Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch |BTW|

(Artikel ini telah dimuat di Harian Tabengan, 3 Juli 2010 & www.kalteng.go.id)

Jembatan Gunung Mas

Keluhan utama sekaligus isu sentral dalam pengembangan kepariwisataan di Kalteng adalah minimnya infrastruktur. Realitas bahwa jalan masih banyak yang rusak, akses-akses menuju lokasi obyek wisata yang jauh, akomodasi yang belum sepenuhnya memadai di daerah-daerah, adalah kondisi konkrit tantangan di tingkat lokal.

Tantangan ini sepenuhnya dapat disikapi dengan berbagai cara, antara lain menunggu hingga semua akses jalan sempurna, membiarkan pasar wisatawan mengendalikan opini terhadap destinasi, atau mengembangkan aset atau potensi wisata yang ada dengan strategi khusus. Dan menurut analisis penulis, pilihan terbaik adalah, memposisikan lemahnya infrastruktur sebagai aset/modal wisata.

Bagaimana mengelola lemahnya sokongan infrastruktur menjadi modal utama pengembangan kepariwisataan Kalimantan? (more…)

Advertisements
Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]
(Artikel ini telah dimuat di Harian KaltengPos, 18-19 Februari 2010).
Melvin | by NN

Peneliti Melvin & Borneo Great Apes

Indonesia, terutama Kalimantan sepatutnya berbangga. Dikaruniakan dengan bentang sungai nan indah, eksotisnya budaya Dayak, berbagai kekayaan hutan alam yang secara kolektif dikenal pula sebagai destinasi paru-paru dunia.

Bumi Kalimantan memiliki berbagai jenis kandungan emas, diantaranya yang sangat dikenal adalah Emas Hitam, yakni minyak bumi dan batubara, serta Logam Emas, yang dikenal luas sebagai bahan untuk perhiasan dan investasi.

Sebagaimana diketahui, kedua jenis emas tersebutlah yang menjadi topangan atau sumber penghasilan bagi sebagian besar penduduk Kalimantan saat ini, dan merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah.

Kedua jenis emas tersebut memiliki sifat yang tidak berkelanjutan, dalam arti sangat sulit untuk diperbaharui lagi karena harus melalui proses pembentukan dari alam yang memakan waktu sangat panjang.

Kedua jenis emas ini pun tengah mengalami sorotan tajam di tengah kalutnya isu global warming dan green world campaign. Proses pengambilannya yang secara langsung maupun tidak langsung merubah rupa bumi, membongkar area-area hijau dan menghasilkan limbah, mendorong terdegradasinya unsur-unsur lingkungan lainnya.

(more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Bagi sebagian besar orang, Kalimantan dikenal sebagai hutan belantara, surga rimba bagi berbagai satwa, dipeluk liuk sungai-sungai raksasa, dan itu benar. Sebagian lain berpendapat bahwa Kalimantan dikenal sebagai surganya para peneliti pecinta Orang Utan “The Great Apes” terbesar di dunia, dan itu betul. Sebagian lagi berpendapat, kebudayaan asing dan misterius dari suku bangsa Dayak adalah daya tariknya, dan itu betul.

picture motion | Visit Kalimantan Year | lagu latar Mohing Asang

Riam sungai bagian hulu yang ganas namun bisa ditaklukan, heningnya rimba hutan di sepanjang hilir sungai Barito, keindahan tarian suku-suku, dan eksotisnya satwa Kalimantan, membawa setiap wisatawan untuk datang kembali dan kembali.

Surga itupun terasa hadir di negeri yang besar bernama Beautiful Kalimantan.

Jakarta 2010

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Pengantar:

Beberapa operator dan pelaku wisata di Kalimantan telah menyadari sejak lama, akan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) sebagai elemen daya tarik, dan pengimplementasian konsep Pariwisata Alternatif (lihat kembali penjelasan Pariwisata Alternatif: Apa, Siapa dan Bagaimana di Harian Kalteng Pos, Senin-Selasa 7 & 8 September 2009).

Jembatan Barito

Penerapan model pengembangan pariwisata alternatif di Kalimantan, termanifestasi dalam bentuk skala kecil, yaitu atraksi seperti Tingang bird watching (melihat jenis burung endemik Kalimantan), snake watching (melihat jenis-jenis ular yang ada di hutan Kalimantan), reptile watching (melihat jenis-jenis reptil yang hidup di Kalimantan), orang utan watching (melihat orang utan Kalimantan), Betang watching (melihat dan mengagumi rumah Betang/Lamin), hingga flora watching (melihat jenis-jenis tumbuhan endemik Kalimantan).

