Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|

Suka ke mall atau shopping center? Bagi para shopper (pembelanja), tentu saja jawabnya suka. Bila sering ke mall apalagi di Jakarta, sesekali berhentilah sejenak pada stand-stand developer yang menjual produk perumahan dan tanyakan pada salesnya, rumah yang dijual model apa? Kebanyakan akan menjawab, rumah minimalis.

Trend istilah arsitektur minimalis yang masih melanda dunia dan Indonesia, tidak lepas dari dua tokoh utamanya, Ludwig Mies van der Rohe seorang berkebangsaan Jerman dan Le Corbuiser seorang berkebangsaan Swiss. Keduanya dianggap sebagai bapak arsitektur minimalis modern atau sering pula dikenal sebagai Fathers of Modern Style.

Bila kita merunut pada sejarah, arsitektur minimalis bukan sekedar gaya, tetapi sebuah konstruksi berpikir yang dianggap memperbaharui dan mensimplifikasi model klasik yang rumit, penuh ornamen dan dekorasi. Ditunjang penemuan teknologi bahan dan industri massal, makin menciptakan atmosfir pada fisik arsitektur yang penuh dengan kesederhanaan (simplicity) mengambil bentuk geometris dasar (elementer) dengan bahan pabrikasi, minim dekorasi (terkesan anti ornamen) serta cenderung seragam. Di kemudian hari, arsitektur disharmoni dekonstruksi postmodern muncul untuk melawan prinsip modern tersebut.

Less is More ujar Mies van der Rohe di tahun 1923 dan Maximalism Maximalismo ujar Kliczkowski di tahun 1990, seorang arsitek minimalis lainnya. Implikasi minimalisme melalui keseragaman bentuk, ditimpali bumbu “cara mudah dapat untung segera” dan kedangkalan pragmatisme, dibangunlah hunian serta bangunan yang minim logika arsitektur. Hal tersebut benar-benar mengubah wajah dunia arsitektur saat ini, paling mudah untuk diperhatikan adalah wajah kota-kota di Indonesia, fenomena pembangunan perumahan, ruko (rumah toko) dan rukan (rumah kantor). Asalkan denah kotak persegi, asal ada jendela, asal ada pintu, asal ada sirkulasi udara secukupnya, asal ada cahaya matahari masuk, asalkan cukup tersedia lahan parkir yang seringkali tanah ditutupi paving atau semen, maka disebutlah itu gaya modern minimalis.

Bagi saya, itu bukan lagi arsitektur minimalis, itu pendangkalan dan pelecehan terhadap minimalisme Rohe, Corbu, Gropius, Ando, Barragan, yang dilucuti hingga ke titik nadir bernama arsitektur asal-asalan. Perhatikan dengan seksama wajah kota-kota di Indonesia saat ini, ketiadaan penghargaan terhadap logika arsitektur diramu dengan bumbu pragmatisme melahirkan produk arsitektur “miskin”, miskin ruang terbuka hijau, miskin pohon, miskin seni dan miskin penghargaan pada manusianya sendiri.

Arsitektur Eksisten karena Manusia Dicipta

Arsitektur minimalis sendiri mengandung banyak kekurangan. Kekurangan ini dapat teridentifikasi karena arsitektur eksisten untuk manusia. Arsitektur adalah ciptaan layer ketiga, yang dicipta dari hasil karya kreasi manusia, sedangkan manusia  itu sendiri adalah ciptaan Sang Pencipta (red. memahami urut-urutan ordo tersebut sangatlah penting sehingga ketika menciptakan sesuatu karya, maka mata rantai antara Pencipta-Manusia-Alam-ciptaan kreasi manusia harus dilihat secara berkesinambungan). Untuk mengerti arsitektur yang minimal baik, maka landasan awal adalah didasari pada pemahaman akan nilai manusia yang dicipta mulia (dignity). Dalam diri manusia terdapat dimensi nurani, moralitas dan spritualitas, sifat seni (sense of art), sifat untuk mencintai sesamanya (love each other), sifat menghargai alam (respect the nature). Landasan-landasan tersebut nampaknya menjadi pedoman pengembangan Falsafah Arsitektur Betang oleh Utus Itah/Oloh Itah/Anak-anak Eson Tambun Bungai pada masa lalu, yang sebagian prinsipnya sudah dibahas pada esai sebelumnya: (1) Sebuah Koreksi untuk Asas Manfaat Bentham dan (2) Menggugat Postmodernisme Derrida.

