Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Tentu tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan real estate yang menjual produk perumahan bertemakan green architecture, dihargai cukup mahal dibandingkan jenis hunian yang tidak memberi label green pada produknya. Konsep green seolah menjadi obat terapi yang mahal di tengah kalutnya isu mengenai global warming.

TMTC Jakarta \ Arsitek Rizal Muslimin 'urbane'

TMTC Jakarta | Arsitek Rizal Muslimin | Urbane

Tidak salah memang, konsekuensi kecerobohan manusia yang mengabaikan alam memang seharusnya ditebus mahal. Kolektivitas perilaku dosa manusia terhadap alam harus ditanggung bersama. Jikalau dampak negatifnya dicerca sebagai ketidakadilan alam, maka tentu tidak salah jikalau Tuhan membiarkan alam makin beringas mengadili manusia. Mencerca alam dan Pencipta seharusnyalah diganti dengan mengobati alam dan mensyukuri bencana yang terlanjur menimpa.

Setiap bencana dan kesusahan selalu melahirkan peluang emas. Bencana global warming melahirkan emas yang bernama green therapy. Bagi bisnisman arsitektur avant garde, inilah momentum penciptaan new style of architecture yang berawal mula dari pergulatan filolosofis. Bagi para conservationist yang dituduh sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi kapitalis, inilah saatnya menegakkan “ekologi adalah panglima”.

Pada tataran paradigma, memang sangat sulit menyandingkan usaha ekonomi dan usaha ekologi. Hal itu tidak lepas dari perbedaan substansial keduanya, karena yang satu mengandung unsur eksploitasi, sedangkan satunya lagi mengandung unsur pelestarian. Hingga saat ini memang terus dilakukan upaya untuk mencari jalan tengah dari pertentangan dua terminologi di atas, mencari keseimbangan yang tepat di antara keduanya, walau harus disadari bahwa jalan tengah adalah area paling berbahaya karena sifatnya yang rapuh serta beresiko.

Pelaku arsitektur terus melakukan upaya penyeimbangan tersebut. Satu sisi pembangunan perumahan maupun highrise harus terus dilanjutkan, sementara di sisi lain solusi desain untuk mensubtitusi pengubahan alam alami ke alam buatan baru harus diselaraskan dengan greenery. Dilihat dari kacamata keindahan, hal tersebut nampaknya berhasil. Namun ketika diganti dengan kacamata satelit, tentu saja kita akan terpengarah. Bumi yang terbuka telanjang menceritakan keluh kesahnya, “skala mikro usaha mereka memang berhasil, tapi dalam tataran yang lebih luas, kawasan kitaran pembangunan berbasis green architecture ternyata menyimpan kesalahan yang sama, lupa bumi hanya ingat diri sendiri”.

Berbisinis dengan alam memang tidak mudah, alam memiliki perilaku dan pola yang unik. Tidak mungkin seorang perencana hanya berpikir perencanaan temporal kawasan yang akan dibangun, tapi melupakan realitas sekitarnya. Contoh, Arsitektur rumah sakit yang megah dengan landscape hijau yang luas dan system pengolahan limbah yang canggih tidak akan ada gunanya ketika dibangun di atas kawasan urugan tinggi dan kemudian menyebabkan perumahan di sekitarnya berubah sebagai area resapan banjir.

Jikalau demikian haruskah pelaku bisnis arsitektur mengambil sikap apatis? Jawabnya tidak. Karena pembangunan merupakan mandat luhur yang selaras dengan mandat bekerja sebagai perintah surgawi sejak awal penciptaan manusia. Mandat yang seharmoni dengan memelihara bumi yang telah dipercayakan penuh pada kita. Mandat surgawi yang didampingi dengan keadilan hati nurani dan kreativitas akal budi yang tunduk pada kebenaran.


Karang Tengah, 2009

Rio S. Migang, MSc

©Jakarta Arsimedik Studio (JAS)

www.arsimedik.com

Advertisements