Pengembangan di atas nampaknya telah melangkah menuju tujuan utama pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menitikberatkan pada kelestarian ekosistem dan berbasis masyarakat lokal. Bagi dunia pariwisata internasional, maka pengembangan jenis kegiatan pariwisata alternatif lah yang diakui sebagai kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab (responsible tourism) dan memang dapat dipertanggung jawabkan.

Bersambung..

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]

Oleh: I Made Adi Kampana Rio S. Migang |dimuat di Harian KaltengPos, Senin 2 November 2009|

Kalimantan Dancer | riconsultea.com

Bayang-bayang Pariwisata Kalimantan

Kalimantan tidak hanya dimiliki oleh negara Indonesia, namun berbagi tempat dengan Malaysia dan Brunai Darussalam. Tentu saja bila dikaitkan dengan potensi dan sumber daya pariwisatanya, sedikit banyak memiliki kemiripan.

Kemiripan yang berbasis latar kebudayaan Melayu dan kondisi geografis yang tidak jauh berbeda tentu saja akan mengesankan para turis dunia dalam melihat pariwisata di Kalimantan sebagai sebuah kesamaan.

Hal inilah yang dimanfaatkan secara cerdik oleh Badan Pariwisata Malaysia dengan mencanangkan slogan secara agresif, “Truly Asia” itu di Malaysia-Borneo, jauh-jauh hari.

Akibatnya cukup fatal, “agresi” promosi melalui media elektronik internasional seperti TV CNN, BBC dan website atau search engine terutama Yahoo dan MSN (Antara News, 2008) yang gencar dengan mempertontonkan bahwa orang Dayak dan satwa endemik Orangutan adanya hanya di negara mereka, mengakibatkan tertutupnya peluang branding bagi ke-4 propinsi di Kalimantan secara efektif.

Pariwisata sebagai sebuah industri strategis dan terbesar abad 21 (WTO, 2008), ptidak lagi dikelola dengan cara konvensional serta sebatas wilayah administrasi propinsi belaka. Upaya pengembangan berbasis borderless tourism (pariwisata tanpa batas wilayah) menjadi acuan penting bagaimana mengelola potensi pariwisata menjadi efektif dan efisien. (more…)

Copyright: Rio S. Migang, MSc to Borneo Tourism Watch [BTW]
bus wisata sungai

Bus Wisata Arung Sungai | Jakarta Post file

Tulisan dengan judul di atas merupakan buah karya dari Ms. Jeannita Adisty, seorang mahasiswa yang multi talented & saat ini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Management & Tourism, Universitas Udayana Bali. Saya hanya kebagian tugas mengedit beberapa bagian saja. Dan

syukur dimuat di Harian Kalteng Pos selama 2 hari berturut-turut, Senin-Selasa 7 & 8 September 2009, dengan judul lengkap Pariwisata Alternatif: Apa, Siapa & Bagaimana?

Silahkan lihat disini, atau baca lengkap klik more..

(more…)

Copyright: Borneo Tourism Watch [BTW]

Kompetisi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan pariwisatanya ditunjukkan dengan penciptaan slogan untuk menciptakan citra akan keunikan negaranya. Untuk mencapai promosi secara luas, tentu saja digunakan teknologi IT yang berbasis world wide web (www) secara maksimal.

Berikut logo pariwisata yang dianggap telah mewakili ikon negaranya:

visit indonesia tourism rszvisit brunai rszvisit australia rsz

visit filipin rsz

visit kamboja rsz visit laos rsz Uniquely Singapore Logo

visit malaysia 1rsz visit thailand rsz visit vietnam rsz

Menurut kami, untuk menghadapi raksasa pariwisata terutama negara tetangga Kalimantan, yakni Brunai & Malaysia, tidak perlulah seluruh Indonesia dipertaruhkan.

Melalui kerjasama sinergi pariwisata ke-4 propinsi (Kalteng, Kaltim, Kalbar, Kalsel), kami yakin suatu saat dunia akan mengetahui bahwa Aslinya Asia (truly asia) dan Jantungnya Borneo (heart of Borneo) adalah Kalimantan.

Ujudnya, kami mengusulkan dibentuknya Kalimantan Tourism Board (KTB) atau Badan Pariwisata Kalimantan.

Setujukah Anda?