Pada landasan penting tersebut, orang Dayak mengembangkan Rumah Betang. Rumah Betang (Rumah Panjang) atau disebut pula Lamin, merupakan cerminan fisik dari konstruksi pikir nenek moyang masyarakat Dayak.

Beyond Betang

Cukup mudah menemukan literatur cetak ataupun hasil googling internet tentang arsitektur Betang/Lamin. Pada poin ini saya tidak akan mengulang kembali apa yang ada, namun mencoba mensinergikan kristalisasi prinsip kearifan manusia Dayak, filosofi, logika arsitektur dan implikasi manifestasi fisiknya.

Sudah mahfum diketahui bahwa kaki-kaki dari Rumah Betang yang tinggi merupakan adaptasi terhadap sistem perlindungan atas serbuan dari suku lain termasuk hewan hutan. Perlindungan tersebut dilandasi sifat orang Dayak yang mewujudnyatakan cinta kasih pada keluarga besar dan sukunya dengan memproteksi kaumnya pada sebuah hunian dengan kaki tinggi. Manifestasi ini dimungkinkan pula karena teknologi bangunan masa itu bersumber dari pemanfaatan kayu besi hutan (tabalien) yang besar, awet dan sangat kuat. Prinsip ini adaptif untuk konteks tapak yang sesuai, bila masih tinggal di hutan pedalaman tentu sangat mungkin hingga masa sekarang diterapkan, namun bila sudah berada pada area perkotaan modern tentu tidak kontekstual. Itu mengapa, perubahan modernitas memiliki kekuatan peubah pada manifestasi fisiknya, namun tidak pada prinsip perlindungan dan kasih sayang terhadap kaumnya. Disini kita melihat hal yang mutlak tidak berubah, sedangkan yang tidak mutlak yakni kaki-kaki tinggi tiang Betang bisa beradaptasi dan dimanifestasikan ke bentuk yang lain. Ini pedoman pertama.

Hal kedua, bentuk geometri persegi memanjang Rumah Betang dengan skala giganya merupakan perwujudan kesederhanaan (simplicity) sekaligus wadah yang dirasa lebih tepat untuk menampung semangat kebersamaan manusia Dayak. Masyarakat dayak adalah masyarakat komunal, baik suku bangsanya Ngaju, Lawangan, Ma’anyan, Ot Danum dan seterusnya secara internal memiliki ikatan kekerabatan yang sangat dekat. Disini, sebuah hunian adalah ruang yang nyaman untuk representasi interaksi kekeluargaan, berkumpul bersama dalam skala massa. Hingga saat ini pun, secara tersirat, pola ini dipraktekkan pada rumah-rumah beton orang Dayak yang umumnya memiliki ruang tengah sangat besar agar mampu menampung puluhan bahkan ratusan orang tamu maupun kerabat. Maka hunian yang memiliki ruang utama dengan skala lebih besar dan lebih terbuka dibandingkan ruang lainnya adalah representasi dari sifat orang dayak yang suka akan kebersamaan. Ini pedoman kedua.

Sesekali ajaklah rekan, sahabat, keluarga Anda berkunjung ke Kalimantan dan menginaplah di Rumah Betang Tumbang Malahoy, ataupun Betang di lokasi lainnya (mungkin paket tour Ekowisata Kapal Pesiar Sungai dan Borneo City Tour mempermudah Anda untuk merasakan asyiknya pengalaman tinggal di Rumah Betang Dayak, info tour secara elektronik bisa dilihat di www.inovasikreatif.com/pariwisata). Anda dapat merasakan kenyamanan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Seluruhnya betul-betul terintegrasi dengan alam sekitar yang masih asri. Dalam istilah arsitektur kini, dinamakan bangunan yang berlandaskan arsitektur hijau (green architecture), jauh sebelum istilah tersebut lahir, kearifan dayak sudah mempraktekkannya. Ini pedoman ketiga.

