culture


Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|

newBagi sebagian orang, pluralitas etnis, agama, budaya hingga pandangan hidup merupakan realitas yang mungkin sangat menakutkan namun bagi yang lain merupakan mosaik kehidupan paling indah. Perbedaan dan kemajemukan di satu sisi mengandung hal-hal positif, di sisi lain dapat pula mengundang hal negatif bahkan destruktif.

Ketakutan terhadap perbedaan merupakan hal yang eksisten pada diri tiap manusia/kelompok, takut pada hal yang asing dan di luar pengetahuan atau pengalaman mampu menciptakan sikap tertutup dan penolakan (close system). Namun, sesuatu hal yang asing dapat pula menjadi pemicu keingintahuan (kuriositas), makin tinggi rasa ingin tahu tersebut, makin mudah pula ketakutan yang tak perlu tersingkir dan makin berkembang pula pengetahuan yang telah ada (open system). Hal-hal demikian kemudian dikenal sebagai bentuk dari paradoks kehidupan. (more…)

Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|

John Calvin[1] tidak hanya dikenal sebagai seorang tokoh besar Reformasi Gereja. Bila menelusuri jejak pemikiran dan sumbangsihnya terhadap bidang demokrasi, moral dan etika publik pada masyarakat sipil serta kehidupan berbangsa, mau tak mau kita akan terhenyak karena dari seseorang saja, dapat merangsang perubahan positif terhadap wajah dunia hingga saat ini, melampaui batas zaman, agama, ras, maupun suku bangsa. Apakah rahasianya?

Calvin yang pada usia 26 tahun sudah melahirkan Institutio[2], sebuah masterpiece zaman Renaissance, di masa abad pertengahan sekitar tahun 1500-an dimana Kekristenan berpengaruh sangat besar terhadap dunia[3]. Negara-negara reformed kala itu seperti Swiss, Swedia, Jerman, Belanda mengadopsi pemikiran Calvin seperti standar etos kerja yang tinggi, standar jasa dan produksi  benda bermutu terbaik, mendorong nilai HAM (hak asasi manusia) yang universal dan kebebasan dalam konteks demokrasi. Bahkan setelah beberapa dekade, beberapa tokoh besar cendikiawan muslim seperti Gus Dur[4], Nurcolish Madjid, Dawam Rahardjo, hingga Muhammad A.S. Hikam dalam beberapa seminar publik yang diadakan RCRS[5] di Jakarta pun mengungkapkan kekagumannya pada pemikiran Calvin.

Menelisik sistem pendidikan yang dikecap oleh generasi Calvin pada masa itu tidak hanya menekankan aspek religius saja (teologi dan doktrin), namun sengaja dirancang komprehensif mendorong generasi muda abad pertengahan untuk mempelajari ilmu-ilmu humaniora dan liberal arts yang basisnya antara lain: mathematics, science, arts, and language. Ada dua kategori pendidikan yang wajib diperdalam dan dipraktekkan sehari-hari, yakni The Trivium (grammar, logic, rethoric) dan The Quadrivium (arithmetic, astronomy, music, geometry), melalui proses pendidikan yang cukup berat tersebut, diharapkan seorang manusia dapat mencapai kualitas terbaiknya.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang to Borneo Tourism Watch |BTW|

Suka ke mall atau shopping center? Bagi para shopper (pembelanja), tentu saja jawabnya suka. Bila sering ke mall apalagi di Jakarta, sesekali berhentilah sejenak pada stand-stand developer yang menjual produk perumahan dan tanyakan pada salesnya, rumah yang dijual model apa? Kebanyakan akan menjawab, rumah minimalis.

Trend istilah arsitektur minimalis yang masih melanda dunia dan Indonesia, tidak lepas dari dua tokoh utamanya, Ludwig Mies van der Rohe seorang berkebangsaan Jerman dan Le Corbuiser seorang berkebangsaan Swiss. Keduanya dianggap sebagai bapak arsitektur minimalis modern atau sering pula dikenal sebagai Fathers of Modern Style.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

Bila kita membaca habis karya terbaik Jacques Derrida berjudul Of Grammatology, maka kita akan segera menyadari bahwa dunia postmodern yang kita hidupi saat ini nyaris seluruhnya didikte oleh prinsip dekonstruksi Derrida.

Prinsip Derrida sebenarnya sederhana, yakni bahwa sebuah tata bahasa (grammar) memiliki kemungkinan arti (tafsir) yang banyak ragamnya. Sebuah teks bisa ditafsirkan sebebas-bebasnya tergantung subjektivitas individunya. Prinsip ini merupakan upaya rekonstruksi terus menerus (dekonstruksi) terhadap tatanan teratur modernitas. Prinsip tersebut lahir karena dua sebab, pertama, Derrida menganggap bahwa tradisi tulisan nilainya lebih tinggi dari tradisi lisan. Kedua, berangkat dari free will manusia bahwa kebebasan itu sendiri bersifat absolut. Kedua proposisi tersebut menembus dua bidang besar umat manusia, filsafat dan teologi yang kemudian mempengaruhi secara radikal postmodern worldview (semesta pandang paska modernitas) generasi-generasi saat ini.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

Bila Anda berkesempatan berjalan-jalan keluar negeri, mampirlah sejenak ke toko-toko buku disana, biasanya dengan mudah Anda akan menemukan ratusan buku tentang paham utilitarianisme.

