Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology

Bagian berikut merupakan terusan dari tulisan sebelumnya.

Pencapaian Makna Hidup Manusia Dayak sebagai Sumber Kebudayaan Unggulan

Tahap kesadaran tersebut di atas tidak dapat lepas dari pergumulan makna hidup orang Dayak. Lalu, apakah makna hidup orang Dayak? Jikalau makna hidup orang Dayak jelas, implikasi dan tautannya dalam kebudayaan Dayak akan lebih jelas. Pada aspek inilah akan dapat dilihat bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan Dayak sebagai garam dan terang bagi dunia.

Dooyeeweerd (dalam Lie, 2008) mengungkapkan bahwa makna hidup manusia meliputi lima belas aspek: kuantitatif, spasial, kinematik, fisik badaniah, biotik, sensori/insting, analitikal, formatif, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, etika, dan iman. Sayangnya, pendidikan modern cenderung mengarahkan manusia hanya dalam lingkup analitikal saja. Sedangkan dunia posmodern cenderung mengarahkan ke dalam aspek yang hanya bertautan dengan pengolahan permainan bahasa sebagai dasar logika (Lie 2008). Akibatnya, kecakapan hidup manusia yang luas dan limpah, tereduksi dalam beberapa aspek saja sementara aspek makna lainnya diabaikan.

Pemahaman tersebut seharusnya makin mendorong manusia Dayak sebagai penghasil dan pelaku kebudayaan ke dalam pengenalan akan diri sebagai makhluk yang dicipta, penghargaan akan semesta ciptaan, dan pemahaman akan eksistensi Tuhan menjadi suatu tujuan pencapaian final. Manusia Dayak dan kebudayaan Dayak tidak hanya hidup dalam mengejar aspek kuantitatif, spasial, kinematik, fisik dan biotik belaka. Karena kalau begitu, apa bedanya dengan kebudayaan tumbuh-tumbuhan, jikalau vegetasi memang berbudaya? Manusia Dayak dan kebudayaan Dayak juga tidak hanya berhenti sampai aspek sensori belaka karena kalau begitu akan disamaratakan dengan kehidupan kerajaan dunia hewan.

Manusia Dayak dan kebudayaan Dayak semestinya mencakup aspek kuantitatif hingga aspek pistik, di mana iman, komitmen persaudaraan, dan visi melintasi zaman ada di dalamnya. Poin inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan substansial bagi masyarakat Dayak dengan kebudayaannnya yang hidup: sudahkah makna-makna integratif hidup tersebut dikejar? Sudahkah makna hidup tersebut menjadi tujuan mulia kebudayaan Dayak?

Kebudayaan Dayak akan sangat sulit mencapai titik optimal jikalau tujuan final yang ingin dicapai tidak jelas. Ia tidak bisa ditempatkan sebagai objek mati yang tak berdaya di tengah ributnya dunia. Ia juga tidak bisa dijadikan objek hidup oleh ego segelintir manusia untuk dieksploitasi seperti memperlakukan burung peliharaan dalam sangkar. Sebab kebudayaan Dayak yang hidup di tengah berbagai subsuku bangsa Dayak di bumi Kalimantan adalah representasi hidup itu sendiri.

Integrasi Makna Hidup sebagai Tolok Ukur Keagungan Kebudayaan Dayak

Sebagai representasi hidup itu, ia harus dibiarkan melanglang mengejar makna hidupnya. Milikilah kebudayaan Dayak yang analitik dan kritis logis terhadap perubahan dunia. Tawarkan kebudayaan Dayak yang memiliki keunikan sejarah, kreativitas, dan teknologi yang bisa dibagikan bagi kebudayaan lainnya. Berbagilah makna-makna simbolik agung dan komunikasi persaudaraan budaya Dayak melalui media yang ada. Sampaikanlah dengan suara lantang bahwa interaksi sosial dan hubungan harmonis mistis Dayak penuh toleransi dan kedamaian untuk dibagikan ke dalam dunia yang penuh peperangan. Olahlah setiap sumber daya manusia Dayak yang ada melalui keahlian dan keterampilan yang terus-menerus diperbaharui. Warnailah dunia dengan keagungan seni budaya Dayak yang harmonis, misterius, namun indah. Tebarkanlah kebenaran hukum bahwa benar adalah benar dan salah adalah salah. Pancarkanlah etika Dayak melalui kehidupan penuh cinta kasih. Berkomitmenlah dan capailah visi untuk maju di antara bangsa-bangsa dunia lainnya.