Masyarakat Dayak tidak dikenal sebagai masyarakat pedagang, tapi lebih dikenal sebagai peladang rotasi (gilir balik) dan dalam hadat, harga diri seorang Dayak adalah tanah airnya (petak danum) bukan bangunannya. Seringkali dalam satu petak tanah, hunian rumah lebih kecil dibandingkan ruang terbukanya. Turun temurun ini membentuk sifat orang Dayak lebih menghargai alam dan tanahnya sehingga pemanfaatan tapak/lahan bangunan memiliki komposisi yang berimbang antara ruang tertutup dan ruang terbuka. Ini pedoman keempat.

Masyarakat Dayak hidup tidak sembarangan. Turun temurun masyarakat Dayak mempraktekkan hadat karena relasi kepercayaan dengan Tingang (holy bird) sebagai representasi dunia atas dan Jata (holy dragon) sebagai representasi dunia bawah. Relasi ini disimbolkan dengan sangat kental pada pemberian ornamen-ornamen bangunan, ada siluet Kepala dan Ekor Tingang di tanggar Betang. Ada pula motif ukiran Bajakah lelek (sulur-suluran), Balanga, Talewang, Tampung Penyang, Garantung, hingga siluet Batang Garing Belum. Ini bukan ornamen tempelan untuk meramaikan dekorasi eksterior interior rumah, ini manifestasi hidup orang Dayak sesungguhnya. Bagi orang Dayak, suatu simbol melalui ornamen selalu identik dengan yang disimbolkan. Sehingga dari rumah dan ornamentasi yang dipergunakan memungkinkan kita mengenal latar belakang penghuninya, baik religiositas, budaya dan filosofinya. Ornamentasi yang dipilih dan ditentukan, merefleksikan pemiliknya. Ini pedoman kelima.

Kelima pedoman tersebut mewujudnyatakan sistem logika arsitektur yang berbasiskan antroposentric approach, yakni pendekatan berpusat pada manusia dengan budayanya, bukan semata-mata berdasarkan perlawanan kebosanan terhadap gaya lama klasik yang penuh ornamen. Bukan pula semata-mata karena tuntutan teknologi pabrikasi modern. Kearifan Dayak sudah mempraktekan kelima pedoman tersebut, hanya sayang sekali saat ini interpretasi Betang dari para praktisi arsitektur kurang memperhatikan prinsip dan kaidah tersebut, dimana budayawan Dayak yang seharusnya dilibatkan (involvement) sebagai salah satu narasumber disisihkan, namun instuisi pribadi arsitek yang acapkali berbasiskan pola pikir dekonstruksi Derrida yang ceroboh, digunakan secara sukacita dan gegap gempita untuk menginterpretasi ulang kearifan Betang Dayak. Janganlah mameh ujar seorang tokoh Dayak, karena tanah Kalimantan bukan tanah yang kosong melompong tak berpenghuni.

Arsitektur Betang, bila disimpulkan, mencerminkan konstruksi berpikir kearifan Dayak yang sederhana namun berkarya seni. Istilah saya sendiri adalah, Betang is Not only Modern Minimalist and Nor Traditionalist but Completely Architecture. Seandainya Mies van der Rohe terlebih dahulu belajar pada kearifan arsitektur Betang Dayak khususnya dan arsitektur Nusantara umumnya, maka mungkin kehadiran arsitektur dekonstruksi postmodern yang melawan modernitas Rohe dkk belum tentu lahir di masa kini.

*Release soon: [seri 4] KEARIFAN DAYAK MENGINTERNASIONAL Calvin, Pendidikan Masa Kini & Generasi Utus Itah