Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

[Artikel ini dimuat di Harian KaltengPos, 21 Sept 2010 & www.kalteng.go.id]

Kapal Wisata Sungai di Tengah Kota Palangka Raya

Bangsa Indonesia sedang dan terus menggeliat dalam pembangunan. Wacana pembangunan yang kini memanas terkait dengan rencana pemindahan ibukota ke kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berbagai artikel bahkan forum di bangku akademik membahas peluang dan tantangan pemindahan ini.

Tentu saja tulisan ini tidak dalam rangka membahas wacana tersebut, namun lebih menitikberatkan kondisi pariwisata Kalimantan yang menurut Direktur Promosi Luar Negeri Kemenbudpar RI, I Gde Pitana Brahmananda (2009) ibarat raksasa yang mulai menggeliat.

Jauh sebelum wacana pemindahan ibukota tersebut berkembang, Kalimantan telah dikenal dunia karena keberadaan hutan hujan tropisnya yang dianggap memiliki peran vital bagi pengurangan emisi karbon dan fungsi vitalnya sebagai paru-paru dunia. Kini, mata dunia pun tetap mengarah ke pulau yang posisinya tepat di jantung Indonesia ini.

Baru-baru ini (Juli, 2010), George Soros, seorang pengusaha sekaligus penasihat khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim, khusus datang dengan pesawat pribadinya ke Kalteng karena ketertarikannya berinvestasi pada rehabilitasi lahan gambut. Disela kegiatannya tersebut, tidak ketinggalan pula kegiatan wisata menjadi agenda penting dalam upaya mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang Kalimantan.

Sambutan pihak pemda lokal terhadap kedatangan tokoh ini seolah menjadi contoh konkrit pelayanan dan bentuk keramah tamahan terhadap tamu asing. Sementara itu keinginan sang tokoh untuk menikmati sensasi bermalam di atas sungai dengan kapal wisata, menyusuri kawasan desa-desa suku Dayak dan hutan yang berisi satwa endemik, menjadi semacam tolok ukur dari terjadinya perubahan consumer behaviour pattern atau pola konsumsi dari para wisatawan internasional ke jenis wisata yang lebih khusus, yakni menikmati kehidupan dan kreasi budaya (culture) dan alam asli (nature) atau ekowisata dari suatu daerah.

Di sisi lain, WWF Indonesia (2008), memang secara gencar mempublikasikan melalui media internasional bahwa Kalimantan adalah Destinasi Ekowisata terbaik di dunia. Tentu saja pamor ini tak dapat disangkal. Adanya pusat rehabilitasi terbesar Orang Utan (pongo pygmaeus) telah menjadi ikon ekowisata Kalimantan. Tingginya kunjungan wisatawan asing ke Indonesia, dimana destinasi yang menjadi tujuan utama adalah taman-taman nasional Kalimantan yang memiliki pusat reintroduksi dan penelitian bagi mamalia yang dipercaya sebagai nenek moyang manusia itu.

Kalimantan yang berpredikat sebagai Destinasi Ekowisata, telah menjadi mainstream diam-diam dalam kontelasi kepariwisataan internasional. Ia telah memikat hati para wisatawan dunia. Sayangnya, momentum ini belum dikelola dengan baik dalam bentuk promosi, pengemasan dan publikasinya oleh pemerintah setempat.

Tak hanya sampai disitu, mengacu pada inisiatif tiga negara (Indonesia, Brunai Darussalam dan Malaysia) yang sepakat mendeklarasikan Heart of Borneo (HoB) sejak tahun 2007 lalu, makin menegaskan ke dunia internasional bahwa brand image dan publikasi Kalimantan oleh pihak ketiga sebagai kawasan konservasi ekologis makin menguat. Adanya kegiatan HoB yang melibatkan secara pro aktif berbagai elemen dan sektor dalam upaya pelestarian alam, lingkungan, budaya dan mengangkat citra daerah/bangsa, disadari atau tidak, pada dasarnya telah selaras dengan tujuan kepariwisataan nasional yang tertuang di dalam pasal 4 UU Kepariwisataan No. 10 tahun 2009.

Kalimantan sebagai Destinasi Strategis Masa depan

Mengacu pada UU Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 pasal 1 mengenai kawasan strategis pariwisata, maka bila ditinjau lebih lanjut Kalimantan tepat berada pada posisi kawasan yang dinilai mempunyai pengaruh penting bagi dunia internasional terutama pada aspek pemberdayaan sumber daya alami, daya dukung lingkungan hidup, sosial dan budaya. Nilai penting dan nilai strategis inilah yang memposisikan Kalimantan lebih condong sebagai satu kesatuan destinasi wisata, bukan sekedar destinasi parsial yang dibatasi wilayah administratif.

Kesatuan destinasi wisata ini seharusnya ditandai dengan adanya perencanaan lintas wilayah atau lintas propinsi administratif. Pembangunan infrastruktur jalan lintas propinsi memang menjadi tanda kerjasama regional. Sayangnya, sektor pembangunan pariwisata Kalimantan belum direalisasikan secara konkrit di dalam Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK), yang kemudian tertuang dalam Kesepakatan Bersama Gubernur se Kalimantan mengenai usulan program pembangunan Kalimantan 2011.

Hal ini menjadi preseden buruk, tatkala Inpres No.16 tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata yang dikeluarkan 29 Desember 2005 hingga Keputusan Presiden No.38 Tahun 2005 yang mengamanatkan bahwa seluruh sektor pembangunan diarahkan untuk mendukung pembangunan pariwisata Indonesia. Demikian pula dengan mandat RPJM tahun 2004-2009 yang menjelaskan bahwa salah satu sasaran untuk meningkatkan sektor non migas adalah meningkatkan kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa daerah sekaligus negara.

UNWTO (2009), melalui rilis Tourism Highlights-nya telah memperkirakan di tahun 2010 akan tercapai target 1,046 milyar kunjungan dan ledakan turis yang ingin menjelajah berbagai destinasi wisata baru diperkirakan akan melampaui angka 1,602 milyar di tahun 2020 terutama ke kawasan Asia Pasifik  dan memproyeksikan pula bahwa ekspetasi wisatawan internasional pada wisata minat khusus dan mengunjungi kawasan eksotis berlabelkan ekowisata akan menjadi trend.

Pada poin inilah, isu krusial yang sepatutnya diperhatikan adalah, kesiapan perencanaan pariwisata Kalimantan, dukungan infrastruktur ekowisata dan tren green lifestyle pasar wisatawan internasional menjadi sangat relevan untuk dikembangkan.

George Soros menjadi proyeksi atau semacam gambaran umum tipe wisatawan internasional yang dimaksud, walaupun tujuan kunjungannya berkaitan dengan perubahan iklim dunia, namun keinginan untuk menikmati satwa endemik lokal, menikmati eksotisme hutan tropis, menikmati kuliner lokal, tinggal dan menginap di atas sungai bahkan sekedar menghirup udara murni dari pusat paru-paru dunia menjadi penanda bahwa pembangunan kepariwisataan Kalimantan sangat mendesak untuk direncanakan secara terpadu dan melalui penetapan kebijakan yang jelas.

Inilah saatnya meningkatkan kualitas pariwisata Indonesia melalui Kalimantan. Pemerintah diharapkan tidak lagi membiarkan sektor pariwisata bagai ladang emas tak bertuan.

Salam Pariwisata!

(Rio S. Migang adalah Konsultan Pariwisata & Penulis Buku “Pariwisata Kalimantan: Pemikiran & Perjalanan ke Jantung Borneo)