Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]
(Artikel ini telah dimuat di Harian KaltengPos, 18-19 Februari 2010).
Melvin | by NN

Peneliti Melvin & Borneo Great Apes

Indonesia, terutama Kalimantan sepatutnya berbangga. Dikaruniakan dengan bentang sungai nan indah, eksotisnya budaya Dayak, berbagai kekayaan hutan alam yang secara kolektif dikenal pula sebagai destinasi paru-paru dunia.

Bumi Kalimantan memiliki berbagai jenis kandungan emas, diantaranya yang sangat dikenal adalah Emas Hitam, yakni minyak bumi dan batubara, serta Logam Emas, yang dikenal luas sebagai bahan untuk perhiasan dan investasi.

Sebagaimana diketahui, kedua jenis emas tersebutlah yang menjadi topangan atau sumber penghasilan bagi sebagian besar penduduk Kalimantan saat ini, dan merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah.

Kedua jenis emas tersebut memiliki sifat yang tidak berkelanjutan, dalam arti sangat sulit untuk diperbaharui lagi karena harus melalui proses pembentukan dari alam yang memakan waktu sangat panjang.

Kedua jenis emas ini pun tengah mengalami sorotan tajam di tengah kalutnya isu global warming dan green world campaign. Proses pengambilannya yang secara langsung maupun tidak langsung merubah rupa bumi, membongkar area-area hijau dan menghasilkan limbah, mendorong terdegradasinya unsur-unsur lingkungan lainnya.

Emas Jenis Ketiga dari Kalimantan

Diantara lebatnya rimba belantara hutan Kalimantan, diam-diam para peneliti asing, para antropolog telah sejak lama sekali menemukan jenis emas ketiga, yang terbaharui, unik, dan bernilai tinggi investasi berkelanjutan.

Emas ini mereka kenal dengan nama The Great Apes from Borneo. Emas yang berbulu kecoklatan, hidup dan dipercaya sebagai nenek moyangnya manusia. Emas ini sangat mahal, dijaga, dipelihara, diselamatkan dari kemungkinan punah, bahkan terus diperhatikan oleh jutaan orang dari berbagai belahan dunia. Diteliti dan diklaim sebagai warisan penting milik dunia. Emas ini dikenal dengan nama Orang Utan.

Ironisnya, ketika penulis berbincang dengan beberapa orang siswa SMA yang cukup ternama di Palangka Raya, pernyataan mereka membuat kaget. Bagi mereka keberadaan Orang Utan mempermalukan diri mereka. Entah bagaimana konsepsi presuposisi yang ada dalam benak mereka, namun Emas Coklat ini dianggap sebagai bagian yang tidak patut ada di bumi Tambun Bungai. Bagi penulis, ini suatu preseden buruk, Emas Coklat milik Kalimantan yang begitu berharga dianggap sampah oleh segelintir anak muda yang kurang bersyukur terhadap anugerah alamnya.

Membangun Kesadaran Kolektif

WTO (Badan Pariwisata Dunia, 2009) menegaskan melalui laporan tahunannya bahwa angka pergerakan wisatawan dunia akan mencapai 1,046 milyar orang di medio tahun 2010. Bayangkan saja bagaimana besar potensi pemasukan yang dialami oleh negara/daerah yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri menjadi magnet untuk menyambut kunjungan ‘tsunami’ wisatawan ini.

Sekian milyar wisatawan tersebut memiliki satu mayoritas pandangan bahwa berwisata tidak lagi dalam wujud mass tourism yang mengandalkan sun, sea, and sand. Namun kini beralih ke model special tourism yang salah satu perwujudannya dikenal dengan nama Ecotourism (ekowisata). Dan Kalimantan dikenal oleh wisatawan internasional sebagai Destinasi Ekowisata yang bernilai penting (WWF Indonesia, 2008). Mewabahnya pola hidup hijau (green lifestyle), meningkatnya kemampuan finansial untuk menjelajahi dunia baru, meningkatnya kesadaran rekreasi berbasis konservasi (back to nature tourism), mendorong tingginya nilai jual destinasi-destinasi ekowisata seperti Kalimantan Tengah dengan tujuan wisata utama seperti TN Tanjung Puting, TN Sebangau, Nyaru Menteng, TN. Bukit Baka-Bukit Raya hingga rencana peningkatan status Muller-Schwaner sebagai Taman Nasional. Hal tersebut membuktikan bahwa branding pariwisata Kalimantan mulai terkristalisasi pada model utama Ekowisata. Dan ekowisata Kalimantan, tidak bisa lepas dari ikon Orang Utan sebagai magnet besar bagi terciptanya uniqueness, perbedaan tanpa banding.

Mempromosikan dengan Teknologi

Sejak tahun 97an, WTTC (Konsil Travel dan Pariwisata Dunia), memprediksikan bahwa akan ada dua sektor yang meningkat secara drastis dan bersumbangsih besar terhadap perekonomian dunia. Yakni sektor Pariwisata dan sektor Teknologi Informasi. Waktu kemudian membuktikan terealisasinya prediksi tersebut, tingginya pemakaian komputer dan teknologi internet yang penggunanya mencapai 1,463 milyar orang (InternetWorldStats.com, 2007), dengan grafik peningkatan mencapai 305% pengguna/tahun. Dimana, 56% wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah melihat-lihat melalui internet terlebih dahulu (Depbudpar, 2009), membuktikan bahwa kedua bidang ini tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya.

Efektifnya pemanfaatan teknologi internet tidak bisa diabaikan, kini dengan mudahnya orang dari berbagai belahan dunia (bahkan yang paling terpencil sekalipun), bisa mengakses, mencari tahu, menggali informasi eksotisme destinasi-destinasi ekowisata yang menarik seperti Kalimantan. Teknologi informasi ber-platform OS kini tidak hanya berbasis Java, Windows, dan Macintosh, namun kini para innovator teknologi makin memanjakan para peselancar maya dengan kemudahan akses informasi berbasis Android yang terbuka penuh (open source).

Bila pemangku kepentingan mengabaikan faktor ini, maka jangan heran melihat kunjungan dan pemasukan devisa dari pariwisata masih bisa dihitung dengan jari.

Semangat Kebersamaan Huma Betang

Menularkan semangat dan nilai budaya kebersamaan yang diadopsi dari spirit Huma Betang, telah menjadi gerakan percepatan pembangunan di masa kini. Nilai ini pun dapat dijewantahkan dalam menggalang kebersamaan percepatan pembangunan pariwisata Kalimantan untuk menempati posisi strategis di kancah internasional.

Referensi teori Borderless Tourism (pariwisata tanpa batas administratif) digabung dengan teori Joint Promotion (promosi bersama) antar propinsi se Kalimantan, secara aktual dapat diaplikasikan dengan menyelenggarakan kegiatan promosi pariwisata bersama-sama namun kegiatan event tahunannya dapat dilaksanakan secara beda waktu dan beda tempat. Ke-4 propinsi di Kalimantan yang mengandalkan event pariwisata tahunan, ada baiknya menyelenggarakan kegiatan promosi secara bersama-sama. Tanpa menghilangkan identitas dan paling tidak akan mampu membendung kegilaan pesatnya pariwisata negara tetangga semacam Malaysia dan Brunei.

Bila promosi diselenggarakan bersama, maka ada nilai lebih yang diperoleh, diantaranya terciptanya mobilisasi antar sektor dan usaha, fokus target pasar, dan progresifitas pembelajaran pariwisata bagi masyarakat sehingga mampu mendongrak multiplier effect secara simultan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab kemajuan pembangunan adalah implementasi nilai kebersamaan ini.  Sekian.