Seharusnyalah manusia Dayak menghidupi dan menggapai makna di atas. Sebab ia bukanlah potongan-potongan data intelektual yang terpisah antara satu aspek dan aspek lainnya. Pereduksian atau pengurangan yang terfokus pada satu bagian saja hanya akan menimbulkan anomali kebudayaan. Sebagai penghidup kebudayaan Dayak, pancaran hidup manusia Dayak pun turut terintegrasi, tidak terpecah. Bukan hidup yang kemampuan otaknya saja yang diunggulkan sehingga estetika pemakaian baju diabaikan, bukan hidup hanya mengandalkan fisik badaniah saja sehingga hidup sosial spasial bersama menjadi renggang.

Dalam kondisi dunia yang sedemikian cepat, perlu adanya kontemplasi sejenak, waktu untuk release dan berhenti dalam perenungan melalui perjumpaan persaudaraan antarmasyarakat Dayak. Kebudayaan Dayak menjadi mainstream di sini, sebagai pengikat dari semuanya, sebagai pemersatu dan menjadi pendaya pikat bagi para Dayakers. Oleh sebab itu, rumusan kebudayaan Dayak dari bersub-sub suku bangsa Dayak di bumi Kalimantan haruslah dirumuskan lagi dalam kelahiran Pakat Dayak akbar. Pakat Dayak yang diselenggarakan di era posmodern, era di mana kecepatan pembangunan global secepat transmisi komunikasi per mili detik antar benua.

Quo vadis kebudayaan Dayak semestinya tampak dari pengejewantahan meanings of life orang Dayak, bukan lagi pergumulan mengenai being of Dayak. Menggumulkan persoalan yang sama berpuluh bahkan beratus tahun mengenai stigma negatif bahwa eksistensi jati diri Dayak adalah rendah dan primitif merupakan tindakan bunuh diri. Kebudayaan Dayak harus dibawa keluar dari persoalan stigma negatif yang tidak ada habisnya itu dengan menggunakan modal sosial dan budaya yang ada melalui pemanfaatan pariwisata untuk menghasilkan pancaran sinar yang menggarami dunia. Jati diri kedayakan dalam menggapai makna hidup tersebutlah yang akan menjadi kekuatan bagi pengembangan bidang lain, termasuk pengembangan pariwisata berkelanjutan di tanah eksotik, Borneo Island.

Pada perjumpaan tersebut, posisi kunci orang Dayak menjadi jelas untuk menentukan maju tidaknya peradaban Dayak di bumi Kalimantan, yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya Dayak dengan ilmu pengetahuan global. Walaupun memilik banyak kelemahan, berbagai redefinisi dalam dunia posmodern dalam merusak struktur berbagai sistem yang kokoh, tetap memiliki kelebihan dalam hal tertentu sehingga kebudayaan Dayak mampu memainkan peranan penting untuk didayagunakan daya pikatnya secara elegan melalui dunia pariwisata yang masyhur itu.

Pariwisata Berkelanjutan sebagai Penyampai Pesan Kebudayaan Dayak

Pada sisi lain, bagi sebagian besar orang pariwisata dianggap sebagai salah satu bagian absurd dari faktor ekonomi produsen pemasukan kas daerah. Pariwisata bahkan secara sempit masih dikaitkan dengan objek wisata tunggal yang dirancang terpisah. Pariwisata bahkan tidak lebih dikaitkan dengan kegiatan akomodasi dan makan minum dari para pendatang yang melancong ke suatu obyek wisata di Kutai, misalnya. Bahkan pariwisata dianggap sebagai musuh eksistensi bagi kebudayaan karena adanya kekuatan negatif eksploitatif berdaya destruktif dari komersialisasi berlebih terhadap adat istiadat.

