Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|

newBagi sebagian orang, pluralitas etnis, agama, budaya hingga pandangan hidup merupakan realitas yang mungkin sangat menakutkan namun bagi yang lain merupakan mosaik kehidupan paling indah. Perbedaan dan kemajemukan di satu sisi mengandung hal-hal positif, di sisi lain dapat pula mengundang hal negatif bahkan destruktif.

Ketakutan terhadap perbedaan merupakan hal yang eksisten pada diri tiap manusia/kelompok, takut pada hal yang asing dan di luar pengetahuan atau pengalaman mampu menciptakan sikap tertutup dan penolakan (close system). Namun, sesuatu hal yang asing dapat pula menjadi pemicu keingintahuan (kuriositas), makin tinggi rasa ingin tahu tersebut, makin mudah pula ketakutan yang tak perlu tersingkir dan makin berkembang pula pengetahuan yang telah ada (open system). Hal-hal demikian kemudian dikenal sebagai bentuk dari paradoks kehidupan.

Pluralitas mencerminkan kehidupan itu sendiri, kehidupan tanpa keberagaman seumpama deretan patung mati yang dibuat sama persis, baik detil maupun bentuknya, menjadi terasa garing, kering dan membosankan. Melalui keberagaman dan kemajemukan dikenal kosakata penting, harmonisasi. Seperti musik hymne yang indah, yang lahir dari kombinasi ragam alat musik berbeda seperti orgel, biola, oboe, flute, piano, violin, trumpet, cello, contrabass hingga timpani. (Cat. untuk sekedar memperkuat pemahaman ini, cobalah sejenak Anda mendengar hymne Ode to Joy karya Ludwig van Beethoven seorang komposer tunarungu, di Youtube tersedia cuplikan video arransemen oleh Leonard Bernstein dengan Vienna Philharmonic Orchestra, terasa luar biasa indah bukan?).

Di sisi lain, pluralitas dianggap membahayakan, sehingga membuat banyak pemikir besar (great thinker)  semisal John Hick, Bapak Pluralisme Dunia, mencari jalan keluar untuk menjinakkan bahkan meniadakan bahaya tersebut. Akumulasi pemikiran tersebut kemudian memicu lahirnya paham pluralisme, era baru yang diawali dari kritik dan protes atas dominasi tunggal satu agama di Eropa, era dimana basis teorinya adalah segala sesuatunya haruslah setara, sebanding dan karenanya klaim apapun terutama tentang kebenaran hakiki tidak boleh ada yang mendominasi. Pemikiran ini bertentangan dengan fakta dunia, bahwa selalu ada ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Di kemudian hari, pluralisme makin berkembang menjadi ide universal bahwa semua pendapat adalah sama benarnya walaupun mungkin bertentangan satu dengan yang lainnya.

Kontradiksi Paham Pluralisme

Motivasi paham pluralisme memang berangkat dari niat yang baik, namun di satu sisi terkandung pula bahaya karena paham ini nyatanya memiliki kontradiksi konsep yang pada akhirnya mengupas, memangkas hal-hal yang hakiki atau fundamental dari suatu budaya, agama maupun ideologi secara perlahan menjadi kehilangan akarnya, asal-usul asalinya.

Disinilah kelemahan pluralisme memahami pluralitas itu sendiri, karena pada dirinya sendiri pluralitas melekat berbagai jatidiri yang berbeda dan berakar (fundamen) pada suatu wawasan dunia tertentu. Sedangkan pluralisme berusaha melepaskan (menguliti), mereduksi hal-hal mendasar (fundamen) menjadi dangkal (shallow) agar tidak saling berbenturan/bergesekan sehingga tercapailah suasana damai . John Hick sebagai salah seorang penggagas awal pluralisme mungkin lupa mendalami kelemahan tersebut karena tidak mungkin ada keberagaman dan perbedaan bila tiada pengenalan, penggalian ke dalam diri (radix) dan ekspresi jatidiri masing-masing budaya, agama maupun identitas etnik lainnya.

Adanya fakta pluralitas seharusnya diterima sebagai fakta kehidupan yang patut disyukuri. Dalam pluralitas melekat kebaikan sekaligus keterbahayaan, yang tidak mungkin dibuang salah satunya. Fakta sejarah dunia telah membuktikannya, contohnya ketika paham pluralisme ditanamkan, justru sebaliknya reaksi radikalisme makin kuat melawan. Di Indonesia hal ini terlihat jelas sekali, ketika nilai-nilai tentang kesetaraan dalam pluralisme ditanamkan, maka makin banyak bermunculan gerakan (movement), organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun kelompok masyarakat tertentu yang didirikan atas penonjolan satu agama, satu suku atau ras tertentu.

Pluralitas tanpa jatidiri sama dengan omong kosong. Aktualisasi identitas dan jatidiri suatu suku bangsa, agama maupun ideologi tertentu mau tak mau haruslah dihargai keberadaannya betapapun sulit menerimanya. Memberangus, membasmi bahkan membenci pluralitas bukanlah tindakan bijak. Norma-norma dalam masyarakat sipil memberikan ruang yang beradab bila ada yang tidak nyaman dengan ideologi tertentu misalnya, ruang debat terbuka luas di forum akademik maupun media lain yang disepakati bersama. Namun di atas semua hal tersebut, haruslah ada kunci pemersatu yang mampu merangkul, mengayomi dan menjawab kesulitan tersebut. Dan kunci tersebut adalah toleransi yang disepakati sebagai komitmen kesadaran global.