Utilitarianisme atau diterjemahkan sebagai asas manfaat, merupakan produk pemikiran barat melalui para tokohnya seperti Jeremy Bentham, John Stuart, David Hume, yang mewabah hingga sendi-sendi keIndonesiaan.  Bertransformasi menjadi nilai hidup publik, asas ini dimanifestasikan dalam berbagai keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kebijakan pemerintah, politik, hukum, perekonomian, industri dan perdagangan bahkan hingga ke tataran yang lebih privat lagi, yakni dalam hubungan antar pribadi.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

Batu Putih di Murung Raya-Kalteng

 

Perayaan Festival Isen Mulang 2011 di Kalimantan Tengah menorehkan makna penting bagi percepatan kemajuan pariwisata Kalimantan. Pulau Kalimantan dengan luas 743.330km2 (luas negara Indonesia keseluruhan 1.919.440km2) sungguh sangat terberkati. Bandingkan luas wilayah negara Malaysia yang hanya sekitar 329.758km2. Perbandingan postur geografis saja sudah menunjukkan bahwa kita negara gemuk. Luas daratan mengandung banyak potensi pariwisata, apalagi potensi terpendam kelautan kita. Bentang alam ini ditambah pula dengan keragaman penduduknya yang penuh apresiasi akan seni budaya nusantara.

Dalam benak penulis, bila warga negara lain meneropong dari tempatnya, di lubuk hati mereka yang terdalam sangat mungkin muncul perasaan iri. Ungkapan bahwa “rumput tetangga lebih hijau”, mampu mendorong terjadinya perilaku-perilaku tak lazim, seperti peristiwa konfrontasi Malaysia ketika merebut pulau Sipadan dan Ligitan (sekitar Kaltim) beberapa waktu lalu.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

[Artikel ini dimuat di Harian KaltengPos, 21 Sept 2010 & www.kalteng.go.id]

Kapal Wisata Sungai di Tengah Kota Palangka Raya

Bangsa Indonesia sedang dan terus menggeliat dalam pembangunan. Wacana pembangunan yang kini memanas terkait dengan rencana pemindahan ibukota ke kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berbagai artikel bahkan forum di bangku akademik membahas peluang dan tantangan pemindahan ini.

Tentu saja tulisan ini tidak dalam rangka membahas wacana tersebut, namun lebih menitikberatkan kondisi pariwisata Kalimantan yang menurut Direktur Promosi Luar Negeri Kemenbudpar RI, I Gde Pitana Brahmananda (2009) ibarat raksasa yang mulai menggeliat.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

(Artikel ini telah dimuat di Harian Tabengan, 3 Juli 2010 & www.kalteng.go.id)

Jembatan Gunung Mas

Keluhan utama sekaligus isu sentral dalam pengembangan kepariwisataan di Kalteng adalah minimnya infrastruktur. Realitas bahwa jalan masih banyak yang rusak, akses-akses menuju lokasi obyek wisata yang jauh, akomodasi yang belum sepenuhnya memadai di daerah-daerah, adalah kondisi konkrit tantangan di tingkat lokal.

Tantangan ini sepenuhnya dapat disikapi dengan berbagai cara, antara lain menunggu hingga semua akses jalan sempurna, membiarkan pasar wisatawan mengendalikan opini terhadap destinasi, atau mengembangkan aset atau potensi wisata yang ada dengan strategi khusus. Dan menurut analisis penulis, pilihan terbaik adalah, memposisikan lemahnya infrastruktur sebagai aset/modal wisata.

Bagaimana mengelola lemahnya sokongan infrastruktur menjadi modal utama pengembangan kepariwisataan Kalimantan? (more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology

Bagian berikut merupakan terusan dari tulisan sebelumnya.

Pencapaian Makna Hidup Manusia Dayak sebagai Sumber Kebudayaan Unggulan

Tahap kesadaran tersebut di atas tidak dapat lepas dari pergumulan makna hidup orang Dayak. Lalu, apakah makna hidup orang Dayak? Jikalau makna hidup orang Dayak jelas, implikasi dan tautannya dalam kebudayaan Dayak akan lebih jelas. Pada aspek inilah akan dapat dilihat bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan Dayak sebagai garam dan terang bagi dunia.

Dooyeeweerd (dalam Lie, 2008) mengungkapkan bahwa makna hidup manusia meliputi lima belas aspek: kuantitatif, spasial, kinematik, fisik badaniah, biotik, sensori/insting, analitikal, formatif, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, etika, dan iman. Sayangnya, pendidikan modern cenderung mengarahkan manusia hanya dalam lingkup analitikal saja. Sedangkan dunia posmodern cenderung mengarahkan ke dalam aspek yang hanya bertautan dengan pengolahan permainan bahasa sebagai dasar logika (Lie 2008). (more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Institut Dayakology

Tulisan dengan tema di atas telah menjadi koleksi Institut Dayakology. Semoga Mencerahkan!

MENGGAPAI MEANING OF LIFE, KELUAR DARI BEING OF DAYAK

Dayak Festive from DYC Album

Dayak Festive | Jakarta DYC Album

Harapan akan kemajuan tentunya tidak melulu dimengerti dalam konteks ekonomi. Hal ini pun mengena bagi masyarakat Dayak. Bagi masyarakat yang nenek moyangnya nyaris sepenuhnya bergantung pada alam, konsentrasi ketergantungan umumnya bertumpu pada hasil alamnya.

Apa yang dihasilkan oleh alam, itulah yang dinikmati suku bangsa yang unik ini.

Ketergantungan tersebut memang memberikan nilai positif bagi kelangsungan daur hidup. Alam dikelola dengan baik, dan manusia yang mengelolanya pun hidup dengan sejahtera karena merasakan keindahan dari rasa cukup yang mengisi kehidupan.

(more…)