Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

Batu Putih di Murung Raya-Kalteng

 

Perayaan Festival Isen Mulang 2011 di Kalimantan Tengah menorehkan makna penting bagi percepatan kemajuan pariwisata Kalimantan. Pulau Kalimantan dengan luas 743.330km2 (luas negara Indonesia keseluruhan 1.919.440km2) sungguh sangat terberkati. Bandingkan luas wilayah negara Malaysia yang hanya sekitar 329.758km2. Perbandingan postur geografis saja sudah menunjukkan bahwa kita negara gemuk. Luas daratan mengandung banyak potensi pariwisata, apalagi potensi terpendam kelautan kita. Bentang alam ini ditambah pula dengan keragaman penduduknya yang penuh apresiasi akan seni budaya nusantara.

Dalam benak penulis, bila warga negara lain meneropong dari tempatnya, di lubuk hati mereka yang terdalam sangat mungkin muncul perasaan iri. Ungkapan bahwa “rumput tetangga lebih hijau”, mampu mendorong terjadinya perilaku-perilaku tak lazim, seperti peristiwa konfrontasi Malaysia ketika merebut pulau Sipadan dan Ligitan (sekitar Kaltim) beberapa waktu lalu.

Bila dianalogikan sebagai keluarga kaya, Indonesia sangat mudah untuk dijadikan subyek iri hati bangsa lain yang lebih “kecil dan kurus”. Namun, sebagai sebuah keluarga kaya, anggota-anggota keluarga dalam tubuh Indonesia berperilaku lebih tak lazim lagi. Lihat saja realitas data ini, ada jutaan wisatawan Indonesia melancong ke Malaysia setiap tahun. Berdasarkan rilis data Kemenbudpar tahun 2010, pada akhir 2009, tercatat 2,405 juta orang Indonesia berwisata (outbound traveler) ke Malaysia.

Sebaliknya arus wisatawan Malaysia ke Indonesia lebih kecil, sekitar 1,041 juta orang. Director of Tourism Malaysia di Medan, Noor Azman Samsudin bahkan menegaskan bahwa pemasok wisatawan terbesar kedua bagi Malaysia adalah dari Indonesia dan akan diperkirakan terus meningkat di tahun 2010. Apakah ini pertanda bahwa kesejahteraan warga Indonesia lebih tinggi daripada warga Malaysia ataukah karena memang daya tarik wisata di negeri jiran jauh lebih memikat dibandingkan milik sendiri?

Bila kita semua sepakat bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus pergi menghabiskan dana liburan dan berwisata untuk pergi ke negara lain yang kekayaan pariwisatanya tidak melebihi potensi kekayaan ke-4 (empat) propinsi di Kalimantan. Sedangkan bila semua menyepakati pula bahwa pariwisata Indonesia lebih lengkap, ada ragam wisata kuliner dari berbagai suku bangsa, wisata belanja yang komplit mulai dari pasar tradisional hingga mal-mal supermewah, maupun wisata lingkungan (ekowisata) terbesar membentang dari daratan Sumatera hingga Irian. Mengapa masih harus pergi mencari keluar? Hal ini sepatutnya menjadi bahan renungan kita bersama.

Beberapa waktu lalu (akhir Juli, 2010), ada kejadian menarik yang luput dari perhatian kita. George Soros, seorang pengusaha sekaligus penasihat khusus Sekjen PBB tentang perubahan iklim, beserta rombongannya khusus datang dengan pesawat pribadinya ke Kalimantan Tengah terkait kelestarian hutan dan gambut. Disela kegiatannya tersebut, tidak ketinggalan pula kegiatan wisata menjadi agenda penting tokoh tersebut. Gambaran umum tipe wisatawan internasional yang kini cenderung mengarah pada tren wisata minat khusus, terlihat jelas melalui keinginan menikmati sensasi bermalam di atas sungai dengan kapal pesiar sungai Lasang Teras Garu, menyusuri kawasan desa-desa suku Dayak, menikmati satwa endemik lokal, menikmati eksotisme hutan tropis, menikmati kuliner lokal, bahkan sekedar menghirup udara murni dari pusat paru-paru dunia, menjadi semacam sinyal bahwa satu pulau saja yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sudah mampu menjadi magnet pariwisata dan ekowisata yang sangat kuat. UNWTO tahun 2009 bahkan merilis Tourism Highlights dan memperkirakan di tahun 2010 akan tercapai target 1,046 milyar kunjungan dan ledakan wisatawan yang ingin menjelajah berbagai destinasi wisata baru, di tahun 2020 angka ini diperkirakan mencapai 1,602 milyar kunjungan terutama ke kawasan Asia Pasifik.

