti itu harus bertanggung jawab muka dengan muka dihadapan Penciptanya.

Bersambung..