Sumber daya pikat kebudayaan Dayak yang menjadi kekuatan bagi keberlangsungan pariwisata berkelanjutan minimal dapat ditinjau dari empat hal. Pertama, adakah aset sosial budaya masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat Dayak yang berlangsung secara alami dan bukan buatan artifisial seperti di TMII? Kedua, adakah aset wisata di tempat itu? Aset wisata dapat berupa hasil kebudayaan Dayak yang teraba secara fisik atau berupa nilai-nilai yang hidup dalam keseharian manusianya. Ketiga, adakah aset lingkungan, rimba Kalimantan yang melegenda tersebut, terjaga dengan baik? Keempat, adakah usaha perekonomian masyarakat lokal telah memiliki hubungan langsung dengan kegiatan pariwisata?

Di lain pihak, pariwisata telah menjadi buah bibir bagi banyak negara di dunia karena pariwisata berkelanjutan bersifat tak habis pakai dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal bagi sebuah daerah tanpa harus mengorbankan budaya lokal. Mungkinkah pariwisata menjadi alat kebaikan bagi kebudayaan Dayak? Jawabnya mungkin. Mungkinkah pariwisata menjadi alat perusak bagi kebudayaan Dayak? Jawabnya juga mungkin. Maka di tengah kemungkinan tersebut, titik sentralnya bukan hanya pada tepat atau tidak tepatnya pemilihan salah satu pilihan di atas. Sebaliknya, keberhasilan ditentukan oleh sumber daya manusia pariwisata yang terlibat di dalamnya dan model falsafah pariwisata apa yang akan diimplementasikan.

Paradigma Kebudayaan Dayak dalam Tindakan yang Komprehensif

Adakah pariwisata berkelanjutan menjadi jawaban final bagi quo vadis kebudayaan Dayak? Jawabnya belum tentu. Disini konstelasi dan jejaring unsur-unsur kebudayaan Dayak yang begitu luas, dituntut konteks dengan masalah kekinian dan ke depan. Hal tersebut tampak dalam implementasi konkrit dalam pararelisme segitiga yang terintegrasi.

Pertama, kebudayaan Dayak yang disepakati sebagai penaung bagi bidang pembangunan yang lain sebaiknya dirumuskan kembali dalam sebuah pertemuan akbar antarpemuka adat dan tokoh-tokoh Dayak dalam forum persaudaran bersama dengan agenda yang akan disepakati, untuk membangun serta mengingatkan kembali jitidiri kedayakan bagi pemuda-pemudi Dayak, lepas dari intervensi politik.

Kedua, tatanan kebudayaan Dayak tidak hanya semata-mata diposisikan ulang di antara peradaban lain, namun disepakati pilar utama serta pagar-pagar pembatasnya sehingga memiliki visi melampaui waktu berkaitan dengan ekologi, adat, konservasi warisan nenek moyang hingga pemanfaatan pariwisata budaya dan ekologi sebagai salah satu bidang pembangunan yang penting.

Ketiga, konsistensi pembangunan melalui kebudayaan Dayak tidak dapat dilepaskan dari peran manusia Dayak dan pemikirannya yang mampu menembus batasan-batasan persepsi negatif, yang dibuat serta dirancang untuk mengkerangkeng peradaban Dayak. Setiap manusia Dayak melalui media yang efektif dengan perantaran teknologi informasi termutakhir didorong untuk menggali, mendayagunakan potensinya secara optimal.

Penutup: Qou Vadis Kebudayaan Dayak

Pada mulanya, melalui pemahaman akan creation meaning, muncul pemuda-pemudi, pemimpin-pemimpin besar Dayak berjati diri kebudayaan Dayak yang sejati yang akan memengaruhi dunia dan peradaban-peradaban tertinggi pada zaman ultramodern kini hingga yang akan datang.