Copyright: Rio S. Migang. MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Tulisan ini dimuat sebagai ujud apresiasi terhadap HUT Kota Palangka Raya ke-44 pada tanggal 17 Juni 2009. Telah dimuat di Harian Kalteng Pos (15-16 Juni 2009) dan di portal Kalimantan Tengah www.betang.com, serta situs resmi Pemprov Kalteng www.kalteng.go.id

Beauty City in Central Borneo by HeliAgus

Beauty City in Central Borneo | HeliAgus

Perlukah diadakannya suatu badan khusus yang menangani pariwisata di bumi Kalimantan? Marilah kita telaah bersama.

Di ranah nasional, Kalteng dikenal sebagai propinsi yang mempelopori Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan (FKRP2RK). Sektor unggulan dalam upaya percepatan pembangunan tersebut adalah infrastruktur. Sebagai pelopor utama forum tersebut tentu saja cerita memilukan bahwa kontribusi PRB Kalteng paling rendah dibanding ketiga propinsi lainnya, bukanlah halangan.

Di sisi lain, tidak kalah penting adalah perhatian pada sektor pariwisata.

Nilai penting sektor pariwisata disebabkan oleh dua hal, pertama angka kunjungan turis asing di tahun 2010 yang akan mencapai 1,046 milyar orang (WTO, 2008). Kedua, meluasnya tren model pariwisata minat khusus di abad 21 kini, dimana unsur kelaikan infrastruktur terutama jalan yang bagus, ketersediaan hotel berbintang, hingga pelayanan ala amerika, menjadi tidak begitu penting bagi para turis tersebut.

Kalimantan Tengah dikenal sebagai surganya pariwisata minat khusus. Ekowisata (ecotourism) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Taman Nasional Sebangau, TN. Bukit Baka di Kotim, TN. Bukit Raya dengan Danau Sembuluhnya di Seruyan serta yang tersebar di beberapa kabupaten lainnya, menunjukkan kelimpahan sediaan atraksi pariwisata minat khusus yang mengandung unsur edukasi (educative tourism) dan petualangan alam (adventure tourism) dengan imbuhan susur sungai atau arung riam.


Belum lagi eksistensi wisata budaya (culture tourism) seperti atraktifnya adat Tiwah, Wara atau Ijambe yang notabene tidak lepas dari model wisata religi (pilgrim tourism). Keberadaan kota tua Pahandut lengkap dengan jembatan Kahayan merupakan bukti nyata adanya unsur wisata kota (urban tourism) yang tidak lepas dari jejaring wisata kuliner (culinary tourism) dengan menu khas ikan jelawat, tapah, patin, papuyu, yang tersaji di sepanjang koridor kota Palangka Raya.


Betang Konut di Murung Raya, Betang Rangan Rondan di Katingan Hilir, Betang Damang Batu di Tumbang Anoi serta peninggalan sapundu merupakan fakta tersedianya elemen wisata arkeologis (archeo tourism) yang merupakan bagian dari pariwisata minat khusus.


Dokumentasi terhadap 13 kabupaten 1 kota

Kegiatan dokumentasi foto terhadap atraksi dan obyek wisata yang tersebar di 13 kabupaten dan 1 kota di propinsi Kalimantan Tengah mungkin pernah dilakukan. Namun pertanyaanya, sudahkah hasil dokumentasi tersebut terpublikasi melalui media cyber space secara tersruktur dan tersistematis?

Di dunia high modern saat ini, diperkirakan sekitar 1,463 milyar penduduk (www.internetworldstats.com, 2007) yang memanfaatkan internet sebagai bahan gali informasi mereka, dan setiap tahun prosentase pemakai naik 305,5%/tahun. Tren mencari informasi di abad 21 adalah terhubungnya individu-individu melalui media maya. Disinilah kunci rahasia promosi pariwisata yang kuat seharusnya mendapat perhatian lebih.


Hasil dokumentasi tentu saja tidak melulu harus dalam bentuk cetakan semacam brosur atau pamflet yang menyerap ongkos tinggi. Dokumentasi foto yang professional apabila dikelola dengan perpaduan tawaran paket perjalanan wisata antar daerah lengkap dengan peta wisata serta informasi penunjang lainnya yang dikelola di suatu website khusus, tentu saja akan mampu menanggulangi kecerdikan Malaysia yang selama ini mengaku-ngaku aslinya asia (melalui slogan Truly Asia).


Pembuatan website pariwisata tidaklah mahal. Bahkan, beberapa konsultan jasa pembuatan website yang pernah saya temui mengemukakan bahwa, seorang awam sekalipun mampu membuat sendiri tanpa harus mempelajari secara khusus bahasa pemrograman yang rumit seperti HTML, PHP, CSS dan Javascript. Sungguh menarik!


