Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

Bila kita membaca habis karya terbaik Jacques Derrida berjudul Of Grammatology, maka kita akan segera menyadari bahwa dunia postmodern yang kita hidupi saat ini nyaris seluruhnya didikte oleh prinsip dekonstruksi Derrida.

Prinsip Derrida sebenarnya sederhana, yakni bahwa sebuah tata bahasa (grammar) memiliki kemungkinan arti (tafsir) yang banyak ragamnya. Sebuah teks bisa ditafsirkan sebebas-bebasnya tergantung subjektivitas individunya. Prinsip ini merupakan upaya rekonstruksi terus menerus (dekonstruksi) terhadap tatanan teratur modernitas. Prinsip tersebut lahir karena dua sebab, pertama, Derrida menganggap bahwa tradisi tulisan nilainya lebih tinggi dari tradisi lisan. Kedua, berangkat dari free will manusia bahwa kebebasan itu sendiri bersifat absolut. Kedua proposisi tersebut menembus dua bidang besar umat manusia, filsafat dan teologi yang kemudian mempengaruhi secara radikal postmodern worldview (semesta pandang paska modernitas) generasi-generasi saat ini.

Pada satu sisi, kebebasan melakukan multitafsir terhadap sebuah teks memang mampu memicu dan merangsang kreativitas, namun pada saat  yang bersamaan akan mengacau balaukan tatanan grammar yang sebelumnya tertib. Kini, hampir seluruh kekacauan dunia postmodern awalnya dipicu oleh pembahasan On Grammatology terhadap kebebasan absolut atas permainan makna sebuah bahasa (language game), dimana Derrida membuat suatu “aturan gila” bila satu teks boleh memiliki kemungkinan puluhan, ratusan, bahkan ribuan penafsiran berbeda. Sebuah batu, bukanlah batu bagi si B, bagi si C, bagi si D, bagi si E, dan seterusnya sehingga interpretasi terhadap satu objek benar-benar bebas dalam pengertian seliar-liarnya.

Banyak lagi contoh yang bisa diangkat, pada tingkat komunitas misalnya trend bahasa “alay” (anak layangan) yang muncul berbarengan dengan trend FB dan Twitter, bahasa prokem anak muda yang benar-benar kacau baik struktur maupun kedalaman artinya. Pada tingkatan birokrasi, contoh paling dekat saja, penetapan bupati Kotawaringin Barat yang belum beres hingga sekarang, walaupun Mahkamah Konstitusi (MK) yang merupakan lembaga tertinggi negara sudah bulat dan pasti menetapkan pasangan Bupati terpilih, namun upaya interpretasi ulang teks hukum tersebut dilakukan dengan segala cara. Begitu pula di tingkat nasional, krisis ber-Pancasila dimulai dari reinterpretasi sila-sila yang ada menjadi ragam interpretasi yang saling berbenturan.

Indonesia sebagai bangsa, sadar atau tidak sadar sudah mengadopsi dan mengimplementasikan prinsip Derrida dalam kehidupan berbangsa. Pengaburan makna dari suatu moralitas pasal undang-undang, Perda, sila Pancasila hingga ketetapan hukum oleh Konstitusi Tertinggi di negeri ini, menjadi beragam-ragam penafsiran yang betul-betul saling bertentangan.

Cobalah jeli sejenak, etos postmodern secara keseharian yang mencampuradukan dan membenturkan banyak elemen berbeda dimunculkan sangat intens melalui MTV, yang dipenuhi gambar dan warna-warni grafis yang saling bertentangan sehingga benar-benar tidak ada makna tunggal atau objektif.  Dimunculkan pula melalui film dokumenter dengan cap “true story”, padahal substansi serta alurnya berbeda total dengan true story-nya. Seperti film dari novel fiksi ilmiah Da Vinci Code yang menghebohkan dunia karena berhasil menipu banyak orang dengan cara memudarkan fakta asli dan meriilkan imajinasi menjadi “fakta” baru.

Begitu pula ‘tafsiran ulang” arti karya cipta sebuah naskah tertulis pun kini mudah ditemukan. Plagiator-plagiator ulung mengatasnamakan intelektualitas yang secara licik mengemas buku-buku lama dengan judul baru, cover baru dan atas nama pribadi seolah-olah sebagai narasumber utama, padahal ternyata isi substansinya 99,9% hak cipta orang lain. Itulah realitas kekacauan postmodern masa kini.