Filosofi Betang dan Ideologi Pancasila

Nenek moyang orang Dayak menyadari bahwa pluralitas telah hadir di keseharian mereka. Di tanah Kalimantan, ada lebih dari puluhan bahasa Dayak yang baik lafal maupun kosakatanya sangat berbeda mewakili jumlah sub suku-suku bangsanya. Ragam perbedaan ini pun diimbuhi kemajemukan suku bangsa maupun agama lainnya yang hidup berdampingan di tanah Kalimantan. Kayanya perbedaan ini kemudian melahirkan satu filsafat hidup tentang kekuatan kebersamaan yang direpresentasikan melalui falsafah Huma Betang (rumah panjang). Toleransi menjadi dasar penting dalam kebersamaan Huma Betang. Tanpa toleransi maka budaya kayau mungkin masih berlangsung hingga kini. Tanpa toleransi mungkin perang antar suku Dayak dan pendatang masih berlangsung sampai sekarang.

Falsafah Betang memiliki kedudukan penting dalam hidup masyarakat Dayak kini. Kedudukan ini tidak lepas dari life setting atau yang dalam bahasa Jerman disebut Sitz Im Lebem, dimana konteks kebudayaan dan situasi kehidupan sosial masa lampau mengkristalisasi ke dalam bentuk lisan tunggal yang dipahami bersama hingga kini dan dipegang sebagai falsafah bersama.

Legitimasi falsafah Betang kemudian dikokohkan dan dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) No.16/2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah yang pada Penjelasan Pasal 10 Ayat 2 huruf e, isinya memuat pengertian falsafah hidup Budaya Huma Betang atau Belom Bahadat sebagai berikut: adalah perilaku hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum (hukum negara, hukum adat dan hukum alam). Apabila telah  mampu melaksanakan perilaku hidup Belom Bahadat, maka akan teraktualisasi dalam wujud Belom Penyang Hinje Simpei yaitu hidup berdampingan, rukun dan damai untuk kesejahteraan bersama.

Kebebasan diikat Toleransi

Sebagai makhluk sosial, makhluk budaya dan makhluk beragama, tak mungkin kebebasan diartikan sebagai tiadanya keterikatan. Ikatan-ikatan baik berupa norma, aturan, adat (hadat) merupakan fakta bahwa kebebasan secara hakiki dimaknai sebagai sebuah bentuk kemerdekaan dalam batasan yang jelas. Kemerdekaan tanpa batasan sama dengan kebebasan yang liar, yang merusak dan yang mengacaukan  harmonisasi.

Kelompok masyarakat yang dilatarbelakangi kesamaan bahasa, asal usul, agama, ras, hingga ideologi memiliki peran penting bagi dunia. Demikian pula perbedaan antar budaya  masing-masing bangsa menjadi kunci pengasah kemajuan. Masyarakat Dayak  pun memerlukan bentuk kebebasan baik dalam hal aktualisasi budaya, berpendapat, berekspresi. Kebebasan yang dibingkai Kebhinekaan menjadi bermakna penting bagi suku bangsa lainnya bila diikat toleransi dan sikap kebersamaan hidup persaudaraan. Aspek demokrasi mengemukakan pendapat di dalam masyarakat Dayak ini dikenal sebagai budaya egaliter, budaya yang secara eksplisit mendudukkan kesetaraan dan persamaan hak berpendapat antara penguasa dan rakyat, antara kepala dan bawahan, antara  atasan dan bawahan diikat oleh rasa hormat-menghormati.

Aktualisasi diikat Persatuan

Salah satu faktor penting dari kebebasan adalah aktualisasi. Aktualisasi merupakan ekspresi jati diri yang biasanya dapat masuk ke ranah publik dalam cakupan yang luas. Contoh sederhananya semisal upacara Tiwah (upacara kematian warga Kaharingan di Kalimantan) yang terbuka untuk dijadikan sebagai bagian dari atraksi budaya lokal dan dipublikasi melalui media sebagai event pariwisata lokal. Kegiatan yang bersifat sakral dan terbatas, kemudian terbuka untuk diketahui bahkan dikonsumsi wisatawan asing merupakan fakta zaman sekarang akan aktualisasi jati diri budaya lokal adalah bagian tak terpisahkan dari dunia yang kita huni saat ini. Masalah akan muncul, manakala aktualisasi upacara semacam ini dibenturkan dengan ideologi lain yang memiliki konsep upacara kematian yang berbeda. Untuk menyelesaikan hal ini maka setiap kita harus kembali kepada fitrah bangsa ini yang mendasarkan falsafahnya pada Pancasila yang mengedepankan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu jua) dengan semangat persatuan persaudaraan sebagai bukti bahwa bangsa ini beradab.

Kearifan lokal Betang pun pada akhirnya telah memberikan warna tersendiri sekaligus satu pondasi penting bahwa hal-hal mendasar tentang kehidupan berbangsa telah tertanamkan sejak dahulu. Sebagai generasi penerus, layaklah kita memperlakukan kearifan lokal sebagai warisan emas yang patut untuk dipelihara, dijaga dan diwariskan sebagai tanggung jawab mandat budaya kita.

Sekian

Tabe