Website Pariwisata Kalteng
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI merilis hasil riset bahwa 56% turis yang berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet (Depbudpar, 2007). Bayangkan jika 1% saja dari 1,046 milyar turis yang memiliki interes tinggi terhadap pariwisata minat khusus, tengah melongok di depan search engine semisal yahoo atau google dan mengetikkan kata kunci semisal special interest, atau ecotourism atau yang lebih spesifik seperti Dayak Borneo atau orangutan, maka besar kemungkinan 10,460 juta calon turis yang akan mempertimbangkan kunjungannya ke Kalimantan Tengah.


Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Pada beberapa kali kesempatan penulis mencoba menggunakan teknik gali informasi wisata melalui internet tersebut. Hasilnya? Pertama, selalu berujung ke website miliknya Malaysia, kedua selalu berujung ketidakjelasan informasi apabila masuk melalui “pintu” website dengan trafik yang sangat tinggi seperti http://www.kalteng.go.id.


Akibatnya fatal. Sebagai turis asing yang awam, tentu saja tawaran website pariwisata negara lain yang mengaku-ngaku bahwa Dayak asli dan orangutan asli ada di daerah mereka, akan sangat menggiurkan. Padahal begitu tiba dan dikunjungi ternyata yang dinikmati adalah orang yang berbaju dan bermodel gaya orang Dayak. Pariwisata artifisial istilahnya. Begitu pula khusus orang utan, jelas sekali tercatat bahwa populasi orang utan terbesar berada di Kalimantan Tengah (CoP dalam Kompas, 14 Mei 2009). Namun akibat lemahnya daya saing promosi melalui media internet, maka jutaan turis yang seharusnya mengunjungi Kalimantan Tengah, tersesat ke negeri lain.


Peran sentral Badan Pariwisata
Beberapa destinasi di Indonesia memiliki Badan Pariwisata yang merupakan otorita di bawah kerjasama pemerintah dan swasta. Ambil contoh, Badan Pariwisata Batam ataupun Bali Tourism Board (BTB), yang memiliki kewenangan dalam mengupayakan percepatan pembangunan pariwisata di daerahnya masing-masing. Peran sentral suatu Badan Pariwisata adalah yang menjembatani kebijakan pemerintah di bidang pariwisata dengan aspirasi kalangan industri pariwisata. Badan ini berfungsi untuk membantu promosi dan pengembangan pariwisata baik di tingkat regional bahkan nasional.


Bagi Kalimantan yang keempat propinsinya memiliki kemiripan daya tarik, kendala serta permasalahan yang mirip, maka tentu saja model pembangunan pariwisata yang bersifat co-operative di antara propinsi Kalteng, Kaltim, Kalteng, Kalbar akan sangat efektif dan bernilai penting. Disini, ujud yang paling ideal dalam bentuk konsorsium bersama di wadah Kalimantan Tourism Board (KTB).


Menilik dari kekhasan perkembangan pariwisata di Kalimantan, maka KTB akan cenderung nantinya diarahkan pada misi sebagai berikut: (1) Membangun branding bersama untuk membangun kesadaran global tentang budaya, atraksi dan keajaiban Kalimantan yang unik; (2) Membangun komunikasi lintas sektor dan bidang di lintas propinsi, dengan misi utama memasarkan dan mempromosikan Kalimantan sebagai tempat wisata unggulan; (3) Meriset dan mengidentifikasi secara akurat terhadap aspek pasar wisata dan produk wisata secara seimbang (balancing between supply & demand); (4) Mereposisi pariwisata Kalimantan dalam kontelasi nasional dan internasional; (5) Menstrukturisasi rute-rute domestik (one trip journey) dan menciptakan iklim lama tinggal wisatawan (length of stay); (6) Merangsang investor raksasa di sektor pariwisata untuk menanamkan modalnya; dan (7) Menjaga dan saling mengawasi kualitas atraksi (alam dan budaya).


Kesimpulan
Nilai penting Badan Pariwisata Kalimantan atau Kalimantan Tourism Board (KTB) minimal telah terwujudnyatakan melalui pemanfaatan promosi teknologi informasi internet yang diaplikasikan sesegera mungkin, serta kontribusi sumber daya manusia pariwisata (human tourism), yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan Kalimantan dan negara Indonesia. Dimana, Kalteng seharusnya menjadi pelopor terhadap gagasan badan ini.


*Rio Migang adalah seorang pengamat pariwisata Kalteng, anggota BPP IAI Nasional, pendiri Jakarta Arsimedik Studio (JAS).