Kearifan Dayak menjawab

Kearifan dayak hanya bisa menjawab dinding narasi pemikiran Derrida tersebut bila melakukan satu syarat sederhana. Keluar sejenak dari persoalan being of Dayak, untuk masuk menuju meaning of Dayak life. Keluar sementara dari merumuskan identity of dayak yang tidak habis-habisnya itu, masuk menuju kristalisasi kearifan yang telah diwariskan para anchestor kita.

Tentu sudah kita pahami bersama bahwa kebudayaan Dayak tidak lepas dari tradisi lisan. Sebuah tradisi yang memungkinkan tingkat kepercayaan terhadap sesuatu hal, nyaris sama tingkatannya dengan beriman, percaya total pada sesuatu yang tidak terlihat. Ketika seorang tua sesepuh dayak bercerita (secara lisan) pada cucunya tentang dunia Sangiang, maka proses menjadi percaya itu sama pentingnya dengan cerita Sangiang itu sendiri. Pada poin ini, kita bisa melihat bahwa percaya merupakan sebuah tindakan aktif seorang Dayak. Tradisi lisanlah yang perlahan tapi pasti membentuk karakter seorang Dayak sebagai seorang yang sungguh-sungguh bisa dipercaya (Ma’anyan: tau naharap). Apa yang dikatakan konsisten dengan apa yang diperbuat sehingga dipercaya, ini kata kunci pertama kearifan Dayak.

Ketika Fridolin Ukur menjawab dan menerangkan arti kata mengayau, dalam bukunya “Tantang Jawab Suku Dayak”, jelas sama sekali tidak terbersit upaya untuk mengaburkan makna sesungguhnya dari arti kata mengayau. Mengayau (Ngaju: kayau), tetap konsisten diartikan sebagai tindakan memotong kepala manusia (terjemahan dalam bahasa Indonesia) yang jelas sebagai fakta adat dan dilakukan oleh beberapa sub suku Dayak di Kalimantan. Ini bukan masalah tidak ada kesempatan memperbaiki citra dengan cara memutarbalikkan/menafsirkan ulang arti kayau, bukan!. Tetapi kejujuran menyampaikan arti bahasa secara objektif merupakan sikap yang sangat umum dikenal di masyarakat Dayak, hal ini merupakan kata kunci kedua kearifan Dayak.

Dalam jenjang hidup seorang Dayak, ada beberapa peristiwa adat yang akan dilaluinya, sejak kelahiran, perladangan, pernikahan, hingga upacara kematian (tiwah atau ijambe). Orang dayak yang tidak menjalankan adatnya walaupun sederhana sekalipun akan disebut dia bahadat (tidak beradat), begitu pula yang melanggar adat akan diberi sanksi adat (singer) sebagai langkah bijak bermasyarakat untuk tertib harmonis. Tidak beradat bukan hanya karena belum menjalankan kewajiban tradisi, tapi lebih dikarenakan belum menjalankan keteraturan dan harmonisasi kebersamaan dengan sesamanya. Pada poin ini, hikmat kearifan Dayak dibalik pelaksanaan adat, singer maupun pali adalah wujud harmonisasi dan keteraturan, yang merupakan kata kunci ketiga.

Perhatikanlah dengan seksama: prinsip keteraturan, kejujuran secara objektif, dan kepercayaan atas konsistensi kata dengan perbuatan yang dibangun seorang generasi Dayak, memiliki beda kualitas (qualitative difference) yang jauh sekali dengan prinsip yang dibangun Derrida. Kekuatan dekonstruksi Derrida memang mampu mengubah wajah dunia saat ini, namun kekuatan kearifan Dayak melampaui dan melompati hal tersebut.

Sehingga seharusnya tanah Kalimantan mewakili generasi-generasi unggulan Indonesia yang dengan sikap Mamut Menteng (gagah berani), memberikan teladan universal bagaimana harmoni dengan sesama dan lingkungannya, teratur dan tertib tanpa harus kehilangan kreativitas, dapat dipercaya karena jujur, konsekuen tidak memultitafsirkan kata dan perilaku. Berkata tidak sebagai TIDAK dan ya sebagai YA.

*Rio S. Migang, MSc, warga Ma’anyan tinggal di Jakarta, Pengurus pleno DPP Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Principle JAS Studio|www.inovasikreatif.com

** Release soon! [seri 3] SUPREMASI KEARIFAN DAYAK: Betang untuk Mies van der Rohe