Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

(Artikel ini telah dimuat di Harian Tabengan, 3 Juli 2010 & www.kalteng.go.id)

Jembatan Gunung Mas

Keluhan utama sekaligus isu sentral dalam pengembangan kepariwisataan di Kalteng adalah minimnya infrastruktur. Realitas bahwa jalan masih banyak yang rusak, akses-akses menuju lokasi obyek wisata yang jauh, akomodasi yang belum sepenuhnya memadai di daerah-daerah, adalah kondisi konkrit tantangan di tingkat lokal.

Tantangan ini sepenuhnya dapat disikapi dengan berbagai cara, antara lain menunggu hingga semua akses jalan sempurna, membiarkan pasar wisatawan mengendalikan opini terhadap destinasi, atau mengembangkan aset atau potensi wisata yang ada dengan strategi khusus. Dan menurut analisis penulis, pilihan terbaik adalah, memposisikan lemahnya infrastruktur sebagai aset/modal wisata.

Bagaimana mengelola lemahnya sokongan infrastruktur menjadi modal utama pengembangan kepariwisataan Kalimantan? Jawabnya adalah melalui program pengembangan berbasis Ekowisata dan Adventure Tourism. Tingginya minat menjelajah alam Tanjung Puting serta taman nasional lainnya, minat menikmati wisata susur sungai Kahayan-Rungan dan kegiatan outbond serta lintas alam adalah bukti tingginya preferensi pasar wisatawan Eropa/asing dan lokal terhadap eksotisme Kalimantan.

Preferensi seperti ini adalah kekuatan yang luar biasa bagusnya. Di samping besarnya potensi lansekap hutan, bukit-bukit, sungai, orang utan dan satwa endemik  Kalimantan beserta fauna lainnya, maka image Kalimantan sebagai Destinasi Ekowisata bagaikan merupakan padanan “dua pedang sakti” yang tinggal dimanfaatkan saja.

Infrastruktur jalan tetap harus terus dibangun dan disempurnakan guna memudahkan akses wisatawan. Demikian pula memotivasi investor untuk membangun akomodasi, hotel-hotel berbintang. Bahkan dukungan pemerintahan Gubernur A. Teras Narang yang membuka keterisolasian melalui masuknya sejumlah maskapai penerbangan besar, membuktikan akan keseriusan Pemda Provinsi untuk mempercepat pembangunan.

Tolok ukur kemajuan pariwisata Kalimantan dapat dilihat dari beberapa sisi, anata lain terjawabnya pertanyaan berikut, apakah terjadi peningkatan angka kunjungan, adakah terbukanya lapangan kerja baru, adakah lingkungan turut terlestarikan dan adakah peningkatan yang signifikan bagi devisa daerah dari industri tanpa asap ini.

Bila belum terjadi perubahan yang signifikan, maka stakeholder perlu mempertimbangkan beberapa aspek strategis implementatif berikut:

1. Memelihara dan Meningkatkan Kualitas Obyek Wisata yang telah ada

Program preservasi lingkungan secara langsung telah menjadi tanggung jawab setiap sektor, tak terkecuali pariwisata. Isu pemanasan global dan green campaign menjadi tolok ukur keberhasilan pengawasan dan pemeliharaan kawasan Taman Nasional, Bukit Raya, sabuk hijau sungai, hingga lansekap hijau kota. Pemeliharaan dan peruntukan dana untuk kegiatan ini harus diberikan secara kontinu, sehingga cerita Arboretum yang nasibnya kini tak jelas tak perlu terjadi lagi.

2. Mengembangkan Paket Ekowisata & Adventure Tourism

Pengembangan alur perjalanan ini dibuat berdasarkan hasil inventarisir, seleksi, dan penghitungan daya saing destinasi sehingga dapat ditentukan trip atau jalur mana yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Paket Ekowisata yang cukup berhasil dikembangkan adalah Tanjung Puting dan Sebangau, bahkan WWF Kalteng (2008) mempublikasikan ke luar negeri bahwa Kalimantan adalah Destinasi Ekowisata unggulan di dunia. Demikian pula mengembangkan kegiatan menantang seperti off road, wisata alam, outbond bahkan memperbanyak kapal pesiar sungai hingga hotel-restoran terapung.

3. Menginventarisir Obyek Wisata dan Seni Budaya di 13 kabupaten 1 kota

Kegiatan menginventarisir yang paling sederhana adalah mengumpulkan koleksi foto seni budaya dan obyek alam dari 13 kabupaten dan 1 kota dan menyimpannya dalam bentuk digital. Hal ini akan sangat memudahkan kegiatan yang memerlukan publikasi segera. Sebaliknya, data-data kunjungan, data multiplier effect ekonomi yang rendah tidak perlu dirisaukan ataupun dimanipulasi karena hal tersebut dapat menimbulkan masalah baru. Kegiatan ini sangat berguna untuk promosi cepat melalui jejaring e-promotion yang memanfaatkan basis internet hotspot wifi, gadget, microblog (twitter, plurk, koprol, facebook) maupun open source seperti wordpress yang gratis.

4. Mengoptimalkan Website Pariwisata

Ada lebih 1,8 milyar penduduk dunia yang aktif menggunakan internet (www.internetworldstats.com, 2010) yang hampir rata-rata perharinya menggunakan dan menggali informasi melalui internet selama 6 jam. Ini potensi luar biasa besar, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI pun pernah merilis penelitian bahwa 56% wisatawan tertarik datang karena melihat website pariwisata. Selain itu, website menjadi semacam “ID card (tanda pengenal)” apakah eksistensi pariwisata suatu daerah benar-benar ada atau sedang tertidur. Sepengetahuan penulis, ketersediaan space kapling yang disediakan server www.kalteng.go.id mengindikasikan bahwa top ranking peselancar maya dalam mencari informasi tentang pariwisata Kalimantan, harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.

5. Membangun Kesadaran Pariwisata Masyarakat

22 Mei 2010 lalu, bertepatan dengan HUT Kalteng yang ke-53 diselenggarakan seminar bertema “Membangun Kesadaran Pariwisata bagi Masyarakat Kalimantan”. Salah seorang pembicara, Prof. Igde Pitana Brahmananda (Promosi Luar Negeri Kemenbudpar, 2010)) menegaskan dukungan pemerintah pusat bagi destinasi-destinasi unggulan daerah yang baru. Pun, masyarakat menjadi isu sentral karena kesenian dan hasil kebudayaan adalah milik masyarakat yang tidak sekedar menjadi tontonan wisatawan namun menjadi modal budaya dan modal sosial yang berkelanjutan. Disinilah, masyarakat digugah dan ditempatkan sebagai pelaku utama pariwisata bukan sekedar obyek tontonan.

6. Mengembangkan Jaring Promosi Bersama antar Pemprov se-Kalimantan.

UU Kepariwisataan No.10 pasal 43 membuka peluang yang sangat besar untuk dibentuknya Badan Promosi Pariwisata Daerah, yang menjadi alat sangat efektif bila disinergikan dengan strategi borderless tourism (pariwisata yang tidak terikat batas administartif) dengan mengedepankan kerjasama sinergis antara provinsi Kalteng, Kaltim, Kalbar dan Kalsel. Jaring promosi bersama ini memudahkan penetrasi ke pangsa pasar lebih luas, memiliki daya saing dan daya tawar yang lebih atraktif.

Kiranya Kalteng Jaya dan Kalimantan Sejahtera.