Selama ini kita terjebak pada paradigma bahwa bila jaringan infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, listrik, hotel belum sempurna maka tidak mungkin mengembangkan sektor kepariwisataan. Dalam konteks pengembangan untuk tipologi wisatawan psycocentris, yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya, hal tersebut mungkin benar. Namun merebaknya tren wisata minat khusus dan tipologi wisatawan allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat lokal, seharusnya membuka mata pariwisata kita akan peluang besar pengembangan kepariwisataan berbasis alam (nature) dan budaya (culture) secara terfokus.

Mengacu pada UU Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 pasal 1 mengenai kawasan strategis pariwisata, maka bila ditinjau lebih lanjut pulau Kalimantan tepat berada pada posisi kawasan yang dinilai mempunyai pengaruh penting bagi dunia internasional terutama pada aspek pemberdayaan sumber daya alami, daya dukung lingkungan hidup, sosial dan budaya. Nilai penting dan nilai strategis inilah yang memposisikan Kalimantan lebih condong sebagai satu kesatuan destinasi wisata, bukan sekedar destinasi parsial yang dibatasi wilayah administratif. Kesatuan destinasi wisata ini seharusnya ditandai dengan adanya perencanaan pariwisata lintas wilayah atau lintas propinsi administratif yang bersifat komprehensif.

Kelemahan perencanaan kepariwisataan di Indonesia adalah masih tingginya unsur perencanaan bersifat parsial kedaerahan, bukan mengedepankan perencanaan regional yang bermanfaat bagi skala lebih luas. Kita masih tertatih-tatih dengan konsep membangun fasilitas fisik obyek wisata, belum terbiasa dengan konsep membangun melalui perencanaan komprehensif terlebih dahulu. Hal ini bisa menjadi preseden buruk manakala ketika disandingkan, ternyata setiap perencanaan yang ada di masing-masing daerah belum mencerminkan keunikan (uniqueness) lokal sebagai faktor kelangkaan (scarcity) yang menjadi nilai jual tertinggi suatu destinasi pariwisata.

Bagaimana dengan Malaysia? Salah satu kelebihan mereka adalah kebersatuan dan koordinasi yang konsisten dalam menjalankan program kepariwisataan nasional. Untuk menghadapi strategi ini, tentu saja tidak perlu seluruh energi dari Aceh hingga Manokwari digalang. Cukup, bila ke-4 (empat) propinsi di Kalimantan bersatu padu dan bangkit, pariwisata Kalimantan akan menjadi epicentrum baru milik Indonesia untuk mengganyang Malaysia. Bukan melalui perang senjata dan fisik, tetapi melalui kompetisi yang cerdas!

Nb. Esai mengenai nilai penting kebersamaan 4 propinsi di Kalimantan dapat dibaca pada tautan artikel berikut: Membangun Pariwisata Kalimantan, artikel: Emas Pariwisata Kalimantan, artikel: Visit Kalimantan, Ide & Implementasi dan artikel Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah?

(* Alumni Magister Perencanaan Arsitektur & Pariwisata (MPAR) UGM Angkatan ke-2, penulis buku Pariwisata Kalimantan, official website www.inovasikreatif.com)